
"Hmmm, rasanya sudah tidak sabar untuk sampai disana. Kira kira bagaimana ya reaksi dia? Ah, sudahlah, saya tidak ingin berharap. Mungkin saja dia sudah ada yang memang pantas untuk dia." Gadis itu bergumam, menepis pikirannya dan kemudian bergegas menyusul seorang wanita paruh baya yang sedang berjalan ke arahnya.
"Kamu sudah siap, Nduk? Tidak ada yang kelupaan kan?" Tanya wanita paruh baya bernama Kartika itu pada gadis yang kini berada di hadapannya.
"Sudah semua, Budhe." Sahut gadis itu sembari melengkungkan bibir tipisnya, ada lesung pipi yang nampak jelas terlihat manakala ia tersenyum.
"Kang Dullah, kalau sudah semua, sebaiknya kita berangkat sekarang." Ajak Nyai Kartika pada Dullah yang sedang menikmati sebatang rokok sembari bersandar pada kap mobil dengan mesin menyala itu.
Sedikit terlonjak, Dullah segera mematikan rokoknya dan mengangguk takdim.
"Baik, Mbak Yu." Sahutnya kemudian membuka pintu mobil belakang dan mempersilahkan Nyai Kartika juga gadis yang bersamanya untuk masuk.
Mobil yang membawa ketiga orang itu pun mulai berjalan keluar dari area pesantren Fadhlun Muthoriq pagi itu. Aura kebahagiaan terlihat jelas di wajah ketiganya.
"Budhe, saya kabari Mamas dulu kalau kita sudah berangkat ya." Ucap gadis itu ketika mereka sudah berada di jalanan kota itu.
Nyai Kartika hanya kemudian mengangguk.
Gadis itu kemudian memanggil salah satu nomor di ponselnya, namun tida segera ada jawaban dari nomor yang coba dihubunginya.
"Sepertinya Mamas sedang sibuk Budhe. Telfon saya tidak di angkat." Ucap gadis itu dengan ekspresi cemberut.
Nyai Kartika kemudian tersenyum, "Mungkin Mamas mu sedang menyiapkan untuk menyambut kamu, Nduk." Ucap Nyai Kartika setelahnya.
Gadis itu hanya kemudian senyum senyum sendiri mendengar itu.
"Atau kalau tidak sampeyan coba hubungi sobri saja Mbak Nafisa." Usul Dullah sembari terus mengemudi pada gadis yang dipanggilnya Nafisa itu.
"Tapi saya tidak punya nomornya Kang Sobri itu, Pak Lek." Sahut Nafisa kemudian.
"Ini ada di hape saya." Ucap Dullah sembari menyerahkan ponselnya pada nafisa.
"Oh, iya, saya coba ya, Pak Lek." Sahut Nafisa lagi setelahnya.
Tak lama setelah melakukan panggilan, terdengar sahutan dari seberang telfon.
"Assalamu'alaikum, sinten niki?" Ucap seseorang dari seberang.
"Wa'alaikumsalam, Kang. Ini saya Nafisa, Kang. Ini saya sama Budhe Kartika sama Pak Lek Dullah sudah on the way kesana. Tolong bisa di sampaikan sama Mas Aufa ya, Kang." Ucap Nafisa langsung pada keperluannya.
"Oh, Ning Afis. Nggeh, Ning. Segera saya sampaikan." Sahut Sobri dari seberang telfon.
"Sebaiknya kamu tiduran dulu, Nduk. Masih akan lama perjalanannya." Ucap Nyai Kartika ketika tahu Nafisa sudah mengakhiri panggilannya.
"Iya, Budhe." Sahut Nafisa singkat lalu setelahnya hanya mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela mobil mengamati pemandangan hijau yang membentang di sisi sisi jalan yang dilaluinya.
"Oh, iya Kang Dullah. Nanti kalau sudah ngancik wayah Jum'atan kita menepi dulu saja, cari masjid ya, Kang." Ucap Nyai Kartika setelah beberapa saat.
"Iya, Mbak Yu. Sekarang juga baru jam sembilan lebih." Sahut Dullah sembari melirik jam di tangannya.
__ADS_1
Untuk sesaat mereka sama sama menikmati perjalanan mereka dalam keheningan. Tak ada lagi percakapan di antara ketiganya. Nafisa nampak masih mengamati pemandangan di luar kaca jendela mobil yang terus melaju itu. Sementara Nyai Kartika nampak memejamkan matanya bersandar pada sandaran bangku mobil.
Sementara itu di Pondok Hidayah, Ajimukti baru saja keluar dari aula tempatnya mengajar pagi ini.
"Gus, tadi Ning Afis telfon saya katanya Bu Nyai sudah dalam perjalanan." Ucap Sobri ketika Ajimukti datang menghampirinya.
"Oh, iya, Kang. Terima kasih. Sekarang masih jam sembilan. Paling tidak ba'da Ashar Sibu sampainya." Sahut Ajimukti sembari melihat jam di tangannya.
"Ning Afis itu adik keponakan njenengan itu ya, Gus?" Tanya Khalil yang kebetulan berada bersama Sobri saat ini.
Ajimukti mengangguk, "Benar, Kang. Dia anak paman saya. Namanya sebenarnya Nafisa. Hanya saja biasa di panggil Afis sejak kecil." Sahut Ajimukti setelahnya.
"Kang Imam sama Manan kemana, Kang? Kok tidak kelihatan?" Tanya Ajimukti melihat mereka hanya berdua saja di tempat itu.
"Kang Manan ke rumah Pak Lek Prastowo mengambil ayam, Gus. Kalau Kang Imam, Kang Khalil mungkin yang tahu." Sahut Sobri.
"Anu, Gus. Imam tadi pamit mau ambil uang ke kota." Sahut Khalil kemudian.
Ajimukti hanya kemudian mengangguk anggukan kepalanya saja. "Kok bukan sampeyan yang mengambil ayamnya, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian tertuju pada Sobri.
Sobri hanya tersenyum, ia tahu kenapa Ajimukti bertanya seperti itu padanya.
"Tadi saya jg nyuci, Gus. Yang longgar kebetulan Kang Manan." Ucapnya kemudian.
"Hmmm, begitu ya."
"Oh, iya, Gus. Tadi Imam sempat tanya sama saya soal makmum shalat Jum'at kalau terlambat, Gus. Saya sendiri tidak begitu paham. Niatnya tadi mau tanya sama Kang Sobri tapi malah kelupaan belum tanya. Kebetulan ada njenengan, jadi saya langsung saja tanya ke njenengan, Gus." Ucap Khalil kemudian.
"Ya beda, Gus. Tetap njenengan yang langsung bisa menjelaskan detailnya gamblangnya." Sela Sobri.
"Kulino sampeyan, Kang." Goda Ajimukti pada Sobri.
"Tapi, Kang. Kenapa Kang Imam tanya itu?" Tanya Ajimukti kemudian, kali ini tertuju pada Khalil.
"Jadi kapan itu dia pernah terlambat, Gus. Dia bingung harus lanjut shalat Jum'at atau Dzuhur. Begitu, Gus." Sahut Khalil setelahnya.
"Orang yang terlambat datang dalam pelaksanaan shalat Jum'at disebut dengan masbuq, kebalikan dari makmum muwafiq. Idealnya, kita datang ke tempat pelaksanaan shalat Jum'at itu sepagi mungkin, Kang. Namun, karena beberapa kendala, terkadang kita terlambat datang untuk Jum'atan, bahkan acap kali terlambat dalam pelaksanaan shalat Jum'at. Memang Kang Khalil, persoalan yang dihadapi saat terlambat datang shalat Jumat, sangat kompleks. Kadang imam sudah dapat satu rakaat, terkadang sudah sampai tahiyyat akhir. Nah, lalu bagaimana shalat Jum'atannya bagi orang yang terlambat datang? Begitu kan pertanyaannya Kang Imam?"
"Benar, Gus. Lalu bagaimana, Gus. Karena terus terang saya sendiri belum pernah sampai terlambat, Gus. Dan lagi, belum pernah di ajarkan bab itu sama Kyai Aminudin dulunya." Sahut Khalil kemudian.
"Begini, Kang Khalil. Sebelum membahas itu, kita harus tahu dulu perbedaan makmum. Mana makmum muwafiq mana makmum masbuq." Sahut Ajimukti setelahnya.
"Mohon untuk dijelaskan sekalian, Gus." Imbuh Khalil kemudian.
"Jadi begini, Kang. Makmum muwafiq itu makmum yang menemui durasi waktu membaca al-Fatihah bersama Imam sesuai dengan standar bacaan sedang, bukan bacaannya Imam dan makmum sendiri menurut pendapat al-aujah atau pendapat yang kuat. Jadi ketika kita masih menemui imam membaca al-Fatihah, entah itu di rakaat terakhir, posisi makmum kita dinamakan Makmun muwafiq, Kang. Nah, kalau makmum masbuq itu orang yang tidak menemui kriteria yang disebutkan dalam makmum muwafiq, baik di rakaat pertama atau di rakaat rakaat setelahnya, Kang." Jelas Ajimukti kemudian.
"Jadi inti dari yang Gus Aufa sampaikan, Kang. Sewaktu kita nyusul shalat masih sempat mendapat bacaan al-Fatihahnya imam, kita disebut makmum muwafiq. Nah, kalau ndelalah imam di rakaat terakhir shalatnya sudah rujuk atau bahkan tahiyyat akhir kita baru ndlesep jadi makmum, itu disebutnya makmum masbuq." Imbuh Sobri kemudian.
"Benar kata Kang Sobri itu, Kang. Seperti itulah jelasnya. Kang Khalil juga pasti sudah tahu." Lanjut Ajimukti kemudian.
__ADS_1
Khalil nampak mengangguk, "Ya, kalau soal itu sedikit banyak saya sudah paham, Gus. Hanya kali ini lebih mantap saja penjelasannya." Sahut Khalil setelahnya.
"Nah, sekarang berrkaitan dengan makmum masbuq dalam shalat Jum'at, setidaknya ada dua perincian yang perlu dipahami, Kang." Lanjut Ajimukti kemudian.
"Dua perincian itu apa saja, Gus?" Tanya Khalil kemudian.
"Pertama, masbuq yang menemui ruku’ rakaat yang kedua dari shalatnya imam. Kedua, masbuq yang tidak menemui ruku’ rakaat yang kedua dari shalatnya imam." Sahut Ajimukti kemudian.
"Lalu untuk penjelasannya, Kang. Masbuq jenis yang pertama, sederhananya adalah makmum yang menemui satu rakaat bersama imam. Masbuq jenis pertama ini tergolong orang yang masih menemui rakaat shalat Jum'at. Setelah imam salam, ia cukup menambahkan satu rakaat untuk menyempurnakan Jum'atannya. Hal itu sesuai dengan yang dikatakan Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Kang. Wa laa tudrakul-jumu'ah illa birak'atin, limaa marra min annahu yusytarathul-jamaa'ah wa kaunuhum arba'iina fii jamii'r-rak'atil-uulaa galau adrakal-masbuuqu rukuu'ats-tsaaniyah wastamarra ma'ah ila an-yusallima ata birak'atin ba'da salaamil-imaami jahran watammat jumu'atuh. Jum'at tidak dapat diraih kecuali dengan satu rakaat, karena keterangan yang lampau bahwa disyaratkan berjamaah dalam pelaksanaannya serta jamaah Jumat berjumlah empat puluh orang dalam keseluruhan rakaat pertama. Dengan demikian, apabila makmum masbuq menemui ruku’ kedua dan berlanjut mengikuti imam sampai salam, maka ia menambahkan satu rakaat setelah salamnya imam dengan membaca keras dan telah sempurna jum'atnya." Lanjut Ajimukti setelahnya.
"Ucapan Syekh Ibnu Hajar dan telah sempurna Jum'atnya, maksudnya Jum'at tidak terlewatkan dari makmum masbuq tersebut, Kang. Dalam hadits pun disebutkan, barangsiapa menemui dari shalat Jum'at satu rakaat, maka ia menemui shalat Jum'at, itu bisa kita cati dalam hadits riwayat imam al-Hakim dan beliau menshahihkan atas hadits tersebut, Kang." Lanjut Ajimukti lagi menambahi.
"Jadi tidak harus diganti dengan shalat Dzuhur ya, Gus?" Tanya Khalil kemudian.
"Itu berbeda, Kang." Sahut Ajimukti kemudian.
"Berbeda? Berbeda bagaimana, Gus?" Tanya Khalil sarat keingintahuan.
"Itu adalah masbuq tipe yang kedua, Kang." Sahut Ajimukti.
"Itu bagaimana, Gus?" Tanya Khalil kemudian.
"Ya, Masbuq jenis kedua ini maksudnya adalah makmum yang sama sekali tidak menemui rakaatnya imam. Mengenai ketentuannya, ia wajib mengikuti jamaah shalat Jum'at dengan niat Jum'at. Setelah salamnya imam, ia wajib menyempurnakannya sebagai shalat Dzuhur. Maksudnya, wajib menambahkan empat rakaat lagi saat menyempurnakan rakaatnya." Jelas Ajimukti kemudian.
"Lalu niatnya, Gus? Apa kita juga harus mengganti niat ketika menyempurnakan shalat Dzuhur itu?" Tanya Khalil lagi.
"Saat menyempurnakan rakaat shalat itu, Kang. Kita tidak perlu mengganti niat menjadi niat Dzuhur." Sahut Ajimukti juga setelahnya.
"Dalam kitab al-Minhaj al-Qawim Hamisy Hasyiyah al-Turmusi, Syekh Ibnu Hajar al-Haitami juga menjelaskan mengenai hal itu, Kang. Fain adrakahu ba'da rukuu'its-tsaaniyah nawaahaa jumu'ah, wujuuban Wa inkaanatidz-dzuhru hiyal-laazimata lahu muwaafaqah lil-imaam waliannal-ya'sa minhaa laa yahshulu illa bissalaam, li'adami idraaki rak'atin ma'al-imaam. Maksudnya, apabila masbuq menemui imamnya setelah ruku’ rakaat kedua, maka ia wajib niat shalat Jum'at, meskipun Dzuhur adalah kewajibannya, karena menyesuaikan dengan imam dan karena ketiadaan harapan menemui Jum'at tidak dapat dihasilkan kecuali dengan salam. Dan ia wajib melaksanakannya sebagai Dzuhur, karena ia tidak menemui satu rakaat bersama imam. Maksud dari ucapan Syekh Ibnu Hajar, Dan ia wajib melaksanakannya sebagai Dzuhur, maksudnya ia wajib menyempurnakan shalatnya sebagai Dzuhur setelah salamnya imam pada shalat Jum'at, baik orang yang mengetahui atau orang yang tidak paham, Kang. Hal tersebut dilakukan tanpa harus niat Dzuhur sebagaimana yang ditujukan oleh redaksi para ulama dengan bahasa yutimmu, menyempurnakan." Lanjut Ajimukti kemudian.
"Bagiamana, bisa di terima, Kang?" Sela Sobri kemudian.
"Sangat bisa, Kang." Sahut Khalil kemudian.
"Syekh Mahfuzh al-Termasi juga menegaskan mengenai hal ini, Kang. Menurut beliau bila setelah menyempurnakan Dzuhurnya, masbuq jenis kedua ini menemukan jamaah shalat Jum'at, maka ia wajib mengikuti Jum'at bersama mereka. Sedangkan shalat Dzuhur yang sudah ia lakukan, dengan sendirinya berstatus shalat sunah. Nah, apa yang diungkapkan beliau itu sesuai dengan apa yang disampaikan Imam al-Ramli dalam kitab al-Nihayah, Kang." Imbuh Ajimukti kemudian.
"Tapi ngomong ngomong ini malah sudah waktunya siap siap Jum'atan." Ucap Ajimukti kemudian setelah dirinya melirik jam di tangannya.
"Wah, benar, Gus. Sebaiknya kita siap siap Jum'atan dulu. Dan sekali lagi terima kasih atas pemahamannya, Gus." Sahut Khalil setelahnya.
"Sama sama, Kang. Jika ada yang perlu ditanyakan lagi, tanyakan saja, Kang." Sahut Ajimukti pula setelahnya.
"Pasti itu, Gus. Saya tidak ingin grusah grusuh lagi." Sahut Khalil sembari sedikit terkekeh.
Mereka pun kembali ke dalam kamar masing masing untuk bersiap melaksanakan shalat Jum'at, sementara di tempat lain, mobil yang dikemudikan Dullah juga nampak menepi di pinggiran masjid besar.
"Saya siap siap Jum'atan dulu ya, Mbak Yu." Ucap Dullah pada Nyai Kartika sebelum ia keluar dari mobilnya.
"Iya, Kang Dullah." Sahut Nyai Kartika.
__ADS_1
Nyai Kartika kemudian menoleh Nafisa yang duduk disampingnya. Sejak dari berangkat hingga saat ini, wajah gadis itu nampak ceria sekali. Diam diam Nyai Kartika tersenyum melihat binar ceria di wajah Nafisa saat ini.
Bersambung...