
Satu minggu sudah dilalui Ajimukti dan Dullah di Pondok Hidayah. Pelan perlahan semua kondisi sudah mampu dilalui Ajimukti dan Dullah sesuai rencana awal mereka.
Pagi ini Pondok Hidayah mengadakan ro'an, yaitu kerja bakti kebersihan pondok, yang artinya seluruh santri akan disibukkan dengan berbagai kegiatan di lingkup pondok. Ada yang menyapu taman pondok, halaman juga sekitaran ndalem. Ada yang kebagian menguras dan membersihkan seluruh kamar mandi, ada yang membersihkan sawang sawang yang mulai terlihat di beberapa sisi tembok, bahkan ada yang hanya duduk duduk santai memberi aba aba layaknya seorang mandor.
Ajimukti dan Dullah kebagian memotong rumput di taman halaman pondok. Melihat Ajimukti yang seperti itu Dullah sebenarnya tidak tega, karena bagaimana pun di Jogja, dikediaman Ajimukti, Dullah tidak pernah membiarkan anak asuhnya ini tandang gawe.
"Sudah, Mas. Mas Aji duduk saja." Bisik Dullah.
"Sudah, Lek. Nggak apa apa." Sahut Ajimukti.
"Tapi, Mas..."
Ajimukti menahan ucapan Dullah dengan senyumnya. Dullah hanya mengangguk paham.
Bagi Dullah semua pekerjaan ini sudah biasa baginya. Di Jogja selain ditugaskan mengasuh Ajimukti, Dullah juga kerap kali bersih bersih di waktu senggang.
Manan setengah berlari menghampiri mereka. Ajimukti dan Dullah menatap keheranan pada Manan yang terlihat ngos ngosan. Setelah mengatur nafas Manan menarik keduanya agar mendekat.
"Ba'da sholat Jum'at nanti kita ke rumah Pak dhe Pras." Bisik Manan kemudian.
Ajimukti dan Dullah melongo kaget.
"Ada apa, Nan?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Bapak mau kesana tapi tidak mampir ke pondok." Bisik nya Manan lagi.
"Kamu serius, Nan?" Tanya Dullah dengan senyum merekah agak sedikit bersuara. Manan menutup mulut Dullah lalu segera melepasnya menyadari ketidaksopanannya.
"Maaf maaf, Lek Dul." Ucapnya buru buru. Dullah mengangguk paham.
"Jangan keras keras. Nanti anak anak curiga." Lanjut Manan masih berbisik.
Ajimukti dan Dullah hanya mengangguk.
"Yasudah itu saja. Saya pergi dulu. Kalian lanjut saja." Manan segera berlalu.
Ajimukti dan Dullah saling pandang lalu saling melempar senyum.
"Wah, seneng ini, Lek. Bakal ketemu Pak lek Anggoro." Bisik Ajimukti.
Dullah hanya meringis, dari wajahnya terpancar kebahagiaan yang tidak bisa digambarkan dengan apapun. Ajimukti yang melihat itu pun ikut merasakan kebahagiaan yang Dullah rasakan saat ini.
__ADS_1
Waktu yang sejak tadi ditunggu tunggu Dullah pun akhirnya tiba. Selesai wirid ba'da sholat Jum'at, Dullah juga Ajimukti segera keluar masjid. Mereka menunggu Manan di salah satu bangku di halaman masjid.
Dullah berulang kali mengatupkan kedua telapak tangannya, menggosok gosoknya. Ajimukti mengamati gerak gerik Dullah itu tanpa berkomentar sepatah kata pun. Apakah Dullah sedang kedinginan? Tentu tidak karena siang ini, cuaca cukup panas. Lalu apakah Dullah gelisah? Tidak juga. Yang Ajimukti lihat dari raut wajah Dullah hanya sebuah isyarat tentang ketidak sabaran Dullah untuk segera bertemu sahabat lamanya.
Beberapa saat dari arah yang tak jauh dari mereka, Manan memanggil mereka dengan sebuah siulan dan isyarat tangan. Dengan segera Dullah dan Ajimukti bangun dari duduknya dan berjalan ke arah Manan.
Tanpa bersuara Manan segera berjalan keluar dari area halaman masjid di ikuti Ajimukti dan Dullah dibelakangnya.
Dari teras masjid Budi, Khalil dan Imam samar samar melihat kepergian mereka keluar dari gerbang masjid.
"Mau kemana mereka?" Tanya Budi dengan pandangan tertuju pada Manan, Ajimukti dan Dullah yang kini sudah tidak begitu terlihat.
"Halah. Paling juga ke warung kopi diujung jalan sana." Celetuk Khalil.
"Iya, sekalian nongkrong sama anak anak begajulan yang suka nongkrong disana. Kan sepadan itu." Imbuh Imam dengan sedikit tawa mengejek.
Budi hanya mengangguk tapi tak mengubah pandangannya.
"Tugas yang saya berikan ke kalian tempo hari bagaimana?" Tanya Budi kemudian.
"Beres." Sahut mereka sembari mengacungkan jempol.
"Pastikan pihak pengurus percaya kalau anak itu sendiri yang mengirim ke kepengurusan!"
Budi hanya mengangguk puas dan sedikit tersenyum sinis.
"Oh iya, Bud. Apa kamu masih yakin mau tetap deketin Ning Biba?" Tanya Khalil kemudian. Sontak membuat Budi melengos ke arahnya.
"Kenapa kamu tanya itu?" Ucap Budi kurang suka dengan pertanyaan Khalil. "Kamu jangan berfikir mau gantian deketin Ning Biba." Budi sedikit mendekatkan wajahnya ke Khalil. Imam hanya menelan ludah melihat itu.
"Bu... Bukan begitu, Bud. Kan setahun lalu kamu juga tahu Ning Biba sama sekali tidak merespon kamu waktu itu. Malahan Ning Biba terlihat dekat sekali sama Manan." Ucap Khalil mengingat kejadian satu tahun lalu.
Budi mengepalkan tangannya. Dia tampak kesal jika ingat kejadian itu.
"Santri songong itu." Ucapnya sembari meninju tiang masjid membuat Khalil dan Imam terlonjak kaget.
"Kali ini saya tidak akan membiarkan santri songong itu dekati Ning Biba. Apa sih istimewanya santri songong itu dibanding saya?" Ucap Budi kemudian.
Khalil dan Imam hanya diam.
"Kalian juga tahu sendiri. Lihat sendiri. Dibanding bocah tengik itu, jelas saya lebih unggul segala galanya kan?" Lanjut Budi.
__ADS_1
Khalil dan Imam hanya mengangguk.
"Prestasi di pondok jelas sudah tidak bisa diragukan lagi. Dia mana ada prestasinya. Mentang mentang paling lama disini. Bapakku, juga kalian tahu sendiri, bapakku pengusaha sukses di Surabaya, pabrik bapakku dimana mana. Lah, dia? Cuma anak bakul recehan. Mau bersaing kok sama saya." Budi terlihat sinis. " Dari bibit, bebet, bobot sudah bisa dilihat sendiri. Saya jauh lebih unggul dari si bocah tengik itu." Lanjut Budi tersenyum mengejek.
"Saya yakin kok, Bud. Ning Biba pasti akan milih kamu." Support Khalil.
"Pasti itu, Bud. Masa depan sudah jelas kalau sama kamu." Imbuh Imam.
Budi sedikit tertawa meski wajahnya terlihat masih kesal.
"Ini mumpung Ning Biba disini, Bud. Kamu apa tidak ada rencana untuk dekati lagi?" Tanya Imam kemudian.
"Tenang saja kamu. Saya sudah bicara sama bapakku. Semua akan diurus bapakku." Sahut Budi.
"Keren kamu, Bud." Puji Khalil.
"Ya jelas donk. Bapakku itu sangat berpengaruh. Tidak ada yang tidak mungkin untuk bapakku." Budi semakin menyombongkan diri.
"Kalian tunggu saja nanti. Ning Biba bakalan jadi Nyonya Budi." Budi tertawa lepas menutup ucapannya.
"Ya ya ya. Pasti itu, Bud. Pokoknya saya yakin, Bud. Ning Biba tidak akan mungkin menolak kamu kalau bapakmu susah bertindak." Timpal Khalil lagi.
"Oh ya jelas dong. Pasti itu. Apalagi saya ini pewaris tunggal bisnis bapakku. Calon boss besar ini." Budi menepuk nepuk dadanya sendiri.
"Ya asal nanti jangan lupa sama kita kalau sudah jadi boss." Sindir Imam.
Budi lagi lagi tertawa. "Kalian tenang saja. Nanti kalau saya sudah diwarisi semua perusahaan bapakku. Kalian akan saya dirikan pondok pesantren sendiri. Biar kita tetap bisa berbisnis bersama." Ucap Budi penuh kebanggaan.
Khalil dan Imam tersenyum merekah.
"Wah, benar itu, Bud?"
"Ya iya dong. Kalian meragukan saya?" Tanya Budi kurang suka dengan pertanyaan mereka itu.
"Tidak begitu, Bud. Kami sih percaya. Apa sih yang nggak mungkin bagi seorang Budi." Puji Khalil kemudian.
"Tapi emang kamu tidak ingin mendirikan pondok sendiri, Bud?" Imbuh Imam.
Tiba tiba Budi mendorong belakang kepala Imam. "Kamu ini bodoh apa pura pura bodoh sih?" Ucap Budi kemudian.
"Kalau nanti saya dapetin Ning Biba. Saya kan akan menjadi menantu satu satunya Kyai Aminudin. Otomatis pesantren ini akan diserahkan kepada saya sebagai penerus beliau." Lanjut Budi membuka kedua tangannya lebar lebar. Terlihat kebanggaan dari ucapannya itu.
__ADS_1
Bersambung...