
Tanah masih menyisakan bau anyir karena hujan sesiang tadi. Genangan genangan air masih terlihat di beberapa jalanan yang berlubang. Juga daun daun yang masih meninggalkan bekas basah karena guyuran hujan.
Ajimukti dan Manan sedang berjalan jalan di pinggiran pasar sore ini. Sementara Dullah memilih tinggal dikamar untuk sejenak merebahkan badannya.
Meski sudah menjelang sore namun aktifitas dipasar ini masih terbilang cukup ramai. Dibeberapa sisi pasar masih terlihat para pedagang sayur yang masih menjajakan dagangannya di lapak lapak mereka. Juga lalu lalang orang orang yang masih berseliweran hilir mudik.
"Dulu, dipasar ini bapakku dan Kyai Salim pernah berjuang bersama, Jik." Ucap Manan kemudian.
Ajimukti terlihat menarik nafas kuat kuat seolah seluruh udara dipasar itu ingin dihirupnya.
"Suka duka mereka lewati bersama sama dipasar ini. Banyak kejadian kejadian yang mereka lalui juga dipasar ini." Lanjut Manan.
"Saya tahu, Nan." Ajimukti tersenyum.
"Jalan ini dulu lah yang sering dilalui bapakku bersama Kyai Salim. Karena jalan ini dulunya yang menghubungkan pasar dengan terminal. Ya, meski setelah renovasi akhirnya diberi tembok pembatas."
Ajimukti dan Manan terus menyusuri jalanan pinggiran pasar itu. Pasar yang meninggalkan dan mengukirkan banyak sejarah. Pasar yang tak pernah sepi dari hiruk pikuk pedagang dan pembeli.
"Woy! Woy! Jangan lari!"
"Kejar! Jangan sampai lolos!"
Teriakan beberapa orang yang berlari itu sejenak mengalihkan pandangan Ajimukti dan Manan.
"Ada apa, Nan?" Tanya Ajimukti sarat keheranan.
"Entahlah, Jik. Sepertinya mereka sedang mengejar seseorang." Sahut Manan masih mengamati kearah orang orang itu berlari.
"Ada apa, Pak?" Tanya Manan kemudian pada seseorang yang sepertinya ikut mengejar seseorang itu.
"Jambret, Mas." Jawab si Bapak itu singkat lalu bergegas kembali ikut berlari.
Tanpa pikir panjang Ajimukti segera berlari melesat kearah orang orang itu. Meninggalkan Manan yang untuk sesaat kaget dan akhirnya ikut berlari mengejar Ajimukti yang sudah jauh didepan.
"Woy! Jangan kabur kamu!" Orang orang itu masih terus berlari sambil berteriak teriak.
Kini Ajimukti sudah berada tak jauh dibelakang jambret itu. Melewati beberapa orang yang sudah lebih dulu berlari.
Duak!
__ADS_1
Sebuah tendangan yang cukup kuat tepat mengenai punggung jambret itu dan sesaat membuat jambret itu jatuh tersungkur.
Jambret itu masih bisa berdiri kemudian mencoba memberi perlawanan pada Ajimukti. Ajimukti menahan pukulan jambret itu. Jambret itu terus mencoba memukul, menendang tapi selalu bisa Ajimukti tangkis dan tahan.
Orang orang seketika berhenti dan menyaksikan Ajimukti duel dengan jambret itu. Pun dengan Manan yang hanya bisa melongo.
Jambret itu terus saja memberikan perlawanannya. Ajimukti pun terus menahan setiap serangan jambret itu. Dan ketika jambret itu ingin memukul wajah Ajimukti, secepat kilat Ajimukti menghindar dan berhasil meraih lengan jambret itu. Menariknya dan memutarnya ke belakang punggung si jambret. Ajimukti menendang belakang lutut si jambret dan akhirnya sekali lagi jambret itu tersungkur.
Orang orang yang sejak tadi hanya menyaksikan duel sabung Ajimukti dan si jambret, kini mulai lagi dengan teriakannya kembali. Ajimukti memberi aba aba pada orang itu dengan tangannya untuk tenang. Seketika orang orang itu menghentikan teriakannya.
Kini Ajimukti membawa jambret itu ke pinggir pasar. Jambret itu kini terlihat mulai ketakutan berada ditengah kerumunan orang orang yang menatapnya penuh amarah. Sekilas Ajimukti mengamati jambret itu, usianya tidak lagi muda, mungkin sudah seumuran Dullah. Ajimukti mendekatkan wajahnya ke jambret yang jelas semakin ketakutan itu.
"Kenapa bapak sampai melakukan hal ini?" Tanya Ajimukti dengan tatapan tajamnya ke si jambret.
"Ssss..saya...saya terpak,-sa...istri saya... istri saya sssss...sakit... saya... saya bbbb...butuh biaya untuk menebus... obat isssstri sssss...saya." Jawab jambret itu terbata dan begitu gemetaran.
"Berapa biayanya untuk menebus obat itu?" Tanya Ajimukti kemudian.
Jambret itu menggerakkan tangannya membentuk letter v. "dddd...dua... dua rratus ribu." Jawab jambret itu dengan wajah yang mulai pucat dan masih terbata.
Ajimukti tersenyum,
Jambret itu menyodorkan tas kecil berwarna biru kepada Ajimukti. Ajimukti kemudian berdiri mengangkat tas itu.
"Siapa pemilik tas ini?" Tanyanya dengan suara cukup keras.
Seorang ibu ibu melambaikan tangannya. "Itu tas saya, Nak." Ucapnya kemudian.
Ajimukti memberikan tas itu kepada si ibu ibu pemilik tas.
"Terima kasih, Nak. Untung ada sampeyan." Ucap si ibu ibu itu.
"Sama sama, bu. Lain kali hati hati." Sahut Ajimukti.
Si ibu ibu itu hanya kembali mengucapkan terima kasihnya.
Ajimukti kembali kepada jambret itu. Kini ia merogoh sakunya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang.
"Ini untuk menebus obat istri bapak. Sisanya bisa buat beli makan istri bapak. Jangan ulangi seperti ini lagi, Pak. Kasihan istri bapak jika harus memakan dari hasil uang haram." Ucap Ajimukti seraya memberikan uang itu ke si jambret.
__ADS_1
Sontak apa yang dilakukan Ajimukti membuat orang orang yang berkerumun saling pandang keheranan. Ajimukti menyadari itu. Ia lalu berdiri dan menjelaskan pada orang orang alasan si bapak itu menjambret. Ada diantara kerumunan orang orang itu yang mencela Ajimukti bahkan mengumpatnya.
"Saya tahu bapak ini salah. Tapi bukankah sebagai manusia kita harus saling memaafkan?" Ucap Ajimukti pada kerumunan orang orang itu.
Ajimukti beralih kepada si ibu ibu pemilik tas itu. "Bagaimana, Bu. Setelah tahu alasan bapaknya tadi. Apa ibu mau memaafkan bapaknya itu?" Tanya Ajimukti kemudian.
Si ibu ibu itu terlihat sedikit emosi, sebelum akhirnya pun mengangguk. "Ya sudah toh tas saya juga sudah balik lagi. Utuh. Jadi saya maafkan dia, Nak." Kata si ibu ibu itu kemudian.
"Alhamdulillah..." Sahut Ajimukti.
"Jika ibu ini saja sudah memaafkan kenapa harus diperpanjang? Tidaklah seseorang memaafkan kecuali Allah akan menambah kemuliaannya." Lanjut Ajimukti kemudian.
Orang orang itu pun akhirnya membungkam. Dan satu persatu mulai meninggalkan kerumunan itu.
"Sekarang pergilah, Pak. Belikan obat istri bapak. Saya do'akan istri bapak segera diangkat penyakitnya dan diberi kesehatan seperti sedia kala." Ucap Ajimukti pada jambret itu yang masih terlihat pucat dan gemetaran.
"Terima kasih. Terima kasih." Ucap jambret itu sembari memeluk kaki Ajimukti. Ajimukti segera mengangkat tubuh jambret itu dan sekali lagi memintanya segera pergi membeli obat untuk istrinya.
Manan yang sejak tadi diam ditengah kerumunan orang orang kini mendekat kearah Ajimukti.
"Kamu tidak apa apa, Jik?" Tanyanya kemudian.
"Seperti yang kamu lihat. Saya baik baik saja, Nan." Sahut Ajimukti.
"Kamu hebat, Jik. Ternyata selain diam diam jago ngaji ternyata jago silat juga kamu." Puji Manan.
"Tidak juga, Nan. Hanya pernah belajar sedikit waktu masih ikut Pagar Nusa dulu." Sahut Ajimukti.
"Tapi ada lagi yang bikin salut, Jik." Ucap Manan kemudian.
"Sudah, Jik. Nggak usah dibahas." Ajimukti menepuk pundak Manan. "Kita balik ke pondok saja. Sudah mau Maghrib ini." Imbuh Ajimukti kemudian.
Manan hanya mengangkat bahu lalu ikut berjalan meninggalkan ujung pasar itu.
Beberapa pasang mata sekilas mengamati Ajimukti dan Manan yang melintas didepan mereka. Mungkin mereka masih keheranan dengan kejadian dan sikap Ajimukti yang baru saja mereka saksikan.
Dari kejauhan dibalik tembok pasar yang jauh dari kerumunan orang orang, sepasang mata tengah mengamati kepergian Ajimukti dan Manan meninggalkan pasar itu. Dengan menggenggam beberapa lembar uang ia mengusap bibirnya yang sedikit berdarah. Pandangannya begitu tajam dan tak beralih, hingga akhirnya bayang bayang Ajimukti dan Manan tak lagi ditangkap jangkauan matanya.
Bersambung...
__ADS_1