
Sore ini selepas Azar, Ajimukti diantar Suko mengunjungi kediaman si pemilik rumah yang dikontrak Kyai Aminudin itu. Rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Gitun, hanya sekitar lima ratus meter. Dengan berjalan kaki pun, mereka hanya butuh kurang dari sepuluh menit.
Begitu melihat kedatangan Suko, seorang lelaki tua segera menghampirinya, ia nampak akrab sekali dengan Suko, itu mungkin karena Suko sempat lama mengontrak rumahnya.
"Sekarang kamu sudah sukses rupanya?" Tanya lelaki tua pemilik rumah itu ramah, sembari mempersilahkan mereka duduk.
Suko hanya tertawa, "Masih sama saja, Pak. Saya juga masih ngontrak."
"Tapi kan ngontraknya di rumah yang bagus. Bukan gubug kayak rumah kontrakan saya tho, Ko." Lelaki itu nampak merendah, sesekali ia terdengar mengatur nafasnya yang sedikit berat.
"Pak Sarno bisa saja." Suko tak kalah merendah. Ajimukti hanya mengamati obrolan mereka.
"Oh, iya, apa ini anak kamu, Ko?" Tanya lelaki tua bernama Sarno itu sedikit mengarahkan pandang ke arah Ajimukti.
"Bukan, Pak." Suko tertawa.
"Beliau ini, namanya Ajimukti, beliau putranya Kang Salim." Bisik Suko lirih ke telinga Sarno.
Sarno agak sedikit terkejut, "Benarkah? Benarkah sampeyan ini anaknya Salim?" Tanya Sarno beralih pada Ajimukti.
Ajimukti mengangguk ringan. "Benar, Kek. Saya memang putranya Pak Salim." Ajimukti membenarkan.
Sarno nampak geleng geleng kepala, "Jangan panggil 'kakek', kesannya kayak wong kutho, panggil kakung saja. Kakung Sarno." Ucap Sarno sembari menepuk pundak Ajimukti.
Ajimukti hanya kembali mengangguk.
"Iya, Kung. Kakung Sarno kenal bapak saya?" Tanya Ajimukti kemudian.
Sarno tertawa lebar membuat Suko dan Ajimukti mengerutkan kening mereka.
"Bukan hanya kenal, Le. Almarhum kakekmu dulu, Kang Idris. Semasa hidupnya banyak membantu saya. Makanya Salim bisa kenal Dasman juga karena dia sering mengunjungi saya kesini. Podo nakale, cocok." Ucap Sarno sembari tertawa mengenang waktu mudanya Salim.
Suko pun ikut tersenyum, ia tahu betul cerita itu. Cerita ketika Dasman yang sejak sekolah sudah sangat nakal dan sangat ditakuti, menantang Salim yang kebetulan lewat di gardu tempat biasa Dasman nongkrong dengan beberapa pemuda desa, namun akhirnya Dasman dan teman temannya di hajar habis habisan oleh Salim yang hanya seorang diri. Dan sejak saat itu Dasman justru berteman dekat dengan Salim.
"Terus ini ada perlu kesini? Pasti ada sesuatu, kan?" Tanya Sarno kemudian.
"Memang, Kung. Sebenarnya saya yang ada perlu dengan Kakung Sarno." Ucap Ajimukti menjawab pertanyaan Sarno itu.
Sarno mengerutkan kening, "Kamu, Le? Ada apa? Apa kamu sebelumnya sudah tahu kalau saya ini teman kakekmu?" Tanya Sarno sedikit menaruh rasa penasaran.
Ajimukti tersenyum, "Bukan, Kung. Kalau soal itu justru diluar dugaan saya."
"Lalu ada apa, Le?"
"Begini, Kung. Ini soal rumah yang dulu di kontrak Pak Suko ini." Ucap Ajimukti kemudian.
Sarno kembali mengerutkan keningnya. "Rumah itu? Emmm, sekarang rumah itu sudah di kontrak orang, Le."
"Saya tahu, Kung. Justru karena itu saya kemari menemui Kakung Sarno sebagai pemilik rumah itu." Sahut Ajimukti.
"Ada apa, Le? Kok saya masih belum paham." Sarno nampak tersenyum kebingungan.
__ADS_1
"Begini, Pak Sarno. Mas Aji ini ingin menawar rumah itu." Suko menengahi kebingungan itu.
Sarno sekali lagi mengerutkan keningnya, ia nampak terkejut.
"Maaf, Kung. Tapi itu hanya jika Kakung Sarno ingin menjualnya saja. Jika pun tidak, tidak apa apa, Kung." Ajimukti menambahi penjelasan Suko.
Sarno mengangguk paham. "Tapi, Le. Rumah itu masih ada yang ngontrak. Meski mereka hanya bisa ngontrak setengah tahun, tapi mereka baru berjalan kurang dari satu bulan ini, jadi masih ada lima bulan kedepan." Sarno kemudian menjelaskan.
"Iya, Kung. Saya pun tahu. Justru saya ingin menawar rumah itu untuk keluarga yang saat ini mengontrak rumah itu." Sahut Ajimukti kemudian.
Sarno kembali mengangguk ringan, "Jadi begitu, Le? Apa mereka ada ikatan keluarga dengan kamu?" Tanya Sarno sedikit ingin tahu.
"Tidak, Kung. Lebih tepatnya saya berhutang budi pada keluarga itu. Jadi saya ingin membalasnya." Jawab Ajimukti menerangkan.
"Ya ya ya, saya paham sekarang, Le. Lalu kamu menawar berapa untuk gubug itu?" Tanya Sarno sepertinya mulai mempertimbangkan tawaran Ajimukti itu.
Senyum Ajimukti mengembang, "Berapa pun yang Kakung Sarno minta. Saya bersedia membelinya. Bahkan dua kali lipat pun tidak jadi masalah, Kung. Yang terpenting untuk saya, saya bisa membalas budi saya pada keluarga itu." Ucap Ajimukti bersemangat.
Sarno tersenyum, "Sebentar saya ambil sertifikat rumah itu, Le." Ucap Sarno sembari berdiri dan melangkah masuk ke dalam ruangan, sepertinya itu kamarnya.
Suko dan Ajimukti saling pandang, mereka tidak menyangka bahwa Sarno akan menyetujui tawaran Ajimukti untuk membeli rumah yang di kontrak Kyai Aminudin itu.
Tak lama Sarno keluar membawa beberapa lembar dokumen.
"Ini, Le. Ini sertifikat tanah rumah itu." Sarno menyerahkan sertifikat itu pada Ajimukti.
"Tapi kita belum menentukan harga yang harus saya bayar, Kung." Ucap Ajimukti keheranan.
Mendengar itu baik Ajimukti maupun Suko terperanjat dan terkejut. Seketika mereka kembali saling melempar pandang. Bahkan Suko nampak menelan ludah.
"Tapi, Kung. Saya tulus ingin membeli rumah itu." Ajimukti meyakinkan Sarno.
"Lha, rumangsamu saya ini juga nggak tulus memberikannya padamu?" Sarno membalik kata kata Ajimukti.
"Sudah, Le. Jangan ditolak. Mungkin dengan ini saya pun bisa membalas budi atas semua yang sudah Kang Idris berikan pada saya dulu. Kamu terima Yo, Le." Sarno nampak memaksa.
Ajimukti nampak sungkan, ini tidak seperti yang ia harapkan.
"Saya harus bilang apa, Kung? Mungkin terima kasih saja tidak cukup untuk membalas semua kebaikan Kakung Sarno ini." Ucap Ajimukti kemudian.
Sarno tertawa, "Wis, nggak usah dipikirin, Le. Justru berkat kamu, jadi membuka kesempatan saya untuk menunjukkan rasa terima kasih saya pada semua yang Kang Idris berikan pada saya dulu." Sarno lagi lagi menyinggung soal kakeknya Ajimukti itu.
Ajimukti tak lagi mendebat, ia masih dengan sungkan menerima sertifikat tanah itu yang diberikan Sarno secara cuma cuma kepadanya. Suko pun masih tidak habis pikir dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Sementara itu Prastowo yang tak ikut dengan mereka, sedang sibuk mengantar pesanan ayam potong ke sebuah komplek perumahan yang cukup besar tak jauh dari pusat kota dengan sepeda motor roda tiganya. Sudah hampir setengah jam ia berputar putar di area komplek perumahan itu sebelum akhirnya menemukan rumah si pemesan ayam potong.
Prastowo menghentikan sepeda motor roda tiganya tepat di depan gerbang sebuah rumah yang cukup besar. Prastowo sepintas mengamati rumah itu, mungkin si pemesan memang orang yang berada, batin Prastowo.
Prastowo segera turun dari sepeda motor roda tiganya. Tak lama setelah ia memencet tombol bel, seorang laki laki paruh baya dari dalam gerbang nampak menghampirinya. Tak butuh percakapan lama, begitu tahu Prastowo datang mengantar pesanan ayam potong, orang itu pun segera menyuruh Prastowo membawanya ke dalam.
"Langsung turunkan disitu saja, Kang." Ucap laki laki itu pada Prastowo.
__ADS_1
Prastowo hanya mengangguk, lalu segera menurunkan ayam ayam itu dari bak sepeda motor roda tiganya.
Tepat disaat itu, seorang pria sedikit gemuk keluar dari dalam rumah, dilihat dari dandanannya sepertinya pria itu si pemikik rumah, ditambah laki laki yang menemuinya tadi nampak begitu hormat pada pria gemuk itu.
"Pesanan ayamnya sudah datang, Bos." Ucap laki laki paruh baya itu pada si pria gemuk yang dipanggilnya Bos itu.
"Saya sudah berikan uangnya pada Mbok Warsi." Ucap si Bos itu.
"Tumben pesan ayam sebanyak ini, Bos. Mau ada acara ya?" Tanya laki laki paruh baya pada si Bos nya.
"Ah, Kang Jo, ini hanya untuk saya kirim pada Kang Mas." Jawab si Bos dengan suara seraknya.
"Sebanyak ini, Bos?" Tanya laki laki paruh baya yang di panggil si Bos, Kang Jo itu.
"Saya hanya tidak ingin Kang Mas terlihat miskin di depan teman temannya." Sahut si Bos itu sedikit terdengar sombong.
"Nanti segera suruh Mbok Warsi masak, Kang." Perintah si Bos itu pada Kang Jo kemudian.
"Siap, Bos." Kang Jo terdengar sangat patuh pada perintah Bos nya itu.
"Oh, iya, sekalian. Bilang sama Mbok Warsi suruh membagi dua. Sisanya buat di rumah ini." Si Bos sekali lagi terdengar memberi perintah pada Kang Jo.
"Dua, Bos? Kok dua?" Tanya Kang Jo nampak terlihat penasaran.
"Iya, Kang Jo. Satu untuk Mbak Yu. Saya tidak ingin Mbak Yu di sana terkesan tidak saya urus. Bagaimana pun juga Mbak Yu itu kakak tertua saya." Jawab si Bos itu kemudian.
"Sekalian besok pagi Kang Jo antarkan ke tempat Mbak Yu. Yang untuk Kang Mas biar saya sendiri yang mengantarnya kesana." lanjut si Bos itu kembali memberi perintah.
"Baik, Bos." Sahut Kang Jo sedikit menundukkan kepalanya.
Tak lama si Bos itu nampak masuk kedalam mobil yang terparkir di halaman rumah dan setelah itu berlalu.
"Sudah semua, Kang." Ucap Prastowo begitu Kang Jo kembali menghampirinya.
"Baik, Kang. Tunggu sebentar saya ambilkan uangnya dulu." Kang Jo kemudian melangkah ke dalam rumah besar itu melalui pintu samping.
Tak lama Kang Jo pun sudah kembali lagi dari dalam rumah di ikuti seorang wanita. Dan wanita itu mungkin seumuran Sumiatun, istri Prastowo.
Kang Jo segera membayar semua ayam potong sesuai pesanan. Mbok Warsi, wanita yang keluar dari dalam rumah bersama Kang Jo pun segera membawa ayam ayam potong itu ke dapur untuk segera si masaknya.
Setelah menerima upah ayam potongnya, Prastowo pun segera kembali menaiki sepeda motor roda tiganya dan meninggalkan halaman rumah itu.
Sementara itu Kang Jo pun nampak membantu memindahkan ayam ayam potong itu ke dapur.
"Apa mau ada tamu, Kang?" Tanya Mbok Warsi penasaran dengan pesanan ayam potong yang cukup banyak itu.
"Tidak, Mbok. Ini nantinya mau di kirim ke Mbak yu sama Kang Mas nya Bos." Sahut Kang Jo menjawab rasa penasaran Mbok Warsi.
Warsi nampak tersenyum, "Bos Warsito itu, meski begitu, namun dia sangat memperdulikan Kang Mas juga Mbak Yu nya ya, Kang?" Ucap Warsi sejurus kemudian sembari masih memindahkan ayam ayam potong itu ke dapur.
Bersambung...
__ADS_1