BROMOCORAH

BROMOCORAH
Kekhawatiran Itu


__ADS_3

Matahari sudah merambat menuju sisi langit sebelah barat. Meski tertutup mendung, sisa sisa biasnya masih begitu jelas terlihat.


Di teras ndalem nampak Ajimukti yang sedang duduk bersama Manan. Tak lama, terlihat Prastowo datang bersama Ajeng. Melihat kedatangan bapak dan anak itu, Ajimukti juga Manan segera beranjak dari duduknya.


"Tumben, Pak Lek. Emmm, sore sore begini berkunjung?" Tanya Ajimukti setelah saling mengucapkan salam dan mempersilahkan Prastowo duduk. Sementara Ajeng segera menuju ke dalam menemui Nafisa di kamarnya.


"Sebenarnya tadi saya hanya mengantar Ajeng saja. Terus kebetulan lewat di depan pesantren ya saya pikir sebaiknya sekalian mampir saja. Dan lagi, Ajeng juga ingin mengobrol dengan Nafisa katanya." Sahut Prastowo kemudian.


Ajimukti hanya mengangguk paham.


"Oh, iya, Nan. Bagaimana soal rencana kamu dengan Anggoro?" Tanya Prastowo beralih pada Manan setelahnya.


"Ini bapak baru saja selesai rembukan dengan yang punya tanah. Dari yang saya tahu, kemungkinan dalam waktu dekat ini sudah bisa mulai pembangunan. Begitu kata bapak." Sahut Manan.


"Baguslah, Nan. Kamu yang semangat. Ikuti jejak bapakmu. Meski dulu ndugal, tapi setelah ia merintis semuanya, kamu lihat sendiri sekarang." Ucap Prastowo kemudian.


"Iya, Pak Dhe. Pangestunya saja." Manan mengangguk, namun Ajimukti melihat ada sedikit perubahan pada ekspresi wajah Manan.


"Ada apa, Nan? Sepertinya ada yang sedang membuatmu risau?" Tanya Ajimukti kemudian.


Mendengar pertanyaan Ajimukti pada Manan, membuat Prastowo pun seketika melirik Manan.


Manan menghela nafasnya, "Saya hanya khawatir pada akhirnya saya hanya akan disibukkan dengan hal itu dan menyepelekan ngaji saya, Jik. Kamu tahu sendiri, meski saya disini sudah hampir sepuluh tahun tapi saya bahkan tidak bisa menyerap sedikit pun ilmu di pesantren ini." Sahut Manan dengan suara yang terdengar berat.


Ajimukti tersenyum lalu menepuk bahu Manan.


"Makrifat, Nan." Ucap Ajimukti lirih.


Manan menoleh Ajimukti, "Maksudnya, Jik?" Tanyanya kemudian.


"Kenali Allah. Jika sudah begitu, kekhawatiran kamu akan hilang dengan sendirinya. Hanya itu kuncinya." Ucap Ajimukti kemudian.


"Benar kata Mas Aji, Nan. Kenapa kamu mengkhawatirkan itu seolah kamu tidak mengenal Allah, seolah kamu tidak percaya dengan welas asih nya Allah, Nan." Imbuh Prastowo..


"Bukan begitu, Jik, Pak Dhe. Tapi justru yang saya khawatirkan adalah jika saya terlarut dalam dunia maka saya hanya akan menyepelekan ilmu akhirat saya." Sahut Manan lagi.


"Nan, awalud-diini ma'rifatullah, Pertama sekali di dalam agama ialah mengenal Allah. Namun untuk bisa mengenal Allah, kamu harus lebih dulu mengenal diri kamu sendiri. Mengenal diri sendiri itu sangat penting, Nan. Banyak orang yang begitu pandai nyacat yang lain, tapi sebaliknya, bahkan dirinya sendiri pun justru tidak kenalnya. Apa yang kamu risaukan itu sudah menandakan bahwa kamu mulai mengenal dirimu sendiri." Sahut Ajimukti juga setelahnya.


"Lalu, Jik?"


Ajimukti tersenyum, sekali ia menepuk pundak Manan, "Man 'arafa nafsahu faqod 'arafa rabbahu, wa man 'arafa rabbahu fasada jasadahu. Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya, dan barangsiapa yang mengenal Tuhannya maka binasalah fana dirinya. Pelan pelan, Nan. Kamu akan mengenal Allah, setelah itu, kekhawatiran kamu juga akan hilang seiring kamu mengenal Allah lebih dekat. Yakin saja." Ucapnya kemudian.


Manan tersenyum, "Sejujurnya saya pun bingung, Jik."


"Bingung apalagi, Nan?"


"Diri mana yang wajib kita kenal?" Tanya Manan kemudian.

__ADS_1


"Keduanya, Nan. Diri secara lahiriyah juga batiniyah. Diri yang dapat di lihat dan diraba juga diri yang hanya dapat dirasakan tanpa bis dilihat dan diraba." Sahut Ajimukti memperjelas.


Manan mengangguk setelahnya.


"Secara lahir, mungkin akan mudah dikenali, tapi secara batin? Seperti kata saya tadi, Nan. Tidak mudah sementara mengenal diri secara batin sebenarnya justru sebuah peranan yang terpenting." Ucap Ajimukti kemudian.


Sekali lagi Manan mengangguk.


"Kamu pernah dengar ungkapan di dalam hadits qudsi mengenai ini, Nan?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Iya, Jik."


"Sudah bisa kamu pahami maksudnya?" Tanya Ajimukti lagi.


Manan hanya menggeleng sembari tertunduk. Melihat ekspresi Manan itu Ajimukti hanya bisa tersenyum.


"Banaitu fii jaufi ibni adama qashraa wa fiil-qashri shadran wa fiish-shadri qalbaan wafil-qalbi fuaadan wafil-fuaadi syaghfaan wafisy-syaghafi labbaan wafi labbi sirraan wafis-sirri anaa. Aku jadikan dalam rongga anak Adam itu mahligai dan dalam mahligai itu ada dada dan dalam dada itu ada qalbu ada hati namanya dan dalam qalbu itu ada fuad, mata hati. Dan dalam fuad itu ada saghaf penutup mata hati, dan dibalik saghaf itu ada labban, nur atau cahaya, dan di dalam labban ada sirr, rahasia, dan di dalam sirr itulah Aku, begitu kata Allah, Nan." Terang Ajimukti kemudian.


"Ya, Jik. Saya ingat hadits itu. Emmm, lalu bagaimanakah maksud hadis ini, Jik?" Tanya Manan kemudian.


"Faa sa-aluu ahladz-dzikri in kuntum laa ta'lamuun. Tanyalah kepada ahli zikrullah, Ahlus Shufi kalau kamu benar benar tidak tahu." Sahut Ajimukti kemudian.


"Kenapa tidak kamu jelaskan saja, Jik? Kamu pasti tahu kan maksudnya juga kan?" Sahut Manan juga setelahnya.


Ajimukti tersenyum, lalu menepuk pundak Manan sekali lagi.


Manan mengangguk paham, lalu terdengar menghela nafas.


"Sudahlah, Nan. Apa yang dikatakan Mas Aji kamu ingat baik baik. Bismillah, Nan. Lihat saya, toh meski saya sibuk di kandang ayam, saya pun tidak lupa untuk sowan sowan Kyai alim ulama untuk nambah pengetahuan saya. Jadi kamu jangan khawatir, Nan. Membagi waktu. Kamu harus bisa itu." Imbuh Prastowo setelahnya.


Manan mengangguk mendengar wejangan Prastowo itu.


"Mengapa hati memegang peran penting di dalam mengenal Allah, Jik?" Tanya Manan kemudian.


Sekali lagi Ajimukti tersenyum mendengar itu, "Begini, Nan. Bila kita sebut nama hati, maka hati yang dimaksud di sini bukanlah hati yang merah tua seperti hati ayam yang ada di sebelah kiri yang dekat jantung kita itu. Tetapi hati ini adalah alam ghaib yang tak dapat dilihat oleh mata dan alat panca indra karena ia termasuk alam ghaib dan sifatnya rohani. Tiap tiap diri manusia memiliki hati sanubari, baik manusia awam maupun manusia wali, begitu juga para Nabi dan Rasul. Pada hati sanubari inilah terdapatnya sifat sifat jahat yang disebut penyakit hati, seperti halnya hasad, dengki, loba, tamak, rakus, pemarah, bengis, takabur, ria, ujub, sombong, dan lain lain. Tetapi bilamana ia bersungguh sungguh di dalam tarekatnya di bawah bimbingan mursyidnya, maka lambat laun hati yang kotor dan berpenyakit tadi akan bertukar bentuknya dari rupa yang hitam gelap pekat menjadi bersih putih dengan mengikuti kegiatan suluk atau khalwat secara kontinyu. Manakala hati yang hitam tadi telah berubah menjadi putih bersih, barulah ia memberikan sinar. Hati yang putih bersih bersinar itulah yang dinamakan hati Rohani, Qalbu atau disebut juga dengan diri yang batin."


Manan sekali lagi hanya mengangguk anggukan kepalanya.


"Permasalahannya kadang untuk menghilangkan penyakit hati itu yang susah, Jik." Ucapnya kemudian.


Ajimukti pun mengangguk anggukan kepalanya, "Emmm, jadi begini, Nan. Saya ada perumpamaan. Taruhlah semisal begini, seumpama kita bercermin di depan kaca, maka kita tidak akan dapat melihat apa yang ada dibalik cermin selain muka kita, karena terhalang oleh cat merah yang melekat disebaliknya. Tetapi bila cat merah itu kita kikis habis, maka akan tampaklah di sebaliknya bermacam macam dan berlapis lapis cermin hingga sampai menembus ke alam Nur, alam Jabarut, alam Lahut, hingga alam Hadrat Hak Allah Ta’ala. Itulah sebabnya bila kita hanya baru sebatas mengenal hati sanubari saja, maka yang kita lihat hanya diri kita saja, sebab ditahan oleh cat merah tadi, yaitu sifat-sifat jahat seperti halnya takabbur, ria, ujub, dengki, hasad, pemarah, loba, tamak, rakus, cinta dunia, dan berbagai penyakit hati lainnya. Tetapi bila mana cat merah itu telah terkikis habis, barulah ia akan menyaksikan alam yang lebih tinggi dan mengetahuilah ia segala rahasia termasuk dirinya dan hakikatnya dan juga alam seluruhnya dan akhirnya mengenallah ia akan Tuhannya. Itulah sebabnya para wali wali Allah itu lahir dari para sufi yaitu orang orang yang telah berhasil membersihkan hatinya dengan bantuan mursyidnya pada zahir sedang pada hakikatnya dengan qudrat dan iradat Allah Ta’ala. Di sinilah terletak wajibnya mengenal diri untuk jalan mengenal Allah, Nan." Terang Ajimukti kemudian.


"Ya ya, Jik. Saya sedikit banyak bisa lebih paham sekarang." Sahut Manan kemudian.


"Kamu ingat obrolan kita sewaktu akan ke Jogja, Nan?" Tanya Ajimukti kemudian.


Manan sedikit mengerutkan keningnya, seolah mengingat ingat obrolan kala itu. Setelahnya Manan nampak tersenyum.

__ADS_1


"Ya saya ingat, Jik. Pokok' seneng." Sahutnya.


Ajimukti pun ikut tersenyum setelahnya.


"Ingat, Nan. Laa khaufun 'alaihim walaa hum yahzanuun." Ucapnya kemudian.


"Iya, Jik. Terima kasih. Sekali lagi saya mohon pangestunya saja." Sahut Manan.


"Pasti, Nan. Pasti kalau soal itu."


"Benar, Nan. Kamu tenang saja. Kami pasti selalu mendukung apapun itu selama mengarah pada kebaikan." Imbuh Prastowo.


"Terima kasih, Pak Dhe."


Sementara itu di ruangan lain.


"Jadi Manan serius akan boyong, Sa?" Tanya Ajeng ketika itu.


Nafisa yang di ajaknya bicara hanya mengangguk lesu.


"Sudahlah, Sa. Kamu tidak usah memikirkan itu. Toh, Manan juga tidak akan pindah jauh kok." Ucap Ajeng kemudian.


"Emmm, bagaimana kamu tahu itu, Jeng." Sahut Nafisa.


Ajeng sedikit tersenyum, "Karena bapakku yang membantu mencarikan tanah yang akan dijadikan tempat usaha Manan nantinya. Dan saya dengar tanahnya sudah dapat.".


Seketika Nafisa nampak berbinar, "Benarkah itu, Jeng?" Tanyanya memburu.


"Tentu saja, Sa. Kalau tidak percaya, kamu bisa tanya sendiri sama Manan." Sahut Ajeng.


"Tidak perlu, Jeng. Saya percaya sama kamu. Tapi, Jeng. Emmm, ada hal yang masih tidak saya mengerti." Ucap Nafisa kemudian.


Ajeng sedikit mengerutkan keningnya, "Apa itu, Sa?"


"Kenapa justru Manan ingin meneruskan jejak bapaknya dengan membuka usaha?" Tanya Nafisa dengan suara berat.


Ajeng tersenyum mendengar itu, "Kamu benar benar tidak tahu, Sa? Emmm, maksud saya, apa Manan belum bilang sama kamu?" Tanyanya kemudian.


Nafisa menggeleng, "Apa kamu tahu sesuatu, Jeng?" Tanyanya.


Ajeng menghela nafas, "Manan begitu karena ingin membuktikan dirinya untuk kamu, Sa. Itu atas dorongan bapaknya. Ia diharuskan menjadi laki laki yang bisa bertanggung jawab, tidak hanya agama tapi juga kehidupannya. Tapi meski begitu, meski Pak Dhe Anggoro terbilang mampu, ia tidak ingin bergantung pada itu semua, bergantung pada apa yang dimiliki bapaknya itu." Setelah mengucapkan itu, Ajeng meraba punggung tangan Nafisa.


"Manan ingin menunjukkan keseriusannya, Sa. Ia ingin benar benar di anggap pantas untuk kamu." Imbuh Ajeng.


Nafisa tidak dapat berkata apa apa lagi saat ini. Mendengar ucapan Ajeng itu, rasanya dadanya sesak dan seluruh tubuhnya lemas.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2