BROMOCORAH

BROMOCORAH
Pulang!


__ADS_3

Pagi ini di kediaman Prastowo. Di teras rumah yang tidak terlalu luas itu. Prastowo sedang menikmati secangkir teh ginastel nya sebelum berangkat untuk menjemput Ajeng, putrinya. Tak jauh darinya, tepat di depannya, di kursi yang lain, Sobri juga baru saja mulai menyeruput kopi hitam yang masih terlihat mengepulkan uap yang di suguhkan Sumiatun padanya.


"Hari ini Ajeng pulang, Bri. Itu artinya sejak hari ini juga kamu sudah harus berusaha memenangkan hatinya anak gadis saya itu jika kamu benar benar ingin menjadi menantu saya." Kelakar Prastowo sembari menawarkan tempe mendoan yang tersaji di piring.


"Insya Allah, Pak Lek. Saya hanya akan berusaha semampu saya. Selebihnya Ajeng lah yang pada akhirnya akan memutuskan, apa saya berhak menempati hatinya atau tidak." Sahut Sobri tenang dengan seguratan senyum terukir di bibirnya.


"Mas Aji belum ada kabar kapan balik kesini, Bri?" Tanya Prastowo sembari mengunyah tempe mendoan di mulutnya.


"Kata bapak hari ini, Lek. Kebetulan pagi tadi saya habis telfon bapak." Sahut Sobri.


"Hmmm..." Prastowo mengangguk. "Bapakmu sehat kan, Bri?" Tanyanya kemudian pada Sobri.


"Alhamdulillah, Pak Lek. Bapak sehat." Sahut Sobri lagi.


"Tidak ikut kesini?" Tanya Prastowo kemudian.


"Sepertinya tidak, Pak Lek. Soalnya saya disini, nanti pesantren disana kewalahan kalau kekurangan orang." Sahut Sobri setelahnya.


Prastowo mengangguk paham.


"Kamu habiskan kopimu dulu, Bri. Terus ini juga disambi dulu, gawe ganjel weteng." Prastowo kembali menawarkan tempe mendoan buatan istrinya pada Sobri sembari dirinya kembali mencomot satu lalu segera melahapnya.


Sobri hanya mengangguk lalu menyeruput kopinya yang masih sedikit panas, setelah itu ikut menikmati tempe mendoan bersama Prastowo.


Sementara itu jauh di tempat lain di pelataran pesantren Fadhlun Muthoriq. Ajimukti pun tengah bersiap berangkat kembali ke Pondok Hidayah.


"Sampeyan hati hati, Mas. Pokoknya saya titip Sobri." Ucap Dullah ketika mengantar kepergian Ajimukti.


"Lek Dul tenang saja kalau soal Sobri. Justru saya yang sekali minta tolong Lek Dul untuk membantu Sibu juga pesantren ini." Sahut Ajimukti.


"Kalau soal pesantren, Mas. Tanpa njenengan aturi, saya sudah berjanji pada diri saya sendiri, pokoknya mati urip saya ya di pesantren ini seperti yang diamanahkan Kang Salim pada saya." Sahut Dullah kemudian.


Setelah berkata itu kemudian mereka pun berpelukan. Bagaimana pun Dullah sudah seperti bapaknya sendiri bagi Ajimukti.


"Pokoknya kamu jaga diri yo, Le. Dan segera kabari Sibu kalau sudah sampai sana." Pesan Nyai Kartika setelahnya.


"Injeh, Bu. Sibu juga jaga diri disini. Kalau ada apa apa minta tolong Kang Hasan, Kang Wahid atau Lek Dullah untuk mengabari saya." Ucap Ajimukti kemudian.


"Kamu tenang saja, Le. Ibu juga bisa jaga diri. Malah Sibu itu khawatir sama kamu, kadang kamu itu ndrawasi." Kelakar Nyai Kartika sembari mengusap kepala Ajimukti.


Ajimukti segera merangsek ke dalam dekapan ibunya itu. Nyai Kartika pun membalas pelukan anaknya sembari mengusap usap belakang kepala Ajimukti.


"Nyuwun ridhanipun Sibu, nggeh." Bisik Ajimukti dengan suara lirih.


"Pasti, Le. Ridho Sibu selalu akan Sibu sertakan di setiap langkah kamu, Le." Sahut Nyai Kartika sembari melepas pelukannya. Ada rasa berat ketika pelukan anaknya itu dilepaskannya.


"Sibu nitip salam ya buat gendhuk." Ucap Nyai Kartika kemudian.


Ajimukti hanya mengangguk mengiyakan.


Setelah Tak lama Ajimukti dan Manan pun sama sama masuk ke dalam mobil. Kali ini pun, Manan yang kembali pegang kemudi perjalanan mereka kembali ke Pondok Hidayah.


"Kita nanti lewat Wonosari saja, Nan." Ucap Ajimukti setelah mereka keluar area pesantren.

__ADS_1


"Loh, berarti nanti nggak lewat Klaten, Jik?" Sahut Manan.


"Nggak, kita lewat Wonosari saja. Saya mau mampir ke suatu tempat dulu." Sahut Ajimukti kemudian.


"Tapi saya kurang paham jalannya lho, Jik." Timpal Manan.


"Sudah, nanti ikuti petunjuk arah jalan saja. Buka Maps kalau bingung." Ucap Ajimukti.


Manan segera melihat arah jalan di layar monitor di dashboard mobil yang ia kemudikan.


"Wonosari, Semanu, Pracimantoro, Giritontro, Donorojo, Punung. Emmm, saya tahu ini kamu mau mampir kemana." Sahut Manan sembari mengangguk dan tersenyum.


Ajimukti mencibir, "Baguslah, ikuti petunjuk jalannya saja kalau sudah paham, Nan."


"Siap, Jik." Sahut Manan sembari terkekeh.


Ditempat lain pun, Ajeng dan Habiba juga tengah bersiap siap bersama para santriwati yang lain. Mereka saling bercakap dan sesekali terlihat saling melepas satu sama lain dengan pelukan. Ada banyak ekspresi kesedihan yang terlihat di wajah wajah para santri itu. Ini terakhir kali kebersamaan mereka di pesantren ini.


"Habiba, kamu nanti dijemput siapa?" Tanya Ajeng yang melihat Habiba berjalan ke arahnya setelah tadi sempat ikut melepas kepulangan salah satu teman mereka yang sudah lebih dulu dijemput keluarganya.


Habiba menaikkan pundaknya, "Belum tahu, Jeng. Kemungkinan Abah." Sahutnya.


Habiba tahu jika nanti Abahnya tidak bisa menyewa mobil untuk menjemputnya, kemungkinan ia hanya akan naik bis untuk pulang. Tapi meski begitu ia tidak ingin berterus terang pada Ajeng saat ini.


"Kamu sendiri dijemput bapak kamu?" Tanyanya pada Ajeng kemudian.


Ajeng mengangguk, nampak ekspresi berbeda dari sebelumnya begitu terlihat di wajah Ajeng.


"Kamu kenapa, Jeng?" Tanya Habiba kemudian. Meski dirinya pun saat ini sedang merasakan kesedihan, tapi ia tetap tidak bisa jika melihat temannya itu bersedih.


"Masuk yuk, Ba." Ucap Ajeng yang kemudian ekspresinya sudah berubah ceria lagi. Habiba pun hanya mengangguk saja dan melihat aneh pada Ajeng yang ekspresi wajahnya bisa berubah tak menentu seperti saat ini.


Prastowo sendiri yang saat ini bersama istrinya juga Sobri sudah hampir setengah perjalanan menuju Pacitan. Sobri yang duduk di belakang kemudi tak banyak bicara, ia hanya fokus pada jalanan yang ia lalui.


"Kamu kok diam saja, Bri? Apa sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Prastowo yang duduk di bangku belakang bersama Sumiatun, istrinya.


"Ah, tidak sedang memikirkan apa apa, Pak Lek." Sahut Sobri setengah salah tingkah.


Prastowo kemudian melirik istrinya. Sumiatun hanya sedikit melempar senyum ke arahnya. Sumiatun tidak ingin banyak berkomentar saat ini. Ia sebenarnya sedikit ragu akan niat Prastowo mendekatkan Sobri dengan putrinya, mengingat Ajeng putrinya sejak melihat Ajimukti sepertinya sudah begitu menaruh simpati pada pemuda itu.


"Mobil ini dulu saya beli hanya setengah dari harga yang ditawarkan, Bri. Meski ini mobil tua, tapi sejak mobil ini saya pakai tidak pernah sekalipun rewel." Ucap Prastowo sedikit basa basi sekedar mencari bahan obrolan.


"Setengah harga? Maksudnya bagaimana itu Pak Lek?" Meski tidak begitu paham apa yang sedang dibahas Prastowo, tapi Sobri sedikit tertarik dengan bahasan ini.


"Jadi dulu, pemilik awal mobil ini itu temannya Pak Lek mu Anggoro, Bri. Nah, waktu transaksi, kebetulan Kang Salim waktu pas di rumah saya. Jadi karena yang punya mobil ini pekewuh sama Kang Salim. Jadi ya saya cuma suruh bayar setengah dari kesepakatan harga, Bri." Kenang Prastowo kemudian.


"Wah, beruntung sekali, Pak Lek." Sahut Sobri sembari tetap fokus dengan gagang kemudinya.


"Iya, Bri. Alhamdulillah sekali. Berkat Kang Salim yang begitu di segani dan di hormati banyak kalangan." Ucap Prastowo setelahnya.


"Memang, Pak Lek. Kyai Salim itu selain pandai berdakwah, beliau juga sangat pandai ngrangkul orang orang. Sangat jarang sekarang ini bisa menemui Kyai seperti halnya Kyai Salim itu." Sahut Sobri menambahi.


" Benar, Bri. Makanya ketika pertama kali saya bertemu Dullah dan Mas Aji. Rasanya kecemasan saya selama ini hilang begitu saja, Bri. Saya yakin, kelak Mas Aji bisa seperti Kang Salim." Ucap Prastowo kemudian.

__ADS_1


"Aamiin, Pak Lek. Saya pun berharap Gus Aufa di masa depan bisa benar benar menjadi ulama yang selain alim juga waro'." Imbuh Sobri.


Perbincangan yang awalnya hanya membahas hal sepele lama kelamaan menjadi panjang dan membahas berbagai hal. Hingga tanpa sadar mereka sudah sampai di pesantren tempat Ajeng nyantri.


Ajeng yang memang sudah menunggu sejak pagi pun segera menyambut kedatangan Prastowo dan Sumiatun, namun Ajeng sedikit kaget ketika dilihatnya Sobri ikut menjemputnya kali ini.


"Kang Sobri?" Sapa Ajeng begitu melihat sosok Sobri.


Sobri hanya sedikit melempar senyum, "Apa kabar Dik Ajeng?" Tanya Sobri kemudian.


"Alhamdulillah, Kang. Seperti yang sampeyan lihat." Sahut Ajeng.


"Hanya Kang Sobri yang ikut, Pak?" Tanya Ajeng beralih pada Prastowo.


Prastowo mengangguk, sementara Sumiatun tahu apa maksud pertanyaan anak gadisnya itu


"Bapakmu agak kecapekan, Nduk. Jadi minta tolong Nak Sobri untuk nyupiri kesininya." Ucap Sumiatun kemudian. Prastowo hanya membenarkan, ia tahu maksud istrinya berkata seperti itu.


"Iya, Dik Ajeng. Dan kebetulan saya yang paling longgar hari ini." Imbuh Sobri karena ia pun tahu maksud pertanyaan Ajeng itu.


Ajeng hanya melengkungkan bibirnya.


"Yasudah, Nduk. Kamu bawa keluar semua barang barang kamu biar nanti Sobri bantu masukan ke mobil. Bapak sama ibu mau menemui pengurus dulu." Ucap Prastowo kemudian.


Ajeng hanya mengangguk kemudian masuk ke dalam untuk mengambil semua barang barangnya. Prastowo dan Sumiatun pun ikut masuk ke dalam untuk menemui Kyai dan para pengurus pesantren.


Tak berselang lama, Ajeng pun sudah selesai mengeluarkan semua barang bawaannya juga sudah berpamitan dengan semua teman temannya termasuk Habiba.


"Maaf ya, Kang. Jadi merepotkan sampeyan." Ucap Ajeng begitu Sobri selesai menata barang barangnya ke dalam mobil.


"Jangan sungkan, Dik." Sahut Sobri datar sembari melemparkan seulas senyum.


"Pesantren apa kabar, Kang?" Tanya Ajeng kemudian.


Sobri sedikit menoleh ke arah Ajeng. Sebenarnya ia yakin bahwa yang dimaksud dalam pertanyaan Ajeng kali ini termasuk Ajimukti.


"Alhamdulillah, Dik. Ada beberapa santri baru. Santri lama pun sudah semakin pesat perkembangannya. Gus Aufa sekarang ini sedang tilik Bu Nyai ke Jogja sama Kang Manan." Ucap Sobri menyertakan juga tentang Ajimukti yang saat ini memang sedang berada di Jogja.


"Oh, Kang Aji sama Manan lagi ke Jogja ya, Kang." Ajeng sedikit mengangguk kemudian terlihat tersenyum meski tidak begitu diperlihatkannya.


Tak lama Prastowo dan Sumiatun pun keluar dari dalam pesantren lalu segera mengajak Ajeng juga Sobri untuk kembali pulang.


"Kamu capek tidak, Bri? Kalau capek gantian saya yang bawa mobilnya." Ucap Prastowo pada Sobri.


"Tidak, Pak Lek. Sudah biar saya saja." Jawab Sobri terlihat meyakinkan.


Prastowo kemudian mengangguk, "Yasudah kalau begitu. Nanti kita cari warung makan sekalian istirahat kalau begitu." Ucapnya kemudian.


Sobri hanya mengangguk mengiyakan.


"Nduk, kamu duduk di depan saja. Biar bapak sama ibu di belakang." Ucap Prastowo kemudian.


Ajeng sedikit canggung meski kemudian ia pun menurut saja apa kata bapaknya setelah Sumiatun memberinya isyarat dengan anggukan kepala.

__ADS_1


Tak lama mobil mereka pun keluar dari area pondok pesantren itu. Tepat di saat itu sebuah mobil BMW i8 Coupe berwarna silver datang dari arah berlawanan dan terlihat masuk ke area pondok pesantren.


Bersambung...


__ADS_2