
"Assalamu'alaikum, Kyai." Pemuda itu mengucap salam beberapa kali di teras ndalem Kyai Aminudin pagi ini. Nafasnya yang memburu menandakan ia baru saja berlari tergesa.
Tak lama, pintu ndalem pun dibuka. Dari dalam nampak Kyai Aminudin sendiri yang membuka pintu itu setelah sebelumnya menjawab salam pemuda itu.
Di depan teras, nampak seorang pemuda bersongkok hitam, badannya agak kurus berkulit putih bersih dan berkacamata. Pemuda itu nampak yang terengah engah, nafasnya terdengar memburu.
"Nak Herman, ada apa? Kenapa sepertinya kamu gelisah sekali. Apa ada masalah di pesantren?" Tanya Kyai Aminudin sembari duduk di sofa teras ndalem.
"Tidak ada masalah di pesantren, Kyai. Tapi saya ingin memberi tahu Kyai sesuatu. Ini soal Kang Budi?" Ucap pemuda yang bernama Herman itu.
Herman ini adalah salah satu pengurus pesantren yang mengurusi bagian administrasi pondok. Dia juga salah satu orang kepercayaan Kyai Aminudin di Pondok Hidayah.
"Nak Budi? Ada apa dengan Nak Budi? Apa terjadi sesuatu dengan Nak Budi?" Tanya Kyai Aminudin setengah kaget dan langsung memburu Herman dengan pertanyaannya.
"Anu, Kyai. Kang Budi. Emmm, Kang Budi pergi dari pondok." Ucap Herman kemudian, masih dengan nafas yang belum tertata sepenuhnya.
"Pergi dari pondok bagaimana, Nak Herman. Keluar begitu atau bagaimana?" Tanya Kyai Aminudin masih tidak paham dengan penjelasan Herman itu.
"Anu, Kyai. Itu, Kang Budi minggat dari pondok, Kyai." Sahut Herman ragu untuk mencari ungkapan yang tepat.
Kyai Aminudin tersentak dan begitu kaget mendengar apa yang di sampaikan Herman itu.
"Apa kamu yakin? Atau mungkin Nak Budi hanya jalan jalan keluar." Tanya Kyai Aminudin memastikan.
"Yakin, Kyai. Saya melihat sendiri Kang Budi memesan taksi. Makanya saya buru buru memberi tahu Kyai. Karena kalau boyong pasti ada laporan ke pengurus." Ucap Herman kemudian.
Kini wajah Kyai Aminudin nampak gelisah, lalu berdiri dari duduknya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Budi tahu kalau Habiba enggan menerima lamarannya." Gumam Kyai Aminudin.
"Gawat kalau Pak Nugroho tahu ini. Bisa gagal negosiasi tempo hari." Batin Kyai Aminudin.
"Maaf, Kyai. Saya menduga ini ada hubungannya dengan Kang Aji." Ucap Herman kemudian.
Kyai Aminudin menoleh tajam ke arah Herman.
"Nak Aji? Apa maksud kamu? Apa mereka berkelahi?" Tanya Kyai Aminudin sejurus kemudian.
"Berkelahi sih tidak, Kyai. Tapi tempo hari saya mengamati mereka tengah berselisih." Sahut Herman kemudian.
Kyai Aminudin mengerutkan keningnya, "Berselisih? Kamu dengar, apa yang membuat mereka berselisih?"
Herman mengangguk ringan. "Sedikit banyak dengar, Kyai."
"Coba kamu ceritakan, perselisihan seperti apa antara Nak Budi dan Nak Aji?" Perintah Kyai Aminudin dengan suara meninggi.
Herman nampak ragu melihat ekspresi wajah Kyai Aminudin yang mendadak terlihat tegang.
"Saya...Saya hanya mendengar Kang Aji membahas tentang latar belakang Kang Budi, Kyai." Ucap Herman kemudian lalu menyampaikan seperti apa yang ia dengar saat dirinya tanpa sengaja menguping pembicaraan antara Ajimukti dan Budi.
Kyai Aminudin nampak cemas kali ini. Raut wajahnya yang tadinya tegang kini berangsur angsur menampakkan kegelisahan.
"Bagaimana Ajimukti bisa tahu sedetail itu tentang Nak Budi?" Gumamnya kemudian.
"Entahlah, Kyai. Bahkan seperti Kang Khalil dan Kang Imam yang teman dekat Kang Budi pun tidak tahu itu." Sahut Herman kemudian.
__ADS_1
Kyai Aminudin kembali duduk di sofa teras itu. Sejenak ia terdengar menghela nafas dalam dalam.
"Maaf, Kyai. Saya sedikit menaruh curiga pada Kang Aji. Coba Kyai bayangkan saja apa yang terjadi akhir akhir ini. Dari kompetisi bahkan ketika acara perayaan kemenangannya. Saya melihat Kang Aji bukan seperti seorang yang baru di pesantren." Lanjut Herman kemudian.
"Ya, saya pun ketika itu tidak terlalu yakin. Saya sudah pesimis dia bisa menang. Kamu pun tahu, bagaimana dan seperti apa dia ketika pertama datang kesini. Dia lebih mirip seperti berandalan. Dan lagi mengingat kompetisi itu kompetisi bergengsi antar pesantren, lawan nya dari pondok pesantren yang begitu tersohor. Tapi Faruq lah yang meyakinkan saya waktu itu. Dan benar, tanpa saya duga, Ajimukti bisa memenangkan kompetisi itu." Sahut Kyai Aminudin sembari menyandarkan punggungnya di sandaran sofa itu.
"Itulah, Kyai. Bahkan seorang Kyai seperti njenengan pun tidak menduga kan bahwa Kang Aji bisa menang." Imbuh Herman lagi.
Kyai Aminudin hanya mengangguk ringan, mencerna ucapan Herman itu.
"Belum lagi yang soal latar belakang Kang Budi ini, Kyai." Lanjut Herman menambahi.
"Saya tidak habis pikir, Nak Herman. Dari mana dia tahu." Kyai Aminudin mengerutkan keningnya. "Oh, iya soal berita itu apa benar, tentang berita Pak Nugroho itu. Atau hanya untuk menjatuhkan Nak Budi saja?" Tanya Kyai Aminudin kemudian.
Herman mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, "Itu benar, Kyai. Coba Kyai perhatikan berita ini." Herman menyodorkan sebuah koran ke Kyai Aminudin.
Seketika mata Kyai Aminudin terbelalak. Tubuhnya mendadak bergetar. Lalu kembali menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa.
"Hancur, Nak Herman. Hancur ini. Gagal sudah." Gumam Kyai Aminudin dengan suara lirih.
Herman memperhatikan sikap Kyai nya itu. Dia tidak paham apa maksud ucapan Kyai nya itu.
"Maksudnya bagaimana, Kyai?" Tanyanya pada akhirnya.
"Pak Nugroho berencana mendanai pembangunan pondok putri. Tapi sekarang dia ditangkap polisi karena korupsi. Apa tidak gagal itu, Nak Herman?" Ucap Kyai Aminudin nampak kalut.
Herman hanya mengangguk.
"Setelah saya pikir pikir, mungkin itu yang membuat Kang Budi pergi, Kyai." Ucap Herman kemudian, "Kang Budi malu jika akhirnya seluruh santri tahu tentang kasus yang menimpa Pak Nugroho, Kyai." Lanjutnya.
"Lalu soal Kang Aji bagaimana, Kyai?" Tanya Herman kemudian.
Kyai Aminudin hanya diam. Sepertinya pikirannya dan Herman sama kali ini. Sama sama menaruh curiga tentang sosok Ajimukti.
"Maaf, Kyai. Mengingat soal kompetisi itu lagi. Bukankah kata Kyai, Gus Faruq yang meyakinkan Kyai. Apa mungkin Gus Faruq tahu sesuatu tentang Kang Aji?" Ucap Herman setelahnya.
"Bisa jadi, Nak Herman." Kyai Aminudin mengangguk ringan.
"Apa tidak sebaiknya kita tanyakan pada Gus Faruq, Kyai. Mungkin dari Gus Faruq, kita akan tahu sesuatu."Herman mencoba memberi saran pada Kyai Aminudin.
Seketika Kyai Aminudin menegakkan duduknya, "Tidak perlu, Nak Herman. Jangan bertanya apa pun pada Faruq. Jika memang dia tahu sesuatu dan berniat mengatakannya, pasti dia sudah bilang. Tapi tidak ada pernyataan apa pun darinya. Berarti dia pun mencoba menutupinya dari kita, jika memang dia tahu sesuatu." Ucap Kyai Aminudin kemudian.
"Lalu bagaimana, Kyai?" Tanya Herman nampak bingung.
"Untuk sementara kamu awasi saja Ajimukti. Jika ada hal hal yang mencurigakan, kamu laporkan ke saya." Perintah Kyai Aminudin kemudian.
"Baik, Kyai. Sendiko dawuh." Sahut Herman sedikit menundukkan badannya.
Tak lama, Herman pun undur diri dari hadapan Kyai Aminudin. Kyai Aminudin masih duduk termangu di sofa teras rumahnya. Pandangannya menerawang.
"Ajimukti dan Dullah. Siapa mereka ini sebenarnya? Saya memang merasakan sesuatu yang berbeda dari mereka." Gumam Kyai Aminudin sesaat kemudian.
Sementara itu di kalangan santri Pondok Hidayah. Desas desus tentang kepergian Budi yang tiba tiba tanpa pamit ke pihak pesantren pun dengan cepat menyebar. Mereka semua saling tanya satu sama lain tentang kebenaran berita itu.
Dan saat ini, berita itu pun pada akhirnya sampai ke telinga Ajimukti dan Dullah. Ajimukti nampak tenang ketika Manan mengabarkan tentang kepergian Budi itu.
__ADS_1
"Kamu serius, Nan?" Tanya Dullah yang masih begitu penasaran.
"Iya, Lek. Seluruh santri sudah tahu." Sahut Manan meyakinkan.
"Bagaimana, Mas Aji?" Tanya Dullah pada Ajimukti yang sepertinya biasa saja mendengar itu.
"Bagaimana apanya, Lek?" Tanya Ajimukti nampak begitu tenang.
"Ya soal Budi ini, Mas? Kan Mas Aji juga tahu bagaimana pengaruh Budi di Pondok Hidayah ini. Apa Mas Aji nggak penasaran kenapa Budi tiba tiba pergi tanpa pamit sama pihak pesantren?" Tanya Dullah kemudian.
Ajimukti hanya membalas dengan senyum.
"Apa kamu tahu sesuatu, Jik?" Tanya Manan kemudian melihat ekspresi Ajimukti yang seperti itu.
Ajimukti mencondongkan badannya, "Kalian ingat waktu kita di rumah Pak Lek Pras tempo hari?" Ucap Ajimukti kemudian.
Dullah dan Manan saling pandang, lalu sama mengerutkan kening.
"Maksudnya, Jik? Hubungannya apa sama perginya Budi?" Tanya Mana yang tidak mengerti ucapan Ajimukti itu.
"Iya, lho, Mas. Ini kita lagi bahas Budi lho, Mas. Kok sampai pertemuan kita di rumah Prastowo." Timpal Dullah yang sama tidak mengertinya dengan Manan.
Ajimukti menghela nafas, "Begini, kalian ingat tidak Pak Lek Anggoro waktu itu membawa koran yang ada berita tentang penggelapan dana?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Iya, Mas. Saya ingat. Yang pas Mas Aji tanya tanya itu kan?" Sahut Dullah.
Ajimukti menjentikkan jarinya, "Tepat, Lek. Nah, Kalian tahu tidak siapa yang jadi berita utama koran itu?" Tanya Ajimukti sekali lagi.
"Ah, saya nggak terlalu mengikuti pas bahas itu, Jik. Kan saya terus ke belakang ngobrol sama Ajeng." Sahut Manan.
"Saya yang disana pun nggak begitu memperhatikan, Mas. Lagian orang orang seperti itu, saya mana ada yang ngerti, Mas." Dullah malah terdengar cekikikan.
Ajimukti menggelengkan kepala ringan, "Nah, begini, Lek, Nan. Orang yang di berita utama koran waktu itu, namanya Nugroho. Kalian tahu Nugroho itu siapa?" Tanya Aji kemudian.
Dullah dan Manan kompak menggelengkan kepala mereka. Sekali lagi Ajimukti hanya bisa menghela nafas.
"Nugroho itu bapaknya Budi, Lek, Nan." Ucap Ajimukti lirih.
Sontak Dullah dan Manan terlonjak kaget. Mata mereka melotot lebar saking tidak percayanya.
"Apa itu benar, Mas?" Tanya Dullah masih kurang yakin.
Ajimukti mengangguk, "Sesuai yang di ceritakan Lek Anggoro, saya pun setelah kejadian di kamar mandi itu sengaja mengkonfirmasi langsung ke Mas Budi. Yah, dan semua memang benar. Mas Budi tidak bisa berkelit ketika saya yang tiba tiba tahu asal usul bisnis bapaknya." Ucap Ajimukti tenang.
"Kejadian kamar mandi? Itu maksudnya apa, Jik?" Tanya Manan terlihat penasaran.
"Beberapa hari yang lalu, Budi mencoba menyerang Mas Aji di kamar mandi utara. Tapi malah dia njotos tembok." Dullah menjelaskan.
"Kok kamu nggak cerita, Jik. Kalau kamu sempat mau diserang Budi?" Manan mengerutkan keningnya.
"Sudahlah, Nan. Lagian juga bukan hal besar juga kok." Sahut Ajimukti.
Manan hanya menaikkan bahunya.
Dan siang ini, Pondok Hidayah pun ramai membicarakan tentang kepergian Budi itu. Tak ada yang tahu pasti alasannya. Mereka hanya bisa saling mengira dan menduga dengan persepsi dan asumsi mereka masing masing.
__ADS_1
Bersambung...