BROMOCORAH

BROMOCORAH
Ini Penting Untuk Wanita


__ADS_3

Lain di Pondok Hidayah, lain pula di kediaman Prastowo. Di pagi menjelang siang, Sobri datang berkunjung ke kediaman Prastowo itu. Dari halaman, terlihat di lincak teras rumah Prastowo, Ajeng nampak sedang berbincang dengan tamunya. Namun melihat kedatangan Sobri itu, Ajeng segera berdiri dan menyambut salam Sobri.


"Sedang ada tamu ya, Dik?" Tanya Sobri setelah mereka saling beradu salam.


"Oh, ini, Kang. Mbak Ayu, dia tetangga sebelah kok, Kang." Ucap Ajeng sembari memperkenalkan tamunya. Yang disebut namanya pun sedikit menundukkan kepala dan melempar senyum.


"Kebetulan sekali njenengan kesini, Kang. Mbak Ayu ini sedang ada problem. Dia ingin menanyakan beberapa hal sama saya. Ini saya sedang mencoba mencarinya di kitab." Ucap Ajeng kemudian.


Sobri sedikit melirik kitab yang berada di atas meja.


"Itu bukannya kitab Risatul Mahid ya, Dik?" Tanya Sobri kemudian.


Ajeng mengangguk, "Iya, Kang."


"Kalau boleh tahu ada problem apa, Dik? Kenapa mencarinya di kitab itu?" Tanya Sobri lagi.


Ayu yang memiliki problem itu sedikit memerah wajahnya. Tapi isyarat mata yang diberikan Ajeng membuatnya sedikit tenang.


"Biar Mbak Ayu saja yang menjelaskan, Kang. Biar lebih jelas." Ucap Ajeng kemudian.


"Waduh, kamu saja, Dik. Saya tidak enak." Bisik Ayu pada Ajeng dengan sedikit malu malu.


"Tidak apa apa, Mbak. Kang Sobri ini seorang santri, jadi saya yakin beliau bisa lebih menggamblangkan permasalahan Mbak Ayu itu." Ucap Ajeng mencoba meyakinkan Ayu.


"Memangnya ada apa, Dik? Kok sepertinya ada perihal yang pelik dan sulit dijelaskan." Sela Sobri setelahnya.


"Memang, Kang. Karena ini soal wanita." Ucap Ajeng lirih.


"Ohhh, pantas." Sobri sedikit mengangguk.


Ayu kembali memerah dan ragu untuk menjelaskan problem yang tengah ia hadapi saat ini.


"Coba Mbak Ayu ceritakan. Tidak apa apa. Bismillah, bi niatin tholabul 'ilmi, Mbak. Kalau saya bisa kasih solusi akan saya kasih sebisa saya. Namun jika tidak, saya akan mencoba membantu dengan bertanya pada yang lebih mumpuni." Ucap Sobri setelah itu.


Ayu masih nampak sedikit ragu namun pada akhirnya ia menghela nafas dan mulai menggerakkan bibirnya untuk mulai berbicara.

__ADS_1


"Anu, Kang. Ini mengenai haid saya." Ucap Ayu nampak ragu dengan suara berat dan lirih.


Sobri mengerutkan keningnya, namun akhirnya ia pun sedikit mengangguk dan paham mengapa Ayu nampak ragu untuk berbicara tentang masalahnya itu.


"Haid? Kenapa dengan haid sampeyan, Mbak? Maaf ini saya bertanya berterus terang." Ucap Sobri kemudian.


"Begini, Kang. Masa haid saya sudah lewat, tapi beberapa hari ini entah kenapa keluar darah lagi dan darahnya itu berbeda sekali dengan darah haid saya yang biasanya. Saya sedikit takut kalau kalau itu penyakit atau ada permasalahan, tapi disamping itu saya juga bingung soal sholat saya. Apakah saya harus sholat atau tidak. Begitu, Kang." Ucap Ayu pada akhirnya mulai berterus terang.


Sobri sedikit mengangguk paham, "Sudah berkonsultasi dengan dokter, Mbak?" Tanya kemudian.


"Belum, Kang. Ini rencananya saya mau ajak Ajeng ke puskesmas. Terus ini saya cerita cerita sedikit soal itu." Ucap Ayu lagi.


"Apa mungkin itu darah istihadhah ya, Kang?" Sela Ajeng kemudian.


"Bisa jadi, Dik. Memang sepertinya itu darah istihadhah." Sahut Sobri kemudian.


"Darah istihadhah? Darah istihadhah itu apa ya, Kang?" Tanya Ayu kemudian.


"Darah istihadhah itu darah yang keluar dari qubul wanita di luar norma budaya bulanannya atau di luar waktu haid, serta bukan nifas yang disebabkan karena melahirkan, Mbak. Pada umumnya, wanita mengalami istihadhah selama empat puluh hari. Seorang wanita yang mengalami istihadhah dilarang meninggalkan ibadahnya, seperti shalat, puasa dan ibadah yang lain." Jelas Sobri kemudian.


"Berarti saya masih tidak apa apa jika sholat ya, Kang?" Tanya Ayu setelahnya.


"Memangnya itu apa dan bagaimana, Kang?" Tanya Ayu lagi kian nampak rasa penasarannya.


"Istihadhah merupakan darah yang bermula dari urat yang pecah atau putus dan kebanyakan keluarnya bukan pada masa haid atau nifas, Mbak. Tapi terkadang juga keluar pada masa hukum budaya haid dan masa nifas. Karena ia merupakan darah berupa penyakit, karena itu ia tidak akan mandek mengalir hingga wanita itu sembuh darinya. Karena itulah, darah istihadhah ini kadang tidak pernah mandek keluar sama sekali dan kadang mandeknya hanya sehari atau dua hari dalam sebulan. Dan kalau soal penyakitnya sendiri, mungkin ini hanya bisa dijelaskan oleh ahli medis, Mbak." Jelas Sobri kemudian.


Ayu nampak mengangguk. Kini keraguan dan rasa sungkan itu perlahan lahan tidak lagi terlihat di wajahnya. Ia lebih mulai merasa santai untuk bertanya lebih pada Sobri.


"Lalu, Kang. Jika ketika haid ternyata itu juga keluar. Lalu untuk membedakannya bagaimana, Kang? Ataukah ada ciri ciri tertentu. Maaf, untuk pertama ini, saya bisa membedakan, Kang. Hanya saja kalau kalau ragu di kemudian harinya." Ucap Ayu kemudian.


"Darah istihadhah itu berlainan dengan darah haid, darah istihadhah mempunyai ciri berwarna merah, baunya seperti darah biasa, bermula dari urat yang pecah atau putus dan ketika keluar langsung mengental. Ada perbedaan lain dari sifat darah haid bila dibandingkan dengan darah istihadlah. Dari segi perbedaan warna. Darah haid umumnya hitam sedangkan darah istihadlah umumnya merah segar. Kelunakan dan kerasnya. Darah haid sifatnya keras sedangkan istihadlah lunak. Kekentalannya. Darah haid kental sedangkan darah istihadlah sebaliknya. Aromanya. Darah haid beraroma tidak sedap atau busuk, sementara darah istihadhah hanya amis layaknya darah pada umumnya." Terang Sobri kemudian.


Ayu kemudian hanya mengangguk anggukan kepalanya.


"Istihadhah merupakan peristiwa yang tidak menentu pada akhirnya. Namun hal itu bukan sebuah penghalang untuk wanita muslim menjalankan ibadahnya setiap hari. Wanita yang mengalami istihadhah mesti tetap menjalankan shalat, puasa dan ibadah yang lain." Sambung Sobri setelahnya.

__ADS_1


"Jadi memang masih boleh shalat ya, Kang?" Tanya Ayu masih dengan ekspresi penasaran akan penjelasan lanjutan dari Sobri.


"Seperti kata saya tadi, Mbak. Tetap jalankan sholat njenengan." Sahut Sobri kemudian.


"Ada sebuah kisah dari Aisyah Radhiallahu Anha, tentang Fatimah binti Abi Hubaisy. Kala itu Fatimah binti Abi Hubaisy bertanya pada Baginda Nabi. Ya Rasulullah, sesungguhnya saya mengalami istihadhah berlebihan. Bagaimana menurutmu? Saya telah terhalang dengan itu dari menuaikan shalat dan puasa. Beliau pun berkata, aku akan tunjukan padamu untuk mengetahuinya. Gunakan kapas untuk menutup kemaluanmu karena itu akan menutup saluran darahmu. Fatimah berkata lagi, darah tersebut terlalu deras. Kesudahan di hadist tersebut Nabi kemudian bersabda, sesungguhnya darah tersebut tendangan tendangan syaitan, karena itu massa haidmu enam atau tujuh hari sesuai ilmu Allah Ta’ala. Setelah itu mandilah bila engkau melihat dirimu sudah bersih dari haidmu dan berpuasalah. Begitulah Hadits Riwayat Ahmad, Sisa dari pembakaran Dawud, At Tirmidzi dan beliau Imam Ahmad menshahihkannya. Di nukilkan bahwasannya Imam Ahmad menshahihkanya dan Al Bukhari menghasankan hadits tersebut." Terang Sobri kemudian.


"Jadi, Mbak. Seorang wanita yang keluar darah istihadhah tetap diwajibkan untuk mengerjakan shalat lima waktu. Karena darah istihadhah bukan darah haid atau pun darah nifas, sehingga tidak ada larangan untuknya untuk mengerjakan shalat. Demikian juga dengan kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan, tetap mesti dikerjakan, bila yang keluar hanya merupakan darah istihadhah. Puasa Qadha’ atas hari hari yang dibiarkan lepas sama sekali di bulan Ramadhan, jikalau memang ada hutang puasa, juga mesti dikerjakan, jikalau yang keluar hanya darah istihadhah. Tawaf dan Sa’i juga dibolehkan meski kedua ibadah itu mensyaratkan suci dari hadats kecil dan juga hadats akbar, namun karena darah istihadhah tidak menyebabkan hadats akbar. Karena itu cukup untuk wanita yang sedang memperoleh darah istihadhah untuk ber-istinja untuk membersihkan darah yang keluar, lalu menyumpalnya dengan pembalut, setelah itu berwudhu’ dan dipersilahkan mengerjakan tawaf dan sa’i. Seorang wanita yang mengalami keluar darah istihadhah pun diperbolehkan untuk menyentuh mushaf al-Qur'an, sebagaimana ditetapkan oleh mayoritas ulama. Tentunya setelah berwudhu terlebih dahulu. Melafazkan ayat ayat Al-Quran pun tidak dijadikan larangan untuk wanita yang mengeluarkan darah istihadhah. Asalkan ia telah membersihkan dirinya dari noda darah yang sekiranya mengotori tubuhnya. Wanita yang sedang istihadhah juga tetap diperbolehkan masuk ke dalam masjid. Tentu setelah membersihkan diri dan pakaiannya dari noda darah. Karena meski boleh masuk masjid, namun mengotori masjid dengan darah yang keluar dari tubuh tentu tetap merupakan larangan. Karena hukum dasarnya merupakan bahwa masjid itu tempat suci, yang terlarang buat kita untuk membawa benda benda najis ke dalamnya. Lalu yang paling riskan menurut saya, suaminya boleh menyetubuhinya meski darah mengalir keluar. Ini merupakan argumen ulama karena tidak berada satu pun dalil yang mengharamkannya. Abdullah bin Abbas berkata, Jikalau shalat saja boleh apa lagi bersetubuh. Selain itu ada juga riwayat bahwa Ikrimah binti Himnah disetubuhi oleh suaminya dalam kondisi istihadhah. Berlainan dengan wanita yang sedang haid, selain boleh digauli, wanita yang mengeluarkan darah istihadhah juga tidak terlarang dan tidak berdosa bagi suaminya untuk menceraikannya." Jelas Sobri panjang lebar.


Mendengar itu Ayu nampak kembali memerah diarea pipinya.


"Masak iya boleh, Kang?" Tanyanya kemudian.


"Sesuai riwayat yang saya sampaikan tadi, Mbak. Boleh." Sahut Sobri kemudian.


"Huwa adzan fa'taziluun-nasaa'a fiil-mahiidh, wa laa taqrobuuhunna hattay-yallah yuhibbut-tawwabiina wayuhibbul-mutathohhiriin. Haidh itu merupakan suatu kotoran. Oleh karena itu hendaklah menjauhkan diri dari wanita di waktu haid dan janganlah mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, karena itu gaulilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang bertaubat dan menyukai orang orang yang mensucikan diri. Nah, sementara seperti yang saya jelaskan tadi, Mbak. Antara darah haid dan istihadhah itu berbeda. Hadits itu hanya menegaskan tentang haid, bukan untuk istihadhah, jadi tidak bisa mencampur adukkan hadits itu untuk menghukumi istihadhah, Mbak." Lanjut Sobri setelahnya.


"Baik, Kang. Terima kasih untuk penjelasannya. Ini sangat membantu saya saat ini." Ucap Ayu nampak sedikit sungkan.


"Sama sama, Mbak. Untuk lebih lengkapnya sebaiknya njenengan segera konsultasikan saja pada dokter ahlinya, Mbak." Saran Sobri kemudian.


"Iya, Kang."


"Oh, iya, Mbak. Ada sedikit tambahan juga. Wanita yang menderita istihadhah bisa digolongkan dalam empat keadaan." Imbuh Sobri kemudian.


Ayu kembali mengerutkan keningnya, "Empat keadaan? Kalau boleh tahu itu apa saja ya, Kang?" Tanyanya kemudian.


"Pertama, Mubtadi’ah Mumayyizah, orang yang baru pertama kali keluar darah dari rahimnya, tetapi sudah ahli membedakan selang darah haid dan istihadhah. Kedua, Mubtadi’ah Ghairu Mumayyizah, orang yabg baru pertama kali keluar darah daripada rahimnya, tetapi tidak ahli membedakan selang darah haid dan istihadhah. Ketiga, Mu’tadah Mumayyizah, yaitu orang yang sudah pernah mengalami haid sebelumnya, lalu suci, dan tahu kadar haid yang keluar dan durasi hari sucinya. Lalu yang terakhir, yang keempat, Mu’tadah Ghairu Mumayyizah, orang yang sudah pernah mengalami haid tetapi tidak dapat membedakan selang darah haid dan istihadhah. Oleh itu, hendaklah ia berpegang kepada norma budayanya yang telah lalu atau penanggalan masa haidnya." Ucap Sobri kemudian.


"Ya, tentu sebagai wanita pasti tahu kapan tanggal haid, berapa lama biasanya." Imbuh Sobri setelahnya.


"Baik, Kang. Terima kasih sekali lagi untuk penjelasannya." Ucap Ayu lagi kini sembari sedikit menundukkan kepalanya.


"Saya juga terima kasih Kang Sobri sudah memberi penjelasan sepanjang itu." Imbuh Ajeng sembari melempar senyum ke arah Sobri.


"Iya, Dik. Sama sama, kebetulan masalah ini pernah saya kaji sewaktu di pesantren Fadhlun Muthoriq. Ya, meski ini masalah wanita, tapi sebagai laki laki pun saya harus tahu ini, Dik. Karena pada akhirnya saya juga akan memiliki pendamping seorang wanita, yang mana ketika sudah menjadi pasangan masalah ini tidak bisa dibilang masalah wanita saja, tapi juga masalah bersama sebagai sebuah pasangan." Sahut Sobri kemudian.

__ADS_1


Mendengar itu, entah kenapa Ajeng merasakan ada yang berdesir di ulu hatinya. Sebuah perasaan yang tak menentu membuatnya sedikit bergetar. Kini pipinya sedikit memerah. Ia hanya kemudian menyembunyikan wajahnya dengan sedikit menunduk di antara anggukan kepalanya.


Bersambung...


__ADS_2