BROMOCORAH

BROMOCORAH
Saudara Yang Sama


__ADS_3

"Kamu?"


Dullah masih terlihat syok. Dia beberapa kali mengusap matanya. Memastikan ini benar atau sebuah mimpi.


"Tidak usah kaget seperti itu Dullah. Iya ini saya." Ucap lelaki itu dengan sembari melepas topi lusuh yang dikenakannya memperlihatkan rambutnya yang sebagian telah beruban.


"Ini benar kamu Gandung? Saya tidak salah lihat kan?" Dullah masih mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Lelaki bernama Gandung itu pun tertawa lebar, "Dullah! Dullah! Apa saya harus cerita dulu kamu waktu kecil suka nyuri jambu di rumah Wo Karso, sampai sampai kamu ngompol di celana pas lagi manjat tiba tiba Wo Karso mergoki kamu?" Ucap lelaki itu dengan senyum menyeringai.


Seketika Dullah tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang mulai berkarang karena terlalu seringnya merokok dan minum kopi lalu berlari dan memeluk erat lelaki tua bernama Gandung itu.


Manan dan Ajimukti yang melihat itu hanya bisa saling melempar pandang dan sama sama menaikan pundak mereka.


"Pak Lek kenal dengan bapak ini?" Tanya Manan ingin segera mendapat jawaban atas pertanyaan di dalam hatinya.


Dullah mengangguk mantap dan tanpa disadarinya air matanya mulai membasahi kedua kelopak matanya, "Dia ini... Dia ini Gandung, teman sejak saya masih ingusan. Sampai kami dewasa. Tapi kami akhirnya dipisahkan oleh kejadian itu." Ucap Dullah berusaha menyeka air matanya.


"Kamu apa kabar Dullah? Saya lihat sekarang penampilan kamu sangat berbeda dengan masa muda kita dulu." Ucap Gandung melihat Dullah dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Alhamdulillah, Ndung. Kejadian waktu itu mempertemukan saya dengan seorang malaikat yang membuat saya hidup kembali untuk kedua kalinya." Sahut Dullah, "Kamu sendiri bagaimana kabar kamu dan sejak saat itu kamu kemana saja, Ndung?" Tanya Dullah memburu.


"Seperti perintah kamu waktu itu, Dul. Saya waktu itu terus berlari saja. Tanpa peduli mereka masih mengejar saya atau tidak. Yang penting saya lari dan lari. Sejauh yang saya bisa." Ucap Gandung menerawang, "Dan satu bulan setelahnya ketika saya kembali, saya mendapat kabar bahwa kamu meninggal dengan luka sayatan di dada dan kata orang orang kamu dibawa oleh beberapa orang yang saya pikir pasti orang orang itu. Tidak tahunya kamu masih seger, masih awet muda." Mata Gandung mulai berkaca.


"Ya itu benar, Ndung. Saya memang saat itu hampir mati. Tapi Alhamdulillah, Allah mengirim kan malaikatNya yang berwujud manusia untuk menolong saya, memberi kesempatan pada saya untuk hidup kembali." Ucap Dullah lebih bersemangat.


"Beruntunglah kamu, Dul. Setidaknya saya melihat kamu jauh lebih baik dari Dullah yang saya kenal dulu." Ucap Gandung mulai menitikkan air matanya.


"Tidak, Ndung. Saya masih Dullah yang dulu. Hanya saya mencoba menggunakan kesempatan hidup saya yang sekali lagi ini untuk berusaha menjadi lebih baik, Ndung." Sahut Dullah sembari menepuk pundak Gandung.


Gandung hanya tersenyum pias.


Manan dan Ajimukti awalnya hanya bisa terdiam menyaksikan percakapan Dullah dan Gandung itu. Sebelum akhirnya Manan mencoba menyela pembicaraan mereka itu.


"Maaf, Lek Dul kalau saya menyela. Saya ingin bertanya pada Pak Gandung ini. Berarti selama ini Pak Gandung tahu kalau yang Pak Gandung mata matai itu sebenarnya Pak Lek Dullah, teman Pak Gandung?" Tanya Manan kemudian.


Gandung mengangguk ringan, "Ya, saya tahu. Saya pun awalnya kaget ketika anak muda yang menolong saya ini ternyata temannya Dullah. Dullah yang selama ini saya cari. Yang saya pikir sudah mati. Ternyata begitu dekat dengan saya selama ini."


"Lalu kenapa Pak Gandung tidak langsung saja menemui Pak Lek Dullah kalau kalian memang sudah lama tidak bertemu dan saling mencari tahu keberadaan masing masing?" Potong Manan lagi dengan pertanyaannya.


Gandung hanya tersenyum, "Saya tidak punya cukup nyali untuk bertemu Dullah yang setelah saya tahu, ternyata sekarang..."

__ADS_1


Dullah menepuk pundak Gandung sekali lagi dan memotong ucapannya, "Saya masih Dullah yang dulu, Ndung. Jangan pernah berpikir saya berubah hanya karena penampilan saya."


Gandung hanya tersenyum mendengar ucapan Dullah itu.


"Sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi sampai sampai saya dengar kamu sempat menjambret di pasar." Ucap Dullah kemudian.


Gandung menghela nafas berat, "Saya kepepet, Dul. Istri saya saat itu sedang sakit keras. Butuh obat. Dan biaya menebus obat istri saya cukup mahal. Saya putus asa, Dul. Saya tidak punya pilihan lain. Saya... Saya... Terpaksa, Dul." Ucap Gandung begitu berat.


Dullah sekali lagi menepuk pundak Gandung, dia mencoba memahami posisi Gandung saat itu.


"Lalu bagaimana keadaan istri kamu saat ini, Ndung?" Tanya Dullah kemudian.


"Sudah jauh lebih baik, Dul. Berkat bantuan anak muda ini." Sahut Gandung menunjuk Ajimukti.


"Ini Ajimukti, Ndung. Nanti akan aku ceritakan siapa Mas Aji ini sebenarnya. Dan ini Manan, dia juga anak seorang salah seorang yang menyelamatkan saya sore itu." Dullah memperkenalkan Ajimukti dan Manan pada Gandung.


"Ajimukti? Nama yang bagus. Aji berharga dan Mukti itu pemberani. Dan saya melihat kedua arti nama itu dalam diri kamu." Ucap Gandung menepuk pundak Ajimukti.


"Terima kasih atas pujian bapak." Sahut Ajimukti sedikit menunduk.


"Tapi maaf, Pak. Kalau saya boleh bertanya. Tadi bapak ingin meminta bantuan saya. Bantuan apa itu kira kira?" Tanya Ajimukti mengingat percakapan terakhirnya dengan Gandung sebelum Dullah datang.


"Bantuan? Bantuan apa, Ndung? Kalau kami bisa pasti kami bantu, Ndung. Kamu bilang saja." Dullah menyela dan menatap Gandung penuh iba.


Dullah mengerutkan keningnya.


"Bapak mertua kamu? Apa yang terjadi? Dan bantuan apa yang kamu minta dari Mas Aji ini." Tanya Dullah memburu.


"Maaf, Dul. Silahkan kamu tertawakan saya setelah ini. Tapi jujur saya tidak pernah mengerti soal agama sama sekali. Makanya setelah saya bertemu dengan Nak Aji ini. Saya yakin Nak Aji bisa menolong saya." Ucap Gandung kemudian.


Dullah masih belum mengerti dan sepertinya Ajimukti dan Manan pun yang mendengar itu juga sama tidak mengertinya.


"Maksudnya, Ndung?" Pada akhirnya Dullah meminta penjelasan atas ucapan Gandung itu.


"Begini, Dul. Bapak mertua saya adalah seorang yang begitu menggilai benda benda pusaka yang kata dia bertuah dan keramat. Dia menjual tanah hanya untuk membeli benda benda itu. Rela tidur di tengah hutan hanya untuk narik benda benda itu. Awalnya saya biasa, Dul. Saya menganggap itu mungkin sebatas hobby beliau, tapi setelah sekian lama, saya pun berpikir beliau bukan lagi hobby mengoleksi benda benda itu. Tapi sudah lebih dari itu." Gandung menghela nafas. "Saya pernah dengar, Ndung. Agama akan menyelamatkan kita dari persekutuan dengan dedemit dan lain sebagainya. Makanya saya berpikir mungkin Nak Aji bisa menolong saya. Dan ketika saya mencoba mencari Nak Aji. Saya tahu Nak Aji ternyata teman kamu. Kamu yang sudah berubah penampilan, Dul. Sejak saya tahu itu, saya mencoba mencari cara menemui Nak Aji ketika sendirian. Makanya saya beberapa kali sempat memata matai sekitar pesantren, Dul." Gandung kini terlihat tertunduk.


Dullah merangkul pundak Gandung. Akhirnya kini sedikit banyak dia tahu alasan Gandung memata matai Ajimukti akhir akhir ini.


"Lalu apa yang bisa saya lakukan, Pak?" Tanya Ajimukti mencoba menyela ucapan Gandung.


"Tolong bantu saya menyadarkan bapak mertua saya, Nak Aji. Saya kasihan sama istri saya. Istri saya sering sakit sakitan karena memikirkan bapaknya itu." Suara Gandung terdengar sangat berat.

__ADS_1


"Tenanglah, Ndung. Saya pun pasti akan membantu kamu." Ucap Dullah menenangkan Gandung.


"Sekarang kamu tinggal dimana, Ndung?" Tanya Dullah kemudian.


"Sekarang saya bersama istri ngontrak di kampung sebelah, Dul. Sudah dua tahun ini saya sengaja misah dari bapak mertua saya. Karena saya capek, Dul. Selain itu juga kasihan sama istri saya." Sahut Gandung masih dengan suara beratnya.


"Sekarang kamu kerja apa, Ndung? Maaf, Ndung. Saya bukan maksud menyinggung. Tapi kenapa tempo hari kamu sampai menjambret?" Tanya Dullah lagi.


"Saya sempat narik becak, Dul. Tapi sekarang perlahan mulai sepi. Jarang yang menggunakan jasa transportasi kami. Para penumpang memilih naik ojek online. Selain lebih murah juga lebih cepat. Dan perlahan kami pun tergusur. Dalam seminggu bisa dihitung berapa kali kami para tukang becak narik penumpang. Itu nggak sepadan dengan kebutuhan kami, Dul." Sekali lagi Gandung menghela nafasnya berat, "Makanya ketika saya dihadapkan dengan kondisi istri saya waktu itu. Saya gelap mata, Dul. Saya tidak punya pilihan lain. Tapi untunglah Nak Aji ini menyelamatkan saya waktu itu."


"Berarti saat ini kamu tidak ada pekerjaan lain selain narik becak mu, Ndung?" Tanya Dullah kemudian.


Gandung menggeleng ringan.


Dullah nampak terharu. Lalu merogoh sesuatu dari dalam sakunya.


"Ini mungkin tidak seberapa, Ndung. Tapi saya harap bisa bermanfaat untuk kamu. Dan ingat saya ini saudara kamu. Sekarang kamu sudah tahu jika harus mencari saya dimana. Jika sewaktu waktu kamu butuh bantuan. Cari saya, Ndung." Ucap Dullah sembari menyelipkan sesuatu ke saku baju Gandung.


"Kamu apa apaan, Dul. Seharusnya tidak perlu begini." Gandung mencoba menahan tetapi Dullah memaksa.


"Sudah, Ndung. Kalau kamu tidak menerimanya berarti kamu sudah tidak menganggap saya ini saudara." Dullah memaksa dan pada akhirnya Gandung pun hanya tertunduk.


"Terima kasih, Dul. Kamu memang selalu baik sejak dulu." Ucap Gandung kemudian.


"Dan soal bapak mertua kamu, Ndung. Kamu tenang saja. Begitu saya dan Mas Aji bisa meluangkan waktu pasti kami akan segera mengabari kamu." Ucap Dullah meyakinkan Gandung.


"Sekali lagi terima kasih, Dul. Saya tidak tahu bagaimana saya akan membalasnya." Suara Gandung kembali terdengar berat.


Dullah sekali lagi menepuk pundak Gandung, "Berterima kasihlah pada Allah, Ndung. Mungkin sudah saatnya kamu nyaket marang Sing Agawe Urip." Bisik Dullah lirih.


Gandung tertunduk malu mendengar ucapan Dullah itu.


"Sepertinya kami harus kembali ke pesantren, Ndung." Ucap Dullah kemudian melihat hari sudah semakin sore mendekati ashar. "Oh iya, dimana kami bisa menemui kamu, Ndung?" Tanya Dullah kemudian.


"Cari saja di kampung sebelah, Dul. Saya biasa ngetem di depan kantor balai desa." Sahut Gandung kemudian.


"Baiklah, kalau ada waktu saya akan cari kamu, Ndung. Dan ingat, Ndung. Jangan pernah mengulangi kesalahan yang tempo hari. Jika butuh apa apa bilang saja sama saya." Pesan Dullah sebelum berlalu meninggalkan Gandung.


Dullah bersama Ajimukti dan Manan pun akhirnya berlalu meninggalkan tempat Gandung masih berdiri memandang kepergian mereka bertiga.


Hari semakin sore. Terik matahari pun berangsur angsur pudar dan menepi ke sisi barat. Tak lama Dullah, Ajimukti dan Manan pun memasuki area halaman masjid pesantren dan sesaat setelah itu suara adzan Ashar pun berkumandang dari pengeras suara masjid masjid dan mushola sekitar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2