BROMOCORAH

BROMOCORAH
Masih Tentang Hexa


__ADS_3

"Oh, kamu, Hexa. Kesini saja, gabung sini." Seru Ajimukti sembari melambaikan tangannya.


"Dia, Gus? Santri baru itu?" Tanya Faruq.


"Benar, Gus." Jawab Ajimukti dengan sedikit anggukan.


"Ah, tidak tidak tidak. Sepertinya hanya obrolan yang membosankan." Sahut Hexa sembari sedikit menguap.


Khalil dan Imam yang melihat itu seketika naik darah, namun ketika ingin berdiri, Ajimukti menahan mereka dengan isyarat.


Hexa pun berlalu dari halaman tak jauh dari teras ndalem Ajimukti itu.


"Benar benar tidak punya tata krama." Gumam Khalil.


"Benar, Lil. Rasanya saya muak sekali sama anak itu." Imbuh Imam setengah berbisik.


"Sudah, Kang Imam, Kang Khalil. Hexa memang kan seperti itu." Sela Ajimukti mencoba menenangkan keduanya.


Khalil dan Imam hanya kemudian mengangguk.


"Ini tugas kalian sebagai seniornya untuk mengarahkannya, Lil, Mam." Imbuh Faruq kemudian.


"Iya, Gus. Insya Allah." Sahut Khalil di ikuti anggukan Imam.


"Jangan bilang hilang kesabaran lagi lho, Kang." Timpal Ajimukti.


Khalil dan Imam pun hanya bisa nyengir kuda mendengar ucapan Ajimukti itu.


"Saya sering mendengar tentang perangai anak itu dari para santri, Gus. Bagaimana solusi njenengan untuk itu?" Tanya Faruq kemudian.


Ajimukti kemudian tersenyum, "Saya yang memberi saran Pak Samsuri untuk memasukkan Hexa itu kesini, Gus. Jadi saya bertanggung jawab penuh untuk itu. Saya akan berusaha untuk pelan pelan merubah tindak tanduk anak itu. Saya yakin kita bisa merubah anak itu." Sahutnya kemudian.


Faruq mengangguk, "Baiklah, Gus. Kalau sudah begitu saya hanya bisa mendukung saja." Ucap Faruq kemudian.


"Memang agak sulit. Tapi pelan pelan, seiring berjalannya waktu pasti akan bisa merubah tabiat anak itu. Kita buat anak itu terbiasa dulu disini, dengan begitu kemauannya untuk benar benar mengikuti keadaan disini yang akan membuatnya pelan pelan berubah." Ucap Ajimukti setelah itu.


"Benar itu, Gus. Dengan membuatnya terbiasa, pasti mau tidak mau juga akan merubah perangainya." Imbuh Faruq setuju dengan pendapat Ajimukti.


"Insya Allah, Gus. Meski dia tanggung jawab saya. Tapi saya tetap memohon bantuan njenengan, Gus." Imbuh Ajimukti juga.


"Pasti itu, Gus. Dia santri disini, yang artinya juga santri saya. Tidak ada istilah tanggung jawab siapa dan siapa. Semua yang ada disini bertanggung jawab, Gus." Sahut Faruq kemudian.


"Terima kasih, Gus. Semoga niat baik kita membuahkan hasil." Ucap Ajimukti setelah itu.


Faruq hanya kemudian mengangguk mengaminkan ucapan Ajimukti itu.


Sementara itu, sepasang mata sepertinya tengah mengamati obrolan mereka di teras ndalem itu dari arah berlawanan dengan arah kedatangan Hexa. Tak lama, ia pun berlalu dari tempatnya berdiri.


Hexa menyelinap keluar dari gerbang pesantren. Tujuannya keluar melewati halaman ndalem hanya untuk memastikan keberadaan Ajimukti. Ia pun segera berjalan cepat menyusuri jalanan setapak samping tembok pesantren yang terhubung ke jalan raya menuju pasar.


"Hexa...!"


Merasa ada yang memanggil namanya, Hexa pun menghentikan langkahnya, lalu memutar pandangannya mencari sumber suara. Hexa sedikit terperanjat ketika tiba tiba dari balik pohon tak jauh dari tempatnya berdiri keluar seorang pemuda yang sudah cukup dihafalnya.


"Kamu? Ada apa?" Tanya Hexa sedikit terlihat cemas.


Pemuda itu berjalan pelan ke arah Hexa dengan senyum mengintimidasi.


"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya pemuda itu dengan suara lirih.


"Mau bicara apa?" Tanya Hexa sedikit menaikkan alis matanya.


Begitu pemuda itu lebih dekat dengan Hexa, ia langsung menarik keras baju Hexa, dan...


Duak!!!


Sebuah pukulan keras mendarat di pipi kanan Hexa. Hexa terpelanting, tersungkur dan mengaduh.


"Apa apaan ini, hey?" Seru Hexa sembari mencoba berdiri.

__ADS_1


Pemuda itu kembali meraih kerah baju Hexa dan mengangkatnya. Hexa meronta mencoba melepaskan diri.


"Ada apa? Kenapa kamu memukul saya?" Tanya Hexa begitu lepas dari cengkeraman pemuda itu sembari memundurkan langkahnya.


Pemuda itu menyeringai, "Tidak akan seperti ini jika kamu bisa menjaga sikap kamu." Ucap pemuda itu dengan suara tinggi sembari menunjuk ke arah Hexa.


"Sikap? Ada masalah memangnya dengan sikap saya? Toh, biasa biasa saja kan? Jangan terlalu temperamental, hey." Balas Hexa masih sembari mengusap pelipisnya.


"Bagus jika kamu menganggap itu biasa. Maka kamu juga akan terbiasa merasakan itu." Ucap si pemuda sekali lagi menunjuk ke arah Hexa.


Hexa mulai tidak bisa menahan emosinya, ia pun sedikit tidak terima di pukul pemuda itu. Kini, ia sedikit mengepalkan tangannya dan berusaha membalas pukulan pemuda itu. Tapi sayang, tinju Hexa begitu saja di hindari pemuda itu, justru kini pergelangan lengan Hexa dicengkeram kuat oleh pemuda itu. Sekali lagi Hexa mengaduh.


"Lepaskan!" Seru Hexa sembari meronta, namun pemuda itu semakin kuat mencengkeram tangan Hexa.


"Saya akan melepaskan kamu, jika kamu berjanji untuk menjaga sikap kamu!" Ucap pemuda itu menatap Hexa tajam.


Hexa mengerang, kembali meronta, namun sia sia. Pemuda itu terlalu kuat mencengkeram pergelangan tangan Hexa.


"Baiklah, saya berjanji. Tapi lepaskan saya!" Ucap Hexa pada akhirnya.


Pemuda itu pun melepaskan Hexa dan berlalu begitu saja dari hadapan Hexa tanpa sepatah kata pun.


Hexa memegang pergelangan tangannya. Cengkeraman pemuda itu cukup membuatnya merasakan sakit.


"Gila, siapa dia sebenarnya. Tangannya kuat sekali." Gumam Hexa masih sembari mengusap usap pergelangan tangannya.


Dengan sedikit menahan rasa sakit, Hexa pun memutar arah langkahnya dan kini kembali melangkah ke pesantren.


"Bukan kah itu santri baru itu?" Bisik salah seorang santri yang melihat Hexa berjalan tertatih memasuki gerbang pesantren.


"Iya, benar. Kenapa dia? Sepertinya dia habis berantem." Sahut santri lain melihat bekas lebam di pelipis kanan Hexa.


"Iya iya. Sepertinya dia habis kena pukul." Sahut yang lain lagi.


"Biar tahu rasa itu anak. Siapa suruh belagu. Musuhnya pasti dimana mana itu." Imbuh santri lain.


"Iya, benar. Biar tahu rasa." Bisik yang lain menambahi.


Setelah beberapa saat, kabar itu pun sampai kepada Ajimukti. Ajimukti sedikit kaget mendengar kabar mengenai Hexa itu.


"Terima kasih untuk informasinya, Kang. Kalau boleh saya minta tolong panggilan Hexa untuk kesini, Kang." Ucap Ajimukti pada santri yang memberinya informasi mengenai Hexa.


"Baik, Gus." Sahut santri itu kemudian segera melangkah cepat menemui Hexa.


Tak lama, Hexa pun datang dengan sedikit tertunduk. Ajimukti menatap lekat ke arah Hexa, lalu melihat memang ada sedikit lebam di pelipis kanan Hexa.


"Siapa yang melakukannya?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Maksud kamu apa?" Sahut Hexa dengan sedikit senyum kecut.


"Apa kurang jelas pertanyaan saya tadi?" Sahut Ajimukti pula.


Hexa menghela nafasnya, "Tidak ada. Ini hanya kecelakaan kecil. Kebetulan tadi terpeleset." Sahut Hexa lagi dengan suara lirih.


Ajimukti tersenyum pias, lalu kembali mengamati luka lebam itu lagi, "Sudah kalau kamu tidak mau mengatakannya tidak apa apa. Saya sudah tahu siapa." Ucap Ajimukti kemudian.


Hexa hanya kembali tersenyum kecut.


"Kamu bisa kembali ke kamar kamu." Ucap Ajimukti setelahnya.


"Oh, iya, saya meminta maaf untuk itu." Imbuhnya kemudian.


"Tidak apa apa." Sahut Hexa lirih lalu pergi begitu saja dari tempat Ajimukti.


Ajimukti hanya kemudian menggelengkan kepalanya.


Tak lama setelah itu, Sobri datang bersama Manan.


"Ada apa, Gus? Sepertinya sedang memikirkan sesuatu." Tanya Sobri melihat ekspresi berbeda di wajah Ajimukti.

__ADS_1


"Tidak ada apa apa, Kang." Sahut Ajimukti sekilas sembari tersenyum.


Sobri hanya kemudian diam, namun meski begitu, ia merasa ada yang sedang di tutupi Ajimukti darinya.


"Oh, iya, Kang. Dalam waktu dekat, Sibu akan kesini. Kemungkinan sama Pak Lek sama Bu Lek. Nanti selama Pak Lek sama Bu Lek disini, biar mereka tidur di kamar sampeyan saja ya, Kang. Lalu nanti kita bisa pakai bekas kamar Ustadz Nasihin. Soalnya kamar saya juga nantinya untuk istirahat Sibu." Ucap Ajimukti setelah beberapa saat.


"Iya, Gus. Saya juga sudah dikabari bapak, katanya ibu saya juga ingin ikut kesini." Sahut Sobri kemudian.


"Kenapa tidak di kamar saya saja, Jik?" Sela Manan.


"Nanti suk suk'an malahan, Nan." Sahut Ajimukti.


"Hmmm, malah anget, Jik." Sahut Manan kemudian dengan sedikit terkekeh.


Ajimukti hanya kemudian tersenyum saja.


"Adik kamu jadi ikut, Jik?" Tanya Manan setelah itu.


"Insya Allah jadi, Nan." Sahut Ajimukti.


"Adiknya Guse ngeten lho, Kang." Ucap Sobri sembari mengacungkan jempolnya.


Mendengar itu Ajimukti tersenyum.


"Terus nek ngeten, gimana itu, Kang?" Tanya Manan sembari sama sama mengacungkan jempol.


"Ya, siapa tahu kesengsem." Goda Sobri setelahnya.


Manan dan Ajimukti hanya kemudian sama sama tertawa.


Namun seketika ekspresi Manan berubah. Angannya langsung begitu saja menembus ke masa saat dirinya berpisah dengan Nafisa sore itu. Bayangan Nafisa yang selama ini berseliweran di benaknya, saat ini semakin jelas mengaduk aduk setiap ruang di benak yang ada.


Manan mencoba menepisnya. Dia sadar, bagaimana pun juga Nafisa yang di kenalnya dulu, kini sudah tidak bisa lagi di jangkaunya.


Manan menghela nafas, menariknya dalam dalam, menghembuskannya pun kuat kuat.


Ajimukti menyadari ada sesuatu yang sedang dirasakan Manan saat ini. Ia melihat perubahan ekspresi pada wajah Manan.


"Nan?" Tegur Ajimukti kemudian.


Manan sedikit tersentak.


"Kamu baik baik saja, kan?" Tanya Ajimukti setelahnya.


"Saya? Baik itu, Jik. Kenapa memangnya?" Tanya Manan balik.


Ajimukti kemudian hanya tersenyum.


"Yasudah kalau memang baik baik saja." Sahut Ajimukti lirih.


"Nanti ada waktu?" Tanyanya lagi setelah itu.


"Emmm, ada, Jik. Ada apa memangnya?" Tanya Manan sedikit penasaran.


"Ada yang mau saya obrolkan dengan kamu." Ucap Ajimukti kemudian.


"Hmmm, baik, Jik. Jam berapa?" Tanya Manan setelahnya.


"Habis Isya' saja." Jawab Ajimukti sedikit melempar senyum.


Manan pun kemudian tersenyum.


"Ada apa memangnya, Gus?" Tanya Sobri yang mendengar itu kemudian muncul rasa penasaran juga.


"Ada satu hal yang ingin saya bicarakan dengan Manan, Kang. Empat mata." Sahut Ajimukti kemudian.


Sobri hanya mengangguk memahami itu. Namun Manan mendengar bahwa Ajimukti hanya mengajaknya bicara berdua sedikit mengerutkan keningnya.


"Ada perihal apa?" Batin Manan kemudian.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2