BROMOCORAH

BROMOCORAH
Jadilah Purnamaku, Ning!


__ADS_3

Langit sudah gelap ketika Ajimukti, Manan juga Habiba tiba di rumah Kyai Aminudin. Sebelumnya Ajimukti juga Manan terlebih dahulu menyempatkan sholat Maghrib tak jauh dari kampung tempat Kyai Aminudin tinggal, karena rencananya mereka berdua akan langsung kembali ke Pondok Hidayah setelah mengantar Habiba.


Kini, Habiba kembali di buat heran dengan ekspresi biasa Kyai Aminudin melihat dirinya pulang bersama Ajimukti, mengingat sebelum dirinya kembali ke pesantren bagaimana Abahnya itu mewanti wanti dirinya agar tidak lagi berhubungan dengan pihak Pondok Hidayah. Apalagi ketika uminya, Nyai Sarah, nampak tersenyum menyambut Ajimukti.


Ajimukti dan Manan segera dipersilahkan duduk oleh Kyai Aminudin, sementara Habiba segera masuk ke dalam kamar membawa barang barangnya di susul Nyai Sarah.


"Sebenarnya ada apa, Mi? Kenapa Abah sepertinya berubah sekali dari sebelum Habiba berangkat?" Tanya Habiba masih keheranan.


Nyai Sarah kemudian tersenyum sembari mendekat ke arahnya, "Sudah, Nduk. Itu dibahas nanti saja. Kamu pasti capek sekarang. Sebaiknya kamu istirahat dulu saja. Ibu mau buatin minum dulu Nak Aji sama Nak Manan." Ucap Nyai Sarah sembari kembali berdiri dan bergegas ke dapur, ia menyusul Habiba ke kamarnya hanya untuk memastikan anaknya baik baik saja.


"Ternyata kamu cukup bernyali juga ya?" Ucap Kyai Aminudin begitu Ajimukti duduk bersamanya.


"Kamu tidak takut Habiba akan menolak kamu?" Tanyanya kemudian.


Ajimukti tersenyum tenang, "Saya kebetulan pernah belajar rebana, Kyai. Ya, meski tidak semahir santri santri di grub grub Hadrah." Sahut Ajimukti.


"Apa maksud kamu?" Tanya Kyai Aminudin keheranan.


"Bahwa tidak semua yang bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan, Kyai." Sahut Ajimukti. Manan yang mendengar itu pun tak habis pikir, bagaimana bisa Ajimukti seterbiasa ini dengan Kyai Aminudin.


"Ya ya ya, saya memang tidak bisa mengelak. Anak muda sekarang memang begitu yakin meski hasil belum bisa dilihat." Ucap Kyai Aminudin.


"Bukan mamang atau keragu raguan tidak baik ya, Kyai. Kalau kata Mbah Masyhoedi Almaghfurlah, seorang ulama alim dari Klaten iyo iyo ora ora, timbang yo ra yo, aluwung ora sisan." Timpal Ajimukti.


Kyai Aminudin tersenyum pias. Tak lama Nyai Sarah datang membawa nampan berisi teh.


"Hanya ini Nak Aji. Monggo di rahapi sambil istirahat." Ucap Nyai Sarah sembari meletakkan gelas gelas di atas meja.


"Terima kasih, Nyai. Malah merepotkan." Sahut Ajimukti.


"Tidak ada yang merasa direpotkan. Ya kan, Bah?" Nyai Sarah sedikit menyinggung suaminya.


"Hmmm," Sahut Kyai Aminudin sembari sedikit mengangguk mengiyakan.


"Oh, iya, Kyai. Hampir lupa." Ajimukti kemudian berdiri dan keluar lalu terlihat menuju ke dalam mobilnya.


Kyai Aminudin dan Nyai Sarah nampak keheranan. Apa yang sebenarnya ingin Ajimukti tunjukan.


Tak lama Ajimukti pun kembali membawa tas besar.


"Ini ada titipan oleh oleh dari Sibu untuk Kyai. Sibu juga titip salam untuk panjenengan berdua." Ucap Ajimukti kemudian.


Nyai Sarah nampak tersenyum, "Waduh kok Bu Nyai Kartika repot repot segala Nak Aji. Sampaikan terima kasih dan salam kami kepada beliau ya, Nak." Ucapnya kemudian.


"Iya, Nyai. Nanti saya sampaikan."


Setelah berbincang sesaat dan sudah menyesap teh yang disuguhkan Nyai Sarah. Ajimukti dan Manan pun pamit undur diri dari kediaman Kyai Aminudin itu. Habiba yang mendengar bahwa Ajimukti akan pulang segera keluar dari kamarnya dan ikut mengantar Ajimukti ke depan.


"Terima kasih ya, Gus. Sekali lagi maaf jika sudah merepotkan." Ucap Habiba pada Ajimukti dengan sedikit membungkukkan badannya.

__ADS_1


Ajimukti kemudian tersenyum, "Kyai, Nyai, saya mohon ijin untuk bicara dengan Habiba kalau diperkenankan." Ucapnya beralih ke Kyai Aminudin juga Nyai Sarah.


Nyai Sarah tidak berani memutuskan, ia kemudian melirik suaminya. Kyai Aminudin pun hanya terlihat mengangguk ringan lalu segera masuk di ikuti Nyai Sarah.


"Nak Aji pulangnya hati hati ya. Sekali lagi terima kasih karena sudah mau direpotkan." Ucap Nyai Sarah kemudian menyusul suaminya ke dalam.


"Nan, kamu tunggu di mobil sebentar ya." Ucap Ajimukti pada Manan.


"Iya, Jik." Sahut Manan kemudian melenggang ke arah mobil yang diparkirnya.


Habiba mendadak gemetaran, jantungnya seketika berdetak lebih cepat dan terasa sangat kencang ketika kini di teras itu hanya ada dirinya dan Ajimukti.


"A...apa yang mau njenengan bicarakan, Gus?" Tanya Habiba dengan bibir sedikit gemetar dan suara tertahan.


Ajimukti kemudian tersenyum, "Sampeyan dapat salam dari Sibu. Sibu juga minta maaf karena belum bisa silaturahmi." Ucap Ajimukti kemudian.


"Dan ini ada titipan dari Sibu untuk saya serahkan sama sampeyan." Imbuh Ajimukti sembari menyodorkan kotak kecil ke arah Habiba.


"I...ini apa, Gus?" Tanya Habiba sembari menerima pemberian Ajimukti itu.


"Nanti silahkan sampeyan buka sendiri." Ucap Ajimukti setelahnya.


"Dan soal yang lainnya, mungkin sampeyan heran. Nanti bisa sampeyan tanyakan sama Kyai atau Bu Nyai." Pesan Ajimukti kemudian.


Habiba kemudian mengangguk, "Terima kasih, Gus."


"Baiklah, Ning. Mungkin hanya itu saja. Saya permisi dulu. Assalamu'alaikum..." Ucap Ajimukti kemudian memutar badannya dan mulai beranjak meninggalkan teras ndalem Kyai Aminudin itu.


Ajimukti menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Habiba, tepat disaat itu ada senyum merekah di bibir Habiba. "Iya, Ning. Sampeyan juga. Dan tetap, jadilah purnama ku, Ning!"


Habiba masih membiarkan senyumnya mengiringi kepergian Ajimukti hingga mobil yang dikemudikan Manan berlalu menjauh dari tepi jalan depan rumah itu, menjauh menembus kegelapan malam.


Habiba kemudian kembali ke dalam rumahnya. Di dalam Kyai Aminudin masih duduk di tempatnya sebelumnya.


"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Kyai Aminudin begitu melihat Habiba ikut duduk disebelah uminya.


"Sudah, Bah. Besok besok saja. Biarkan anakmu ini malam ini istirahat dulu." Sela Nyai Sarah.


"Tidak apa apa, Mi. Habiba tidak capek. Dan kebetulan ada yang ingin Habiba tanyakan sama Abah sama Umi juga." Sahut Habiba kemudian.


"Hmmm, jadi apa yang sudah kalian bicarakan?" Tanya Kyai Aminudin mengulangi pertanyaannya.


"Tidak ada, Bah. Gus Aufa hanya memberi saya ini. Kata beliau ini titipan dari Nyai Kartika untuk diberikan kepada saya." Habiba menunjukkan kotak kecil di tangannya.


"Itu apa, Nduk?" Tanya Nyai Sarah keheranan dan penasaran akan isi di dalam kotak kecil itu.


"Entahlah, Mi. Habiba pun belum melihat apa isinya." Habiba kemudian membuka tutup kotak kecil itu.


Seketika, alangkah kagetnya Kyai Aminudin, Nyai Sarah juga Habiba sendiri begitu melihat isi kotak itu ternyata sebuah cincin emas yang berkilau.

__ADS_1


"Ini..." Habiba kemudian mengambil cincin itu.


Nyai Sarah tersenyum, "Ternyata dia memang tidak main main, Bah." Ucapnya pada Kyai Aminudin.


"Anak itu." Kyai Aminudin hanya menggumam.


"Ada apa, Bah?" Tanya Habiba keheranan.


"Tanya sama Umi mu. Biar Umi mu yang menjelaskan. Abah mau sholat Isya' dulu." Ucap Kyai Aminudin kemudian berdiri dari duduknya dan meninggalkan Nyai Sarah juga Habiba berdua di ruangan itu.


"Ada apa, Mi? Apa yang Habiba tidak tahu selama Habiba di pesantren? Sikap Abah pun terlihat begitu berbeda dari sebelumnya." Tanya Habiba pada nyai Sarah kemudian.


Nyai Sarah kemudian tersenyum, "Nduk, memang. Setelah kembalinya kamu ke pesantren ada beberapa hal terjadi."


Habiba sedikit mengerutkan keningnya, "Apa yang terjadi, Mi? Ceritakan pada Habiba." Habiba kini semakin dipenuhi rasa penasaran.


"Entah kebetulan yang bagaimana. Ternyata tetangga sebelah kita itu, Bu Gitun itu. Beliau dulunya istri salah satu teman Kyai Salim, dan secara tidak sengaja anak Bu Gitun dari suami sebelumnya itu juga santrinya Nak Aji di Jogja." Ucap Nyai Sarah mengawali ceritanya.


Habiba mengangguk. Ia ingat memang sewaktu di pesantren tadi, Ajimukti sudah mengatakannya.


"Setelah itu, entah angin apa yang membawa Nak Aji kemudian datang kerumah ini. Awalnya Abahmu pun kaget, tapi setelah mengetahui tujuan kedatangannya. Abah kamu itu tidak Umi sangka bisa begitu lapang menerima apa yang Nak Aji utarakan. Ditambah dengan keseriusan yang Nak Aji perlihatkan. Nyatanya bisa mengambil hati Abahmu." Lanjut Nyai Sarah kemudian.


"Memang apa yang Abah dan Gus Aufa bicarakan, Mi?" Tanya Habiba semakin penasaran.


Nyai Sarah tersenyum, "Banyak, Nduk. Yang pasti Nak Aji memaksa Abah untuk kembali ke Pondok Hidayah, tapi Abahmu menolaknya. Dan yang tidak Umi sangka setelah itu. Nak Aji justru membeli rumah ini lalu kemudian menyerahkannya pada Abahmu, dengan alasan Abahmu tidak mau kembali ke Pondok Hidayah." Ucap Nyai Sarah lagi.


Habiba tersentak mendengar itu. "Jadi rumah ini?"


"Iya, Nduk. Rumah ini sekarang rumah kita. Kita tidak akan pindah ke kampung Abahmu. Kita akan tetap tinggal disini." Ucap Nyai Sarah masih dengan senyumnya yang merekah.


"Tapi ada hal lain yang ini berkaitan dengan kamu, Nduk." Ucap Nyai Sarah dengan suara berat.


"Hal lain? Hal lain apa, Mi? Kenapa itu berkaitan dengan Habiba?" Tanya Habiba memburu.


Nyai Sarah menghela nafasnya untuk menenangkan pikirannya. "Nak Aji... Nak Aji melamar kamu, Nduk. Tapi baik Abah maupun umi menyerahkan semua keputusan pada kamu. Ingat, Nduk. Abahmu sudah berubah." Ucap Nyai Sarah kemudian.


Habiba semakin terkejut mendengar penuturan Nyai Sarah itu. Rasanya dadanya sesak, jantungnya pun kembali berdetak cepat dan semakin kencang. Tubuhnya seketika bergetar.


"Gus Aufa... Melamar Habiba, Mi?" Tanya Habiba lirih masih tidak percaya dengan ucapan uminya itu.


Nyai Sarah mengangguk, "Iya, Nduk. Dan jika melihat apa yang di berikan Nyai Kartika padamu ini. Sepertinya kepulangan Nak Aji ke Jogja sekaligus membicarakan itu pada Nyai Kartika, dan sepertinya juga Nyai Kartika sudah merestuinya, Nduk. Jadi tinggal kamu sekarang." Ucap Nyai Sarah setelah itu.


Habiba terdiam sembari melihat cincin pemberian Nyai Kartika itu. Nyai Sarah melihatnya sembari tersenyum.


"Pakailah, Nduk. Sepertinya itu akan sangat cocok di jari kamu." Ucap Nyai Sarah kemudian berdiri meninggalkan Habiba sendiri di ruangan itu.


Habiba kemudian mencoba memakai cincin itu. Benar kata uminya, cincin itu begitu terlihat cantik ketika sudah melingkar di jari manisnya.


"'Alaika wa 'Alaihis-Salam, Gus." Gumamnya dengan suara lirih sembari beranjak dari kursi di ruangan itu dan melangkah menuju kamarnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2