
"Kalau Mas lihat lihat, sepertinya ada yang sedang kamu pikirkan akhir akhir ini?" Faruq mengambil duduk di depan Habiba. Kini mereka duduk berhadap-hadapan.
Habiba hanya menghela nafas. Nafasnya berat menyiratkan sesuatu hal yang sedang dipendamnya.
"Sepertinya memang benar ya?" Lanjut Faruq sembari tersenyum dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi yang didudukinya dengan menyilangkan kedua tangannya didada.
Habiba tertunduk. Sekali ia menghela nafas dalam dalam.
"Abah, Mas." Ucapnya lirih. Suaranya begitu berat.
Faruq mengerutkan keningnya, "Kenapa dengan Pakdhe, Ba?" Tanyanya kemudian.
Untuk kesekian kalinya Habiba menghela nafasnya. "Habiba semakin nggak ngerti dengan Abah, Mas. Dengan semua kemauan Abah yang semakin memaksakan. Habiba... Habiba..." Habiba menghentikan ucapannya. Seketika air mata itu mulai menggenangi kedua kelopak matanya. Tangannya mulai mengusap air mata yang perlahan mulai meluber ke kedua pipinya itu.
Faruq sesaat terdiam menunggu Habiba sedikit tenang.
"Habiba hanya ingin Abah yang dulu, Mas. Yang selalu bisa mengerti apa kemauan Habiba tanpa harus Habiba utarakan. Tapi Abah yang Habiba kenal dulu. Sekarang sudah berubah, Mas. Abah sudah tidak seperti Abah yang Habiba kenal, Mas." Keluh Habiba dengan suara agak berat karena menahan isak.
Faruq menegakkan posisi duduknya, lebih mendekat ke arah Habiba.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu, Ba? Ada apa sebenarnya?" Tanya Faruq kemudian.
"Budi, Mas." Ucap Habiba lirih.
"Budi?" Faruq mengerutkan keningnya. "Budi santri Mas kelas Aliyah itu?" Lanjut Faruq.
Habiba hanya mengangguk pelan.
"Kenapa dengan Budi? Dan apa hubungannya dengan, emmm maksud Mas antara kamu dan Pakdhe?" Tanya Faruq sedikit penasaran.
Habiba mengangkat kepalanya sedikit menengadah ke atas lalu kembali menatap Faruq dengan kedua matanya yang masih terlihat lembab.
"Hari Ahad kemarin Pak Nugroho menemui Abah, Mas?" Habiba menghela kembali nafasnya. "Beliau bapaknya Budi. Dan Mas tahu apa tujuan beliau menemui Abah?" Suara Habiba kini mulai terdengar berat.
Faruq menggeleng ringan. Menunggu Habiba menyelesaikan ucapannya.
"Pak Nugroho berniat melamar Habiba untuk Budi, Mas." Habiba menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Isaknya kembali lagi terdengar.
Faruq terhenyak. Seketika timbul firasat yang tidak enak yang bergelayut dibenaknya.
"Apa Pakdhe menerima lamaran itu?" Tanya Faruq kemudian.
Habiba mengangguk lambat. "Tanpa bertanya dulu dengan Habiba. Tanpa mempertimbangkan dulu dengan Habiba. Dan Abah memaksa Habiba menerima semua itu. Mas tahu apa yang membuat Habiba sakit?"
Faruq lagi lagi hanya menggelengkan kepalanya.
"Karena kekuasaan yang membuat Abah seperti itu. Karena, karena Pak Nugroho menjanjikan pada Abah untuk pembangunan pondok putri jika Habiba menerima lamaran Budi itu." Habiba kembali terisak.
"Astaghfirullahal-adzim." Kembali Faruq tersentak.
"Akankah Pakdhe mengulangi kesalahan yang sama?" Gumam Faruq.
"Lalu apakah kamu akan menerima lamaran itu, Ba?" Tanya Faruq kemudian.
__ADS_1
"Kalau Habiba ada pilihan lain. Sejujurnya Habiba menolak lamaran itu, Mas. Habiba tidak ingin menikah dengan seseorang yang hanya mengutamakan kekuasaan demi ambisinya. Dan..." Habiba kembali menghela nafasnya. "Tidak Habiba cintai." Suara Habiba melambat.
Faruq kembali geleng kepala. "Budi memang berprestasi di pesantren ini. Tapi wataknya yang selalu kekudung welulang macan, yang selalu bersembunyi dibalik nama besar bapaknya itu yang kemudian membuatnya kini menjadi sombong dan selalu mengedepankan kekuasaan."
"Itulah, Mas." Habiba melenguh.
"Saya pikir setelah mendapat semua ini, sudah cukup untuk Pakdhe. Nyatanya belum, Ba."
"Habiba harus bagaimana, Mas? Habiba bingung." Habiba kembali terisak. Ia sudah tak mampu lagi untuk menahan kesedihan yang terus menggelayutinya.
"Serahkan semua pada Allah, Ba." Faruq meraih punggung tangan Habiba. "Allah selalu punya rencana dibalik setiap ujianNya. Berdoalah! Mohon petunjuk pada Allah!" Ucap Faruq kemudian.
"Tapi Habiba benar benar tidak sanggup jika Abah terus dan terus memaksa Habiba untuk menerima laki laki yang tidak Habiba cintai, Mas. Habiba tidak bisa bayangkan jika Habiba harus bersanding dengan, -Bu-di, Mas." Suara Habiba kian lirih terdengar diantara isak tangisnya.
"Apa sebenarnya ada laki laki yang diam diam kamu cintai, Ba?" Faruq memandang Habiba serius.
Untuk kesekian kalinya, Habiba menghela nafasnya. "Sepertinya Mas Faruq sudah tahu jawabannya."
Faruq tersenyum. "Semoga Allah memberikan jalanNya untuk semua ini, Ba. Sementara bersabarlah! Mas insya Allah akan berusaha bicara sama Pakdhe jika memang waktunya tepat."
Habiba kembali mengusap air mata yang belum begitu saja berhenti membanjiri kedua kelopak matanya.
Sementara itu di halaman masjid Pondok Hidayah. Ajimukti, Manan juga Dullah sedang bersantai di pelataran teras masjid. Di sekeliling mereka para santri juga terlihat sibuk bercanda dengan gerombolan mereka masing masing.
"Hari itu sebentar lagi, Jik. Apa kamu sudah siap?" Tanya Manan kemudian.
Ajimukti hanya tersenyum, "Kenapa harus tidak siap, Nan?" Ajimukti menjawab pertanyaan Manan dengan kembali melempar pertanyaan.
Manan hanya tersenyum. "Saya pun sekarang semakin penasaran menunggu apa yang akan terjadi setelah ini, Jik."
"Pertemuan dengan kamu, Nan. Juga pertemuan dengan bapakmu, Anggoro juga Prastowo. Semua diluar rencana kami." Imbuh Dullah. "Juga mungkin pertemuan dengan..." Dullah menghentikan ucapannya.
"Dengan siapa, Lek?" Tanya Manan menangkap ucapan Dullah yang terpotong.
"Ah, tidak, Nan." Sahut Dullah kemudian.
"Apa trio senior itu." Tanya Manan kemudian.
"Iya, Nan. Mereka. Mereka juga bukan bagian rencana awal kami." Sahut Ajimukti.
Tanpa disadari Dullah tiba tiba menelan ludah.
"Saat kompetisi nanti. Tepat satu bulan kami disini. Dan saya pernah berjanji tidak sampai tiga bulan semua kebenaran ini akan segera terungkap, Nan." Ucap Ajimukti dengan tatapan yang begitu menggambarkan keseriusan.
"Dan setelah itu apa kamu akan tetap tinggal disini atau kembali ke Jogja, Jik?" Tanya Manan tiba tiba.
Ajimukti hanya menaikkan bahunya pelan. "Entahlah, Nan. Soal itu sudah saya pikirkan, tapi bagaimana nanti tinggal kita menunggu hasilnya."
"Saya tetap disini atau kembali ke Jogja sama saja, Nan. Toh disini juga rumahku, kampung halaman bapakku. Sementara di Jogja juga rumahku. Kampung halaman ibuku." Lanjut Ajimukti.
"Saya berharap kita tetap menjadi sahabat seperti ini, Jik. Seperti bapak bapak kita." Sahut Manan.
Ajimukti hanya tersenyum. "Ada satu lagi, Nan."
__ADS_1
Manan mengerutkan keningnya. "Siapa, Jik?"
"Sobri."
"Sobri?"
"Ya, Sobri. Anaknya Lek Dullah. Dia selain sahabat sejak kecil saya, dia pun juga sudah saya anggap seperti adik saya, Nan. Dan saya yakin nanti jika kamu dan Sobri bertemu, kalian pun akan cepat akrab. Seperti halnya bapak bapak kita, Nan."
Manan hanya tersenyum. Begitu juga Dullah yang serta merta terharu mendengar Ajimukti membicarakan Sobri, anaknya. Dullah tahu betul bagaimana hubungan Ajimukti dan Sobri. Tahu betul bagaimana Ajimukti memperlakukan Sobri, meski Sobri hanya anak dari pengasuhnya.
"Tapi kapan Lek Dul akan mengajak Sobri kesini?" Tanya Manan kemudian.
"Entahlah, Nan. Tapi nanti jika waktunya tepat saya akan kenalkan Sobri sama kamu." Sahut Dullah.
"Janji lho ini, Lek."
"Insya Allah."
Dullah dan Ajimukti hanya tertawa melihat sikap Manan yang sepertinya tidak sabar untuk bertemu calon sahabat barunya itu.
Jauh dari tempat mereka sedang asik menikmati perbincangan. Tanpa mereka sadari sepasang mata mengawasi mereka dari balik tembok gerbang masjid Pondok Hidayah. Pandangan itu jelas sekali tertuju pada tempat mereka bertiga saat ini.
"Saya permisi dulu ya, Jik, Lek Dul." Ucap Manan kemudian.
"Loh mau kemana kamu, Nan?" Tanya Ajimukti yang melihat Manan tiba tiba beranjak.
"Ini. Saya lupa kalau rokok saya habis." Sahut Manan.
"Loh, kalau rokok ini aku ada. Dikamar juga ada, Nan. Kebetulan saya sama Lek Dul udah stok."
"Anu, Jik. Saya juga mau nyetok ini." Ucap Manan kemudian meraih sandalnya dan berlalu dari teras masjid itu.
Ajimukti hanya geleng geleng kepala.
Diluar masjid Pondok Hidayah.
"Bapak siapa?"
Lelaki paruh baya itu tiba tiba terhenyak ketika melihat seorang pemuda tiba tiba sudah berdiri dibelakangnya.
"Saya permisi dulu." Ucap lelaki itu buru buru pergi tanpa menjawab pertanyaan si pemuda.
"Tunggu dulu, Pak. Bapak belum menjawab.." Belum selesai pemuda itu bertanya, lelaki paruh baya itu sudah semakin menjauh darinya.
"Aneh. Kenapa dengan bapak itu. Sepertinya tadi sedang mengamati tempat Ajimukti dan Lek Dul." Gumam si pemuda itu, -Manan.
Untuk sejenak Manan mengerutkan kening sembari memegang dagunya.
"Tunggu, tunggu. Seperti saya pernah melihat bapak itu. Tapi dimana? Sepertinya bapak itu tidak asing." Gumam Manan lagi lagi.
Untuk beberapa saat Manan mencoba mengingat ingat sesuatu.
"Oh iya saya ingat. Bapak itu bukannya yang waktu itu...?" Manan sepertinya ingat sesuatu tentang lelaki paruh baya yang ditemuinya tadi.
__ADS_1
Bersambung...