
Plak!
Sebuah tamparan keras menyambar pipi seorang lelaki berjaket Levis. Seketika ia membuang wajahnya sembari menahan rasa sakit di pergelangan tangannya.
"Dasar tidak berguna!" Seorang lelaki bertopi seniman terdengar memaki dengan penuh emosi.
"Maafkan kami, Bos." Lelaki berjaket Levis itu gemetaran dan hanya terus menundukkan kepalanya.
"Maaf. Maaf. Kalian pikir cukup dengan kata maaf kalian? Saya hanya menyuruh kalian membereskan satu bocah saja kalian gagal. Bisa apa kalian sebenarnya? Sudah bosan ikut saya?" Lelaki bertopi seniman itu semakin memperlihatkan kemarahannya.
"Tapi bocah itu ternyata menguasai bela diri, Bos. Dan...."
"Saya tidak mau tahu alasan kalian." Lelaki bertopi seniman itu memotong ucapan lelaki berjaket Levis. Segera lelaki berjaket Levis semakin gemetaran karena ketakutan.
Tak lama seorang lelaki lain nampak masuk ke dalam ruangan itu.
"Pergilah kalian!" Ucap lelaki bertopi seniman pada ke empat anak buahnya. Mereka berempat pun segera keluar dari ruangan itu dengan masih sedikit gemetaran.
"Ada apa Kang Baron? Sepertinya Kang Baron sedang tidak baik baik saja?" Tanya lelaki yang baru saja masuk keruangan itu dengan sedikit senyum mengembang di wajahnya.
"Diamlah, Suko! Harusnya kamu tahu kenapa saya sampai memanggilmu." Sahut lelaki bertopi seniman yang bernama Baron itu.
Suko, si lelaki yang baru saja masuk ruangan hanya mengangguk paham.
"Saya harap kamu tidak gagal seperti mereka!" Ucap Baron sembari duduk di kursi ruangan itu.
Suko tersenyum sinis, "Apa itu artinya Kang Baron sedang meremehkan kemampuan saya?" Ucapnya nampak tidak suka dengan kata kata Baron terhadapnya.
"Bukan begitu, Suko. Saya tahu kemampuanmu. Mungkin dulu kemampuanmu tidak ada apa apanya dibandingkan kemampuan saya. Tapi saya mengakui usia mempengaruhi semua. Dan kemampuan kamu yang sekarang mungkin sudah melampaui kemampuan saya dulu." Ucap Baron sembari memasang rokok di pipa panjangnya.
"Seberapa pun peningkatan kemampuan saya. Saya pun tetap tidak mungkin bisa lebih hebat dari Kang Baron. Tapi saya pastikan saya tidak akan mengecewakanmu, Kang." Sahut Suko kemudian.
"Saya dengar dari mereka. Bocah itu memiliki sedikit kelebihan bela diri." Ucap Baron sembari menghisap rokok di pipa yang terselip dimulutnya.
Suko menyeringai, "Baguslah, Kang. Saya suka dengan tantangan."
"Apa kamu perlu bawa orang?" Tanya Baron kemudian.
Suko terbahak, "Masih saja kamu terdengar meremehkan saya, Kang?" Suko terlihat mengibaskan tangannya.
Baron nampak tersenyum diantara kumis dan brewoknya yang tebal itu.
"Baiklah kalau begitu. Saya memang tidak salah sejak dulu mengajakmu, Suko." Ucap Baron semakin memperlebar senyumnya.
Suko hanya kemudian ikut tersenyum lebar.
"Saya pikir saya sudah paham apa yang harus saya lakukan, Kang. Jika tidak ada keperluan lagi, saya permisi, Kang." Ucap Suko kemudian.
"Kamu mau kemana?" Tanya Baron sedikit menaikkan bola matanya menatap Suko.
"Keponakan saya ingin meminta sedikit bantuan saya, Kang. Ada temannya yang ingin mencari keberadaan seseorang." Sahut Suko.
"Hmmm...!" Baron kemudia mengangguk ringan, "Pergilah! Dan sekali lagi pastikan misi kali ini tidak mengecewakan!" Lanjut Baron berpesan.
"Tenang saja, Kang. Serahkan semua pada saya. Saya pastikan semua sesuai keinginan Kang Baron." Suko terdengar bicara penuh keyakinan.
__ADS_1
Tak lama Suko pun beranjak dari ruangan itu. Sementara Baron masih terlihat kesal dan sedikit emosi atas kegagalan ke empat anak buahnya. Dia nampak meninju meja di depannya dengan keras.
Sementara itu di Pondok Hidayah, Ajimukti baru saja mengakhiri kajian kitab Ihya' ulumuddin. Segera setelah kajian siang ini usia, Ajimukti bergegas kembali ke ndalem. Tapi belum sempat sampai di ndalem, Ajimukti bertemu berpapasan dengan Khalil dan Imam, dua dari trio senior yang dulu menjadi seniornya namun sekarang justru menjadi santri asuhannya.
"Assalamu'alaikum, Gus..." Sapa Khalil dan Imam serempak begitu melihat sosok Ajimukti. Mereka yang dulunya selalu mengerjai Ajimukti, kini hanya bisa menundukkan kepala setiap kali bertemu Ajimukti.
"Wa'alaikumsalam, Kang Khalil, Kang Imam..." Balas Ajimukti ramah.
"Dari mana Akang berdua ini?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Anu, Gus. Itu dari depan, di utus sama Gus Faruq suruh fotocopy." Sahut Imam sembari memperlihatkan beberapa lembar kertas HVS di tangannya.
Ajimukti hanya menganggukkan kepalanya.
"Oh iya, Kang. Bagaimana kabar Kang Budi?" Tanya Ajimukti tiba tiba.
Khalil dan Imam kemudian saling pandang.
"Ngapunten, Gus. Sejak Budi pergi waktu itu, kami sudah tidak pernah lagi tahu kabarnya Budi." Sahut Khalil sembari menundukkan kepalanya.
"Oh, yasudah, Kang. Saya pikir akang berdua tahu kabar Kang Budi." Sahut Ajimukti kemudian.
"Mboten, Gus." Sahut Imam juga dengan posisi menunduk.
"Yasudah, Kang. Monggo dianter dulu fotocoy-annya ke Gus Faruq." Ucap Ajimukti kemudian.
"Ngapunten, Gus. Apa Njenengan ada waktu?" Ucap Khalil tiba tiba.
Ajimukti sedikit mengerutkan kening melirik ke arah Khalil.
"Begini, Gus. Emmm, itu... Anu..." Khalil nampak ragu untuk berbicara. Ajimukti hanya menunggu apa yang ingin di katakan Khalil kali ini.
"Saya... Saya ingin meminta maaf untuk semua yang pernah saya perbuat ke njenengan dulu, Gus. Saya benar benar tidak tahu kebenarannya, Gus." Ucap Khalil sedikit gemetaran.
Disaat bersamaan Imam juga mengatakan hal yang sama pada Ajimukti. Ajimukti kini tersenyum mendengar apa yang Khalil dan Imam katakan padanya siang ini.
"Sudahlah, Kang. Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang saatnya memperbanyak amalan kebaikan kita. Dan soal apapun yang terjadi di masa itu, saya sudah memaafkan njenengan njenengan sami, Kang. Justru sekarang saya yang berterima kasih kepada Kang Khalil juga Kang Imam karena sudah mengingatkan saya, jadi saya pun juga bisa meminta maaf kepada Kang Khalil dan Kang Imam."Ajimukti berkata panjang lebar menanggapi permintaan maaf Khalil dan Imam itu.
Khalil dan Imam kembali saling melempar pandang.
"Maaf untuk apa, Gus. Njenengan tidak ada salah. Justru kami lah yang sudah melakukan banyak kesalahan dan kedzaliman sama njenengan, Gus." Timpal Manan kemudian.
Ajimukti lagi lagi tersenyum, "Kesalahan Kang Khalil juga Kang Imam itu timbul karena kesalahan saya. Saya sejak awal tidak jujur dengan siapa saya. Secara tidak langsung saya sudah berbohong sama njenengan njenengan tentang jati diri saya kan, Kang?" Ucap Ajimukti setelahnya.
"Tapi kami sekarang yakin, Gus. Itu semua njenengan lakukan tentu karena sebuah alasan yang pasti, Gus." Sahut Imam.
kemudian.
"Semua kesalahan yang dilakukan, tentu beralasan, Kang. Entah alasan yang pasti atau hanya sekedar alasan alasan yang di buat buat." Imbuh Ajimukti.
Khalil dan Imam kemudian hanya mengangguk dan kembali tertunduk.
"Jadi apa Kang Khalil dan Kang Imam juga bisa memaafkan saya?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Tentu saja, Gus. Laduk sekali jika kami tidak memberi maaf ke njenengan." Sahut Khalil cepat.
__ADS_1
"Ikhlas kan, Kang?" Tanya Ajimukti memastikan.
"Lillahi ta'ala, Gus." Imbuh Khalil sementara Imam hanya mengangguk menyetujui ucapan Khalil itu.
"Alhamdulillah, Kang." Ajimukti kini pun kembali tersenyum.
"Jika butuh bantuan apapun jangan sungkan bilang sama kami, Gus." Ucap Khalil kemudian.
"Iya, Gus. Apapun itu." Imbuh Imam.
"Iya, Kang. Insya Allah. Oh, iya, Kang. Satu lagi..." Ucap Ajimukti seperti mengingat sesuatu.
Khalil dan Imam sedikit mengangkat kepala mereka menatap penasaran ke arah Ajimukti.
"Ada apa, Gus? Apa ada yang ingin njenengan sampaikan? Sampaikan saja, Gus." Ucap Khalil kemudian.
"Bukan apa apa sebenarnya, Kang. Ini hanya soal Simbah Kyai Abu Bakar." Ucap Ajimukti kemudian.
Sekali lagi Khalil dan Imam saling pandang dan sama sama menelan ludah.
"Ada apa dengan kakek kami, Gus?" Tanya Imam penasaran.
Ajimukti memandang Khalil dan Imam bergantian, kemudian tersenyum.
"Saya tidak terlalu mengenal Simbah Kyai Abu Bakar. Tapi saya sebenarnya sedikit banyak pernah mendengar tentang ke arifan beliau semasa Sugeng dulu. Jadi saya pikir bukankah Kang Khalil dan Kang Imam ini juga layak di panggil 'Gus'?" Ucap Ajimukti masih dengan menatap kearah Khalil dan Imam.
Khalil dan Imam tersentak dengan apa yang ia dengar dari Ajimukti kali ini.
"Mboten, Gus. Kami sangat tidak pantas menyandang panggilan itu." Ucap Imam terdengar berat.
Ajimukti mengerutkan kening dan masih memandang keduanya.
"Kenapa? Bukankah njenengan berdua ini cucu beliau, Simbah Kyai Abu Bakar? Masih Dzuriyah beliau." Tanya Ajimukti setelahnya.
Imam terlihat menghela nafas.
"Singkatnya ini seperti hal nya kami ini, Gus." Ucapnya kemudian.
"Maksudnya, Kang?" Tanya Ajimukti masih tidak paham.
"Saya dan Khalil adalah saudara sepupu, karena Khalil ini anak dari paman saya, adiknya bapak saya. Jadi menurut awu keluarga, saya yang dituakan, meski umur kami sepantaran. Tapi soal kemampuan, saya kalah dengan Khalil, Gus." Ucap Imam kemudian dengan masih sedikit menundukkan kepalanya.
Meski sudah digambarkan Imam seperti itu, Ajimukti masih saja belum paham maksud dari penjelasan Imam itu.
"Emmm, maaf Kang Imam. Bisa Kang Imam perjelas lagi! Karena jujur saya kurang begitu paham." Ucap Ajimukti berterus terang tentang ketidakpahamannya itu.
"Itu hanya gambaran, Gus. Dan alasan kenapa pada akhirnya paman kami, Pak Lek Latif yang meneruskan pesantren kakek. Bukan Pakdhe Raharja bapaknya Imam atau bapak saya, Gus" Khalil menambahi penjelasan Imam pada Ajimukti.
Ajimukti mengangguk ringan. Sepertinya ia mulai sedikit memahami maksud dari gambaran Imam sebelumnya, setelah mendengar penjelasan Khalil itu.
"Jadi kami sangat tidak pantas jika kami harus di panggil 'Gus'. Begitu kira kira, Gus." Imbuh Khalil kemudian.
Ajimukti tersenyum, lalu menepuk pundak Khalil.
Bersambung...
__ADS_1