
Hari ini, Pondok Hidayah mengadakan pertemuan dengan seluruh wali santri. Persiapan demi persiapan sudah disiapkan beberapa bidarah ndalem sejak kemarin sore.
Anggoro dan Prastowo sengaja di undang secara khusus untuk mendampingi Ajimukti bersama Dullah, Ali dan Faruq, nantinya. Sebenarnya pihak pesantren pun juga sudah mengirim undangan khusus yang ditujukan kepada Kyai Aminudin. Tapi sejak tadi belum ada tanda tanda Kyai Aminudin di pesantren.
Sesuai rapat kecil yang Ajimukti adakan. Acara nanti akan di sepuhi oleh Ali selaku pengajar pesantren yang paling tua dan dianggap paling mumpuni.
Di panggung acara, Faruq terdengar tengah memimpin pembacaan Maulid sebagai pra acara hari ini. Ali pun tak lama nampak menyusulnya di atas panggung. Beberapa qasidah pun beberapa kali terdengar mengalun dengan iringan Hadrah pesantren.
Sementara itu di sisi lain, nampak Anggoro, Prastowo juga Dullah nampak begitu menikmati alunan qasidah di hadapan mereka. Sesekali senyum mereka mengembang.
Ajimukti sendiri justru nampak gelisah. Ia seolah sedang memikirkan sesuatu. Berkali kali ia mondar mandir di samping panggung acara.
Ajeng yang sejak tadi duduk bersama Sumiatun beberapa kali mencuri pandang dan memperhatikan tingkah Ajimukti itu. Tak lama ia pun berdiri dan melangkah menghampiri Ajimukti. Sumiatun yang melihat itu hanya diam diam tersenyum lalu menggelengkan kepalanya ringan.
"Assalamu'alaikum, Kang." Ucap Ajeng begitu berada tak jauh dari Ajimukti.
"Wa'alaikumsalam, dik." Sahut Ajimukti sembari tersenyum ke arah Ajeng yang tiba tiba sudah berada di dekatnya.
"Kok, sampeyan malah disini, Kang. Kok nggak gabung dengan yang kian di panggung?" Tanya Ajeng setelahnya.
"Ah, nanti, dik. Nanti saya juga kesana." Sahut Ajimukti singkat tapi wajahnya masih menampakkan kegelisahan.
"Apa ada yang lagi Kang Aji pikirkan?" Tanya Ajeng ingin tahu.
Ajimukti menoleh ke arah Ajeng, lalu tersenyum, "Iya, dik. Tapi nggak apa apa."
"Emmm..." Ajeng tak berniat meneruskan pertanyaannya, meski rasa ingin tahunya belum hilang.
Manan yang berniat menghampiri Ajimukti memutar kembali langkahnya begitu melihat ada Ajeng di sana. Tapi sekelebat Ajimukti melihat Manan. Dan kini, justru Ajimukti memanggil Manan.
Mau tidak mau Manan harus kembali memutar badannya dan menghampiri Ajimukti.
"Tadi kok muter lagi, Nan. Mau kemana?" Tanya Ajimukti kemudian.
Manan kikuk, berusaha mencari alasan yang tepat, "Oh, itu, Jik. Saya lupa tadi ada yang ketinggalan." Sahut Manan beralasan, karena tidak mungkin ia terang terangan memberi tahu alasannya putar balik.
__ADS_1
"Oh, saya pikir ada apa." Manan bisa bernafas lega Ajimukti tak meneruskan pertanyaannya, jika tidak, dia tidak tahu lagi harus beralasan apa lagi pada Ajimukti.
Manan bisa menutupinya dari Ajimukti, tapi tidak dari Ajeng. Ajeng diam diam menyadari bahwa jawaban Manan barusan hanya sebuah alasan.
"Oh, iya, Jik. Saya tak ambil yang kelupaan dulu ya?" Ucap Manan kemudian. Ia hanya ingin memberi kesempatan pada Ajeng menikmati kebersamaan nya dengan Ajimukti saat ini.
Ajimukti hanya mengangguk, sementara Ajeng menoleh ke arahnya, tepat disaat itu Manan pun melayangkan pandang ke arah Ajeng. Manan mengedipkan sebelah matanya, Ajeng tersipu dan merasa benar atas semua dugaannya itu.
"Kang Aji, Ajeng boleh tanya sesuatu?" Ucap Ajeng kemudian setelah beberapa mereka saling diam.
Ajimukti menoleh ke arah Ajeng yang untuk sesaat tertunduk, "Tanya apa, dik? Tanya saja jangan sungkan." Ucapnya kemudian pada Ajeng.
Ajeng nampak ragu untuk meneruskan keinginannya bertanya. Tapi melihat Ajimukti menunggu, akhirnya pun Ajeng memberanikan dirinya untuk meneruskan pertanyaannya.
"Emmm, apa Kang Aji bakal menetap di sini? Maksud Ajeng mengurus pesantren ini?" Tanya Ajeng meski sedikit ragu tapi kata kata dari pertanyaannya jelas.
Ajimukti menghela nafas, "Sepertinya begitu, dik. Pesantren ini amanah Simbah untuk bapak dan saya kebetulan satu satunya anak bapak. Tapi juga masih ada yang beberapa hal yang membebani pikiran saya jika boleh jujur."
Mendengar jawaban Ajimukti itu sejenak Ajeng tersenyum senang, meski setelahnya hatinya pun dipenuhi rasa keingintahuan, hal apa yang membebani Ajimukti itu.
Ajimukti kembali menoleh dan melempar senyum ke arah Ajeng, "Pertama jelas Sibu, dik. Selebihnya ya Fadhlun Muthoriq. Bagaimanapun juga, di Jogja saya juga punya Fadhlun Muthoriq yang juga sama sama amanah yang ditinggalkan bapak." Ajimukti terlihat gelisah saat mengucapkan itu.
Sedikit banyak Ajeng memahami kegelisahan yang dirasakan Ajimukti. Bagaimana pun juga tidak mudah untuk membuat keputusan diantara kedua pilihan itu. Tapi jauh di lubuk hati Ajeng yang terdalam, Ajeng berharap jika Ajimukti akan tetap tinggal di kota ini, di pesantren ini.
Sementara itu di panggung acara, Faruq terdengar sudah sampai di akhir acara Maulid. Itu artinya, sebentar lagi acara hari ini akan segera dimulai. Satu qasidah terakhir, tak lama mengalun setelah Faruq menutup pra acara hari ini.
Ajimukti baru saja akan mengajak Ajeng bergabung dengan Anggoro, Prastowo juga Dullah, ketika tiba tiba sebuah mobil BMW i8 Coupe yang begitu dihafal Ajimukti melaju ke halaman masjid dan berhenti disana, di ikuti satu mobil lain yang juga berhenti tepat di samping mobil mewah itu.
Dari mobil bercat silver itu, keluar seorang pemuda tampan dengan postur tubuh tinggi dengan senyum yang langsung saja mengembang begitu melihat sosok Ajimukti. Sementara di mobil yang lain, nampak keluar seorang pemuda lain yang langsung membuka pintu belakang mobil dengan santunnya. Dari pintu belakang mobil itu keluar sesosok wanita paruh baya yang langsung membuat Ajimukti berlari ke arah wanita paruh baya itu.
"Assalamu'alaikum, Sibu." Ucap Ajimukti segera meraih tangan wanita itu dan menciumnya beberapa kali setelah itu tanpa sungkan memeluk wanita itu.
"Piye, Le? Semua baik baik saja, kan?" Tanya wanita itu yang tak lain adalah Nyai Kartika, ibu dari Ajimukti sesaat setelah menjawab salam anak lelakinya itu.
"Alhamdulillah, Bu." Ucap Ajimukti sumringah, lalu beralih ke seorang pemuda yang sudah sejak tadi menunggu disambutnya, "Ah, Kang Sobri." Ajimukti segera merangkul pemuda bernama Sobri itu. Dia adalah anak semata wayang Dullah.
__ADS_1
"Pripun kabare, Gus? Sudah rindu saya sama wejangan wejangane Gus Aufa." Ucap Sobri yang tak bisa lagi menahan kerinduannya pada Gus-nya itu.
"Saya tidak akan memberi wejangan dulu, tapi nanti Kang Sobri harus dengarkan segudang cerita saya." Sahut Ajimukti yang juga merindukan sahabat sekaligus saudaranya itu.
Dullah yang melihat kedatangan Nyai Kartika juga Sobri segera bergegas bangun dari duduknya dan melangkah cepat ke arah mereka di ikuti Anggoro dan Prastowo.
"Mbak Yu, apa kabar? Tentu tidak lupa dengan saya kan?" Ucap Anggoro kemudian.
Nyai Kartika hanya tersenyum, "Semua teman seperjuangan Kang Salim, tidak satu pun yang akan saya lupakan, Kang Anggoro." Ucap Nyai Kartika dengan nada bicara masih seperti ketika ia muda dulu.
"Tentu dengan saya pun Mbak Yu pasti akan ingat?" Sela Prastowo dari balik punggung Anggoro.
"Saya sedikit lupa, Kang. Tapi ayam potong Kang Prastowo mungkin nanti bisa jadi oleh oleh saya." Nyai Kartika sedikit membuat semua seketika melepas tawa bahagianya.
Tak lama, Ali dan Faruq pun turun dari panggung dan menemui Nyai Kartika. Semua mata tertuju pada kedatangan Nyai Kartika saat ini. Para wali santri hanya saling pandang satu sama lain melihat sosok wanita paruh baya yang nampaknya sangat di segani oleh para pengarep pesantren itu. Dan yang membuat mereka pun keheranan. Para wali santri itu sejak tadi tidak melihat Kyai Aminudin dan keluarga ndalem lainnya.
Tak lama setelah itu, Ali dan Faruq segera mengajak Nyai Kartika ke kursi depan panggung yang sengaja sudah disiapkan untuk semua tamu undangan khusus. Hanya saja kursi undangan untuk Kyai Aminudin hingga saat ini masih terlihat kosong.
Acara pun dimulai, Ali segera menyampaikan maksud dan tujuan pihak pesantren mengundang seluruh wali santri hari ini. Ali menjelaskan tentang beberapa masalah yang terjadi dengan tanpa menjatuhkan Kyai Aminudin.
Semua santri dan wali santri terlihat mengangguk paham dengan penjelasan yang Ali sampaikan. Ali pun menjelaskan kepada semua yang datang di acara hari ini tentang siapa yang akan meneruskan menjadi pengasuh pesantren.
Tiba saat nya Ali memanggil Ajimukti. Sontak semua mata tertuju pada Ajimukti dengan penuh keheranan ketika melihat sosok pengasuh pesantren yang masih terlihat begitu muda itu.
"Beliau lah Gus Aufa yang saya maksud. Nama beliau Ajimukti Aufatur Muthoriq, beliau putra dari Kyai Salim Muthoriq, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Hidayah ini." Ucap Ali setelah Ajimukti berdiri di hadapan semua yang hadir.
Diantara semua yang hadir, nampak dua pemuda yang begitu terkejut. Mereka adalah Khalil dan Imam. Mereka nampak gemetaran setelah melihat kenyataan yang ada dihadapan mereka.
Ajimukti mulai berbicara di hadapan semua tamu undangan yang hadir di acara hari ini. Dari cara bicara juga wawasan Ajimukti itu, membuat mereka yang hadir yakin dengan kemampuan yang dimiliki Ajimukti.
Acara demi acara terus berlangsung di panggung acara pesantren hari ini. Tanpa ada satu pun yang menyadari, seorang gadis belia diam diam mengamati acara itu dari balik tembok gerbang masjid pesantren.
Wajahnya yang teduh tertutup jilbab warna merah muda senada dengan terusan yang ia kenakan. Sorot matanya berbinar, sesekali senyumnya mengembang ketika matanya menangkap sosok pemuda yang begitu di kagumi nya itu.
"Kenapa kamu malah hanya disini? Kenapa tidak masuk saja?" Tiba tiba suara seseorang dari arah belakang mengagetkannya dan membuat jantungnya berdebar kencang. Untuk sesaat tubuhnya gemetaran.
__ADS_1
Bersambung...