
"Apa sebaiknya kita kesana sekarang saja, Jik?" Manan memberi usul pada Ajimukti yang untuk beberapa saat terdiam.
Ajimukti menoleh dan sedikit terkejut.
"Eh, iya, Nan. Memang sebaiknya kita kesana sekarang saja. Saya tidak ingin kecolongan lagi dan kemudian kehilangan jejak Kyai Aminudin sekali lagi." Sahut Ajimukti setelah sadar dari lamunannya.
Disaat itu Suko terlihat membisikkan sesuatu ke telinga Baron, Baron hanya terlihat mengangguk.
"Bagaimana kalau saya antar, Mas?" Ucap Baron setelah itu.
Ajimukti, Sobri juga Manan sejurus kemudian beralih memandang yang sama ke arah Baron.
"Kata Suko, kebetulan keponakannya itu ada di rumah emak nya." Baron melanjutkan ucapannya.
"Iya, Mas Aji. Jadi Mas Aji bisa langsung tanya pada keponakan saya tentang siapa temannya itu. Bagaimana, Mas?" Suko menambahi.
Ajimukti terlihat mengangguk, "Apa tidak merepotkan Pak Baron dan Pak Suko?" Tanya Ajimukti agak sedikit sungkan.
"Karena terus terang saya sudah banyak merepotkan njenengan berdua." Imbuhnya.
"Sama sekali tidak, Mas Aji. Justru kami senang bisa membantu Mas Aji. Selain karena ingin menebus perlakuan tidak baik kami kepada Mas Aji, ini juga wujud penghormatan kami pada Kang Salim." Sahut Baron dengan cepat.
"Baiklah kalau begitu, Pak." Ajimukti terlihat tersenyum saat mengiyakan itu.
"Saya tidak ikut ya, Mas? Kebetulan saya masih ada pekerjaan. Ada ayam yang harus dikirim." Prastowo menyela.
"Iya, Lek. Nggak apa apa." Sahut Ajimukti.
"Tenang saja, Kang. Untuk kali ini, saya pastikan Mas Aji akan aman bersama kami." Baron kini gantian yang menyela.
"Kalau sampai tidak aman, apa kalian siap berhadapan dengan saya?" Prastowo melirik Baron dan Suko.
Baron dan Suko seketika sama sama menelan ludah mereka. Mereka tahu bagaimana Prastowo. Bahkan sepuluh orang yang begitu menguasai bela diri pun bukan tandingannya meski diusianya saat ini.
Tak menunggu lama, mereka berlima pun berangkat meninggalkan rumah Prastowo. Butuh waktu hampir satu jam untuk bisa sampai di rumah mantan istri Dasman itu. Apalagi jalanan cukup padat siang ini, beberapa kali mobil sedan hitam yang dikemudikan Suko harus melambatkan lajunya karena terhalang macet. Jika saja saat ini Suko tidak sedang membawa Ajimukti yang notabene adalah seorang pengasuh Pondok Pesantren, mungkin Suko sudah berkali kali mengumpat bahkan tak segan memaki kendaraan yang menghalangi jalannya.
Setelah benar benar hampir satu jam perjalanan, mereka pun akhirnya menepi di pinggir jalan tepat di depan sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas yang dipagari dengan pagar bambu di sisi kiri dan kanan nya sebagai batas tepi jalan dan tepi halaman.
Mereka pun segera turun dari mobil itu, sejenak Suko melirik rumah yang dulu pernah dikontraknya, pintunya terbuka, tapi tak ada orang di depan rumah itu. Suko pun segera berjalan menuju rumah Gitun, kakak iparnya, disusul Baron, Ajimukti, Sobri, juga Manan di belakangnya.
Gitun yang melihat Suko datang dengan membawa banyak tamu sedikit terkejut.
"Ada apa, Dik Suko? Kenapa tumben kamu membawa banyak teman?" Tanyanya sedikit penasaran.
"Oh, tidak apa apa, Mbak Yu. Kebetulan mereka ada urusan di dekat sini, juga ada keperluan dengan Ari." Jawab Suko dengan sikap tenang.
Gitun mengerutkan keningnya ketika Suko mengatakan orang orang ini ada perlu dengan Ari. Ada sedikit rasa khawatir apakah Ari anaknya yang baru pulang ini telah membuat masalah dengan orang orang ini. Tapi segera ia menepisnya ketika ia melirik sikap Suko yang tenang, toh selama ini, Suko lah yang mengawasi dan senantiasa menjaga Ari. Jika memang ada masalah, tentu Suko akan mengatasinya.
"Ari mana Mbak Yu?" Tanya Suko pada Gitun karena ia pun tak melihat Vespa Ari di halaman.
__ADS_1
"Lagi keluar sebentar sama Angga, Dik. Paling sebentar lagi juga pulang. Tapi kalau Kang Mas mu sepertinya baru nanti malam pulangnya." Jawab Gitun sembari berjalan ke belakang membuatkan minum tamu tamunya, sementara Suko segera mengajak Baron, Ajimukti dan yang lainnya duduk di kursi kayu rumah itu.
"Mas Aji, sebelah itulah rumah orang yang Mas Aji maksudkan." Bisik Suko kemudian.
Ajimukti mengangguk, "Sepertinya mereka juga sedang ada di rumah, Pak. Tadi saya juga sempat melihat ke rumah itu."
"Iya, Mas. Kata Mbak Yu, lelaki yang ngontrak itu jarang keluar, paling hanya istrinya saja, namanya Sarah. Sebelumnya mereka bertiga, tapi anak gadisnya kemudian kembali ke pesantren, namanya Habiba, Mas." Suko kembali menjelaskan.
"Tidak salah lagi, Jik." Sela Manan tiba tiba.
Tak lama setelah mereka berbincang sejenak, suara motor Vespa terdengar masuk ke halaman dan berhenti di depan halaman rumah itu. Ari Godril yang melihat mobil Suko segera turun dari Vespanya karena ia berpikir Pak Lek nya itu datang pasti ingin memberi alamat orang yang dimintanya.
Tapi baru masuk ke pintu, Ari Godril, Ajimukti, Manan juga Sobri sama sama terkejut. Ajimukti juga Sobri segera berdiri dari duduknya. Suko dan Baron saling melempar pandang.
"Kang Godril."
"Gus Aufa, Kang Sobri, kenapa kalian bisa sampai kesini. Dan Lek, kenapa bisa barengan begini." Ari Godril terkejut. Suko dan Baron pun tak kalah terkejutnya.
"Jadi Mas Aji dan Nak Sobri kenal dengan Ari? Dan kamu Ari, kamu kenal Mas Aji ini?" Tanya Suko keheranan.
"Jelas kenal tho, Pak Lek. Gus Aufa ini yang menyuruh saya mencarikan alamat itu." Jawab Ari Godril selepas menyalami tamu tamunya.
"Benar, Pak. Kang Godril ini sempat saya mintai tolong mencari alamat Kyai Aminudin itu." Ajimukti menambahi.
Baron tidak mengerti apa yang terjadi. Dia hanya sesekali menatap Suko, memintanya mencari penjelasan.
"Tapi, Le. Kenapa pas di telfon tadi pagi kamu bilang tidak kenal?" Tanya Suko keheranan.
Suko mengangguk, ia merasa memang ada kesalahpahaman dalam penangkapannya.
"Benar, Pak Suko. Kebetulan Kang Godril ini kenalan saya di Jogja, jadi Kang Godril hanya akan tahu nama saya Aufa, sementara Ajimukti hanya panggilan saya disini." Ajimukti menjelaskan.
Suko dan Baron mengangguk paham pada akhirnya.
"Tapi bagaimana ceritanya Pak Lek dan Gus Aufa ini bisa saling mengenal?" Ari Godril bertanya penasaran.
Suko tersenyum, lalu menegakkan duduknya.
"Ceritanya panjang, Le. Tapi intinya saja. Bapaknya Gus Aufa atau Mas Aji ini dulunya temannya bapakmu, Pak Lek, Pak Dhe Baron, juga bapaknya Nak Sobri dan Nak Manan ini. Karena sebuah kejadian akhirnya kami dipertemukan kembali seperti sekarang ini." Suko menyingkat ceritanya.
Ari Godril mengangguk, "Berarti bapak dan Romo nya Gus Aufa dulu berteman begitu, Pak Lek?" Tanyanya dengan mata berbinar.
Suko mengangguk sementara Ajimukti nampak tersenyum.
"Subhanallah, sungguh diluar dugaan sekali nggeh, Gus. Ternyata selama ini kita sebenarnya sudah dekat karena orang tua kita dulunya." Ari Godril tersenyum bahagia.
"Iya, Kang. Benar kata pepatah, dunia hanya selebar daun kelor." Sahut Ajimukti sembari tertawa di ikuti yang lain.
"Terus teman yang ingin kamu kenalkan yang membuat kamu taubat itu Mas Aji ini juga, Le?" Tanya Suko kemudian.
__ADS_1
Ari Godril dengan malu mengangguk membenarkan.
"Saya mewakili almarhum Kang Dasman hanya bisa mengucapkan terima kasih, Mas." Ucap Gitun yang sejak menyuguhkan minum hanya diam mendengarkan percakapan itu kemudian.
"Sama sama, Bu Lek. Pak Lek Dasman juga sudah banyak berjasa pada bapak sewaktu Sugeng nya beliau. Dan saya belum sempat mengucapkan terima kasih saya sama beliau. Saya hanya bisa mendoakan saja, semoga Allah menempatkan Pak Lek Dasman ditempat sebaik baiknya tempat, dan kelak dikumpulkan dengan Rasulullah juga orang orang yang dicintainya." Sahut Ajimukti.
Ari Godril mengangguk mengaminkan.
"Oh, iya, Pak Baron, Pak Suko, Bu Lek, saya minta ijin sebentar untuk segera ke rumah Kyai Aminudin, ada hal yang harus segera saya sampaikan pada beliau." Ucap Ajimukti setelah beberapa saat.
"Iya, Mas. Silahkan." Sahut Suko sementara yang lain hanya mengangguk ringan.
"Saya temani ya, Gus." Sobri menawarkan diri.
"Tidak usah, Kang. Sampeyan disini saja menemani mengobrol Pak Baron dan Pak Suko." Ajimukti menolak tawaran Sobri.
"Atau saya saja yang menemani kamu kesana, Jik. Saya kan sedikit banyak paham karakter Kyai Aminudin." Kini Manan mencoba menawarkan.
Ajimukti tersenyum, "Tidak, Nan. Untuk kali ini saya ingin berbicara empat mata dengan Kyai Aminudin."
Manan mengangguk paham, "Yasudah kalau begitu."
"Yasudah, saya kesana dulu ya." Ucap Ajimukti seraya bangun dari duduknya dan segera melangkah menuju rumah sebelah.
"Saya tidak menyangka bahwa tetangga baru yang mengontrak rumah yang dulu kamu kontrak ternyata ada hubungan dengan orang sepenting Mas Aji, Dik." Ucap Gitun pada Suko.
"Saya pun merasa semua kebetulan ini begitu mengejutkan, Mbak Yu. Seolah semua sudah diatur." Suko menanggapi ucapan Gitun dengan suara berat.
"Beginilah Pak Lek cara Allah menunjukkan kemurahan hatinya pada siapa siapa yang dikasihinya." Ari Godril mencoba menanggapi dari cara pandang yang berbeda, berharap bisa menyentuh hati Pak Lek nya.
Baron dan Suko hanya mengangguk.
Sementara itu Ajimukti dengan langkah pelan kini sudah berada di depan rumah yang dikontrak Kyai Aminudin. Wajahnya tenang tanpa sebuah keraguan sedikit pun terlihat disana. Ajimukti menghela nafas sekali sebelum akhirnya ia mengucap salam.
Dari dalam terdengar jawaban salam Ajimukti. Suara seorang lelaki yang begitu di hapalinya. Tak lama dari balik tirai yang tepat searah lurus dengan pintu utama, keluar sosok laki laki yang seketika nampak terkejut akan kedatangan Ajimukti itu.
"Kamu?" Raut wajah lelaki itu benar benar menunjukkan keterkejutannya.
"Kyai Aminudin..." Sapa Ajimukti sembari sedikit menundukkan kepalanya santun.
"Dari mana kamu tahu saya tinggal disini?" Tanya Kyai Aminudin dengan suara sedikit meninggi.
Mendengar suara keras suaminya, Nyai Sarah, istri Kyai Aminudin segera ikut keluar dari balik tirai itu juga. Begitu melihat siapa yang datang, ia pun tak kalah terkejutnya dengan Kyai Aminudin.
"Nak Aji..." Nyai Sarah dengan suara lirih memastikan sekali lagi apa memang yang kini berdiri di ambang pintu itu Ajimukti.
Ajimukti hanya tersenyum dengan wajah tenang. Ada kelegaan setelah menyaksikan dua orang pasangan paruh baya itu baik baik saja.
"Apa saya hanya di suruh berdiri disini saja? Apa tidak ada keinginan menyuruh saya masuk?" Ucap Ajimukti sedikit menaikkan bola matanya melirik ke arah Kyai Aminudin yang sejak tadi masih berdiri terpaku.
__ADS_1
Nyai Sarah nampak menyentuh pundak Kyai Aminudin, sementara Kyai Aminudin terlihat menghela nafasnya.
Bersambung...