BROMOCORAH

BROMOCORAH
Adab dan Ilmu


__ADS_3

Hujan masih mengguyur deras di siang menjelang sore ini. Bahkan sesekali ada hembusan angin kencang yang ikut menyapu deras air yang jatuh. Tak ada kilat memang, tapi deras air dan kencang angin sudah membuat sedikit kekhawatiran tersendiri.


Diantara deras hujan yang terus mengguyur itu, terdengar sebuah percakapan yang terdengar samar-samar dari salah satu ruangan di Pondok Hidayah.


Pintunya yang terbuka sedikit, sesekali menghembuskan angin yang langsung menembus ke tulang-tulang berpadu dengan bau anyir air hujan.


"Sudah disini saja dulu, Xa. Lagian saya tidak punya payung. Kalau kamu kembali ke kamar sekarang kamu juga hanya akan basah kuyup." Ucap salah seorang penghuni ruangan itu pada Hexa yang terlihat beberapa kali melihat ke arah luar ruangan.


"Iya, Gus. Tapi nanti kalau njenengan mau istirahat. Saya malah jadi tidak enak." Sahut Hexa kemudian.


"Kalau jam jam segini, saya ya cuma begini. Biasanya ada Gus Ali menemani saya mengobrol. Tapi kamu kan tahu sendiri, Gus Ali sedang pulang. Jadi malah saya senang ada kamu disini." Sahut orang itu sembari membuka-buka buku ditangannya.


"Gus Faruq sendiri saya lihat sudah beberapa hari tidak pulang kan ya?" Tanya Hexa kemudian pada lawan bicaranya di ruangan itu yang tak lain adalah Faruq.


"Iya, Xa. Rencana Selasa besok. Tapi belum tahu juga." Jawab Faruq kemudian.


"Oh, iya, Gus. Boleh saya bertanya sesuatu?" Tanya Hexa kemudian.


Faruq melirik Hexa dari celah kacamatanya, "Yah, tentu. Mau tanya apa, Xa?"


Hexa sedikit ragu, "Soal Pak Lek Dullah, Gus."


"Pak Lek Dullah? Ada apa dengan Pak Lek Dullah?" Faruq sedikit tertarik juga penasaran dengan pertanyaan Hexa itu, ia kemudian menutup buku yang dipegangnya.


"Tidak ada apa-apa, Gus. Hanya saya penasaran saja. Sepertinya Pak Lek Dullah dan Gus Aji itu dekat sekali. Apa mereka ada hubungan keluarga atau bagaimana, Gus. Soalnya setahu saya Pak Lek Dullah disini juga tidak mengajar santri, tapi begitu dihormati para santri. Apa karena Kang Sobri juga atau bagaimana, Gus?" Tanya Hexa kemudian.


"Oh, mengenai itu? Panjang ceritanya, Xa. Tidak seluruhnya saya tahu. Tapi sedikit-sedikit ya ada yang saya tahu." Jawab Faruq setelahnya.


"Saya hanya penasaran saja, Gus. Karena kan saya termasuk masih baru disini. Jadi maaf kalau saya ingin tahu banyak. Jadi saya tahu bagaimana harus bersikap." Ucap Hexa kemudian.


"Ya, benar, Xa. Memang tidak ada salahnya untuk lebih mengenal keluarga disini." Sahut Faruq.

__ADS_1


"Jadi setahu saya, Xa. Lek Dul itu dulunya sahabat karib Kyai Salim. Kyai Salim itu romonya Gus Aji. Mereka berdua itu sudah seperti saudara. Selain Lek Dul ada lagi sahabat Kyai Salim yang lain yang juga sama dekatnya dengan keluarga ndalem. Seperti Pak Prastowo, kamu tahu kan, yang sering kesini nganter ayam. Terus Pak Hasan Basri, ayahnya Kang Manan. Makanya Kang Manan, Kang Sobri, keduanya dekat sekali sama Gus Aji." Jelas Faruq kemudian.


"Mereka itu sahabat yang bikin meri, Xa. Saya mengakui itu. Bagaimana tidak, mereka bersahabat dari sama-sama hitam, ketika taubat pun mereka setempat taubat bersamaan dan tetap bersahabat." Lanjut Faruq lagi.


"Pantas kalau begitu kenapa Gus Aji begitu dekat dengan Lek Dul, Gus." Ucap Hexa sembari mengangguk-anggukan kepalanya paham.


"Selain itu, Xa. Lek Dul juga sudah seperti bapak untuk Gus Aji. Karena semenjak Kyai Salim meninggal. Lek Dul lah yang ngemong Gus Aji." Lanjut Faruq meneruskan ceritanya.


"Oh, begitu ya, Gus. Pantas juga Kang Sobri itu secara ilmu hampir setara dengan Gus Aji." Timpal Hexa.


"Ya, begitulah, Xa. Karena mereka memang tumbuh bersama sejak kecil. Hanya saja ketika menginjak remaja Gus Aji sempat mondok di Rembang. Jadi itu yang membuat Gus Aji lebih ngalim dari Kang Sobri." Jelas Faruq lagi.


"Ya, Gus. Berarti memang sudah selayaknya Lek Dul mendapat kehormatan lebih diantara yang lain ya, Gus." Imbuh Hexa kemudian.


"Ya, memang, Xa. Selain itu karena memang Lek Dul disini yang disepuhkan. Tentu selain Gus Ali. Itu kaitannya dengan adab, Xa. Tidak semata soal karena Lek Dul dekat dengan keluarga ndalem saja." Imbuh Faruq juga.


"Nggeh, Gus. Memang attitude yang utama, Gus. Setelah sering berkumpul dengan keluarga disini, ya para pengasuh, senior, teman-teman, semua memang sangat mengedepankan attitude, Gus. Saya yang dulunya tidak menggubris itu, kini belajar sedikit demi sedikit untuk bisa menyamai mereka." Ucap Hexa nampak bersungguh-sungguh.


"Al Adabu Fauqal `Ilmi, Xa. Adab itu lebih tinggi dari ilmu. Mungkin Jika dipikir secara logika mempelajari adab itu terlihat remeh dan mudah, akan tetapi nyatanya mempelajari adab itu tidak semudah yang kita bayangkan, Xa. Maka jangan pernah meremehkan hal sekecil apapun, karena bagaimana jika orang berilmu tanpa adanya adab? Banyak yang bisa kita lihat di zaman sekarang, mulai sedikit orang yang beradab, sehingga banyaknya orang yang meremehkan ilmu dan sombong dengan keilmuannya. Padahal, orang yang berilmu itu belum tentu beradab akan tetapi orang beradab sudah pasti berilmu. Karena pada dasarnya adab merupakan implementasi dari ilmu agama." Jelas Faruq kemudian.


"Sudah bukan rahasia umum kalau soal itu, Xa. Semua kembali pada orang tua, Xa. Perbedaan cara mendidik antara orang dulu dan sekarang yang menjadikan sekarang ini banyak anak miskin adab. Kalau orang tua dulu sebelum mengajarkan anak tentang ilmu pengetahuan, terlebih dahulu mereka mengajarkan dan menanamkan tentang adab atau akhlak, sehingga pada saat belajar ilmu pengetahuan selalu didasarkan pada adab. Namun berbeda dengan saat ini. Saat ini banyak orang lebih mengutamakan mengajarkan tentang ilmu pada anak, sementara adab terasa tersampingkan sehingga banyak orang pintar dan berilmu tapi sangat kurang dalam beradab." Jelas Faruq kemudian.


"Zaman sekarang orang ingin menjadi orang pintar sangat mudah. Mereka bisa belajar di mana saja dan dapat menimba ilmu kapan daja. Bahkan, bisa belajar sendiri dengan otodidak. Meski tidak recomended. Namun untuk berakhlak, seseorang harus membiasakan diri dengan rendah hati saat bergaul dengan masyarakat." Lanjut Faruq.


"Nahnu ila qaliilin minal-adabi ahwaju minnaa ila katsiirin minal-'ilm. Kita lebih membutuhkan adab. Yah, meskipun sedikit dibanding ilmu meskipun banyak." Imbuhnya lagi.


"Benar, Gus. Meski saya bukan orang yang paham tentang beradab, berakhlak. Tapi sedikit banyak saya paham, Gus." Sahut Hexa.


"Wal-adabus-ti'maalu maa yuhmadu qaulan wa fi'lan wa 'abbara ba'dhuhum 'anhu bi-annahul-akhdzu bimakaarimil-akhlaq. Jadi dalam Fathul Bari di jelaskan, Al adab atau adab itu artinya menerapkan segala yang dipuji oleh orang, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sebagian ulama juga mendefinisikan, adab adalah menerapkan akhlak-akhlak yang mulia. Yah, hanya sebatas pengertian saja." Jelas Faruq kemudian.


Hexa masih mendengar wejangan Faruq, mungkin ini kali pertama ia terlihat benar-benar seperti layaknya seorang santri yang mendapat petuah dari Kyainya, itu terlihat dari bagaimana wajahnya saat ini yang nampak memperhatikan betul apa yang Faruq sampaikan padanya.

__ADS_1


"Miskinnya adab saat ini, Xa. Juga muncul karena ditopang oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi zaman yang ada saat ini sehingga mengakibatkan manusia hanya mengejar prestasi akademik saja tanpa dilandasi oleh adab, mengapa banyak dari kita seperti itu padahal kenyataannya adab tidak berbanding lurus dengan prestasi akademik seseorang? Contoh sederhananya, Xa. Banyak kita lihat di zaman sekarang banyaknya para penuntut ilmu hanya ingin dipandang hebat dan memiliki kekuasaan yang tinggi, para ahli quran yang melanggar syariat islam, hal itu terjadi karena minimnya pengetahuan tentang adab itu sendiri." Lanjut Faruq lagi.


"Benar sekali, Gus. Bukan rahasia umum lagi."


"Nah, disinilah keunggulan adab dibanding ilmu. Maka sudah tentu sangatlah penting untuk kita semua memiliki adab yang baik, Xa. Karena dengan adab kita akan selalu dalam kebaikan, karena orang yang beradab lebih disegani dan dimuliakan oleh banyak orang. Ketika kita memiliki rasa empati terhadap orang lain dan selalu menjaga etika dengan baik, pastilah orang lain akan membalasnya dengan baik. Daripada halnya orang yang banyak ilmu akan tetapi selalu meremehkan orang lain dan selalu berperilaku sombong atas kehendaknya karena merasa paling pintar. Ajur njobo njero orang yang seperti itu, Xa." Tambah Faruq lagi.


"Sebagai catatan kita sendiri, Xa. Adab adalah pembentuk awal kepribadian setelah aqidah seorang muslim, sedangkan ilmu adalah jasadnya. Seperti kata Imam abu zakariya Al Anbary, Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, adab tanpa ilmu seperti ruh tanpa jasad. Maka dari itu kita sebagai penuntut ilmu, marilah mulai menerapkan adab dengan baik pada diri kita. Jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang kita miliki dan teruslah pelajari ilmu dan adab, karena keduanya penting untuk dipelajari jangan sampai kita terjerumus kedalam hal yang salah karena perihal adab dan ilmu." Tegas Faruq kemudian.


Hexa hanya kemudian mengangguk paham.


"Memang manusia itu jauh dari kata sempurna, tapi yakinlah jika kita ada niat untuk memperbaiki hal yang baik, pasti Allah akan mudahkan jalannya. Maka dari itu jangan pernah sepelekan adab, sebagaimana ibnu karrath Al-isybilly pun pernah berkata, janganlah meremehkan adab karena barang siapa yang meremehkan adab, maka ia akan meremehkan sunnah dan barang siapa yang meremehkan sunnah, maka ia meremehkan yang wajib. Banyak sekali hikmah yang dapat kita ambil dari kata adab dan ilmu, keduanya mengandung makna yang luar biasa akan tetapi jika tidak dilakukan dengan tidak seimbang maka runtuhlah keduanya." Ucap Faruq sembari beranjak dari duduknya di ikuti Hexa yang juga beranjak dari duduknya.


"Terima kasih, Gus. Saya akan ingat nasehat njenengan ini." Ucap Hexa kemudian.


"Inti dari semuanya, Xa. Jadilah santri yang baik akhlaknya sehingga ilmu yang kita miliki menjadi berkah."


"Aamiin, Gus. Pangestunya njenengan. Dan mohon bimbingannya."


Faruq hanya mengangguk sembari melengkungkan bibirnya.


"Oh, iya, Gus. Sudah sedikit reda. Saya kembali ke kamar saya dulu. Mungkin njenengan akan istirahat." Ucap Hexa setelah sedikit melirik ke arah luar yang ternyata hujannya sudah sedikit reda.


"Ya saya paling cuma baca-baca kitab, Xa. Kalau masih mau disini ya kita bisa ngobrol dulu. Tapi kalau kamu mau balik ke kamar ya saya persilahkan berhubung ini hujannya sudah reda." Sahut Faruq kemudian.


"Iya, Gus. Saya ingin kembali ke kamar saja. Soalnya nanti ba'da ashar masih ada semak'an juga sama Gus Aji." Sahut Hexa kemudian pamit undur diri dari ruangan itu.


Hexa kemudian bergegas kembali ke kamarnya, berlari-lari kecil untuk menghindari sisa-sia air hujan yang masih sesekali jatuh.


Tak jauh darinya, dua pasang mata tengah mengamati Hexa sejak dia keluar dari ruangan Faruq sampai ia masuk ke kamarnya.


"Sepertinya anak itu sudah banyak berubah, Jik."

__ADS_1


"Iya, Nan. Saya harap juga begitu. Jadi tidak sia-sia Pak Samsuri menitipkannya disini."


Bersambung...


__ADS_2