BROMOCORAH

BROMOCORAH
Negosiasi Perasaan


__ADS_3

"Rasanya tangan saya ini sudah gatel pengen ngoplok santri santri songong itu."


"Sabar, Bud. Jangan gegabah nanti malah nama kamu sendiri yang tercemar." Khalil mencoba menenangkan Budi yang sejak semalam terlihat emosi ketika berpapasan dengan Ajimukti, Manan juga Dullah.


"Mana ini ada kabar dari ibuku katanya bapakku untuk Minggu ini nggak bisa kirim uang lagi. Hah!!!" Budi mendengus kuat.


"Kenapa memangnya, Bud?" Tanya Imam penasaran.


"Biasa. Bapakku kan orang super sibuk se-Surabaya. Bapakku lagi ada bisnis sama investor asing." Suara Budi meninggi dan terlihat menyombongkan diri.


"Luar biasa ya Bud bapak kamu. Berarti setelah ini kamu bakal dapat bustelan lebih dong." Sahut Khalil sembari menggoyangkan alis matanya.


Budi hanya tersenyum sinis. Tatapannya dipenuhi aura kebencian yang mendalam. Wajahnya memerah menandakan saat ini dia sedang merasakan amarah yang luar biasa.


Disaat itu seorang santri tiba tiba mengetuk pintu kamar mereka membuat Budi secepat kilat menoleh. Imam yang menyadari itu segera membuka pintu kamar.


Di depan kamar berdiri seorang santri ndalem yang sepertinya memang ada keperluan dengan salah seorang penghuni kamar.


"Kang Budi ada?" Tanya santri itu pada Imam yang membuka pintu.


"Oh, ada, Kang." Sahut Imam.


Budi yang mendengar santri itu mencarinya segera berjalan ke arah pintu.


"Ada apa Kang cari saya?" Tanya Budi dengan suara datar.


"Anu, Kang. Sampeyan di timbali Pak Kyai. Ditunggu di belakang ndalem kata beliau." Santri itu ternyata hanya menyampaikan amanah Kyai nya.


"Baik. Saya segera kesana. Terima kasih." Sahut Budi masih dengan suara datar.


Santri itu pun tak berselang lama berlalu dari lorong depan kamar itu dan sepertinya kembali ke arah ndalem.


Budi segera merapikan pakaiannya, ia tidak ingin terlihat kusam ketika menghadap Kyai Aminudin. Tak terlalu lama, dan akhirnya Budi terlihat melangkah keluar dari kamar. Khalil dan Imam hanya saling pandang.


"Ada apa ya, Lil?" Tanya Imam sedikit penasaran.


Khalil hanya menaikan bahunya, "Entahlah, mungkin urusan keluarga." Sahut Khalil sekenanya.


"Urusan keluarga?" Imam memicingkan matanya.


"Kenapa kaget begitu, Mam? Kan sebentar lagi Budi juga bagian keluarga ndalem." Seru Khalil menjawab ekspresi kaget Imam.


Imam tertawa, "Saya lupa, Lil." Imam lalu menutup mulutnya sendiri, "Apa mungkin ngomongin hari pernikahan Budi sama Ning Biba ya, Lil?" Imam masih juga terlihat penasaran.


"Bisa jadi, Mam. Soalnya kan nggak biasanya Kyai Aminudin memanggil Budi." Khalil terlihat mengangguk sembari menggaruk garuk dagunya.


Sementara itu Budi sudah terlihat mendekati tempat Kyai Aminudin berdiri di belakang ndalem. Segera setelah mengucap salam, Budi pun mencium tangan Kyai nya itu beberapa kali.


"Oh, Nak Budi. Maaf jika saya mengganggu waktu istirahatnya. Saya sengaja memanggil Nak Budi kesini karena saya ingin membicarakan beberapa hal sama Nak Budi." Ucap Kyai Aminudin begitu Budi tiba dihadapannya.


"Jangan sungkan, Kyai. Kapan pun Kyai butuh saya. Saya selalu siap sedia untuk memenuhi panggilan Kyai." Sahut Budi sedikit tertunduk.

__ADS_1


Kyai Aminudin mengangguk ringan.


"Maaf Kyai kalau saya boleh bertanya, kiranya hal apa yang ingin Kyai bicarakan dengan saya?" Tanya Budi kemudian.


"Begini Nak Budi." Kyai Aminudin menghela nafasnya, "Apa Pak Nugroho sudah memberi kabar kelanjutan negosiasi waktu itu?" Tanya Kyai Aminudin tanpa basa basi.


"Negosiasi?" Budi nampak keheranan lalu akhirnya tertawa, "Ya ya ya. Soal lamaran bapak untuk Habiba kan yang Kyai Maksudkan?" Tanya Budi kemudian.


Kyai Aminudin mengangguk dengan sedikit tawa renyahnya. "Nak Budi benar sekali." Ucap Kyai Aminudin setelahnya. "Bagaimana Nak Budi? Apa Pak Nugroho sudah memberikan kabar lagi sama Nak Budi?" Tanya Kyai Aminudin mengulangi pertanyaannya.


"Maafkan saya Kyai. Tapi bapak belum memberikan kabar lagi mengenai itu karena kabar terakhir dari ibu, bapak Minggu ini sedang ada urusan dengan beberapa investor asing begitu katanya." Ucap Budi sedikit bangga.


"Luar biasa, Nak Budi. Pak Nugroho memang pebisnis sejati." Puji Kyai Aminudin. "Ya ya ya, mungkin selesai urusan bisnis itu Pak Nugroho baru akan membahas lagi tentang negosiasi waktu itu." Lanjut Kyai Aminudin kemudian.


Budi sedikit mendekatkan badannya ke Kyai Aminudin, "Maaf Kyai. Lalu bagaimana dengan Habiba?" Tanya Budi nampak tersipu malu.


Kyai Aminudin tertawa lalu menepuk pundak Budi, "Nak Budi tenang saja. Soal Habiba serahkan semua pada saya. Nak Budi tahu sendiri Habiba itu anaknya nurut sekali sama saya. Pasti Nak Budi sudah bisa mengira-ira sendiri apa nanti keputusan Habiba." Sekali lagi Kyai Aminudin tertawa.


Budi nampak senang mendengar ucapan Kyai nya itu.


"Yang terpenting nanti Pak Nugroho bisa segera mewujudkan impian saya membangun pondok putri ini. Biar bisa semakin banyak santriwatinya nanti." Ucap Kyai Aminudin kemudian.


"Kyai tenang saja. Masalah itu tentu bukan hal sulit untuk bapak saya. Dan bapak saya selalu menepati janjinya Kyai." Sahut Budi membanggakan bapaknya.


"Saya percaya itu Nak Budi." Sekali lagi Kyai Aminudin menepuk pundak Budi.


Tanpa mereka sadari seorang gadis dengan kulit putih sejak tadi mengamati dan menguping pembicaraan mereka. Lalu kini gadis itu terlihat berlari ke arah luar ndalem melalui pintu samping. Dan terdengar isakannya diantara nafas yang juga memburu.


Dengan kepala tertunduk dan setengah berlari tiba tiba saja dia menabrak seseorang dari arah berlawanan.


"Ning Biba?"


"Kang Aji?"


Habiba nampak menyembunyikan wajahnya yang kini nampak mulai basah di kedua pipinya. Ajimukti sempat memperhatikan itu sekelebat.


Habiba mulai mengusap kedua kelopak matanya menggunakan ujung lengan kaos panjang yang dikenakannya.


"Ada apa, Ning?" Ajimukti memberanikan diri bertanya meski ada sedikit keraguan yang berusaha menahannya.


Habiba masih terdiam, ia masih terlihat mengusap kan ujung lengan kaosnya ke kedua matanya. Sepertinya air matanya belum begitu saja mau berhenti.


Ajimukti kini sedikit mulai bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia menghadapi situasi yang seperti ini.


"Saya... saya nggak papa, Kang." Tiba tiba suara berat Habiba terdengar lirih diantara keheningan saat itu.


"Tapi sepertinya ada yang sedang tidak baik baik saja, Ning. Maaf bila kata kata saya ini menyinggung." Ucap Ajimukti datar.


Habiba terdengar menghela nafas berat. "Apa Kang Aji sedang tidak sibuk saat ini?" Tanyanya kemudian.


Ajimukti sedikit kebingungan, sebenarnya dia sedang menunggu Dullah yang sedang pergi ke toilet. Tadi Ajimukti sudah bilang akan menunggunya di teras masjid pesantren lebih dulu. Bagaimana kalau nanti Dullah mencarinya?

__ADS_1


"Tidak, Ning. Sedang lodang ini." Pada akhirnya.


"Temani saya cari angin, Kang? Apa Kang Aji tidak keberatan?" Tanya Habiba kemudian. Suaranya sudah jauh lebih jelas kali ini.


Ajimukti nampak tersentak. Mendadak ada yang terasa berdesir di antara ulu hatinya. Rasanya seperti ngilu di sekujur tubuhnya. Entah dorongan apa pada akhirnya iya hanya bisa mengangguk ringan dengan ajakan Habiba itu.


Ajimukti mempersilahkan Habiba untuk jalan duluan sementara dirinya mengikuti Habiba di belakang.


Ajimukti tidak tahu tujuan Habiba kemana, dia hanya mengekor saja mengikuti langkah kaki Habiba.


Tak lama Habiba berhenti di sebuah cakruk di sekitar sawah tak jauh dari pesantren. Udara disini cukup segar dengan angin yang berhembus sesekali. Cukup teduh juga karena cakruk ini dibuat dibawah sebuah pohon yang cukup besar. Pada hari hari tertentu biasanya di cakruk ini akan dijadikan halte dadakan untuk beberapa orang yang akan ke pasar.


Habiba terlihat menarik nafas nya dalam dalam. Mungkin jika tidak tahu kondisi Habiba saat ini hanya akan berpikir Habiba sedang menikmati segarnya udara ditempat ini. Tapi Ajimukti saat ini tahu Habiba tidak benar benar sedang ingin menikmati kesegaran udara di tempat ini.


"Kang Aji pernah di hadapkan pada posisi harus memilih?" Tanya Habiba kemudian.


Ajimukti sedikit mengerutkan kening. Dia tidak tahu arah pembicaraan Habiba saat ini.


"Bisa diperjelas, Ning! Maaf saya agak tidak paham." Ajimukti terlihat konyol ketika mengucapkan itu.


Habiba terlihat menoleh ke arah Ajimukti dan terlihat sedikit melempar senyum.


"Kasarnya begini, Kang. Taruhlah pengibaratan. Ketika Kang Aji harus memilih dawuh orang tua Kang Aji sementara Kang Aji tidak menginginkan pilihan itu atau memilih keinginan Kang Aji sendiri yang sesuai dengan kekarepan Kang Aji?" Ucap Habiba kemudian masih dengan pandangan yang tertuju ke arah Ajimukti.


Ajimukti tersenyum, "Saya tidak bisa memberi jawaban pasti, Ning. Dilihat dari permasalahannya dulu. Tentang pilihan itu sendiri. Tentu dari sisi kebaikan. Mana yang lebih mengarah ke arah kebaikan dan mana yang mengarah ke mudhoratan." Ajimukti menghela nafasnya.


"Maaf, Ning. Apa ini berkaitan dengan lamaran yang saya dengar akhir akhir ini?" Ajimukti langsung saja memvonis ucapannya.


Habiba nampak kaget. Matanya terlihat terbelalak. Mungkin dia bertanya tanya darimana Ajimukti tahu.


"Kok Kang Aji tahu? Tahu dari siapa?" Habiba nampak keheranan .


Ajimukti tersenyum, "Tidak penting saya tahu dari mana. Tapi apa benar begitu?" Tanya Ajimukti lebih menekan.


Habiba mengerutkan kening. Dia berpikir mungkin Ajimukti tahu dari Budi. Bagaimanapun dia yakin pasti Budi sudah mengumbar berita ini ke para santri. Habiba melenguh lalu mengangguk ringan.


Ajimukti tersenyum, Habiba melirik senyum Ajimukti yang seakan menyiratkan sesuatu.


"Saya tidak tahu kalau masalah ini, Ning. Tapi saya hanya bisa menyarankan sebatas sebagai referensi Ning Biba." Ucap Ajimukti kemudian.


Habiba mengerutkan kening dia tidak sabar dengan apa yang akan di ucapkan Ajimukti setelah ini.


"Coba Ning Biba cari tentang sebuah kisah Khansa binti Khadzdzam. Mungkin disana Ning Biba akan menemukan sesuatu." Ucap Ajimukti sedikit melempar senyum ke arah Habiba.


"Khansa binti Khadzdzam?" Suara Habiba lirih. Seperti tengah mengingat sesuatu.


"Ya. Benar! Mungkin bisa berguna untuk Ning Biba." Lanjut Ajimukti lagi.


Habiba kini sedikit bisa bernafas lega. Setidaknya ia yakin Ajimukti tidak sembarangan memberi kan satu nama itu. Ia yakin ada sesuatu yang akan dia dapat dari kisah seorang yang disebutkan Ajimukti itu.


Sejujurnya Habiba pun sudah penasaran saat ini. Sebenarnya seperti apa kisah Khansa binti Khadzdzam itu? Untuk sesaat Habiba menerawang. Pandangannya tertuju jauh diantara hamparan padi dihadapannya yang begitu luas hingga seolah menyentuh langit jauh di ujung depan Sana.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2