
Bias mentari pagi mulai menjamah bumi. Uap harum sisa sisa embun semalam menjadi aroma khas menemani pagi yang cerah. Kokok ayam juga kicauan burung pun mulai terdengar nyaring bersautan.
Sebuah mobil Range Rover Sport sudah terparkir sejak tadi di halaman masjid. Beberapa orang pun nampak berdiri tak jauh dari mobil yang terparkir itu. Dari kejauhan mereka nampak sedang berbincang.
"Kalian hati hati disana. Kalau sudah sampai kabari pengurus pondok atau langsung ke saya." Kata Kyai Aminudin pagi itu.
"Iya, Pakdhe." Sahut Faruq datar.
"Dan kamu Nak Aji." Kyai Aminudin memfokuskan pandangan ke arah Ajimukti. "Saya dan segenap pengurus Pondok Hidayah menaruh harapan besar pada kamu dalam kompetisi ini. Ingat kamu membawa nama besar pesantren kita ini." Lanjut Kyai Aminudin.
"Iya, Kyai. Saya akan berusaha semampu saya." Ucap Ajimukti tertunduk.
"Adikmu belum siap, Ruq?" Tanya Kyai Aminudin sejurus kemudian beralih ke Faruq.
"Paling sebentar lagi, Pakdhe." Sahut Faruq datar.
Kyai Aminudin hanya menggeleng gelengkan kepalanya kemudian menghela nafasnya berat.
"Berarti benar ini Mas yang dikatakan Gus Faruq semalam?" Tanya Dullah yang menunggu keberangkatan Ajimukti.
Ajimukti hanya mengangkat bahu.
"Wah, bakalan berkesan banget ini entar." Goda Dullah sedikit cekikikan.
Ajimukti hanya menoleh lalu sedikit mencibir ke arah Dullah.
"Deg degkan nggak, Mas?" Dullah terus saja meledek Ajimukti.
"Ssstt. Apa sih, Lek. Nggak enak kedengaran Pak Yai." Bisik Ajimukti dengan aba aba jari telunjuk di tempelkan di mulutnya.
Dullah hanya lagi lagi cekikikan.
Tak lama dari arah samping masjid yang terhubung dengan ndalem Kyai Aminudin, Habiba ditemani Uminya keluar dengan mengenakan gamis maxi dress berbahan poliester berpola cutting yang asimetrik dengan motif floral yang dipadu dengan jilbab senada dengan warna baju yang dikenakannya juga celana panjang warna putih bersih, membuat putri semata wayang Kyai Aminudin ini tampak anggun dan feminim tapi tetap stylish untuk penampilan seorang Ning, -putri Kyai.
Untuk sejenak semua mata tertuju pada Habiba. Begitu juga Ajimukti dan Dullah. Dullah yang melihat Ajimukti beberapa saat tertegun itu spontan menyenggol Ajimukti dan membuatnya sedikit salah tingkah.
"Lama benar, Nduk?" Tanya Kyai Aminudin kemudian.
Habiba tak menjawab hanya sebuah senyum tipis yang ia lemparkan kearah Abahnya itu. Lalu pandangannya tertuju ke salah satu sosok yang berdiri tak jauh dari hadapannya. Seorang pemuda yang mengenakan sarung bermotif batik gunungan dipadu dengan baju koko berwarna krem dengan sedikit kombinasi berwarna hitam juga songkok hitam itu. Dari wajah si pemuda tergambar sebuah senyuman yang begitu khas.
"Kita berangkat sekarang?" Tanya Faruq kemudian.
Ajimukti hanya mengangguk ringan.
"Pokoknya ingat pesan pesan saya tadi!" Sekali lagi Kyai Aminudin berpesan kepada Faruq.
Faruq hanya menjawab dengan sedikit anggukan. Kemudian melangkah ke arah mobilnya. Setelah sebelumnya berpamitan dengan Kyai Aminudin begitu juga dengan Ajimukti.
"Hati hati ya, Mas. Jangan grogi." Ucap Dullah kemudian.
Ajimukti hanya mengerlingkan sebelah matanya lalu masuk ke bangku belakang mobil itu. Sementara Habiba duduk di bangku depan sebelah Faruq yang mengemudi.
Tak berselang lama, mobil itu pun keluar dari gerbang masjid meninggalkan beberapa orang yang masih berdiri disana memandang kepergian mereka.
Jalanan pagi ini cukup padat. Lalu lalang kendaraan cukup membuat Faruq menarik ulur pedal gasnya. Sesekali Faruq mencuri pandang ke arah Ajimukti melalui kaca spion depan mobilnya. Ajimukti sejak dari Pondok Hidayah tadi hanya diam. Begitu juga Habiba yang juga memilih diam.
Sepanjang perjalanan tak ada percakapan antara mereka bertiga. Hening dan sunyi. Hanya suara suara dari luar mobil yang mengisi kelenggangan perjalanan mereka. Faruq menyadari kecanggungan ini.
__ADS_1
"Kang Aji istirahat dulu nggak papa. Toh, masih lumayan jauh. Kira kira masih satu setengah jam lagi kita sampainya." Ucap Faruq mencoba mencairkan ketegangan.
"Iya, Gus. Terima kasih." Ucap Ajimukti singkat.
"Kamu diem aja dari tadi, Ba? Kenapa?" Tanya Faruq beralih ke Habiba.
Habiba nampak gugup. Sikapnya yang sesaat salah tingkah membuat Faruq ingin tertawa tapi ditahannya.
"Emmm, nggak apa apa kok, Mas. Bingung juga mau ngomong apa?" Habiba terlihat sekali canggungnya.
"Ya ngobrol sama Kang Aji itu." Faruq kembali berusaha benar benar mencairkan suasana di dalam mobilnya.
Mendadak Habiba gemetaran. Ia tidak tahu harus mengobrol apa dengan Ajimukti. Dalam beberapa kesempatan Habiba dan Ajimukti memang sempat bertemu dan mengobrol, tapi itu hanya secara kebetulan berpapasan. Namun kali ini berbeda, entah harus memulai obrolan yang seperti apa dan bagaimana Habiba mendadak bingung. Untuk sesaat Habiba hanya bisa mengusap usap keningnya.
Habiba sejenak melihat bungkusan plastik yang tadi sempat disiapkan Uminya untuk dibawa diperjalanan. Mendadak Habiba melengkungkan bibirnya. Habiba segera meraih bungkusan plastik itu. Meraih satu botol minuman kemasan.
"Minum, Kang. Kalau mungkin haus." Ucap Habiba sedikit gemetaran sembari menyodorkan botol minuman itu kearah bangku belakang. Menurut Habiba ini akan menjadi awal obrolan mereka.
"Maaf, Ning. Saya tidak terbiasa minum minuman kemasan." Sahut Ajimukti sedikit membungkukkan badannya. "Ini saya bawa minuman mineral." Lanjutnya.
Habiba mendadak pucat. Mendadak dia merasa malu karena salah menawarkan. Dia kembali memasukkan botol minuman itu ke bungkusan plastik lalu terlihat menggaruk keningnya.
Faruq yang menyaksikan tingkah aneh Habiba hanya bisa menahan tawa sambil terus mengendalikan kemudinya.
"Cemilan mungkin." Habiba rupanya berusaha menutupi rasa malunya karena salah menawarkan.
"Terima kasih, Ning. Kebetulan tadi saya sempat sarapan. Jadi masih agak kenyang." Sahut Ajimukti lagi lagi membuat Habiba bingung dan benar benar tidak tahu harus memulai obrolannya dengan cara bagaimana lagi.
Dan sekali lagi Faruq yang melihat itu hanya bisa menahan tawanya. Habiba yang melirik ekspresi Faruq pun mulai memasang wajah kesalnya.
"Kang Aji sama Lek Dullah itu satu rumah di Jogjanya ya, Kang?" Tanya Faruq kemudian mencoba mencari bahan obrolan.
"Terus. Lek Dullah itu saudara dari ibu atau dari bapaknya Kang Aji kalau saya boleh tahu?" Tanya Faruq kemudian.
Ajimukti sebenarnya mulai bingung dengan pertanyaan pertanyaan Faruq itu.
"Istri Lek Dul adiknya ibu saya, Gus." Jawab Ajimukti tidak maksud berbohong, tapi kenyataannya memang istri Dullah masih ada hubungan saudara dengan ibunya.
Faruq mengangguk pelan, "Emmm, jadi begitu."
"Sudah menikah?" Tanya Faruq kemudian.
"Sudah, Gus. Anaknya saja sudah hampir seumuran saya." Sahut Ajimukti.
"Di Jogja juga, Kang?"
"Iya, Gus."
Habiba hanya diam mendengarkan obrolan Faruq dan Ajimukti tersebut. Faruq beberapa kali memberi kode ke Habiba tapi Habiba tidak tahu harus ikut nimbrung yang seperti apa.
"Maaf, Kang. Kalau boleh tahu. Kang Aji kok bisa bahasa Arab itu gimana, Kang? Kan katanya Abah, Kang Aji ini masih santri Diniyah." Tanya Habiba kemudian yang sepertinya sudah menemukan pertanyaan yang tepat untuk ikut obrolan itu. "Saya penasaran saja lho ini, Kang. Nggak ada maksud gimana gimana." Imbuh Habiba lagi.
Deg! Seketika Ajimukti menelan ludahnya. Bukan karena Habiba yang tiba tiba bertanya itu. Tapi lebih ke pertanyaan Habiba itu. Tidak mungkin Ajimukti terus terang tentang dirinya sebenarnya.
Untuk sesaat Ajimukti hanya garuk garuk keningnya. Membuatnya terlihat seperti seorang yang kebingungan. Tanpa Ajimukti sadari, gerak geriknya itu di perhatikan Habiba sejak tadi dari kaca spion depan.
"Anu, Ning. Gimana ya ngomongnya." Ajimukti membuat dirinya seolah seperti seorang yang bingung menjawab.
__ADS_1
"Itu dulu kebetulan saya waktu SMP sama SMA sekolahnya di Madrasah. Karena paling dekat sama rumah." Ajimukti menghela nafas lega. Semoga saja pilihan jawabannya ini tepat.
"Loh, tapi masak kalau sekolah di madrasah belum bisa baca Al-Qur'an, Kang?" Tanya Habiba lugas.
Sekali lagi Ajimukti dibuat terperanjat dengan pertanyaan lanjutan dari Habiba.
"Itu anu, Ning. Karena dulu saya kurang semangat aja kalau di bacaan. Sebenarnya dibilang nggak bisa sama sekali juga nggak. Tapi cuma masih grotal gratul, Ning." Ajimukti terdengar menghela nafasnya. "Makanya pas masuk pesantren kemarin saya mulai dari yang benar benar awal. Biar benar benar menguasai. Tidak sekedar bisa." Lanjut Ajimukti kemudian. Berharap Habiba yakin dengan jawabannya ini.
"Salut saya sama Kang Aji. Nggak menguasai bacaan Arab tapi bisa sangat menguasai bahasa Arab. Jarang lho itu, Kang." Habiba entah kenapa justru memuji Ajimukti seperti itu. Membuat Ajimukti benar benar salah tingkah dan sedikit gugup.
Faruq sekali lagi hanya tersenyum. Mungkin batinnya sudah lega akhirnya Habiba menemukan juga bahan obrolannya.
"Kalau Lek Dullah?" Tanya Habiba lagi.
"Maksudnya, Ning?" Ajimukti berlagak tidak tahu meski sebenarnya dia tahu maksud pertanyaan Habiba itu.
"Emmm, maksudnya, apa Lek Dullah juga belum bisa baca Al-Qur'an?" Lanjut Habiba.
"Oh, kalau Lek Dullah juga sama, Ning. Tahu sedikit sedikit hurufnya. Tapi juga belum lancar bacanya. Soalnya kan di Jogja belajar juga kalau pas di rutinan saja, Ning." Sahut Ajimukti memilih alasan yang tepat.
"Oh, begitu." Habiba hanya mengangguk pelan sembari berpikir mau bertanya apa lagi.
"Nanti semoga lancar ya, Kang." Ucap Habiba kemudian.
Faruq yang mendengar ucapan Habiba barusan untuk kesekian kalinya kelihatan menggerakkan bibirnya menahan tawa.
Sementara Ajimukti sendiri yang mendengar itu hanya bisa mengangguk lamban. Rasanya mendengar itu ada yang berdesir di bagian dalam tubuhnya.
"Terima kasih, Ning. Do'anya saja." Sahut Ajimukti sambil mengusap usap kan telapak tangannya sendiri.
Setelah ucapan Habiba itu kini suasana kembali hening. Habiba tidak tahu lagi harus bertanya atau mengucapkan apalagi. Faruq pun hanya senyum senyum melihat tingkah konyol Habiba disebelahnya.
Cukup lama mereka kembali terdiam tanpa lagi ada obrolan. Hanya aktifitas gerakan tubuh mereka yang berkali kali beralih posisi yang membuat suasana di dalam mobil itu tidak terlalu tegang. Bahkan sampai akhirnya mereka tiba di sebuah lahan parkir yang cukup luas. Disana berbagai merk mobil sudah berjajar rapi di tempat parkir yang sudah disediakan.
Lalu lalang orang orang berpakaian ala santri terlihat dimana pun arah mereka memandang. Cukup ramai memang. Dan sebentar lagi mereka akan ada diantara keramaian itu.
Faruq mematikan derum mesin mobilnya begitu sudah memilih tempat parkir yang cukup teduh dibawah pohon ketapang yang cukup banyak tertanam di lahan parkir itu. Lalu keluar dari mobilnya diikuti Habiba juga Ajimukti.
Faruq terlihat meregangkan tangannya.
"Alhamdulillah sampai." Gumam Faruq lirih.
Ajimukti merapikan sarungnya. Sebelum akhirnya Faruq menepuk pundaknya.
"Kita kesana dulu, Kang!" Ajak Faruq sembari menunjuk ke salah satu arah.
Faruq berjalan berdampingan dengan Habiba, di ikuti Ajimukti dibelakang mereka. Untuk sesaat mereka memilih tempat duduk yang cukup teduh tak jauh dari lahan parkir tersebut.
Tak berapa lama Faruq berdiri dari duduknya dan sejenak mengalihkan pandangan Habiba juga Faruq kearahnya.
"Saya registrasi ulang dulu ke pihak panitia. Kalian tunggu disini sebentar. Ngobrol ngobrol dulu." Ucap Faruq kemudian melangkah menjauh.
Untuk kesekian kalinya Ajimukti merasa ada yang berdesir dan menjalar dibagian tubuh dalamnya. Dia hanya menunduk mengempit kedua tangannya diantara pahanya.
Sementara Habiba pun terlihat gugup dan tak tahu harus ngobrol apa. Ia hanya terus memainkan sedotan dari minuman botol yang dipegangnya dengan bibirnya.
Hening, dan hanya desah nafas juga detak jantung mereka yang terdengar di tengah keramaian dan lalu lalang orang orang yang berseliweran dan melintas di depan mereka.
__ADS_1
Bersambung...