BROMOCORAH

BROMOCORAH
Ular Ular


__ADS_3

"Kamu apa sudah dapat keputusan yang pasti dari Ajimukti itu, Nduk?"


Pagi itu Habiba di hadapkan dengan pertanyaan Kyai Aminudin yang tiba tiba.


"Maksud Abah? Keputusan yang bagaimana?" Tanya Habiba sarat penasaran dan belum memahami arah pembicaraan Abahnya, Kyai Aminudin, padanya itu.


Kyai Aminudin nampak menghela nafas, desah nafasnya yang berat begitu terdengar.


"Kamu itu cah wadon, Nduk. Kalau sudah ada yang datang ke kamu dengan seperti itu. Apa masih kamu tanyakan lagi keputusan yang bagaimana yang Abah maksud?" Ucap Kyai Aminudin setelahnya.


Habiba hanya kemudian memandang dalam Abahnya. Terlihat sebuah ketulusan dari sorot mata lelaki paruh baya itu. Sejujurnya, bahkan sampai detik ini pun, dirinya tidak pernah menyangka bahwa Abahnya, Kyai Aminudin, akan merestui hubungannya dengan Ajimukti.


"Kang Aji sampun paring wekdal, Bah. Mungkin dalam waktu dekat beliau akan berkunjung kesini bersama Bu Nyai Kartika." Jawab Habiba kemudian.


Kyai Aminudin kembali menghela nafasnya, "Baguslah kalau memang begitu. Abah harap kamu lebih bijak dan lebih tegas. Ingat, Nduk! Cinta itu bisa membuat seseorang buta, lupa bahkan gila. Abah harap kamu paham apa maksud Abah bicara seperti ini." Ucap Kyai Aminudin kemudian.


Habiba mengangguk ringan, "Iya, Bah. Habiba paham."


"Hmmm..." Kyai Aminudin pun kemudian hanya mengangguk anggukkan kepalanya berulang ulang.


"Nduk, nanti kalau kamu sudah menikah, kamu sudah bukan tanggung jawab Abah sama Umi mu lagi. Kamu sudah bukan milik kami lagi. Kamu sepenuhnya menjadi tanggung jawab suami kamu kelak, hak milikmu sepenuhnya milik suami kamu. Papan suwargamu, miturut karidhanane bojomu, Nduk." Ucap Kyai Aminudin dengan suara berat.


"Iya, Abah. Habiba kan hanya akan menikah, bukan untuk meninggalkan Abah sama Umi untuk pergi jauh." Sahut Habiba.


Kyai Aminudin tersenyum, "Bagi orang tua yang memiliki anak perempuan, Nduk. Ketika akan menikahkan anaknya, itu sama dengan akan kehilangan anaknya, Nduk. Dari sejak di kandungan Umimu, sampai lahir ceprot, dari sejak bayi sampai sedewasa ini, semua yang Abah dan Umimu berikan ke kamu, akan tergantikan dalam hitungan menit saat ijab qobul nanti, Nduk."


Mendengar itu seketika Habiba merasakan sebuah kesedihan yang terpancar di wajah Kyai Aminudin. Untuk pertama kalinya sejak ia dewasa, ia melihat ketulusan di wajah Abahnya itu.


"Kalau sudah menikah, wong wadon iku ibaratnya sawah, Nduk. Dan suami itu petaninya. Jadi mau digarap diolah seperti apapun, itu manut si petani. Sawah tidak bisa memilih mau digarap dengan cangkul, garu atau traktor. Mau di olah dengan pupuk, atau hanya dengan air saja, atau dibiarkan terbengkalai. Sawah tidak punya kewenangan itu, Nduk."


Habiba hanya mengangguk anggukan kepalanya mendengar wejangan Abahnya itu.


"Tugasnya tidak sebatas berhenti di ngladeni. Ada banyak tugas tugas yang harus istri pikul dalam biduk rumah tangga. Tapi semua itu ada dalam satu kesatuan yang intinya taat. Taat pada apa saja dawuhe suamimu kelak. Ojo dadi wong wadon sing mbantahan, sebab apa, Nduk? Mbantah itu wujud beraninya kamu pada suami, wujud tidak menghormatinya sebagai imam kamu."


"Setelah menikah nanti kamu harus menjadi istri sing biso nyenengke suamimu. Mlumah, mengkurep, miring, njengking, ngadek. Harus bisa diatas dan dibawah." Lanjut Kyai Aminudin kemudian.


Mendengar itu Habiba tersipu. "Ah, Abah itu lho bicaranya kok sampai disitu tho, Bah?" Ucap Habiba malu malu.


Kyai Aminudin tersenyum, ia tahu anak gadisnya akan menangkap ke satu hal itu.

__ADS_1


"Mlumah itu maksudnya telapak tangan kamu, Nduk. Seberapa pun nafkah yang kelak suami kamu berikan ke kamu, kamu harus bisa narimo kanthi legowo. Mengkurep, itu maksudnya menutupi, Nduk. Baik buruk suami mu apalagi aib keluarga, kamu harus bisa menutupinya, karena kebanyakan, wanita kalau sudah ngerumpi kadang suka lupa, bahkan tanpa malu membicarakan suaminya sendiri. Hindari itu, Nduk. Miring itu seperti posisi tangan saat akan salaman. Maksudnya apa? Kamu harus bisa njembarke manah untuk memberi maaf. Entah kamu salah atau benar, jangan sungkan untuk meminta maaf terlebih dahulu, karena masalah sekecil apapun itu bisa jadi racun dalam rumah tangga. Njengking, itu rukuk, Nduk. Maksudnya menundukkan badan, menundukkan badan itu simbol penghormatan. Kamu harus bisa senantiasa menghormati suami kamu. Mau seperti apa pun suami kamu, kamu punya kewajiban menghormatinya. Tahu kan kalau sudah dihukumi wajib itu bagaimana?" Tanya Kyai Aminudin pada Habiba di akhir ucapannya itu.


Habiba hanya mengangguk anggukkan kepalanya pelan.


Kyai Aminudin lalu menghela nafas untuk kembali melanjutkan ucapannya.


"Ngadek itu maksudnya berdiri, nguat nguati, nyagak'i amrih jejeg dedegke bojomu, Nduk. Bagaimana itu, ya dengan kamu support setiap hal baik yang dia lakukan, do'akan dia, beri semangat. Karena seperti kamu tahu, di balik laki laki yang kuat, dibelakangnya ada wanita yang hebat. Kamu juga harus bisa di atas juga dibawah. Maksudnya bagaimana, ya kamu harus bisa menguasai hal hal tertentu lebih dari suami kamu, tapi kamu juga harus bisa menerima ketika suami kamu lebih menguasai hal hal tertentu lebih dari kamu menguasainya. Kalau sudah bisa begitu maka sebagai suami istri, bisa menjadi satu kesatuan. Satu kesatuan itulah yang dinamakan garwo, sigaraning nyowo. Karena ketika satu lemah, satunya menguatkan. Ketika satu kurang, satunya melengkapi. Ketika salah satu buruk, satunya menutupi." Ucap Kyai Aminudin setelahnya.


"Iya, Bah. Terima kasih untuk pesan pesan Abah ini. Insya Allah Habiba akan selalu ingat nasehat Abah ini." Sahut Habiba sembari melengkungkan bibirnya.


"Wong wadon itu angel angel gampang, Nduk. Harus paham molimaning bebrayan. Macak, Manak, Malak, Masak, Matak." Imbuh Kyai Aminudin lagi.


Habiba kembali mengerutkan keningnya.


"Macak, Manak, Malak, Masak, Matak? Itu apa, Bah?" Tanya Habiba kemudian.


"Macak itu berdandan. Kamu harus bisa mempercantik diri dihadapan suamimu. Dan memang seharusnya hanya untuk suami kamu, kamu berdandan. Bukan pas kondangan saja, tapi di rumah justru amburadul seadanya. Pating klenyit, rambut uwel uwelan, dasteran gombroh gombroh. Manak, itu melahirkan. Yang dimaksud disini bukan melahirkan secara dhohiriyah saja, Nduk. Tapi melahirkan ketentraman di dalam rumah tangga itu sendiri. Melahirkan generasi baik. Karena seperti yang kamu tahu, Al Ummu Madrasatul-uula. Ibu itu sekolah pertama bagi anak anaknya. Jadi pendidikan awal yang akan membentuk karakter si anak di kemudian hari. Malak, itu meminta nafkah. Ya nafkah lahir ya nafkah batin. Itu hak kamu, Nduk. Namun kamu juga harus tetap mensyukuri jangan membuat suami kamu terbebani dengan beratnya permintaan kamu. Masak, itu ya masak, memasak. Jadikan rumahmu itu istana untuk kamu dan keluarga kamu kelak. Kamu harus kreatif dalam membuat menu agar suami kamu betah dan tidak suka jajan diluar. Matak, itu menjaga watak, karakter diri dan perilaku. Sebagai istri kamu tidak bisa seperti ketika kamu masih lajang, Nduk. Ada batasan yang harus kamu tahu." Ucap Kyai Aminudin masih terus memberi nasehatnya untuk Habiba.


Dilain tempat di waktu yang sama.


"Apa Njenengan yakin, Gus. Emmm, maksud saya untuk menyampaikan langsung pada Ajeng saat saat ini?" Tanya Sobri pada Ajimukti ketika mereka berdua sedang terlibat percakapan di teras ndalem.


Sobri pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Baiklah kalau begitu, Gus. Apa perlu saya temani?" Tawar Sobri setelahnya.


"Tidak usah, Kang. Bukan apa apa. Hanya saja saya ingin benar benar menyampaikan ini secara pribadi karena seperti apa respon Dik Ajeng pada akhirnya nanti, saya pun belum bisa memprediksi." Sahut Ajimukti sedikit menghela nafas setelahnya.


"Oiya satu lagi, Kang. Sebenarnya saya ingin meminta tolong sama sampeyan." Ucap Ajimukti kemudian.


"Apa itu, Gus? Jika saya bisa pasti saya kerjakan." Sahut Sobri cepat.


"Bukan hal penting, Kang. Besok kebetulan Gus Ali rawuh, jadi saya tidak ada jadwal mengajar selain sorogan ba'da subuh. Besok sampeyan bantu saya mindahin barang yang di kamar belakang ya, Kang. Rencananya kamar itu akan saya jadikan kamar Nafisa saat disini nanti. Karena setelah saya pikir pikir, kalau Nafisa disini di kamar bekas kamarnya Ning Biba, sementara di kamar itu masih banyak barang barang pribadi Ning Biba, saya pikir malah tidak enak sama Ning Biba ke depannya." Ucap Ajimukti kemudian.


Sobri mengangguk, "Baik, Gus. Tapi kenapa tidak sekalian minta Kang Kang tukang untuk merombaknya, Gus? Atau santri santri. Masak iya njenengan turun tangan sendiri?" Ucap Sobri merespon ucapan Ajimukti.


"Tidak apa apa, Kang." Sahut Ajimukti singkat sembari sedikit mengulas kan senyum.


Sobri pun tidak lagi berkomentar setelahnya. Untuk sesaat keduanya sama sama diam dan sama sama menikmati rokok mereka di teras ndalem itu.

__ADS_1


Tak lama setelahnya, seorang santri nampak berjalan tergesa ke arah ndalem. Dari tempatnya duduk, Ajimukti mengamati santri itu yang sepertinya sedang menuju ke tempatnya. Ia pun segera bangun dari duduknya disusul Sobri yang juga ikut berdiri dan menoleh ke arah datangnya santri itu.


"Ada apa, Kang?" Tanya Ajimukti setelah menjawab salam santri itu.


"Anu, Gus. Di depan ada yang mencari njenengan." Ucap Santri itu dengan nafas sedikit tersengal.


Ajimukti mengerutkan keningnya, lalu menoleh ke arah Sobri. Sobri yang sama tidak tahunya hanya bisa menaikkan pundaknya.


"Siapa ya, Kang?" Gumam Ajimukti.


"Entah, Gus. Sebaiknya kita temui saja dulu." Ucap Sobri.


Ajimukti hanya mengangguk lalu berjalan ke arah luar diikuti Sobri juga santri itu.


Begitu tiba di halaman masjid pesantren, Ajimukti segera menangkap sosok laki laki paruh baya yang mencarinya yang memang sudah pernah ditemuinya.


"Assalamu'alaikum, Mas Aji." Ucap salam laki laki itu sembari mengulurkan tangannya ke arah Ajimukti. Ajimukti segera meraih tangan laki laki yang mengajaknya berjabat tangan itu sembari menjawab salamnya.


"Pak Samsuri? Kenapa tidak langsung masuk saja." Ucap Ajimukti kemudian.


"Saya tadi memang ingin langsung masuk, Mas. Tapi saya takutnya sampeyan tidak ada di tempat. Makanya ini tadi saya tanya dulu sama Mas nya santri ini." Sahut Samsuri setelahnya.


Ajimukti hanya kemudian mengangguk anggukan kepalanya.


"Saya datang kesini membawa anak saya, Mas. Dia masih di dalam mobil. Awalnya memang agak sulit untuk membujuknya. Tapi entah kenapa, begitu dia tahu pesantrennya berada di sini, dia langsung saja setuju tanpa mendebat lagi." Ucap Samsuri kemudian.


"Alhamdulillah kalau begitu, Pak." Sahut Ajimukti sembari melempar senyum.


"Sebentar saya panggil anaknya, Mas." Samsuri pun berjalan ke arah mobilnya yang terparkir lalu mengetuk kaca jendela mobil itu. Tak lama seorang pemuda nampak keluar dari dalam mobil itu.


Melihat penampilan pemuda itu, memang sepertinya dia termasuk anak kekinian, dari caranya berpakaian juga penampilannya, sangat stylish. Tapi saat pemuda itu membuka kacamata hitamnya, Ajimukti sedikit mengerutkan kening. Pandangannya tertuju pada pemuda di sebelah Samsuri yang sedang berjalan ke arahnya.


"Ini anak Pak Samsuri?" Tanya Ajimukti masih dengan ekspresi keheranan.


"Iya, Mas. Ini anak saya." Sahut Samsuri dengan sedikit ulasan senyum.


Lagi lagi Ajimukti mengamati pemuda itu. Pemuda itu nampak tenang dengan seulas senyum sinis tersungging di wajahnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2