
Ajimukti tertegun mendengar semua cerita Prastowo tentang bagaimana masa lalunya dulu hingga bisa kembali ke jalan yang lebih baik seperti saat ini. Meski belum seluruhnya ia dengar, tapi setidaknya ia sudah punya sedikit gambaran tentang kejadian-kejadian dalam cerita Prastowo itu.
Ajimukti melirik jam ditangannya. Ia sadar sudah terlalu lama dirinya dan Dullah di rumah Prastowo. Ajimukti segera mengajak Dullah untuk undur diri kembali ke Pondok Hidayah.
"Kapan ada kesempatan kita lanjutkan lagi, Lek."
"Mas Aji tenang saja. Seperti kataku tadi. Saya siap dibelakang Mas Aji."
Ajimukti dan Dullah berpamitan lalu melangkah meninggalkan rumah Prastowo. Ajimukti dan Dullah berjalan agak cepat. Takut kalau dikira ada apa-apa.
Setibanya di depan gerbang Pondok Hidayah.
"Dari mana saja kalian berdua?"
Deg!
Suara tanpa rupa itu mengagetkan Ajimukti dan Dullah. Langkah mereka terhenti. Matanya berkeliaran mencari sumber suara.
"Kalian mencari apa? Mencari saya? Saya di atas." Kembali suara itu berbicara.
Ajimukti dan Dullah segera mendongak ke atas sebuah ranting pohon mangga. Seorang pemuda bersarung nangkring di dahan yang cukup besar sembari rebahan.
Ajimukti mengerutkan keningnya. Ia belum pernah bertemu pemuda ini dari kemarin.
"Pemuda itu segera turun dari atas pohon mangga. Melompat tepat dihadapan Ajimukti dan Dullah berdiri."
"Kenapa kaget begitu?" Pemuda itu seolah meledek sambil menepuk bajunya sendiri membersihkan kotoran dari dahan yang menempel di bajunya.
"Maaf. Kamu siapa? Dari kemarin disini saya kok belum pernah melihat kamu?" Tanya Ajimukti kemudian.
Pemuda itu tertawa terbahak.
"Paling ini anak juga sama kayak yang lain." Bisik Dullah pada Ajimukti.
Ajimukti memberi kode pada Dullah dengan tangannya untuk jangan berkomentar dulu.
"Kamu senior juga di Pondok Hidayah ini?"
Pemuda itu menyipitkan matanya. Lalu lebih mendekat ke Ajimukti. Membuat Ajimukti mundur selangkah.
"Saya bukan senior. Tapi disini sudah seperti rumah kedua bagi saya. Sejak Kyai itu masih dipanggil Ustadz disini. Saya sudah nyantri disini."
Dullah tiba-tiba melangkah maju.
"Tunggu tunggu. Kamu disini sejak masih sama Kyai yang lama?"
Pemuda itu mengangguk dan sedikit memicingkan matanya.
"Berarti kamu kenal sama Kyai yang lama? Bagaimana orangnya?"
Pemuda itu membakik badan. Kini ia membelakangi Ajimukti dan Dullah. Tangannya pun kini bersedekap.
"Saya adalah satu-satunya santri yang tersisa disini. Itu karena Kyai yang sekarang pilih-pilih menerima santri. Santri yang dulu rata-rata adalah anak pedagang dan petani. Dengan alasan sudah Khatam, Kyai sekarang mengadakan akhirussanah untuk para santri lama."
Ajimukti semakin penasaran. "Lalu kenapa kamu masih disini?"
"Bapakku meski hanya pedagang tapi beliau adalah seorang pedagang yang cukup bisa dibilang sukses. Jadi soal iuran yang sekarang diberlakukan, sudah pasti bapakku termasuk yang tidak mempermasalahkannya. Tapi itu bapakku. Bukan sayanya."
"Iuran yang sekarang diberlakukan? Jadi waktu masih Kyai yang lama tidak ada iuran itu?"
Pemuda itu tertawa lepas.
"Jangankan iuran. Yang ada semua fasititas sudah tersedia disini. Makanan juga tinggal ambil. Orang tua kami tidak pernah keluar uang sedikit pun. Bahkan Kyai tak segan memberi pesangon pada kami jika kami boyong atau tilik keluarga di rumah."
Ajimukti geleng kepala.
"Santri baru juga tahu aturan baru ada sekarang ini?"
"Tahu tidak tahu tidak ada yang peduli. Protes artinya keluar."
__ADS_1
"Oh iya, kalian belum menjawab pertanyaanku. Kalian dari mana?"
"Dari cari rokok dan kopi."
Pemuda itu mengangguk. "Bagus, nanti malam bisa dong saya numpang ngopi di kamar kalian?" ketusnya kemudian.
"Dengan senang hati, Mas." Sahut Ajimukti.
"Jangan panggil, Mas. Panggil saja Manan. Saya pikir kita seumuran. Kecuali dengan paman ini." Ucapnya dengan sedikit terkekeh.
"Oh iya, Mas Manan. Eh Manan. Saya Ajimukti. Ini paman saya."
"Dullah. Panggil saja Lek Dul." Sahut Dullah sembari mengulurkan tangannya.
Manan meraih tangan Ajimukti membuat Ajimukti kaget namun ternyata hanya untuk melihat jam ditangan Ajimukti.
"Masuklah. Sebentar lagi ada kajian sebelum Dzuhur." Ucapnya sembari melepas tangan Ajimukti lalu melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ternyata seperti itu ya, Lek."
"Tidak habis pikir juga saya, Mas. Bisa bisanya." Ucap Dullah sembari geleng kepala.
"Yasudah kita masuk, Lek."
Ajimukti berjalan menuju halaman Pondok Hidayah di ikuti Dullah dibelakangnya.
Sepanjang lorong tak hentinya pandangan para santri tertuju pada Ajimukti dan Dullah. Entah apa yang membuat mereka memandang keduanya seperti itu.
Setibanya dikamar. Ajimukti menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Kedua tangannya dijadikannya alas untuk menyangga kepalanya. Dipandanginya langit-langit kamar itu. Tak ada apa-apa memang, selain lampu 15 watt yang kalau nyala selalu dikerumuni serangga kecil itu.
"Saya malah makin bersemangat, Lek." Ucapnya tiba-tiba.
Dullah yang sedang menata kopi di meja menoleh ke arah Ajimukti.
"Sama, Mas. Baru dua hari disini rasanya saya sudah tidak sabar."
"Tenang, Lek. Semua ada waktunya. Kita ikuti permainannya dulu saja. Seperti kata ibu, jangan grasah grusuh."
"Iya, Mas. Pokoknya asal semua bisa seperti dulu sesusah apapun sekarang saya jalani, Mas."
Ajimukti lagi-lagi terbahak. Kini dia merubah posisinya. Kini ia miring kekanan dan menyangga kepalanya dengan tangan kanannya.
"Gak ada yang susah, Lek. Cuma sabar aja yang kita butuhkan sekarang."
"Lah itu, Mas. Sabar itu. Susahnya minta ampun, Mas."
Lagi-lagi Ajimukti tertawa mendengar ucapan Dullah. Lalu bangun dari rebahannya, meraih rokok disakunya mengambilnya sebatang lalu menyalakannya.
"Tenang saja, Lek. Kita hanya perlu bersabar dalam hal ini tidak lebih dari tiga bulan saja."
"Mudah-mudahan Gusti senantiasa menuntun kita, Mas."
"Aamiin, Lek. Saya yakin semua akan berjalan sesuai rencana kita untuk tiga bulan kedepan."
"Sejujurnya saya sudah tidak sabar untuk melihat akhir dari semua ini, Mas."
Ajimukti tersenyum, lalu menghembuskan asap rokoknya kuat-kuat. Asapnya hampir memenuhi langit-langit kamar.
"Jangan terburu-buru, Lek. Biar hasilnya maksimal."
Dullah hanya mengangguk dan ikut menikmati sebatang rokok yang sudah lebih dulu dinyalakannya.
Beberapa saat berlalu. Ajimukti mematikan sisa rokoknya lalu bangun dari duduknya.
"Kita ke aula, Lek. Saya tidak ingin melihat ekspresi tidak mengenakan para senior jika kita terlambat datang."
"Iya, Mas. Saya saja masih belum lupa bagaimana ketiga begajul tadi pagi mengolok-olok kita. Rasanya ingin saya tempeleng kepala mereka satu persatu."
Ajimukti tersenyum. Ia tahu betul seperti apa Dullah sebenarnya.
__ADS_1
Ajimukti membenarkan sarungnya lalu melangkah keluar kamar. Dullah mengikutinya lalu menutup pintu kamar mereka.
Di aula masih sepi. Baru beberapa santri yang sudah duduk bersila ditempatnya. Ajimukti dan Dullah langsung masuk dan duduk di pojokan ruangan ditempat tadi pagi mereka mengaji bersama Budi.
Tak lama, Imam dan Khalil datang di ikuti beberapa santri yang mengaji bersama mereka. Tapi baik Ajimukti maupun Dullah tidak melihat Budi.
Ajimukti memberi kode pada Dullah dengan matanya. Dullah paham apa maksudnya.
"Mungkin terlambat, Mas."
Tiba-tiba Khalil mendekat ke arah mereka. Lalu menunduk.
"Siang ini Budi libur ngajar kalian. Tunggu saja nanti akan ada santri lain yang ngajar kalian. Dan saya ucapkan selamat menikmati." Ucapnya seraya berdiri dan terbahak.
Dullah menatap Ajimukti. Ajimukti hanya mengangkat bahunya. Ia pun tidak paham apa maksud perkataan Khalil barusan.
Tak berselang lama, seorang pemuda berjalan ke arah mereka. Tapi entah kenapa Imam dan Khalil yang melihat itu justru cekikikan. Begitu juga para santri yang lain.
"Assalamu'alaikum." Ucap pemuda yang datang ke arah Ajimukti dan Dullah duduk.
"Wa... Wa'alaikumsalam. Manan? Kamu?"
Manan langsung duduk bersila dihadapan Ajimukti dan Dullah. Mereka kini duduk saling berhadapan.
Ketika hendak berbicara, Manan sedikit menundukkan badanya.
"Lupakan soal ngaji. Saya tahu siapa kalian." Ucap Manan setengah berbisik.
Deg!
Ajimukti dan Dullah sedikit tersentak.
"Siapa Manan ini?" Batin Dullah.
"Kalian pura-pura baca apa gitu."
Ajimukti menurut saja. Pura-pura dibukanya buku iqro' dihadapannya.
"Saya yakin kalian bukan seperti santri yang lain. Meski saya tidak kenal siapa kalian." Suara Manan masih dengan setengah berbisik.
"Dari mana kamu bisa berpikir seperti itu?" Tanya Dullah juga berbisik.
"Saya melihat kalian di warung tadi ngobrol dengan Pak dhe Prastowo."
Ajimukti melirik tajam ke arah Manan.
"Kamu kenal Prastowo?" Tanya Dullah lagi masih dengan berbisik.
"Tentu saja. Pak dhe Prastowo dulu sering mengantar ayan potong kesini. Dia teman dekat Kyai yang dulu. Juga teman bapakku."
Deg!
Dullah dan Ajimukti sama-sama menatap tajam ke arah Manan. Manan mengerutkan kening melihat tatapan mereka.
"Hey, kalian. Ngaji kok gak kedengaran apa-apa."
Manan menoleh cepat ke arah Khalil, tatapannya tajam sepertinya Manan sangat tidak suka dengan mereka. Lalu kembali membalik arah.
"Mereka selalu seperti itu."
Ajimukti dan Dullah hanya tersenyum.
"Kita lanjutkan nanti saja. Insya Allah saya akan nunut ngopi di kamar kalian."
"Kami tunggu." Ucap Dullah.
Untuk beberapa saat mereka melanjutkan pura-pura baca iqro'nya untuk menutup kecurigaan Khalil, Imam juga santri yang lain.
Bersambung...
__ADS_1