
Pagi pagi buta bahkan fajar pun belum sepenuhnya bersinar di beberapa tahun silam.
Mulatsih, janda muda yang belum genap dua tahun ditinggal suaminya berpulang ke Rahmatullah nampak berlari tergopoh gopoh menuju ke sebuah rumah setelah turun dari angkutan desa.
"Dik, Dik Slamet....!" Serunya masih sambil berlari dengan nafasnya yang mulai tidak teratur.
Mendengar teriakan Mulatsih itu, seorang wanita keluar dari dalam rumah tak kalah tergopohnya.
"Mbak Yu? Ada apa Mbak Yu?" Tanya wanita yang baru saja keluar itu memburu.
"Dik Gitun, Dik Slamet kemana?" Tanya Mulatsih dengan nafasnya yang tak beraturan.
"Ada Mbak Yu. Baru saja pulang dari masjid. Ada apa tho Mbak Yu?" Tanya wanita bernama Gitun itu kemudian.
Mendengar ramai ramai di depan, laki laki bernama Slamet itu pun segera menyusul ke depan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Mbak Yu? Ada apa? Kok sepertinya heboh sekali." Tanya Slamet itu kemudian.
"Aduh, Dik. Ketiwasan." Ucap Mulatsih dengan mimik memelas.
"Ketiwasan bagaimana Mbak Yu? Ada apa sebenarnya?" Tanya Slamet masih tidak paham dengan apa yang ingin disampaikan Mulatsih di pagi buta itu.
"Arya, Dik Slamet. Arya." Ucap Mulatsih kemudian tak lagi bisa menahan derainya.
"Arya? Ada apa dengan Arya, Mbak Yu. Coba Mbak Yu tenang dulu, baru bicara ada apa sebenarnya dengan Arya?" Tanya Slamet kemudian.
Mulatsih mengambil duduk, untuk sejenak ia menarik nafasnya dalam dalam, setelah dirasa tenang, ia pun kembali bicara.
"Arya, Dik Slamet. Arya nekat pergi ke Jogja mencari Kang Mas nya." Ucap Mulatsih kemudian.
"Arya ke Jogja, Mbak Yu?" Gitun yang mendengar itu segera menyahut.
"Iya, Dik. Anak itu nekat sekali." Sahut Mulatsih masih dengan sesenggukan.
"Apa perlu saya susul, Mbak Yu?" Usul Slamet kemudian.
"Ini Arya tadi meninggalkan ini. Dia tidak mau di susul sebelum bertemu Kang Masnya." Ucap Mulatsih sembari menunjukkan secarik kertas.
"Anak itu, keras kepala nekat, sama seperti Almarhum Kang Mas." Ucap Slamet sembari menggelengkan kepalanya.
"Lalu kita harus bagaimana, Mbak Yu?" Tanyanya kemudian.
"Sejujurnya saya khawatir, Dik Slamet." Sahut Mulatsih.
Slamet menghela nafas, "Kalau Arya sudah begini, sebaiknya Mbak Yu relakan saja. Toh, kita semua tahu bagaimana watak anak itu sejak kecil. Dan lagi,. Jogja bukan tempat asing untuknya. Arya sering kesana bersama teman temannya." Ucap Slamet mencoba menenangkan Mulatsih.
"Iya, Dik. Saya juga berpikir begitu. Tapi biasanya dia kesana karena datang ke Majelis Sholawat. Tapi sekarang ini kan beda, Dik." Ucap Mulatsih setelahnya.
"Sudahlah, Mbak Yu. Sama saja. Saya yakin Arya sudah cukup hafal seluk beluk disana dari pada kita." Ucap Slamet kembali meyakinkan Mulatsih.
"Atau bagaimana kalau saya minta tolong Dik Suko, Mbak Yu?" Usul Gitun kemudian.
"Kang Suko?" Mulatsih nampak mengerutkan keningnya.
"Iya, Mbak Yu. Adik ipar saya itu kan sering wira wiri ke Jogja. Barang kali ia mau untuk membantu mengawasi Arya selagi disana. Nanti biar saya yang bicara sama Dik Suko." Ucap Gitun kemudian.
"Benar, Mbak Yu. Kang Suko sangat hafal dengan Jogja, dan lagi orangnya dimana mana, jadi mudah saja untuk Kang Suko mengawasi Arya." Imbuh Slamet.
"Baiklah kalau begitu. Yang terpenting saya tahu keadaan Arya disana, Dik. Saya minta tolong ya." Sahut Mulatsih kemudian.
Setelah berbincang cukup lama dan Mulatsih sudah merasa lebih tenang. Ia pun segera kembali ke rumahnya.
"Sebaiknya kamu segera hubungi Kang Suko, Bu." Ucap Slamet setelah Mulatsih berlalu.
Iya, Pak. Sekalian saya juga ingin tahu kabar Ari." Sahut Gitun kemudian.
Slamet hanya tersenyum.
__ADS_1
"Kalau di pikir pikir, antara Arya dan Ari itu wataknya sama ya, Pak. Sama sama keras kepala dan nekat. Saya mendadak juga jadi kepikiran Ari, Pak. Bagaimana ya pak dia sekarang." Gumam Gitun kemudian.
"Yah, kita doakan saja, Bu. Saya memang belum sekalipun bertemu dengan Ari. Tahu juga dari foto yang Kang Suko perlihatkan. Tapi apa yang ibu rasakan, saya tahu betul, Bu." Sahut Slamet kemudian.
Sementara itu, beberapa jam setelah itu.
Arya yang baru tiba di Jogja nampak celingukan mencari alamat yang di carinya. Beberapa kali ia bertanya pada orang orang yang ditemuinya dijalan untuk mencari petunjuk arah menuju alamat itu.
Kini, Arya sudah berada di depan sebuah gerbang dengan papan nama seperti yang tertera di kertas yang dibawanya.
"Ah, benar ini. Pondok Pesantren Salafiyah Fadhlun Muthoriq. Hmmm..." Gumam Arya kemudian.
"Tapi kok saya lapar ya. Tadi berangkat belum sempat sarapan. Sebaiknya saya cari sarapan dulu sembari cari cari informasi soal Kang Mas." Gumam Arya sekali lagi sembari meliarkan pandangannya mencari warung makan di sekitaran tempatnya berdiri saat ini.
Tak lama, ia pun melihat ada satu warung makan tak jauh dari tempatnya berada saat ini.
"Ah, itu dia. Sebaiknya saya sarapan disana dulu lah." Arya segera melangkahkan kakinya menuju warung makan itu.
Setelah memesan menu, ia pun mencari tempat duduk kosong. Karena tempatnya ramai, ia pun kebingungan mencari tempat duduk.
"Duduk sini, cah bagus." Seru seorang lelaki pada Arya.
Arya yang merasa dipanggil segera menuju meja kosong itu..
"Disini kosong, Pak?" Tanya Arya pada lelaki itu kemudian.
"Iya, kosong. Monggo duduk!" Sahut lelaki itu sembari menikmati soto di depannya.
"Terima kasih, Pak." Sahut Arya juga kemudian lalu ia segera duduk di samping lelaki itu.
"Sepertinya kamu bukan anak sini ya?" Tanya lelaki itu pada Arya.
"Iya, Pak. Saya dari Malang." Sahut Arya.
"Walah, jauhnya. Terus kamu kesini ada perlu apa dan sama siapa, Cah Bagus?" Tanya lelaki itu kemudian.
"Oh, liburan."
"Kamu baru lulus SMP ya?" Tanya lelaki itu lagi.
Arya sedikit menoleh ke arah si lelaki di sebelahnya, "Iya, Pak. Kok bapak tahu?" Tanya Arya keheranan.
Lelaki itu hanya tertawa, "Soalnya kalau saya lihat lihat, kamu masih seumuran anak saya." Ucap lelaki itu.
"Oh, anak bapak juga baru lulus SMP tahun ini?" Tanya Arya.
"Iya. Anak saya, anaknya Bu Nyai pesantren itu juga baru lulus SMP." Ucap lelaki itu kemudian.
"Oh, itu pesantren ya, Pak?" Tanya Arya berpura pura tidak tahu.
"Iya, rumah saya di belakang pesantren itu." Sahut lelaki itu kemudian.
"Anak bapak laki laki juga?" Tanya Arya lagi setelah itu.
"Iya, anak bapak laki laki." Sahut lelaki itu.
"Kalau anaknya yang punya pesantren itu? Juga laki laki, Pak?" Tanya Arya mulai menyelidik.
Lelaki itu mengangguk sembari menyeruput kopinya, "Iya. Dan dia penerus pesantren itu juga."
Mendengar itu Arya mengangguk anggukan kepalanya.
"Kamu mau lanjut SMA atau SMK, Cah Bagus?" Tanya lelaki itu kemudian.
Arya sedikit tersenyum malu malu, "Belum tahu, Pak. Belum ada pandangan." Sahutnya.
"Kenapa tidak sekolah sama nyantri saja." Ucap lelaki itu pada Arya.
__ADS_1
Arya tersenyum, "Maunya begitu, Pak. Tapi saya tidak bisa ngaji. Anak bapak apa juga nyantri di pesantren itu?" Tanya Arya kemudian.
"Ya, dia ngaji disana. Dari masih TK saya sekeluarga ngabdi di pesantren itu." Sahut lelaki itu kemudian.
"Wah, berarti bapak ini juga pintar ngaji dong? Pasti ilmu bapak setara dengan Pak Kyai nya ya, Pak?" Tanya Arya polos.
Mendapat pujian Arya itu, lelaki itu tertawa, "Setara? Ya jauh, Cah Bagus. Kyai disini itu ilmunya jauh di atas saya. Saya tidak ada apa apanya. Hanya saja..." Lelaki itu menghentikan ucapannya.
"Hanya saja apa, Pak?" Tanya Arya penasaran.
"Pak Kyai nya sudah wafat, Cah Bagus. Makanya mau tidak mau anaknya lah yang nantinya akan meneruskan pesantren itu." Ucapnya sedikit berat.
Arya hanya kemudian mengangguk meski ia sudah tahu itu.
"Anaknya Pak Kyai kan kata bapak tadi masih SMP, lalu sekarang yang memegang pesantren siapa, Pak?" Tanya Arya kemudian.
Lelaki itu tersenyum, "Yang pegang ya Bu Nyai. Bu Nyai ilmunya juga tidak kalah dengan Pak Kyai. Ya, sembari menunggu Gus nya selesai nyantri dan cukup mampu di pasrahi pesantren ini." Ucap lelaki itu.
"Anaknya Pak Kyai nyantri di pesantren ini juga, Pak?" Tanya Arya lagi semakin menyelidik.
"Tidak, Cah Bagus. Gus nya nyantri di Rembang. Baru beberapa hari yang lalu budalan." Sahut lelaki itu.
Mendengar bahwa yang dicarinya sudah tidak tinggal di kota ini. Arya nampak sedikit kecewa. Hanya saja ia tidak terang terangan memperlihatkan itu pada lelaki di sebelahnya.
"Tidak ada salahnya nyantri, Cah Bagus. Selain ilmu pelajaran, di pesantren kamu juga dapat ilmu nglakoni urip." Ucap lelaki itu setelah beberapa saat.
Arya hanya mengangguk mendengarkan.
"Kamu sekolah di sekolah umum, ilmu agama hanya beberapa persen saja. Ya, sebatas pengetahuan dasar. Tapi jika kamu nyantri, kamu bisa sepenuhnya tahu agama, tahu luar dalamnya. Dari beberapa persen ilmu agama yang diajarkan di sekolah umum jelas itu tidak cukup untuk bekal hidup, Cah Bagus. Sementara, hidup ini butuh bekal yang kuat, taruhlah agama itu pondasi. Pondasi harus kuat agar bangunannya juga kuat. Ilmu umum hanya berlaku di bangku sekolahan. Ya, meski ada yang benar benar bisa memanfaatkannya tapi itu tidak seberapa juga, hanya sebagian saja yang bisa memanfaatkan itu, selebihnya hanya jadi embel kelulusan di selembar kertas." Ucap lelaki itu kemudian.
"Terima kasih untuk nasehatnya, Pak. Mungkin saya akan memikirkan saran bapak ini, tapi juga harus ijin dengan ibu saya dulu, Pak." Sahut Arya kemudian.
"Restu, keridhoan orang tua itu perlu, Cah Bagus. Tapi, orang tua yang benar benar sayang anaknya, harusnya bisa melepaskan anaknya untuk ngangsu ilmu yang sebenar benarnya ilmu. Banyak orang tua yang memilih menyekolahkan anaknya di sekolah umum daripada di pesantren. Alasannya sudah jelas, para orang tua itu takut anaknya tidak jadi apa apa. Mereka takut anaknya tidak punya masa depan. Tapi mereka lupa, para orang tua itu lupa bahwa masa depan yang sebenar benarnya masa depan itu ya akhirat. Mereka takut anaknya tidak jadi apa apa, tapi mereka tidak takut kalau anaknya tidak selamat akhiratnya. Kalau masalah tidak jadi apa apa, itu tergantung usaha sebenarnya. Selagi masih ada kemauan pasti ada jalan, dan orang tua masih bisa nyokong. Tapi kalau sudah akhirat si anak yang keteteran, orang tua bisa apa? Nulung? Percuma, Cah Bagus. Tak sedikit, anak akhirnya jadi orang sukses tapi akhirnya lupa dengan orang tuanya, memilih mempekerjakan suster lah, bahkan tak jarang yang di masukan ke panti jompo. Tapi kalau anak itu lulusan pesantren, otomatis anak punya bekal, ora bakal merem karo wong tuane, sebab punya ilmunya. Dan bahkan, ketika orang tuanya sudah meninggal, ilmunya itu masih manfaat dan bisa menyelamatkan orang tuanya." Ucap Dullah menambahi.
Arya mengangguk, "Sekali lagi terima kasih, Pak. Sangat manfaat sekali apa yang bapak sampaikan ini."
Dullah hanya kemudian tersenyum, "Yasudah, Cah Bagus. Itu sarapannya di makan dulu. Tidak enak nanti kalau dingin." Ucap lelaki itu melirik semangkok soto di depan Arya.
"Iya, Pak." Sahut Arya sembari mulai mengaduk soto di mangkok itu.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya, Cah Bagus." Ucap Lelaki itu sembari berdiri dari duduknya.
"Tunggu sebentar, Pak! Kalau boleh tahu nama bapak siapa?" Tanya Arya kemudian.
Lelaki itu tersenyum, "Abdullah. Tapi santri disini biasa manggil saya Lek Dul. Kamu juga boleh panggil saya Lek Dul. Kalau kamu sendiri namamu siapa, Cah Bagus?" Tanya lelaki bernama Dullah itu setelahnya.
"Saya Arya, Pak. Arya Putra Astina." Sahut Arya kemudian.
"Namamu bagus. Akhlak mu juga bagus. Tindak tanduk. Unggah ungguh. Cara bicara. Semoga kebagusan itu semakin kamu tingkatkan ya, Cah Bagus." Ucap Dullah kemudian.
"Iya, Pak."
"Yasudah, saya permisi dulu. Oh, iya, sotonya akan saya bayar sekalian." Ucap Dullah sembari melangkah berlalu.
"Tidak usah, Pak. Saya takut merepotkan." Sahut Arya menahan.
"Sudah. Rejeki jangan di tolak. Anggap saja perkenalan kita. Dan lagi, kamu seumuran anak saya. Ya jadi sudah seperti anak saya juga." Ucap Dullah sembari tersenyum.
"Kalau begitu terima kasih, Pak. Semoga kelak saya bisa membalasnya." Ucap Arya.
"Saya tidak mengharapkannya, Arya. Saya hanya berharap yang saya ucapkan tadi saja. Baguskan dirimu sebagus namamu." Ucap Dullah lagi lagi melempar senyum dan setelahnya benar benar berlalu keluar dari warung itu meninggalkan Arya.
Arya masih menatap kepergian Dullah itu. Dalam hati ia merasa beruntung dapat berkenalan dengan orang seperti Dullah.
"Baguskan diri sebagus nama. Hmmm, Insya Allah akan saya penuhi itu, Pak. Njenengan guru pertama saya. Saya berjanji pada diri saya sendiri untuk mewujudkan harapan njenengan itu." Gumam Arya sembari kembali memutar pandangannya.
Bersambung...
__ADS_1