BROMOCORAH

BROMOCORAH
Kun Pariyan, Wa Laa Takun Pakisan!


__ADS_3

Siang ini di halaman masjid Pondok Hidayah.


Beberapa santri terlihat wira wiri, mondar mandir ada juga diantara mereka yang duduk santai di teras masjid.


Ajimukti, Manan dan Dullah terlihat masuk ke halaman masjid. Mereka pun sesekali terlihat berbincang bincang dengan wajah yang nampak berseri seri.


"Saya benar benar tidak menyangka bisa berkumpul lagi dengan teman teman lama saya, Mas. Benar benar diluar perkiraan saya." Ucap Dullah sejurus kemudian sambil terus berjalan.


"Saya lebih tidak menyangka, Lek Dul. Ternyata Ajik ini..." Sahut Manan sembari menunjuk Ajimukti dan tertawa.


Ajimukti hanya terus tersenyum, "Ingat, Nan. Innamaa amruhuu idzaa araada syaian..."


"Ayyaquula lahu kun fayakuun..." Sahut Manan dan Dullah nampak kompak lalu sama sama tertawa.


"Setelah ini kita langsung ke aula apa gimana, Mas?" Tanya Dullah kemudian.


Ajimukti melihat jam ditangannya.


"Oh iya sebentar lagi kajian qobla dzuhur. Nanggung kalau balik ke kamar. Kita tunggu sekalian saja disini." Sahut Ajimukti.


"Nanti Budi yang akan mengajar kalian. Lega rasanya." Gumam Manan.


Ajimukti dan Dullah saling melempar pandang, "Kok lega, Nan?" Tanya Ajimukti kemudian.


Manan tersenyum tipis, "Setidaknya saya lepas beban, Jik. Masak iya hanya santri seperti saya mengajar seorang..." Manan menghentikan ucapannya.


Ajimukti geleng geleng kepala, sembari merangkul pundak Manan.


"Ingat, Nan. Ilmu tidak selalu datang dari mereka yang ilmunya di atas kita. Terkadang justru sebuah ilmu datang dari mereka yang jauh dibawah kita. Bahkan dari yang dimata orang lain hina sekalipun kita bisa mendapatkan ilmu. Karena ilmu tidak memilih siapa pemiliknya dan siapa tujuannya." Ucap Ajimukti kemudian.


"Dan lagi, Nan. Sebagai seorang yang ngangsu ilmu, jangan sekali kita melihat si pemberi ilmu itu seperti apa. Kamu tahu sendiri sebuah pepatah bijak, undzur ma qoola wa la tandzur man qoola, lihat apa yang seseorang sampaikan bukan siapa yang menyampaikan." Ajimukti menepuk pundak Manan.


Manan hanya mengangguk mendengar ucapan Ajimukti dan cara berfikir seorang Ajimukti yang sebenarnya.


"Teruslah amalkan ilmu kamu, Nan. Seperti harapan Pak lek Anggoro. Biarpun hanya satu ayat sekalipun. Al 'ilman nafi'an bil'amalin, ilmu itu akan manfaat jika diamalkan. Percuma punya ilmu setinggi gunung kalau tidak pernah diamalkan. Karena ilmu tidak seperti barang yang jika disebarkan akan berkurang, tapi justru ilmu kita akan semakin bertambah jika semakin kita sebarkan." Lanjut Ajimukti.


"Benar sekali, Jik. Kyai Salim juga sering mengingatkan itu dulu ketika beliau masih sugeng." Manan menghela nafasnya, "Kyai Salim selalu mewanti wanti santrinya termasuk saya kala itu untuk terus mengamalkan apa yang sudah kami dapatkan. Pesan yang paling sering beliau sampaikan, wong mati iku bakal pedot ngamale, dudu amale. Kajobo telung perkoro, Anak sing sholeh sing gelem ndongakne wong tuane, amal jariyah sing endi amal iku migunani ing sak njerone kesaenan, lan ilmu sing manfaati dening liyan (orang yang sudah meninggal itu akan terputus ber-amalnya, bukan amalnya. Kecuali tiga perkara, anak yang sholeh yang mau mendoakan orang tuanya, amal jariyah yang mana amal itu berguna didalam kebaikan, dan ilmu yang bermanfaat bagi orang lain)." Lanjut Manan mengingat pesan pesan Kyai nya terdahulu.


Ajimukti kembali tersenyum. "Tambahan, Nan." Potong Ajimukti.


Manan menoleh kearah Ajimukti. "Apa itu, Jik?"


"Kun pariyan, wa laa takun pakisan. Jadilah seperti padi, bukan seperti pakis." Kata Ajimukti sembari tersenyum.


Manan mengerutkan keningnya. "Maksudnya?" Tanyanya penasaran.


Ajimukti sekali lagi meraih pundak Manan.


"Kamu tahu padi?" Tanya Ajimukti kemudian.


Manan mengangguk.


"Pohon pakis?"


Manan kembali mengangguk.


"Lihat perbedaan keduanya. Batang padi semakin tua ia akan semakin merunduk. Berbeda dengan pohon pakis yang justru semakin tua ia hanya akan terus menjulur ke atas tidak mau melihat kebawah."


Sekali lagi Manan hanya bisa mengangguk, ia paham maksud pepatah yang Ajimukti sampaikan itu.


"Mas, saya ke belakang dulu ya." Ucap Dullah tiba tiba memotong ucapan Ajimukti.


"Iya, Lek. Jangan lama lama." Sahut Ajimukti sembari tertawa melihat Dullah yang terburu buru sepertinya sudah sangat kebelet.


Sembari menunggu Dullah, Ajimukti mencari bangku untuk duduk dihalaman masjid itu.


"Assalamu'alaikum..." Tiba tiba dari arah belakang Ajimukti dan Manan, suara lirih seorang wanita memaksa mereka menghentikan langkahnya dan serentak menoleh.


"Wa...wa'alaikumsalam..." Jawab mereka kompak sesaat setelah menoleh.


"Ning Biba?" Ucap Manan kemudian.


Habiba hanya melempar senyumnya kearah mereka yang langsung memperlihatkan lesung pipinya.

__ADS_1


"Dari mana, Kang Manan Kang Aji?" Tanya Habiba kemudian.


Manan sontak mengerutkan keningnya. "Kalian sudah saling kenal?" Tanyanya kemudian.


"Tempo hari waktu Kang Aji ini lagi sama abah sempat dikenalkan, Kang." Ucap Habiba, "Oh iya, Kang Kang ini darimana?" Lanjutnya mengulang pertanyaannya tadi.


"Dari muter muter dipasar tadi, Ning." Sahut Manan cepat, Ajimukti hanya mengimbuhi dengan sedikit senyum


"Oh, beli apa, Kang?" Tanya Habiba sekilas melihat mereka tidak sedang membawa apa apa ditangannya.


"Emmm, itu anu, Ning." Manan nampak gugup.


"Ngopi aja." Sahut Ajimukti cepat.


"Iya ngopi." Imbuh Manan.


"Oh, cuma ngopi?" Sahut Habiba datar.


"Sampeyan mau kemana?" Tanya Manan kemudian.


"Mau cari cemilan di warung depan." Ucap Habiba sembari menunjuk arah gerbang masjid.


"Kok nggak nyuruh mbak mbak khodam ndalem?" Lanjut Manan.


"Sekalian cari angin, Kang."


Manan hanya mengangguk.


"Yasudah saya kedepan dulu ya, Kang. Assalamu'alaikum.." Ucap Habiba kemudian sembari melangkah berlalu dari hadapan mereka.


"Kamu akrab sekali sepertinya sama putrinya Pak Kyai, Nan?" Tanya Ajimukti beberapa saat kemudian begitu Habiba terlihat sudah menjauh.


Manan tak segera menjawab pertanyaan Ajimukti. Manan melangkah menuju ke sebuah bangku kemudian duduk di ikuti Ajimukti disebelahnya.


"Dulu waktu kami masih kecil dan Kyai Aminudin masih sebagai pengajar di Pondok Hidayah ini. Ning Biba sering ikut Kyai Aminudin kesini. Beberapa santri Kyai Salim memang terbilang dekat dengan Ning Biba itu, termasuk saya." Ucap Manan kemudian.


"Hanya itu?" Tanya Ajimukti seolah menelisik lagi.


"Ya, siapa tahu ada..." Ajimukti menghentikan ucapannya.


Manan tersenyum, "Ada hubungan gitu?" Tanya Manan lagi.


"Mungkin."


"Tidak ada."


Ajimukti mengangguk paham.


"Hanya saja..." Manan menghentikan ucapannya. Ajimukti menoleh kearahnya.


"Hanya saja apa?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Karena Ning Biba, saya sempat ada sedikit kesalah pahaman dengan Budi." Lanjut Manan.


"Budi?" Tanya Ajimukti. "Budi santri senior itu?" Lanjutnya.


Manan mengangguk. Ajimukti mengerutkan keningnya.


"Kok bisa sampai ke si Budi? Kesalah pahaman apa, Nan?" Tanya Ajimukti seolah menginterogasi.


"Singkatnya, Budi naksir sama Ning Biba. Dan ya..." Manan mengangkat kedua tanganya, "Kamu bisa menebak sendirilah." Lanjutnya.


"Budi mengira kamu dekat dengan Ning Biba?" Tanya Ajimukti menebak.


"Lebih tepatnya, cem-bu-ru." Manan sedikit menekan ucapannya.


Lagi lagi Ajimukti mengerutkan keningnya.


"Memangnya Budi sama Ning Biba sudah ada hubungan atau gimana?"


"Ya, belum sih, Jik."


"Lah, lantas kenapa Budi bisa cemburu. Aneh." Ajimukti geleng geleng kepala.

__ADS_1


"Ya, karena kan itu tadi. Budi naksir Ning Biba dan tidak ingin punya saingan." Jelas Manan kemudian.


Lagi lagi Ajimukti hanya geleng kepala.


"Lalu setelah itu?" Tanya Ajimukti kemudian.


Manan lagi lagi mengangkat kedua tangannya, "Nothing!"


Ajimukti hanya mengangguk. "Bocah labil" Gumamnya.


Tanpa mereka sadari sepasang mata sedang mengamati gerak gerik mereka dari arah samping masjid bahkan sejak Habiba tiba tiba menghampiri mereka. Tatapan yang tajam dan begitu menggambarkan ketidaksukaan yang teramat sangat. Beberapa saat mendengus dan memukul tembok tempatnya berdiri.


Dihalaman masjid.


"Sudah, Lek?" Tanya Ajimukti begitu melihat Dullah menghampiri tempat mereka duduk.


Dullah hanya meringis, lalu ikut dudu di sebelah Manan.


"Tadi dari tempat wudhu saya melihat ada anak gadis ngobrol sama kalian. Apa itu yang katanya putrinya Kyai Aminudin?" Tanya Dullah kemudian.


"Habiba namanya, Lek. Santri sini manggilnya Ning Biba." Jelas Ajimukti.


"Loh, sampeyan sudah kenal, Mas?" Tanya Dullah sembari memandang Ajimukti.


Ajimukti hanya menyunggingkan bibirnya dan sedikit menaikkan alis matanya.


"Cuantik ya ternyata anaknya Pak Kyai." Puji Dullah.


Manan dan Ajimukti sontak tertawa.


"Masih tahu saja Lek Dul ini sama yang bening bening." Celoteh Manan.


"Jangan salah, Nan. Gini gini juga pernah muda. Pernah jadi idola juga." Dullah sedikit tertawa.


"Sombong nih. Mulai sombong." Goda Ajimukti sembari ikut tertawa.


"Bukan sombong, Mas. Tapi kan fakta lho." Dullah lagi lagi tertawa.


"Masak?" Goda Ajimukti.


Manan yang mendengar pun tak bisa lagi menahan tawanya.


"Eh, tapi ngomong ngomong. Sudah ada calon belum itu si Ning nya?" Tanya Dullah sesaat kemudian.


Manan dan Ajimukti sontak saling pandang dan kembali tertawa terbahak bahak.


"Kenapa, Lek? Naksir?" Seloroh Manan.


"Awas tak bilangin Bulek Murti nanti, Lek." Timpal Ajimukti.


"Halah, ya nggak begitu. Kalian ini. Masak saya yang sudah bangkotan masih nyari daun muda aja. Kasihan yang masih seger seger kayak kalian."


Sekali lagi Manan dan Ajimukti tak bisa menahan tawa mereka.


"Tanya itu, Lek. Sama Manan sudah punya belum." Ucap Ajimukti lagi masih sedikit menahan tawanya.


Manan hanya merentangkan kedua telapak tangannya dan sedikit mengangkat bahunya.


"Wah, kesempatan itu." Gumam Dullah.


"Kesempatan apa, Lek?" Tanya Ajimukti sembari mengerutkan keningnya.


"Mau pedekate ya, Lek Dul?" Imbuh Manan.


"Kok saya lho." Sahut Dullah, "Ya kalian kalian ini yang muda muda. Ganteng ganteng." Lanjutnya.


Manan dan Ajimukti saling melempar pandang.


"Masak iya kalian nggak ada yang tertarik sama gadis secantik itu?" Imbuh Dullah lagi.


Deg!!!


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2