BROMOCORAH

BROMOCORAH
Mas...!


__ADS_3

Sepulang Ajimukti, Dullah juga Sobri dari rumah Prastowo. Hujan kembali mengguyur kota itu membuat tanah yang siang harinya dibakar terik berubah menyebarkan aroma anyir.


Hingga dini hari hujan tak juga reda. Bahkan pagi ini, sisa sisa genangan air masih terlihat di antara jalanan jalanan berlubang juga cekungan tanah. Bau anyir tanah yang basah juga sesekali masih tercium sisa sisanya.


Di pinggiran jalan diantara lalu lalang kendaraan bermotor seseorang tengah berjalan menyusuri trotoar. Tak lama setelahnya ia berhenti di sebuah lapak kecil di pinggiran jalan itu. Seseorang itu hanya kemudian berdiri menyilangkan tangannya di dada sembari memandang seseorang lain yang tengah sibuk tawar menawar dengan seorang wanita paruh baya. Begitu wanita itu pergi, ia segera menghampiri si pemilik lapak itu.


"Sepertinya laris sekali. Saya perhatikan sejak tadi sudah beberapa kali ada pembeli yang mampir." Sapa seseorang itu pada si pemilik lapak.


Si pemilik lapak sedikit terkejut dengan sapaan yang tiba tiba itu. Ia kemudian menoleh ke arah sumber suara.


"Arya? Sejak kapan kamu disana?" Ucap Si pemilik lapak.


"Nyoman Nyoman. Sudah hampir setengah jam saya disini. Bagaimana kamu bisa tidak tahu?" Ucap seseorang bernama Arya itu.


Nyoman, si pemilik lapak hanya kemudian mengibaskan tangannya, "Jangan mengada ada kamu, Bli."


Arya hanya tersenyum, "Bagaimana kabar kamu?" Tanyanya kemudian.


"Beginilah. Seperti yang kamu lihat, Bli." Sahut Nyoman santai.


Arya mengangguk anggukan kepalanya, "Baguslah, saya lihat sudah mulai kelihatan hasilnya."


"Ada apa kamu tumben kemari, Bli?" Tanya Nyoman kemudian mengajak Arya ke gelaran tikar tak jauh dari lapaknya.


"Hanya kebetulan mampir saja." Sahut Arya sembari merogoh rokok di saku jaketnya.


"Oh, iya, Bli. Belum lama ini Aufa kemari bersama temannya. Ia sengaja mencari saya." Ucap Nyoman setelah itu.


"Anak itu." Arya sedikit tersenyum kecut.


"Ada keperluan apa dia kemari menemui kamu?" Tanya Arya kemudian.


"Yang pasti dia mencari kamu. Saya pernah memberi nomor kamu padanya. Tapi sepertinya nomor kamu ganti ya, Bli?" Tanya Nyoman setelahnya.


"Iya. Maaf tidak memberi tahu kamu." Sahut Arya singkat.


"Kamu tahu kenapa dia mencari saya?" Tanyanya kemudian.


"Entahlah, Bli. Yang pasti dia hanya kangen kumpul seperti dulu." Sahut Nyoman.


Arya hanya tersenyum kecut. "Itu saja?" Tanyanya setelah beberapa saat.


"Tidak, Bli. Ada hal lain." Sahut Nyoman lagi.


Arya mengerutkan keningnya, "Hal lain? Hal lain apa?"


"Dia sempat menawari saya untuk bantu bantu di pesantrennya." Sahut Nyoman lirih.


Arya menoleh ke arah Nyoman, "Lalu?" Tanyanya kemudian.


"Saya menolaknya." Sahut Nyoman singkat.


Arya tak melanjutkan pertanyaannya, ia hanya kemudian menghela nafasnya.


"Jika suatu saat dia kemari lagi dan menanyakan saya, katakan saja kamu belum bertemu saya." Ucap Arya setelahnya.


"Kamu menyuruh saya berbohong, Bli?" Tanya Nyoman.


Arya sedikit tertawa, "Saya tahu, kamu paling tidak bisa berbohong. Tapi untuk satu ini saja. Jika waktunya tiba, saya akan menemuinya sendiri."


Nyoman menggelengkan kepalanya, "Lagi pula, Bli. Kenapa kamu enggan menemuinya?" Tanya Nyoman sedikit merasa penasaran.


"Tidak apa apa, Bli." Sahut Arya singkat tanpa ekspresi.


Nyoman menatap tajam Arya membuat Arya sedikit terpojok dengan tatapan Nyoman itu.


"Kenapa kamu menatap saya seperti itu? Ada yang salah dengan saya?" Tanyanya kemudian pada Nyoman.


"Saya tidak yakin tidak ada apa apa?" Ucap Nyoman masih menatap tajam Arya.

__ADS_1


Arya kemudian membuang pandangannya, ia tahu pandangan Nyoman untuk memaksanya jujur kali ini.


"Saya ingin mengenali dunia ini, Man. Mengenali seluruhnya, bahkan lubang terkecilnya sekalipun." Bisik Arya lirih.


"Lalu hubungannya dengan kamu enggan bertemu Aufa apa, Bli?" Tanya Nyoman menyelidik.


"Dia itu ibarat pohon, dia itu kelapa, Man. Hampir semua yang ada padanya bermanfaat. Sementara saya?"


Nyoman menggeleng, "Lalu kamu iri, Bli?"


"Tidak begitu, Man. Saya hanya ingin bisa sepertinya dengan cara saya sendiri." Sahut Arya setelahnya.


"Biar dia dari dalam dengan kesabarannya, sementara saya, saya ingin menggempur di luar dengan kebebasan saya." Imbuh Arya.


"Tapi bukan berarti kalian harus kucing kucingan kan, Bli?" Tanya Nyoman kemudian.


"Ada masanya, Man. Seperti kata saya tadi." Sahut Arya, kali ini ada senyum mengiringi ucapannya.


"Ya ya ya terserah kamu saja lah, Bli. Tapi jika saya boleh menilai kamu, Bli. Kamu menganggap dia seperti halnya kelapa, tapi kamu adalah ganja di mata saya, Bli." Ucap Nyoman.


Arya sedikit mengerutkan keningnya. "Kenapa bisa begitu, Bli?"


"Selain perusak, kamu merasa tidak bermanfaat, tapi sebenarnya kamu itu sangat bermanfaat, Bli. Bukan maksud saya membandingkan. Tapi seperti kita tahu, kelapa tidak lebih mahal dari ganja." Lanjut Nyoman.


Arya tertawa, "Berhentilah memuji, Man. Itu hanya seperti olokan untuk saya."


"Saya tidak sedang memuji kamu, Bli. Tapi saya menyaksikannya sendiri." Balas Nyoman.


Arya menghela nafasnya.


"Saya tidak seberharga itu, Man." Ucapnya kemudian.


"Lebih bahkan, Bli."


"Ah, kamu, Man."


"Beri saya satu saja alasan kenapa kamu harus menghindari Aufa, Bli. Setelah itu saya tidak akan banyak bertanya lagi." Ucap Nyoman seolah tidak puas dengan jawaban Arya sebelum sebelumnya.


Nyoman tersenyum kecut menandakan bahwa memang ia tidak begitu saja bisa menerima alasan Arya sebelumnya.


"Karena dia adalah cucu tertua kakek saya." Ucap Arya kemudian berdiri dari duduknya.


Nyoman terperanjat, "Cucu kakek kamu? Apa maksudnya itu, Man?"


"Kamu meminta satu alasan dan berjanji tidak akan banyak bertanya kan, Man. Itu satu alasan yang bisa saya beri, saya harap kamu menepati janji kamu." Ucap Arya sembari menunduk menatap Nyoman.


Nyoman kini ikut berdiri. "Baiklah, untuk saat ini saya akan menepati janji saya. Saya tidak akan banyak bertanya. Tapi saya harap kelak kamu akan berterus terang pada saya, Bli."


Arya tersenyum, "Tidak ada kelak, Man. Jika kamu ingin tahu. Sabar dan tunggu sampai saatnya kamu tahu. Entah dari saya atau dari Aufa."


Nyoman sekali lagi menghela nafasnya.


"Saya permisi dulu, Man. Sekali lagi saya menitip pesan meski saya tahu kamu tidak pandai berbohong. Jaga rahasia pertemuan kita ini. Meski kamu tidak terbiasa berbohong, tapi saya tahu kamu amanah." Ucap Arya sembari menepuk pundak Nyoman.


"Kamu mau kemana, Bli. Bukankah kamu baru saja tiba. Apa akan pergi lagi? Tidak bisakah kita mengobrol lebih lama?" Ucap Nyoman berusaha menahan Arya.


"Meski singkat, sudah banyak yang kita obrolkan, Man. Simpan sisanya untuk pertemuan selanjutnya. Saya masih ada hal lain yang harus saya selesaikan." Sahut Arya setelahnya melenggang pergi.


"Hati hati kamu, Bli." Seru Nyoman.


Arya hanya melambaikan tangannya sembari terus melangkah.


"Cucu dari kakeknya? Apa itu berarti antara Arya dan Aufa ada hubungan darah? Apa mereka satu kakek?" Nyoman masih bergumam sembari menatap kepergian Arya yang kian menjauh darinya.


Sementara itu di Pondok Hidayah di waktu yang sama. Ajimukti sedang bersiap untuk keberangkatannya ke rumah Kyai Aminudin.


Prastowo sudah datang sejak setengah jam yang lalu, kini ia sedang bercengkrama dengan Dullah juga Ali di teras ndalem. Tak lama setelahnya, Anggoro pun terlihat datang meski hanya seorang diri.


Sementara Sobri, Manan, Khalil juga Imam terlihat sedang memasukan beberapa barang bawaan ke dalam bagasi mobil juga perlengkapan hantaran yang akan di serahkan pihak Ajimukti pada pihak Habiba.

__ADS_1


"Apa sudah siap semua, Mas?" Tanya Dullah beberapa saat kemudian sembari melirik jam di tangannya.


"Sudah, Lek. Sebaiknya kita berangkat sekarang." Sahut Ajimukti.


"Saya panggil Sibu dulu, Lek." Ucapnya kemudian sembari bergegas masuk ke dalam rumah.


Tak lama, Nyai Kartika nampak keluar beriringan dengan Sumiatun, di belakangnya ada Ajeng juga Nafisa.


"Kamu beneran tidak ikut, Nduk?" Tanya Sumiatun pada Ajeng.


"Tidak, Bu. Saya di sini saja menemani Nafisa. Lagian kami sudah lama sekali tidak bertemu. Banyak yang akan kita obrolkan." Sahut Ajeng setelahnya.


"Tapi bukankah Ning Biba sahabat dekat kamu, Nduk? Apa karena...?"


"Bu, sudahlah... Percaya sama Ajeng. Ini tidak ada kaitannya dengan semua itu. Ajeng menghargai Kang Sobri dengan semua niatnya. Ajeng sudah berangsur angsur melupakan itu. Ajeng sungguh sungguh hanya ingin menemani Nafisa saja, Bu." Saut Ajeng meyakinkan kegundahan Sumiatun.


"Baiklah, Nduk."


Tak lama setelah percakapan itu pun, rombongan Ajimukti berangkat meninggalkan halaman pesantren menuju ke kediaman Kyai Aminudin.


"Sepertinya ada yang saya tidak tahu ya, Jeng?" Tanya Nafisa setelah rombongan Ajimukti berlalu.


Ajeng hanya tersenyum, "Tidak ada yang kamu tidak tahu, Sa. Semua seperti yang kamu lihat."


"Sebaiknya kita mengobrol di kamar saya saja, Jeng." Ucap Nafisa kemudian mengajak Ajeng masuk ke dalam.


Saat itulah mereka berpapasan dengan Manan juga Sobri. Manan menundukkan kepalanya ketika menyadari ada Nafisa di hadapannya.


"Sebaiknya kalian bicara. Biar saya dan Kang Sobri temani kalian." Bisik Ajeng pada Nafisa.


"Tapi, Jeng." Sahut Nafisa.


Ajeng meraih tangan Nafisa, "Sudah, Sa. Saya sudah dengar dari Manan. Bicaralah kalian! Selesaikan masalah kalian."


Ajeng memberi isyarat pada Sobri. Sobri paham akan isyarat yang Ajeng berikan padanya itu. Ia hanya kemudian mengangguk lalu duduk di teras.


"Sebenarnya ada apa, Dik?" Tanya Sobri sedikit penasaran melihat Manan dan Nafisa.


"Nanti Mas juga akan tahu." Sahut Ajeng tanpa menoleh ke arah Sobri.


"Mas? Hmmm..." Sobri menyadari sesuatu.


Seketika wajah Ajeng memerah menyadari kekeliruannya.


"Maksud saya...."


"Sudah, tidak apa apa, Dik. Emmm, mungkin itu memang panggilan yang sampeyan khususkan untuk saya." Goda Sobri kemudian.


Ajeng hanya tersipu sembari menundukkan wajahnya.


"Apa sampeyan tidak nyaman saya panggil Mas?" Tanya Ajeng lirih setengah berbisik.


Sobri tersenyum, "Bagaimana sampeyan berpikir bahwa saya bisa tidak nyaman, Dik?"


"Bisa jadi karena... Emmm...."


"Jangan berprasangka yang tidak tidak, Dik. Dan jangan jadikan panggilan sebagai tolak ukur kenyamanan, karena saya nyaman bukan sebab sebuah panggilan, tapi karena sampeyan sudah membuktikan diri sampeyan sebagi perhiasan kelak untuk saya." Sahut Sobri.


"Seyakin itu, Mas?"


"Kenapa harus tidak yakin, Dik?"


Ajeng sedikit melirik ke arah Sobri meski tidak berani jika harus sampai memandang wajahnya.


"Khoiru mataa'id-dunyaa mar'atush-shaalihah, sebaik-baik hiasan dunia adalah wanita Sholehah. Bukankah begitu, Dik?"


Ajeng benar benar di benamkan dalam pujian Sobri terhadapnya itu.


"Panggilan Mas dari sampeyan untuk saya, sedikit membuktikan sampeyan menghormati saya lebih, Dik. Terima kasih nggeh."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2