BROMOCORAH

BROMOCORAH
Mulatsih


__ADS_3

"Sepertinya itu Mas Arya, Bu Dhe." Ucap Angga pada Mulatsih, ibunya Arya, sembari menunjuk ke arah luar begitu melihat Arya memarkirkan motor di halaman rumahnya.


"Oh, iya, itu Mas mu, Le." Mulatsih segera berdiri dari duduknya dan berjalan keluar di ikuti Angga.


"Kok sepi, Bu. Bu Lek sama Pak Lek kemana?" Tanya Arya setelah mengucapkan salam.


"Pak Lek mu baru cari kambing yang nantinya mau di sembelih. Kalau Bu Lek mu ke pasar sama Mas Ari." Sahut Mulatsih kemudian.


"Ari? Siapa itu, Bu?" Tanya Arya sedikit mengerutkan kening.


"Ari itu Kakak saya, Mas. Mas Arya belum bertemu kan sama kakak saya? Nanti saya kenalkan, Mas." Sahut Angga kemudian.


"Baiklah baiklah. Saya juga tidak sabar berkenalan sama kakakmu itu, Ngga. Senang bisa nambah sedulur." Sahut Arya setelahnya.


"Sebaiknya kita mengobrol di dalam saja, Mas. Sambil menunggu Mas Ari sama emak pulang. Sudah lama kan kita tidak mengobrol, pasti banyak pengalaman yang bisa sampeyan ceritakan sama saya ini." Ucap Angga sembari mengajak Arya masuk ke dalam rumah.


"Pengalaman?" Arya kemudian tertawa.


"Saya tidak punya pengalaman apa apa, Ngga. Ya, selain lontang lantung di jalan maksudnya. Terkecuali kalau kamu ingin saya berbagi trik menghabiskan waktu di jalanan." Imbuhnya masih sembari tertawa.


Mendengar kelakar Arya itu, Angga hanya bisa ikut tertawa.


Tak lama, di tengah tengah obrolan Angga dan Arya itu. Samar samar dari halaman rumah terdengar derum berisik mesin Vespa yang tak asing di telinga Angga.


"Itu sepertinya emak sama Mas Ari sudah pulang, Mas." Ucap Angga seraya berdiri dari duduknya.


Benar saja, di halaman, nampak Ari sedang turun dari motornya, sementara Gitun, emaknya, sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah. Melihat Arya sudah duduk di ruang tamu rumahnya, Gitun nampak berbunga. Segera ia menemui keponakannya itu.


"Sudah lama, Mas Arya?" Tanyanya kemudian.


"Belum, Bu Lek. Paling setengah jam." Ucapnya sembari meraih tangan Gitun dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.


"Di dalam ada anaknya Bu Dhe Sih, Mas. Sudah sejak tadi, katanya ingin sekali bertemu kamu." Ucap Angga di luar rumah pada kakaknya itu, Ari Godril.


"Oh, ya. Yasudah saya akan menemuinya. Saya juga sudah tidak sabar bertemu saudara baru saya." Sahut Ari Godril kemudian segera masuk ke dalam rumah.


Belum sempat benar benar masuk ke dalam rumah, Ari Godril sudah di buat terperanjat begitu tahu siapa sebenarnya anak dari Bu Dhe nya itu. Pun dengan Arya yang sama terkejutnya begitu melihat Ari Godril masuk.


"Sampeyan."


"Sampeyan?"


Kedua pemuda itu saling menunjuk satu sama lain.


"Mas Arya ya?" Seru Aru Godril kemudian.


"Mas Godril kan?" Balas Arya setelahnya.


Mereka pun segera saling menghampiri.


"Loh, Mas Arya sudah kenal dengan kakak saya ini?" Tanya Angga yang dibuat terkejut dengan sikap mereka.


"Iya, Le. Kamu sudah kenal sama Ari kakaknya Angga ini?" Tanya Mulatsih juga pada Arya.


"Iya. Saya dan Mas Godril ini sudah sempat bertemu. Saya tidak tahu nama aslinya, karena waktu kenalan saat itu Mas Godril memperkenalkan dirinya ya dehan nama Mas Godril." Sahut Arya.


"Iya, Bu Dhe. Saat itu memang saya pernah bertemu dengan Mas Arya. Eh, siapa sangka ternyata Mas Arya ini masih saudara." Sahut Ari Godril juga setelahnya.


Mereka pun untuk sesaat sama tertawanya.


"Wah, ternyata dunia ini sempit. Siapa sangka pertemuan waktu itu ternyata ada rahasia di baliknya." Celetuk Ari Godril lagi setelah itu.


"Benar, Mas. Siapa sangka." Imbuh Arya kemudian.


"Waduh, kalau begini saya tidak jadi mengenalkan dong. Kan sudah sama sama kenal." Sahut Angga kemudian.


Mendengar ucapan Angga itu, Arya juga Ari Godril kembali tertawa.


"Berhubung kalian sudah lebih dulu kenal. Jadi kalian tidak akan canggung lagi untuk mengobrol. Kalian mengobrol dulu. Ibu sama Bu Lek mu mau cepak cepak dulu." Ucap Mulatsih kemudian.

__ADS_1


"Iya, Bu Dhe. Kebetulan saya juga ingin ngangsu ilmu lebih banyak dari Mas Arya ini." Sahut Ari Godril kemudian.


"Ah, Mas Godril bisa saja. Saya ini wong kopong, Mas. Apa yang bisa di angsu dari saya." Sahut Arya merendah.


"Kebiasaan Mas Arya ini. Selalu saja ngasor." Timpal Angga kemudian.


"Iya, Mas Arya. Saya sudah dengar dari Bu Dhe Sih bagaimana Mas Arya ini. Jadi Mas Arya jangan lagi merendah. Berbagilah, biar yang bodho bodho kayak saya ini ketularan ilmunya sampeyan, Mas." Ucap Ari Godril lagi.


"Bukan merendah atau ngasor, Mas. Lha wong nyatanya saya itu nol prutul. Jangan kan untuk saya tularkan ke orang lain. Untuk saya sendiri saja tidak ada yang bisa saya amalkan kok, Mas." Ucap Arya masih dengan sifat merendahnya.


"Ya, tapi setidaknya kan Mas Arya ini jebolan pesantren. Lha saya? Saya saya mung wong ndalan, Mas." Sahut Ari Godril kemudian.


Arya tertawa mendengar itu, "Jebolan pesantren tidak menjamin ilmunya, Mas Godril. Dan orang orang yang, amit sewu, seperti kata Mas Godril tadi bilang, wong ndalan, juga belum tentu tidak punya ilmu. Justru sekarang ini saya belajar banyak dari wong wong ndalan, Mas. Bagaimana solidaritasnya, guyup rukunnya, kerja samanya, juga lung tinulungnya. Kadang karena mereka dianggap mung wong ndalan, lantas mereka menganggap diri mereka rendah, sungkan untuk srawung. Tapi justru kalau menurut saya lho ya, Mas. Dengan kita nyrawung dengan mereka, kita jadi akan lebih banyak belajar tentang bagaimana nglakoni hidup yang keras dengan santai." Ucap Arya kemudian.


Ari Godril mengangguk anggukan kepalanya mendengar penuturan Arya itu, "Tapi, Mas Arya. Untuk benar benar melakoni hidup ini. Solidaritas saja rasanya tidak cukup. Setelah saya belajar sedikit demi sedikit, ternyata ada banyak hal yang dibutuhkan untuk benar benar bisa dikatakan punya hidup yang manfaat."


"Benar, Mas Godril, saya setuju dengan sampeyan." Sahut Arya kemudian.


"Nah, hal hal lain itu yang ingin saya pelajari dari sampeyan Mas Arya. Jadi pantang untuk sampeyan ngelak lagi." Ucap Ari Godril kemudian.


Merasa sedang di jebak Ari Godril, Arya kemudian tertawa, "Wah, salah omong ini saya."


Ari Godril kemudian hanya tertawa.


"Bikin kopi, Ngga. Ngobrol tanpa ngopi kurang pas." Ucap Ari Godril pada Angga.


"Wah, iya. Sampai lupa, Mas. Sebentar saya buatkan dulu." Sahut Angga seraya berdiri dan bergegas ke dapur.


"Angga itu anaknya luwes dan tidak mbantahan, Mas. Entah kenapa, meski kami beda bapak tapi rasanya dia itu sudah seperti satu bapak dengan saya." Ucap Ari Godril sembari menatap langkah Angga.


"Memang, Mas. Saya kenal Angga bahkan ketika dia masih umbelen. Dan siapa sangka setelah lama tidak bertemu pun sikapnya masih sama." Sahut Arya.


"Kadang saya menyesal, Mas. Dulu ke egoisan saya justru menjauhkan saya dari orang orang yang tulus mau menerima saya. Andai saja dulu saya tidak angkuh dengan pendirian saya. Mungkin saya akan punya banyak waktu untuk bersama Angga dan tidak seperti sekarang ini." Ucap Ari Godril lagi setegah mengeluh.


"Sudah, Mas. Jangan menyesali yang sudah berlalu. Tidak ada jaminan dalam pengandaian. Yang terpenting adalah sekarang dan esok. Bagaimana kita melakoni lakon kita." Sahut Arya.


"Ya, Mas Arya benar. Hanya saja tidak semua orang bisa menerima saya dengan keadaan saya yang sudah terlanjur seperti ini." Keluh Ari Godril lagi.


Ari Godril mengangguk, "Iya, Mas. Sejak saya kenal Guse, saya jadi punya pandangan lain. Dan disana lah saya diterima meski dengan segala kekurangan saya ini."


"Oh, iya, sampeyan waktu itu juga ingin mengenalkan saya pada Gus sampeyan itu ya, Mas. Saya jadi penasaran." Ucap Arya kemudian.


"Sebenarnya tadi baru saja dari sini, Mas. Kebetulan rumah sebelah itu adalah rumah calon istri beliau." Ucap Ari Godril kemudian.


"Oh, ya. Wah, berarti bakal dekat dengan Gus sampeyan itu dong nantinya." Sahut Arya.


"Belum tentu, Mas. Karena setahu saya, mungkin justru Ning Biba yang akan di boyong Guse ke pesantren." Sahut Ari Godril kemudian.


"Oh, begitu." Arya mengangguk anggukan kepalanya.


Sementara itu, jauh dari tempat mereka, ada sekumpulan orang juga tengah membicarakan mereka diam diam.


"Ah, brengsek. Gara gara kejadian waktu itu, banyak orang orang pasar yang sekarang berani melawan kita." Gerutu seorang dengan pandangan nanarnya.


"Bos Guntoro tenang saja. Apa perlu kita singkirkan orang itu?" Sahut salah satu anak buahnya kemudian.


Lelaki bernama Guntoro itu hanya kemudian mengaduk garuk dagunya sembari sedikit mengangguk anggukan kepalanya.


"Ngawur kamu. Kamu tidak tahu ya. Waktu itu ada Godril juga. Dan kamu tahu kan siapa Godril?" Bisik anak buah Guntoro yang lain.


"Godril? Bukankah dia anak punk yang paling disegani para preman muda?" Sahut anak buah Guntoro yang lain lagi.


"Itu sebabnya waktu itu Bos Guntoro tidak berani bertindak." Sahut anak buah Guntoro itu lagi.


"Arya. Bagaimana kita menyingkirkan anak itu?" Gumam Guntoro kemudian seolah tengah berpikir keras.


"Bos, apa benar Arya dan Godril itu kenal?" Tanya anak buahnya kemudian.


"Apa maksud kamu?" Sahut anak buah Guntoro yang lain.

__ADS_1


"Begini maksud saya. Kan waktu itu kita tahu sendiri. Antara Arya dan Godril tidak satu meja. Kebetulan saja waktu itu kamu tidak sengaja hampir mengenai Godril yang membuat Godril ikut campur saat itu." Ucap anak buah Guntoro itu menunjuk rekannya.


Mendengar itu Guntoro mengangguk anggukan kepalanya.


"Bisa dipastikan Arya dan Godril tidak saling kenal. Jadi tidak akan ada masalah dengan Godril jika Bos Guntoro ingin membereskan Arya." Usul anak buah Guntoro kemudian.


Guntoro lagi lagi mengangguk, "Ya, kamu benar. Kenapa saya harus takut kalau anak itu juga Godril saling mengenal." Ucap Guntoro sembari tertawa penuh kemenangan.


"Lalu bagaimana selanjutnya, Bos. Apa Bos sudah ada rencana?" Tanya Anak buah Guntoro setelah itu.


Guntoro tertawa, "Kalian atur saja sendiri. Yang pasti saya tidak ingin mendengar kata gagal." Ucapnya kemudian sembari berlalu pergi.


"Satu lagi." Ucap Guntoro menghentikan langkahnya sembari memutar badan.


"Jangan ada jejak." Ucapnya kemudian.


"Bos, tenang saja. Kami cukup lihai kalau hanya membereskan cecunguk itu tanpa jejak." Sahut anak buah Guntoro bangga.


"Bagus. Segera laksanakan saja." Ucap Guntoro sembari kembali berlalu.


"Saya sering melihat Arya di sanggar. Sebaiknya kita awasi dia dan begitu lengah kita bisa habisi segera." Usul anak buah Guntoro kemudian.


"Baik, kamu ikuti dan segera kabarkan kalau ada kesempatan kita menghabisi anak itu." Ucap anak buah Guntoro pada rekannya.


"Baik."


Setelah obrolan itu, para anak buah Guntoro pun segera membubarkan diri.


Sementara itu, Ajimukti Dullah masih menunggu Sukrono untuk menjelaskan tentang masa lalu Kyai Idris.


"Jadi apa yang ingin Mas Aji tahu tentang kakekmu, Kang Kyai Idris itu?" Tanya Sukrono saat itu.


Ajimukti juga Dullah saling melempar pandang.


"Apa Mbah Sukro tahu tentang kedua istri Mbah Yai dulunya?" Tanya Dullah kemudian.


Sukrono tersenyum lalu menghela nafasnya, setelahnya ia pun mengangguk.


"Kalau Mbak Yu Sarjiyem, saya terus terang saja tidak begitu dekat dengan beliau. Saya hanya pernah bertemu sekali, dan itu saat secara tidak sengaja Kang Idris menyuruh saya mengantar obat ke rumah Mbak Yu. Itu pertama dan terakhir saya bertemu dengan beliau, Mbah Putri Mas Aji." Sukrono kembali menghela nafasnya.


"Kalau Mbak Yu Sumarsani, saya cukup akrab dengannya. Karena kan sejak beliau di nikahi Kang Idris waktu itu. Kang Idris langsung menetap bersama Mbak Yu Sumarsani dan juga hampir setiap malam kami, saya juga Kang Zaini mengobrol di rumah Kang Idris bahkan sampai menjelang subuh." Kenang Sukrono kemudian.


"Berarti Mbah Sukro tahu betul tentang putra beliau?" Tanya Dullah kemudian.


"Ya, kalau Mas Gus Salim, saya hanya tahunya justru ketika Kang Idris sudah wafat. Ya, mungkin kalian sudah tahu sendiri bagaimana masa muda Mas Gus Salim pasca Kyai Idris menikah lagi." Ucap Sukrono kemudian.


"Ya, saya tahu itu, Mbah. Bapak mungkin saat itu tidak serta merta bisa menerima pernikahan Kakek dengan Simbah Putri Sumarsani pada awalnya." Sahut Ajimukti.


"Ya, benar, Mas. Dan hal itu sangat di sesali Mas Gus Salim setelahnya." Ucap Sukrono kemudian.


"Lalu, Mbah. Jika Mbah Sukrono begitu dekat dengan Mbah Putri Sumarsani. Berarti Mbah Sukrono pun tahu mengenai Bu Lek Mulatsih?" Tanya Ajimukti kemudian.


Untuk kesekian kalinya Sukrono nampak menghela nafas.


"Mulatsih ya?" Gumamnya.


"Tentu saja saya tahu. Bahkan Mulatsih sudah saya anggap seperti anak saya sendiri. Dia dan Mursini sudah seperti dulur wedok sak pranakan." Sahut Sukrono kemudian.


Mendengar itu di wajah Ajimukti juga Dullah nampak memancarkan kelegaan.


"Itu alasan dari semua pertanyaan kami, Mbah." Ucap Ajimukti kemudian.


"Maksud Mas Aji?" Tanya Sukrono nampak kebingungan.


"Baik saya, Sibu, juga Lek Dul, sudah sejak lama mencari keberadaan Bu Lek Mulatsih. Dan baru beberapa hari yang lalu Lek Dul berisiatif untuk menanyakan ini sama njenengan, Mbah. Dan kalung inilah alasan kenapa Lek Dul yakin bahwa njenengan tahu tentang masa lalu Simbah saya." Ucap Ajimukti kemudian.


Sukrono untuk sejenak termangu.


"Mulatsih... Hmmm..." Gumamnya setengah berbisik.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2