
Pagi ini di pesantren Fadhlun Muthoriq, setelah tiga hari kepulangannya ke tanah kelahirannya ini, Ajimukti nampak sedang berbincang di kebun belakang pesantren bersama ibundanya, Nyai Kartika.
Nyai Kartika selain mengajar juga senang berkebun. Ada beberapa sayuran yang ia tanam di kebun belakang pesantren. Sayur sayuran itu nantinya yang akan beliau masak untuk menu sehari hari para santri selain dari yang beliau beli di pasar. Selain perkebunan, di pesantren itu juga ada peternakan ayam, namun hasil ternak itu pun tidak untuk dijual, melainkan untuk konsumsi pribadi para santri.
"Manan kemana, Le?" Tanya Nyai Kartika pada kesempatan itu.
"Emmm, lagi jalan jalan sama Kang Hasan, Bu." Sahut Ajimukti sembari memetik cabai yang sudah merah.
"Kalau anak gadisnya Pak Lek mu Prastowo bagaimana kabarnya?" Tanya Nyai Kartika setelahnya.
"Ajeng maksud Sibu?" Tanya Ajimukti memastikan.
"Iya, tho, Le. Memangnya Pak Lek mu Prastowo punya anak gadis berapa? Kamu itu lho." Nyai Kartika geleng kepala.
"Ajeng masih di pesantren, Bu. Tapi Minggu ini dia bakal pulang. Sudah Akhirus-sanah." Sahut Ajimukti kemudian.
"Nak Ajeng itu selain ayu, bocahe kayane temen, Le. Pintar juga punya unggah ungguh. Kamu nggak tertarik kenal dekat sama Nak Ajeng?" Ucap Nyai Kartika.
Ajimukti seketika tersedak, lalu menoleh terkejut ke arah ibunya.
"Ajeng sudah saya anggap adik sendiri, Bu. Jadi saya tidak mungkin untuk berpikiran sampai disitu." Sahut Ajimukti setelahnya sembari geleng geleng kepala ringan.
Nyai Kartika hanya tersenyum, "Apa karena anak gadis Kyai Aminudin itu, Le?" Tanyanya kemudian.
Ajimukti tidak menyahut, meski begitu Nyai Kartika cukup hafal dengan pribadi Ajimukti. Tanpa mengatakannya pun, ia sudah dapat membaca itu dari ekpresi wajah Ajimukti yang ditunjukkan padanya.
Ajimukti nampak menghela nafasnya, "Sebenarnya kepulangan saya kali ini untuk membicarakan itu pada Sibu." Ucapnya kemudian.
Nyai Kartika menghentikan aktifitasnya, lalu menatap lekat wajah Ajimukti.
"Jadi selain mengunjungi Sibu dan pesantren, ada hal lain tho, Le?" Tanya Nyai Kartika pada Ajimukti kemudian.
Ajimukti mengangguk ringan. "Soal Habiba, Bu." Ucapnya kemudian.
"Habiba?" Nyai Kartika mengerutkan keningnya, kemudian menganggukkan kepala ringan. "Jadi nama anak gadisnya Kyai Aminudin itu Habiba, Le?"
Ajimukti hanya tersenyum.
"Lalu apa yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Nyai Kartika kemudian.
Sekali lagi Ajimukti menghela nafasnya, untuk menenangkan ketegangan hatinya, "Nyuwun restunya Sibu lebih tepatnya."
__ADS_1
Nyai Kartika menoleh ke arah anaknya itu, ekspresinya tetap tenang, kemudian meraih Ajimukti dalam pelukannya.
"Nek wis dadi pilihanmu, Sibu opo kudu ora ngridhani tho, Le? Sing penting kanggo Sibu iku, awakmu seneng, Sibu yakin karo pilihanmu." Ucap Nyai Kartika dengan dialek Jawa khasnya.
"Cuma welinge Sibu, Le. Kamu harus berhati hati." Lanjut Nyai Kartika.
Ajimukti mengerutkan keningnya, "Maksud Sibu, karena Habiba anak Kyai Aminudin?"
"Bukan, Le. Hati hati dengan niat kamu. Ojo sampek ono ***** barang sak titik wae neng niatmu, Le." Ucap Nyai Kartika kemudian.
"Insya Allah, Bu. Saya paham itu." Sahut Ajimukti sembari sedikit tertunduk.
"Wannafsu kaththifli in tuhmilhu syabba 'alaa, hubbir-radhaa'i waintafthimhu yanfathim, Seperti yang kamu tahu, Le. ***** itu bagaikan bayi, bila kamu biarkan, ia akan tetap menyusu. Tapi bila kamu sapih bayi itu, maka bayi itu akan berhenti menyusu." Ucap Nyai Kartika sembari mengelus pundak Ajimukti.
"Lalu kapan kamu mau melamarnya?" Tanya Nyai Kartika kemudian.
Ajimukti sekali lagi menghela nafasnya. "Insya Allah juga dalam waktu dekat ini, Bu."
"Sebaiknya begitu, Le. Lebih cepat lebih baik. Ben ora nuwuhne godane setan." Ucap Nyai Kartika lagi.
Ajimukti hanya mengangguk.
"Oh, iya, Le. Pak Lek mu Sarjito belum lama ini juga baru dari sini. Kamu masih ingat beliau tho?" Ucap Nyai Kartika setelah itu.
Nyai Kartika mengangguk, "Iya, Le. Berarti kamu juga ingat anaknya Pak Lek mu itu tho?"
Ajimukti mengerutkan keningnya seolah mengingat ingat sesuatu.
"Nafisa maksud Sibu?" Tanya Ajimukti kemudian.
Nyai Kartika kembali mengangguk. "Benar, Le. Sekarang adikmu itu sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik lho. Sibu saja sampai pangling pas diajak Pak Lek mu kesini kemarin itu. Padahal dulu waktu Mbah mu Kasiman masih hidup, dia sering nginep disini, main sama kamu. Sekarang tahu tahu sudah gede, ayu, irunge mbangir persis kamu." Ucap Nyai Kartika memuji adik sepupu Ajimukti, anak dari Pak Leknya itu.
"Apa Nafisa sudah selesai mondoknya, Bu?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Katanya kemarin sudah, Le. Dia sekarang di rumah bantu Bu Lekmu sama kalau sore ngajar ngaji anak anak di TPA." Sahut Nyai Kartika.
"Baguslah, Bu. Nggak sia sia ngajinya kalau begitu." Ajimukti sedikit melempar senyum.
"Anu, Le. Rencana Sibu. Mbok ya biar Nafisa itu nanti ikut kamu disana wae. Kan nanti kalau pondok putrinya sudah jadi, kamu juga butuh pengajar putri tho?" Usul Nyai Kartika kemudian.
"Lagipula Nafisa itu kan juga dulunya nyantri di sana sewaktu bapakmu masih sugeng, terus habis itu nyantri juga di Magelang. Sibu yakin di Hidayah, ilmunya jauh lebih manfaati." Lanjut Nyai Kartika lagi.
__ADS_1
"Iya, Bu Nggak apa apa. Saya setuju saja. Kebetulan nanti Ajeng sama Habiba juga rencananya mau saya minta sumbang sih ilmunya buat ngajar di Pondok Hidayah." Sahut Ajimukti kemudian.
"Bagus itu, jadi kamu juga nggak kewalahan." Nyai Kartika nampak senang mendengar itu.
"Sibu kemarin di kasih nomornya Nafisa. Nanti Sibu kirim ke kamu biar kamu bisa ngobrol sama dia. Dia kemarin ya nanyain kamu. Tapi begitu tahu kamu di Hidayah, entah kenapa wajahnya jadi agak muram gitu, Le."
"Kenapa, Bu?" Tanya Ajimukti sedikit penasaran.
"Entahlah, Sibu juga nggak tahu kenapa. Mungkin dia ingat waktu ngaji sama bapakmu disana dulu." Sahut Nyai Kartika kemudian.
Ajimukti hanya mengangguk.
Sementara itu, jauh dari pesantren Fadhlun Muthoriq, di pesantren lain di kota Pacitan di salah satu kamar santri putri. Habiba dan Ajeng sedang mengobrol berdua diantara waktu senggang mereka saat ini.
"Tidak terasa ya, Ba. Kita semua bakalan berpisah. Hmmm, rasanya berat tapi juga seneng." Ucap Ajeng sembari menata beberapa kitabnya ke dalam kardus.
"Iya, Jeng. Rasanya campur aduk." Sahut Habiba yang juga sedang merapikan sebagian barang pribadinya.
"Oh iya, Habiba. Setelah ini kamu rencananya ngapain?" Tanya Ajeng kemudian.
"Saya ya...? Emmm... Belum tahu, Jeng." Seketika Habiba nampak lesu dengan pertanyaan Ajeng itu.
Habiba tahu setelah ini dirinya kemungkinan tidak akan lagi tinggal di kota ini karena sejujurnya sejak keluarganya memutuskan untuk pergi dari Pondok Hidayah, keluarganya dalam kondisi keuangan yang tidak baik. Bahkan keluarganya hanya mampu mengontrak rumah selama setengah tahun, dan setelah ini, ia bersama keluarganya akan tinggal di kampung halaman Abahnya. Meski ia tahu itu, tapi ia tak tahu apa yang akan dilakukannya di kampung itu.
Mendadak kelopak mata Habiba mulai basah oleh bulir bulir halus yang begitu saja keluar. Menyadari itu Habiba segera mengusapnya, ia tidak ingin jika Ajeng melihatnya seperti itu.
"Semoga nanti kita masih bisa sama sama ya, Ba." Ucap Ajeng lagi.
"Iya, Jeng." Sahut Habiba datar dengan suara lirih.
Ajeng menyadari suara lirih Habiba, tapi ia tidak bisa melihat wajah Habiba karena posisi mereka yang saling membelakangi.
Habiba sendiri tidak yakin apakah dirinya bisa bertemu Ajeng lagi setelah ini. Dalam keadaan itu ia justru teringat dengan Ajimukti, ia kembali menatap bross yang sempat dibelikan Ajimukti juga kata kata yang diucapkan Ajimukti ketika dirinya dan keluarganya akan pergi meninggalkan Pondok Hidayah.
Habiba berharap meski hanya sesaat, ia ingin untuk sekali saja bisa melihat Ajimukti. Tapi kemudian ia pun pesimis mengingat bagaimana pesan Abahnya sebelum dirinya berangkat ke pesantren ini.
Sekali lagi, air matanya tidak lagi bisa ia bendung, bulir bening itupun begitu saja menggenangi kelopak matanya kemudian mulai mengalir turun membasahi pipinya. Berkali kali ia menyekanya, tapi terlalu banyak bulir bening yang tumpah dari kedua matanya.
"Ba, kamu kenapa? Kamu baik baik saja kan?" Ajeng yang sudah berada di belakang Habiba mencoba meraih pundak Habiba dan memutar tubuh lemas Habiba.
Habiba segera memeluk sahabatnya itu. Kini, air mata itu pun perlahan turut membasahi jilbab Ajeng bahkan tembus ke bajunya. Ajeng membalas pelukan Habiba itu, mendekapnya erat, berusaha memberikan ketenangan meski ia pun tak tahu apa yang sedang dirasakan sahabatnya kini.
__ADS_1
Bersambung...