
Di tempat Baron saat ini, di salah satu ruangan.
"Biarkan dia sadar dulu. Setelah itu baru kita interogasi." Ucap Prastowo tak lama setelah dirinya tiba di tempat itu bersama Suko.
"Baik, Kang." Sahut Baron.
"Kalian tetap disini! Dan selalu awasi dia! Jika orang ini sadar cepat beri tahu kami!" Ucap Baron kepada beberapa orang orangnya.
"Siap, Kang." Ucap mereka semua serempak.
Baron, Prastowo juga Suko melangkah meninggalkan ruangan itu, menuju ke ruangan khusus milik Baron di sebelahnya.
"Sepertinya ada kerabat dari Warsito ini di dalam penjara itu, Kang. Dan saya pikir itu orang yang sangat penting untuk Warsito." Ucap Baron kemudian.
"Benar, Kang. Dari informasi orang orang yang mengintainya tadi, Warsito datang ke tempat itu dengan barang bawaan yang cukup banyak." Suko menambahi.
Prastowo mengangguk ringan, "Kita akan tahu setelah orang itu sadar."
"Kamu nampaknya terlalu keras memukul orang itu, Suko. Sampai membuatnya tak sadarkan diri selama ini. Hmmm, rupanya kemampuan kamu yang sekarang sudah meningkat jauh ketimbang dulu." Prastowo kemudian memuji Suko.
"Ah, tidak, Kang. Dibanding dengan kemampuan Kang Prastowo, kemampuan saya ini tidak ada seujung kuku sampeyan, Kang." Suko merendah, ia tahu, sekuat apapun dirinya, ia tidak akan mungkin melebihi kemampuan Prastowo.
Namun tak lama setelah itu, di ruang Warsito di tahan, Warsito mulai bangun dari ketidaksadarannya, begitu melihat orang orang itu ia pun terperanjat.
"Siapa kalian? Apa mau kalian?" Teriak Warsito menyadari dirinya sedang di ikat erat pada kursi.
Mendengar teriakan Warsito itu, Baron dan Suko juga Prastowo segera berlari ke ruangan Warsito di tahan.
"Ah, Kang Baron. Jadi mereka ini anak buah Kang Baron. Sepertinya tidak harus dengan seperti ini. Saya bisa jelaskan semua. Saya tidak ada maksud melarikan diri dan..."
Plak!!!
Seketika Baron melayangkan tamparan kerasnya pada Warsito sembari menatapnya tajam.
"Tahan Baron." Prastowo mencoba menahan Baron untuk bertindak lebih pada Warsito.
Sembari menahan sakit akibat tamparan Baron, Warsito melirik kearah Prastowo. Ia berpikir bahwa mungkin Prastowo adalah Bos besar tempat itu sehingga Baron begitu menurutnya pada Prastowo. Tapi Warsito pun heran dengan penampilan Prastowo yang begitu biasa.
"Bos, saya bisa menjelaskan semua. Saya, saya tidak bermaksud melarikan diri dan tidak membayar sisa bayaran kalian." Warsito mencoba kembali angkat bicara, kali ini ia tujukan pada Prastowo.
"Diam!" Prastowo kini mulai membentak, tapi tidak melakukan tindakan apapun. Ia hanya menatap tajam ke arah Warsito. Warsito pun seketika ketakutan bukan main mendapati tatapan yang begitu mengerikan dari sorot mata Prastowo. Seketika tubuh Warsito gemetaran.
Prastowo kemudian menunjukkan selembar foto tepat ke hadapan Warsito. Melihat foto itu seketika Warsito menelan ludah.
"Anak ini?" Ucap Warsito lirih.
"Sekarang kamu katakan apa kamu kenal anak ini?" Tanya Prastowo dengan suara tinggi dan tidak melepas pandangannya dari Warsito yang masih terikat.
Warsito kembali menelan ludah, "Ti...tidak, Bos. Saya hanya tahu namanya saja."
Prastowo tersenyum sinis, lalu ia terlihat mengepalkan tangannya, melihat itu seketika wajah Warsito pucat pasi dan semakin terlihat gemetaran, ditambah ketika Prastowo kini mulai mencengkeram kerah baju Warsito.
"Katakan! Atau kamu mau merasakan bagaimana rasanya sakit itu?" Ucap Prastowo terdengar mengancam.
"Sungguh, Bos. Sungguh, saya tidak mengenal anak itu. Saya... Saya hanya menjalankan perintah Kang Mas saya saja. Selebihnya saya tidak tahu menahu. Sungguh, Bos. Ampuni saya!" Ucap Warsito memohon dengan wajah pucat dan bibir gemetaran.
"Katakan siapa Kang Mas mu itu?" Prastowo membentak Warsito dan semakin kuat mencengkeram membuat Warsito merasakan sesak nafas seketika.
__ADS_1
"Dia... Dia... Kang Mas saya namanya... Namanya Nugroho, Bos." Ucap Warsito masih sangat ketakutan.
"Nugroho? Dimana dia sekarang?" Tanya Prastowo lagi semakin mendiskriminasi Warsito.
"Kang Mas saya itu sekarang ditahan di Lembaga Pemasyarakatan kelas satu." Jawab Warsito dengan suara berat dan hampir tertahan.
Prastowo menghempaskan cengkeramannya dengan kuat membuat Warsito semakin merasakan takut yang luar biasa.
"Berarti benar, Kang. Orang yang berada di dalam sel itu ada hubungannya dengan semua ini." Ucap Baron kemudian.
Prastowo mengangguk, "Saya akan segera memberi tahu Mas Aji soal ini.
"Lalu bagaimana dengan orang ini, Kang?" Tanya Baron sembari mengarahkan pandangannya ke arah Warsito yang masih gemetaran.
"Sementara tahan dulu dia disini sampai kita bertemu dengan orang yang bernama Nugroho itu. Kamu tidak keberatan kan mengawasi dia disini?" Tanya Prastowo kemudian.
Baron sedikit tertawa, "Tentu saja tidak, Kang. Saya pastikan saya tidak akan membiarkan orang ini kabur begitu saja."
Prastowo hanya mengangguk.
"Baiklah kalau begitu. Awasi dia dan tetap beri dia makanan yang layak, jangan sekalipun kalian bertindak apapun tanpa seijin saya. Meski dia bersalah sekalipun, tapi saya sudah tidak ingin menyiksa orang." Ucap Prastowo kemudian.
"Baik, Kang. Saya mengerti." Sahut Baron sedikit membungkuk.
Prastowo segera beralih pada Suko yang berdiri di dekat pintu.
"Suko, maafkan saya harus sekali lagi merepotkanmu. Tapi tolong antarkan saya ke pesantren. Kita harus segera memberi tahu ini pada Mas Aji." Ucapnya pada Suko kemudian.
Suko mengangguk, "Baik, Kang. Jangan sungkan begitu."
Prastowo dan Suko pun segera keluar meninggalkan ruangan itu. Sementara Baron segera mengumpulkan beberapa anak buahnya untuk bergantian mengawasi Warsito seperti apa yang sudah diperintahkan Prastowo padanya.
"Ada kabar apa, Lek? Sepertinya sangat penting?" Tanya Ajimukti seraya mengambil duduk di teras ndalem itu.
"Kami sudah mengintrogasi Warsito, Mas. Dia pun bukan orang pertama, ada orang lain di belakangnya. Dan dari dia kami mendapat nama baru." Ucap Prastowo kemudian.
"Siapa, Lek?" Tanya Ajimukti penasaran.
"Nugroho."
Mendengar nama itu seketika Ajimukti mengerutkan keningnya. Manan pun menunjukan ekspresi terkejut.
"Jadi Pak Nugroho ya?" Ajimukti bergumam.
"Apa Mas Aji mengenal orang itu?" Tanya Prastowo seketika.
"Nugroho itu bapaknya Budi. Budi dulunya santri disini. Dia memang sempat beberapa kali terlibat konflik dengan Ajik. Tapi kemudian dia pergi dari pesantren tanpa pamit." Manan sedikit menjelaskan.
"Benar yang dikatakan Manan, Lek. Dia bapaknya Budi, alumni pesantren ini. Nugroho Sastro Darmono." Ajimukti menambahi.
"Tapi apa hanya karena masalah Mas Aji dengan Budi, anaknya itu, sehingga dia sampai membayar orang untuk menyerang Mas Aji?" Tanya Prastowo masih tidak begitu yakin.
"Entahlah, Lek. Memang Budi sangat tidak suka dengan keberadaan saya disini. Tapi saya pun tidak begitu yakin apa memang karena masalah itu atau ada hal lain." Ajimukti pun belum bisa menjelaskan lebih jauh.
"Jika hanya karena konflik itu, Jik. Kenapa ketika waktu saya dan Budi sempat terjadi konflik pun tidak sampai seperti ini? Ini terkesan aneh, Jik. Dan sangat berlebihan." Manan menambahi.
Ajimukti mengangguk, dia merasa ucapan Manan ada benarnya. Jika di ingat, Manan memang sempat berselisih paham juga dengan Budi tapi tidak sampai membuat Nugroho ikut campur di dalamnya.
__ADS_1
"Tunggu, Jik. Apa ini ada kaitannya dengan Kyai Aminudin?" Tanya Manan kemudian, sepertinya ia mengingat sesuatu.
"Maksud kamu piye, Nan?" Tanya Prastowo yang sebelumnya sempat menduga kalau Kyai Aminudin terlibat di dalamnya, tapi kemudian diyakinkan oleh Ajimukti bahwa Kyai Aminudin tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini. Tapi kenapa Manan justru mengarahkan pendapatnya ke Kyai Aminudin.
"Begini, Lek. Pak Nugroho dan Kyai Aminudin sempat sepakat menjodohkan Budi dan Habiba, bahkan Pak Nugroho secara khusus datang ke sini untuk melamar Habiba, demi Budi. Tapi sepertinya semua rencana itu gagal karena Pak Nugroho terlibat sebuah kasus, juga ulah Kyai Aminudin yang pada akhirnya terungkap. Bisa jadi setelah itu, Kyai Aminudin bersekongkol dengan Pak Nugroho untuk mencelakai Ajik, mengingat permasalahan Kyai Aminudin dengan Ajik, juga permasalahan Ajik dengan Budi. Ditambah..." Manan menghentikan ucapannya, kemudian melirik Ajimukti yang sepertinya serius mendengarkan pendapat Manan itu.
"Ditambah apa, Nan?" Tanya Prastowo sangat tidak sabar.
"Ditambah, hubungan kedekatan Ajimukti dan Habiba. Kyai Aminudin mungkin tidak suka Habiba dekat dengan orang yang sudah menggagalkan rencananya, beliau lebih dominan menjodohkan Habiba dengan Budi, jadi beliau mencari segala cara untuk menjauhkan Habiba dari Ajimukti, Lek." Lanjut Manan kemudian.
Prastowo tersentak. Dia merasa sangat terkejut dengan penjelasan Manan itu. Prastowo tidak menduga bahwa ternyata Ajimukti ada kedekatan dengan putri Kyai Aminudin. Seketika ingatannya tertuju pada alasan kenapa Ajimukti sangat ingin mencari keberadaan Kyai Aminudin, juga alasan kenapa Ajimukti sampai membeli rumah yang di kontrak Kyai Aminudin.
Disaat itu juga, Prastowo teringat tentang bagaimana perasaan Ajeng, putrinya, pada sosok Ajimukti. Prastowo hanya bisa menghela nafas. Bagaimana pun juga itu urusan perasaan pribadi Ajimukti. Dia tidak berhak ikut campur di dalamnya. Seberapa pun inginnya dia agar Ajimukti bisa bersama Ajeng, tapi keputusan tetaplah ada pada Ajimukti.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Suko menyela membuat Prastowo tersadar dari lamunannya.
Ajimukti menghela nafas sebelum akhirnya berbicara, "Saya rasa Kyai Aminudin tidak terlibat untuk soal rencana Pak Nugroho menyerang saya. Meski belum ada bukti yang menyatakan ketidak terlibatan Kyai Aminudin, tapi saya sangat yakin, ini ada hal lain yang membuat Pak Nugroho berusaha menyerang saya." Ucapnya kemudian.
Prastowo sekali lagi memperhatikan Ajimukti, kemudian mengangguk ringan.
"Saya akan mencoba menemui Pak Nugroho untuk segera tahu alasannya apa." Lanjut Ajimukti kemudian.
"Biar saya temani, Mas." Suko menawarkan diri.
"Tidak usah, Pak Suko. Biar saya sendiri saja. Sudah banyak bantuan yang Pak Suko juga Pak Baron berikan pada saya. Dan sebenarnya, mungkin masalah ini adalah masalah pribadi saya dengan Pak Nugroho, jadi kali ini saya ingin menyelesaikannya sendiri." Ucap Ajimukti menolak tawaran Suko.
Suko hanya mengangguk paham.
"Tapi jika terjadi sesuatu dengan Mas Aji bagaimana? Kita tidak tahu ada rencana lain apa yang Nugroho itu rencanakan di belakang sana selain mengutus Warsito." Prastowo nampak mengkhawatirkan Ajimukti.
"Pak Lek tidak usah khawatir. Saya cukup bisa menjaga diri saya. Dan saya pastikan tidak akan terjadi sesuatu apapun." Ucap Ajimukti meyakinkan Prastowo.
"Baiklah kalau begitu, Mas. Kami akan tunggu kabar selanjutnya." Sahut Prastowo tidak lagi mendebat.
"Lalu bagaimana dengan Warsito, Mas?" Tanyanya kemudian.
"Warsito ya? Emmm, saya yakin dia anak bungsu keluarga Sastro Darmono. Warsito Sastro Darmono." Ajimukti bergumam.
"Sementara ini saya suruh Baron menahannya dan menjaganya, Mas. Setidaknya sampai kita tahu ada masalah apa Nugroho dengan Mas Aji, baru kita lepaskan dia. Saya khawatir jika kita lepaskan sekarang, dia akan melapor pada Nugroho dan melakukan segala cara. Sepertinya Warsito orang yang sangat licik." Ucap Prastowo kemudian.
"Begitu juga tidak apa apa, Lek. Tapi saya harap tidak melakukan kekerasan pada Warsito itu." Pesan Ajimukti kemudian.
"Mas Aji tenang saja. Saya sudah mewanti wanti Baron untuk tetap mengurus orang itu. Memberinya makanan yang layak dan tidak melakukan apapun tanpa seijin saya." Sahut Prastowo.
"Saya percaya njenengan, Lek. Terima kasih sebelumnya. Dan maaf sudah sangat merepotkan." Ucap Ajimukti pada Prastowo.
"Jangan bilang begitu, Mas. Jangan sekali pun sungkan. Ini sudah tugas saya, seperti yang Dullah amanat kan pada saya." Sahut Prastowo.
"Nanti kamu langsung kembali ke tempat Kang Baron saja, Ko!" Ucap Prastowo pada Suko sesaat setelah percakapan itu mereka akhiri.
"Lalu bagaimana Kang Prastowo pulangnya? Sudah, Kang. Biar saya antar saja." Sahut Suko menawarkan diri.
"Tidak usah, Ko. Saya bisa pulang sendiri. Lagi pula rumah saya dari sini hanya butuh waktu kurang dari seperempat jam jalan kaki. Dan lagi saya ingin mampir ke ladang dulu." Ucap Prastowo kemudian.
"Baiklah Kang kalau begitu."
Tak lama setelah dirasa percakapan itu benar benar tiba pada akhirnya. Suko dan Prastowo pun pamit untuk undur diri dari ndalem Pondok Hidayah. Sobri juga Manan pun kembali pada aktifitas masing masing. Sementara Ajimukti masih duduk sendiri di teras ndalem itu memikirkan sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Suko sudah berlalu dari halaman pesantren dengan mobilnya. Prastowo pun terlihat berjalan menyusuri jalan setapak yang mengarah ke ladangnya. Tepat disaat dia sedang berjalan sendiri itu, seorang pemuda berdiri di hadapannya, menahan langkahnya siang itu.
Bersambung...