BROMOCORAH

BROMOCORAH
Ilmu Mantik


__ADS_3

"Hari ini kebetulan Gus Faruq sedang berhalangan hadir. Jadi untuk kajian hari ini, saya sendiri yang akan memberi kajiannya." Ucap Ajimukti di pagi menjelang siang itu.


Semua santri hanya mengangguk.


"Kalau boleh tahu, sampai dimana Gus Faruq menerangkannya?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Emmm, kemarin Gus Faruq ngendikan bab mengenai ilmu mantik, Gus." Sahut salah seorang santri.


"Benar, Gus. Tapi Gus Faruq belum menjelaskan apa ilmu mantik." Imbuh Khalil yang juga turut dalam kajian itu.


"Emmm, baiklah. Tapi sebelum itu ada hal yang ingin saya sampaikan. Sebelum memulai pembahasan mengenai suatu disiplin ilmu tertentu, dalam kitab kitab kuning klasik biasanya diperkenalkan terlebih dahulu apa yang disebut mabadi 'asyrah, yakni sepeluh aspek dasar yang harus kita ketahui mengenai ilmu yang akan dikaji itu." Ucap Ajimukti kemudian.


"Itu apa saja, Gus?" Tanya Khalil yang kebetulan duduk di shof depan.


"Sepuluh aspek itu, Al Hadd, Al Maudhu', Al Tsamrah, Al Fadhl, Al Nisbah, Al Wadhi', Al Ism, Al Istimdad, Al Hukm, dan terakhir Al Masail." Sahut Ajimukti.


"Ngapunten, Gus. Bisa dijelaskan maksud dari yang Gus Aufa sebutkan itu?" Sahut Khalil pula setelahnya.


"Benar, Gus. Kami baru dengar istilah itu." Imbuh santri yang lain.


Ajimukti tersenyum mendengar pertanyaan itu, "Baiklah, akan saya perjelas untuk yang tadi saya sebutkan. Jadi, Al Hadd itu pengertian atau definisi, Al Maudhu', objek yang akan dikaji. Al Tsamrah, manfaat atau kegunaan dari yang kita kaji itu. Nah, Al Fadhl, keutamaan dari yang kita kaji. Lalu, Al Nisbah, hubungan ilmu tersebut dengan ilmu ilmu yang lain , karena setiap ilmu pada hakekatnya saling berhubungan, Kang. Lalu, Al Wadhi', peletak dasar


Al Ism itu nama, lalu Al Istimdad itu sumber pengambilan kajian, lalu Al Hukm itu hukum mempelajarinya, yang terakhir Al Masail, masalah masalah yang Dikaji." Ucap Ajimukti kemudian.


"Sepuluh aspek ini penting untuk dikaji sebagai pengantar dan pengenalan. Ya, seperti halnya menyunting perempuan yang membutuhkan pengenalan, mengkaji suatu ilmu juga memerlukan pengantar agar kita tidak salah arah dan tidak salah tujuan. Pengenalan seperti ini tidak hanya berlaku bagi ilmu mantik, tapi juga berlaku bagi ilmu ilmu yang lain, Kang." Sambung Ajimukti lagi.


"Hmmm, ya, Gus. Insya Allah kami paham." Sahut salah seorang santri.


"Lalu, Gus. Untuk definisi ilmu mantik itu sendir sebenarnya apa dan bagaimana?" Tanya salah seorang santri yang lain.


"Pertanyaan yang bagus, Kang. Memang, hal pertama yang harus kita ketahui dari suatu ilmu yang akan dikaji tentunya adalah ta'rif atau definisi dari ilmu itu sendiri. Dengan mengetahui definisi suatu ilmu, kita akan tahu persoalan apa saja yang akan dikaji dalam ilmu tersebut. Di samping kita juga akan diberikan gambaran sejauh mana manfaat dari ilmu yang akan kita kaji itu. Nah, untuk itu ada dua jenis definisi yang bisa kita kemukakan untuk memperkenalkan suatu ilmu. Pertama,bilhadd definisi yang menekankan objek kajian. Kedua, birrasm, definisi yang lebih menekankan aspek kegunaan." Sahut Ajimukti kemudian.


"Mengenai kedua definisi itu bagaimana penjelasannya, Gus?" Tanya salah seorang santri kemudian.


"Begini, Kang. Jika dilihat dari sudut objek kajiannya, biasanya Ilmu Mantik diartikan sebagai suatu ilmu yang membahas tentang pengetahuan berbentuk tashawwur dan tashdiq yang sudah diketahui, sebagai jalan yang dapat mengantarkan kita menuju tashawwur dan tashdiq yang belum kita ketahui, al-'Ilm al-Ladzi yabhats 'an al-Ma'lumât al-Tashawwuriyyah wa al-Tashdîqiyyah min haitsu kauniha tuwasshilu ila majhulin tashawwuriyyin wa tashdiqiyyin." Sahut Ajimukti kemudian.


"Lalu tashawwur dan tashdiq itu sendiri apa, Gus?" Tanya santri itu lagi setelahnya.

__ADS_1


"Jadi begini, Kang. Biasanya, bahasan mengenai dua istilah ini dijadikan satu bab secara tersendiri. Setelah ulasan mengenai sepuluh aspek ini selesai, insya Allah, saya akan menerangkan mengenai dua tema tersebut beserta macam macamnya." Sahut Ajimukti kemudian.


Santri itu hanya mengangguk paham.


"Tapi, untuk sementara, agar kita mudah memahami definisi di atas, secara sederhana kita bisa memaknai tashawwur itu sebagai gambaran kita atas sesuatu tanpa ada unsur penghukuman. Misalnya, ada orang menyebut kata Grafista, tempat yang belakangan hangat diperbincangkan, misal. Kemudian terbayanglah dalam benak anda caffe mewah yang bernama Grafista. Nah, dalam bahasa Ilmu Mantik, pengetahuan orang terhadap Grafista yang tidak disertai penghukuman itu namanya tashawwur. Karena di sana orang hanya membayangkan saja, tidak menyertakan atribut apa apa. Tapi, ketika ada orang berkata bahwa Grafista itu adalah surga dunia, misalnya, atau Grafista itu adalah tempat maksiat, dan kita menerima pernyataan tersebut, maka itu namanya tashdiq, assentment atau pembenaran. Sampai disini bisa dipahami?" Tanya Ajimukti di akhir ucapannya. Seluruh santri yang ada di ruangan itu mengangguk paham.


"Jadi, tashawwur itu ialah pengetahuan kita terhadap sesuatu yang tidak disertai penghukuman ngoten, Gus?" Tanya salah seorang santri setelahnya.


"Benar, Kang. Tashawwur itu memang pengetahuan kita terhadap sesuatu yang tidak disertai penghukuman, sedangkan tashdiq adalah pengetahuan kita terhadap sesuatu beserta penghukuman atasnya baik secara afirmatif maupun negatif, binnafyi aw al-Itsbat." Jelas Ajimukti juga setelahnya.


"Nah, objek kajian ilmu mantik itu ialah segala jenis maklumat yang berbentuk tashawwur dan tashdiq itu, Kang. Yang kemudian pada akhirnya akan mengantarkan kita kepada bentuk Tashawwur dan tashdiq lain yang belum kita ketahui hakikat dan kebenarannya." Sambungnya kemudian.


"Jadi ringkasnya, Tashawwur itu gambaran ngoten, Gus?" Tanya Khalil kemudian.


"Kamu ini gimana sih, Kang. Kan tadi sudah dijelaskan Gus Aufa." Celetuk salah seorang santri.


Mendengar perdebatan itu, Ajimukti hanya tersenyum.


"Benar, Kang. Saya beri contoh lain. Misalnya begini, yang sering dijadikan contoh dalam buku buku mantik biasanya itu kata manusia, al-Insan. Kita tahu manusia, tapi hakikat manusia itu sendiri majhul belum kita ketahui sebelumnya. Nah, agar kita mampu memperjelas gambaran kita mengenai manusia, maka tugas ilmu mantik ialah mencari maklumat tashawwur yang sudah kita ketahui tentang manusia untuk menjelaskan sisi yang belum kita ketahui tentang manusia. Misalnya kita tahu bahwa manusia itu termasuk salah satu jenis hewan. Dia juga bergerak, berjalan, makan, minum, dan sebagainya. Lalu, setelah kita telaah lebih jauh, ternyata ada satu hal yang membedakan manusia dari makhluk makhluk lainnya, yaitu berpikir. Maka, setelah kita mengetahui sekian banyak tashawwur atau gambaran tentang manusia itu, kita simpulkanlah di akhir bahwa manusia itu al-Hayawaan al-Naathiq, hewan yang berpikir." Jelas Ajimukti lagi setelah itu.


Setelah itu Khalil nampak mengangguk paham.


"Hush, diam kamu." Sahut Khalil setengah berbisik.


"Ngapunten, Gus. Boleh tanya?" Ucap salah seorang santri yang duduk di shof tengah sembari mengangkat tangannya.


"Oh, nggeh, Kang. Monggo mau tanya apa?" Sahut Ajimukti kemudian.


"Mengenai contoh tashdiq, Gus." Ucap santri itu kemudian.


"Oh, baiklah, Kang." Sahut Ajimukti.


"Kita ambil contoh dalam aspek tashdiq misal begini, Kang. Misalnya ada pernyataan bahwa, Muhammad Saw itu adalah Nabi. Tapi kita kan tidak pernah tahu apakah pernyataan ini benar atau tidak? Dengan kata lain, pernyataan tersebut masih majhul, terutama bagi orang yang tidak mengimani Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi. Untuk membuktikan kebenaran dari pernyataan itulah di butuhkan ilmu mantik, Kang. Lalu apa tugas ilmu mantik? Sama halnya dengan contoh tashawwur di atas. Tugasnya ialah mengulas hal hal yang dapat membuktikan kebenaran pernyataan itu. Karena contoh yang saya sebutkan itu berbentuk proposisi, qadhiyyah, maka jalan untuk membuktikan kebenarannya adalah qiyas atau silogisme. Sementara silogisme sendiri ada rumusannya. Secara Premis Minor, Muhammad Saw mengaku sebagai Nabi dan membawa mukjizat. Premis mayor, setiap orang yang mengaku Nabi dan membawa mukjizat adalah Nabi. Lalu konklusinya, Muhammad Saw adalah Nabi." Ucap Ajimukti kemudian.


"Bisa dipahami, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Nggeh, Gus. Insya Allah kami paham." Sahut santri itu kemudian.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu kita lanjutkan saja. Itu tadi mengenai definis secara bilhadd. Lalu bagaimana definisi secara birrasm?" Tanya Ajimukti kemudian.


Semua santri hanya saling pandang sembari menunggu Ajimukti menjelaskan.


"Sebenarnya, Kang. Definisi yang paling populer dan paling mudah adalah definisi yang kedua ini. Karena disini kita jadi tahu bahwa lmu mantik itu alatun qânûniyyatun ta'shimu mura'atuhaa al-Dzihna an al-Khatha fi al-Tafkiir, alat pengatur nalar yang kalau dipatuhi akan mampu menjaga kita dari kesalahan berpikir." Ucap Ajimukti kemudian.


"Ngapunten, Gus. Itu bagaimana penjelasannya?" Tanya Khalil kemudian.


"Singkatnya begini, Kang Khalil. Ilmu mantik adalah ilmu yang membahas tentang aturan dan kaidah kaidah berpikir, yang kalau kita indahkan kaidah kaidah tersebut, niscaya kita akan selamat dari kesesatan berpikir." Sahut Ajimukti kemudian.


"Tapi betulkah kaidah kaidah tersebut akan menjamin kita dari kesalahan berpikir, Gus?" Tanya Khalil lagi setelahnya.


"Ya, belum tentu, Kang. Karena bisa jadi ada orang yang salah dalam memahami kaidah tersebut atau tidak mengindahkannya sama sekali. Ilmu ini hanya akan menjaga kita dari kesalahan berpikir kalau seandainya kaidah kaidah yang dibakukannya itu kita patuhi dan kita pahami dengan benar. Itulah alasan kenapa dalam definisi di atas dicantumkan kata muraa'atuhaa, pematuhan atasnya. Itu kenapa? Karena bisa jadi ada orang yang mengetahui kaidah, tapi dia tidak mematuhinya. Jika itu yang terjadi, maka sudah pasti dia akan terjebak kedalam kesalahan berpikirnya, Kang." Jelas Ajimukti kemudian.


Khalil dan santri yang ada di ruangan itu mengangguk paham.


"Bicara mengenai definisi ilmu mantik, itu juga sekaligus membahas dari pada objek kajian, Kang. Itu kenapa? Karena yang menjadi objek kajian utama ilmu mantik ialah segala jenis informasi yang berbentuk tashawwur dan tashdiq, al-Ma'***** al-Tashawwuriyyah wa al-Tashdiqiyyah, yang sudah kita ketahui sebagai jalan yang dapat mengantarkan kita pada pengetahuan, baik tashawwur maupun tashdiq yang sebelumnya tidak kita ketahui." Lanjut Ajimukti kemudian.


"Contoh lain mengenai objek kajian ilmu mantik. Semisal ada orang mendengar sebuah agama bernama Islam, dan orang tersebut belum tahu makna atau definisi yang tepat untuk kata tersebut. Jika orang itu ingin mengetahui hakikat Islam, maka tentu hal yang pertama kali yang harus orang itu lakukan ialah mengumpulkan informasi seputar Islam. Informasi itu ada yang berbentuk tashawwur, concept, ada juga yang berbentuk tashdiq, assentment. Nah, tugas ilmu mantik itu ialah mengantarkan orang dari pengetahuan yang sudah diketahui itu menuju pengetahuan lain yang belum orang diketahui. Dari tashawwur yang sudah diketahui menuju tashawwur lain yang belum diketahui. Dari tashdiq yang sudah diketahui menuju tashdiq lain yang belum diketahui. Dan untuk sampai kesana, tentunya setiap orang membutuhkan panduan dan kaidah kaidah yang benar. Sampai disini bisa dipahami?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Iya, Gus. Insya Allah kami paham." Sahut Khalil mewakili para santri yang mengangguk paham.


"Lalu untuk aspek yang lain, Gus?" Tanya Khalil kemudian.


"Benar, Gus. Untuk aspek yang lain bagaimana?" Imbuh santri yang lain.


"Itu tadi saya baru sedikit menjelaskan mengenai Al Hadd dan Al Maudhu'. Mungkin untuk pertemuan kali ini, saya hanya bisa menjelaskan pada Al Tsamrah saja mengingat waktu sebentar lagi Dzuhur." Ucap Ajimukti kemudian.


Semua santri hanya mengangguk.


"Nah, untuk bahasan dari aspek ketiga. Sebagian dari manfaat atau kegunaan ilmu ini sudah saya singgung diawal. Bahwa ilmu ini mengajarkan kita kaidah kaidah berpikir yang benar. Dengan mengetahui kaidah berpikir yang benar, maka kita juga bisa bertindak dan berucap dengan benar, ora asal asalan, ora angger. Ilmu ini juga mengajarkan kita untuk berpikir secara sistematik dan mendalam. Dengan cara berpikir seperti ini, insya Allah kita tidak akan mudah terjebak pada hasutan dan juga pemahaman pemahaman radikal. Kita juga tidak akan menjadi orang yang mudah terprovokasi, mudah menghakimi, dan terutama menjadi seorang yang merasa benar sendiri. Cara berpikir semacam ini sangat kita butuhkan, apalagi kita hidup di tengah terpaan hoax dan fitnah yang kadang menimbulkan perdebatan yang tidak sehat. Dengan mempelajari ilmu ini, kita juga bisa menjadi orang yang kritis sekaligus tidak mudah menghakimi orang yang berbeda paham. Faktanya, selama ini kita mudah termakan oleh hasutan dan berita berita yang tidak benar. Nah, dengan mendalami ilmu mantik, kita akan dididik untuk menjadi orang yang berpikiran matang dan tidak mudah menerima sesuatu yang belum pasti benar. Selain itu, yang tak kalah penting, ilmu ini juga dapat memperteguh keimanan kita melalui akal. Jika selama ini kita memercayai keberadaan Tuhan, kenabian Nabi Muhammad Saw, kewahyuan al-Quran, dan sebagainya, melalui teks teks suci, maka dengan ilmu mantik kita bisa memperteguh keyakinan kita dengan bersandar pada dalil dalil yang rasional." Ucap Ajimukti kemudian.


Setelah berkata seperti itu, adzan terdengar berkumandang.


"Itu Manan sudah adzan. Sebaiknya kita sudahi dulu kajian kita siang ini. Insya Allah, kalau tidak saya ya Gus Faruq yang akan menjelaskan untuk aspek lainnya besok." Ucap Ajimukti kemudian.


Semua santri mengangguk mengiyakan, lalu setelahnya sama sama mengucapkan doa penutup majelis.

__ADS_1


"Subhanakallaahumma wabihamdika asyhadu anlaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaiik."


Bersambung...


__ADS_2