BROMOCORAH

BROMOCORAH
Al 'ulamaa' Warotsatul-Anbiyaa'


__ADS_3

Paginya di Pondok Hidayah. Langit nampak cerah dengan sedikit awan putih menggantung di antara biru cerahnya. Matahari belum sepenuhnya bersinar, hanya biasnya yang samar samar mulai menjilat beberapa sudut tembok.


Ajimukti sedang duduk menikmati pagi di halaman masjid pesantren tempat biasa ia bersama Dullah bersantai saat Dullah masih berada di pesantren ini.


Belum lama Ajimukti berada di tempat itu, Sobri datang di susul Manan, Khalil juga Imam yang juga segera ikut duduk di bawah salah satu pohon di sana.


"Semalam kemana sampeyan, Kang?" Tanya Manan pada Sobri ketika mereka sudah duduk bersama.


"Cuma disini, Kang. Terus ngobrol sama Hexa." Sahut Sobri.


"Hexa?" Sahut Manan, Khalil juga Imam kompak.


Sobri hanya menganggukkan kepalanya.


"Ngobrol apa, Kang?" Tanya Manan sepertinya penasaran.


"Emmm, bukan apa apa, Kang. Hanya kalau saya lihat lihat anak itu sedang ada masalah. Semalam dia melamun waktu saya tegur." Ucap Sobri setelah itu.


Mendengar itu, Manan sedikit berubah pada ekspresi wajahnya. Ajimukti menyadari perubahan ekspresi wajah Manan itu, kemudian menepuk pundaknya. Manan hanya kemudian mengangguk saja.


"Sepi ya, Kang. Padahal kalau di Jogja saat saat seperti ini pasti ramai sekali." Ucap Ajimukti sedikit mengalihkan pembicaraan.


"Benar, Gus. Apalagi di alun alun." Sahut Sobri kemudian.


"Memangnya ada apa, Jik?" Tanya Manan sedikit penasaran.


"Grebeg Maulud, Nan. Sama sekatenan juga." Sahut Ajimukti di iyakan dengan anggukan Sobri.


"Iya, Kang. Setiap kali Grebeg Maulud digelar, ribuan orang tumpah ruah di halaman Masjid Besar Yogyakarta. Mereka rela berdesakan desakan di bawah terik sinar matahari yang sedang panas panasnya hanya untuk memperebutkan Gunungan yang bakal dibagi bagikan. Sebagian masyarakat Muslim di Jawa memang percaya bahwa grebeg bisa menjadi sarana ngalap berkah, Kang." Imbuh Sobri kemudian.

__ADS_1


"Wah, sepertinya ramai itu, Kang. Jadi penasaran saya." Sahut Khalil kemudian.


"Benar. Soalnya disini tidak ada. Cuma dengar kabar kaburnya saja. Aslinya belum sekali pun lihat." Imbuh Imam.


"Pol, Kang. Ramai bukan main. Karena setidaknya ada enam Gunungan dari hasil bumi yang dihadirkan dalam perayaan Grebeg Maulud. Empat di antaranya diarak dari Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat ke Masjid Besar Kauman, sedangkan dua Gunungan lainnya masing masing dibawa ke dua lokasi lain, yakni Kepatihan atau Kantor Gubernur DIY dan Istana Pakualaman." Sahut Ajimukti kemudian.


"Benar itu, Kang. Ya, perlu lah kalau senggang kita kesana." Imbuh Sobri setelahnya.


"Grebeg Maulud sendiri itu sebenarnya apa dan bagaimana sih, Jik?" Tanya Manan kemudian.


"Begini, Nan. Grebeg Maulud digelar untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Salallahu 'alaihi Wassalam atau Maulid Nabi. Tradisi ini bahkan telah terbukti menjadi salah satu cara jitu Wali Sanga dalam rangka syiar Islam di tanah Jawa sejak abad ke lima belas Masehi. Ini muncul berkat gagasan Sunan Kalijaga, Nan." Ajimukti sedikit menjelaskan setelahnya.


"Oh, jadi begitu ya, Jik. Berarti itu hanya ada di bulan Rabi'ul Awal saja, Jik?" Tanya Manan kemudian.


"Iya, Nan. Di Jogja juga di Solo masih nguri uri tradisi ini." Sahut Ajimukti kemudian.


"Istilah grebeg atau garebeg berasal dari kata gumrebeg, artinya riuh atau ramai, yang kemudian maknanya diperluas menjadi keramaian atau perayaan. Maka, setiap pelaksanaan tradisi grebeg disertai dengan arak arakan oleh barisan prajurit keraton yang diiringi dengan bunyi bunyian gamelan. Grebeg Maulud sendiri itu terangkai dengan Sekaten, Nan. Sekaten masih lestari sampai saat ini sebagai wahana hiburan rakyat. Pemaknaan Sekaten sendiri ada beberapa pendapat. Sekaten berasal dari istilah Sakati, yakni nama dua perangkat gamelan keraton. Dalam konteks dakwah Islam, Sekaten berasal dari kata syahadatain yang dipraktekkan Wali Songo sebagai asal usul proses pengislaman di tanah Jawa. Pada awalnya, Wali Songo adalah majelis keagamaan di Kesultanan Demak, Kerajaan Islam pertama di Jawa yang muncul menjelang keruntuhan Kerajaan Majapahit dan eksis pada perjalanan abad ke lima belas sekitar tahun 1475 Masehi sampai 1554 Masehi. Sekaten yang merupakan bagian dari perayaan Grebeg Maulud adalah gagasan Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga dengan jeli memaksimalkan tradisi sebagai sarana untuk mengajak masyarakat memeluk Islam. Kala itu, masyarakat Jawa masih banyak yang menganut agama Hindu, Buddha, atau kepercayaan lokal. Semula, Grebeg Maulud yang diprakarsai Sunan Kalijaga dilaksanakan dengan mengadakan tabligh atau pengajian akbar oleh para wali di depan Masjid Demak. Peringatan Maulid Nabi itu sekaligus juga menjadi ajang musyawarah tahunan para wali. Namun, Sunan Kalijaga rupanya sadar bahwa konsep semacam ini tidak cukup mampu menarik minat masyarakat yang mayoritas masih menganut ajaran lama untuk datang ke masjid, Nan. Maka, Sunan Kalijaga berinisiatif memasukkan unsur-unsur tradisi yang sudah sejak lama dikenal oleh orang Jawa. Nah, sejak itu mulailah digunakan gamelan dan tari-tarian yang berkembang di lingkungan keraton untuk meramaikan pelaksanaan Grebeg Maulud. Jadi tidak heran banyak pernak pernik yang notabene di anggap klenik dan alat ritual lainnya, karena memang semua berangkat dari tradisi." Jelas Ajimukti panjang lebar.


"Oh, jadi begitu ya, Gus?" Sela Khalil sembari mengangguk anggukan kepalanya seolah paham dengan apa yang di jelaskan Ajimukti itu.


"Benar, Kang. Pada Grebeg Maulud kala itu, di halaman masjid, ditempatkan seperangkat gamelan yang ditabuh untuk memancing perhatian warga. Kompleks masjid pun dihias dengan berbagai pernak pernik yang menyegarkan mata. Nah, dengan cara itu, otomatis orang orang jadi penasaran dan berbondong bondong menuju masjid milik Kesultanan Demak tersebut. Dengan memanfaatkan kerumunan dalam acara tersebut, para Wali tampil di depan podium secara bergantian. Mereka memberikan nasihat nasihat dengan tutur kata yang menarik, sederhana, dan komunikatif sehingga membuat masyarakat merasa senang mendengarnya." Imbuh Sobri setelahnya.


"Wah, sangat jauh dengan cara dakwah sekarang ya, Kang." Imam sedikit terkekeh.


"Benar, Kang. Dulu itu sing dijikuk atine disik. Lamun wis kecenthok atine, gampang mengolahnya. Jadi orang orang dulu itu nek tobat yo tobat tenan, seko kerentek atine dewe." Sahut Ajimukti kemudian.


"Benar sekali, Gus." Khalil menganggukkan kepalanya membenarkan.


"Karena dengan cara begitu, Kang. Orang orang yang pada awalnya masih malu malu diajak masuk ke kompleks masjid, akhirnya pun mulai ada rasa ketertarikan. Namun, ada tata caranya. Sebelum masuk, mereka harus melewati gapura dan dituntun untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, lalu diajari bersuci atau berwudhu. Dengan mengucapkan syahadat, maka orang itu sudah memeluk agama Islam. Luwes tapi terbukti, Kang. Nyatanya dari yang sepuluh persen menjadi sembilan puluh persen muslim." Lanjut Ajimukti kemudian.

__ADS_1


"Tepat seperti kata Gus Aufa. Hal ini menunjukkan Islam sebagai Rahmatan Lil 'alamin, bukan asal trabas dengan alih alih kebenaran dan tegaknya syariat. Karena jika di sebarkan dengan kekerasan, itu hanya akan membuat pandangan orang orang menjadi buruk mengenai Islam sendiri. Mereka hanya akan bilang, oh Islam itu seperti ini, oh Islam itu begini begini. Dan pada akhirnya, seperti kita tahu Islam selalu di pandang rendah sebagai momok berbahaya di sebagian wilayah karena berbagai aliansi dan organisasi yang menyalah gunakan Islam itu sendiri dengan alih alih seperti yang saya bilang di atas." Imbuh Sobri kemudian.


"Benar, Kang Sobri. Saya kadang juga ngelus dodo ketika melihat mereka yang mengaku muslim, mengaku penegak syariat, tapi kelakuan mereka, Naudzubillah. Merusak sana sini, membuat kekacauan dimana mana, mereka tak ubahnya preman bersurban." Imbuh Manan mengeluarkan uneg uneg nya.


"Yah, begitulah, Kang, Nan. Kalau mereka ngajinya hanya lewat media, lewat orang yang mereka anggap ustadz tapi tidak jelas sanatnya. Mereka gemar mengutip dalil demi mencari pembenaran, tapi mereka lupa bagaimana mereka mengenal Tuhannya. Seolah mereka pikir, agama datang serta merta tanpa pensiaran. Mereka tahu matenge ra mudeng nandure." Imbuh Ajimukti pula.


"Miris, Gus. Benar benar miris ketika asma Allah di gembar gemborkan dengan cara yang tidak manusiawi." Sela Khalil sembari gelengkan kepalanya.


"Itulah kenapa ada hadits Al 'ulamaa' warotsatul-Anbiyaa', Kang. Itu wujud Rasulullah nguwongke para para ulama, entah ulama setelah sepeninggal Rasulullah atau mutaqoddimin, yang hidup pada jaman sebelum Rasulullah. Itu kenapa? Karena dengan kita dekat dengan ulama, gondelan ulama, kita akan tahu mana baik mana buruk, mana salah mana benar, mana manfaat mana mudharat, Kang. dalam kitab At-Tobaqotil Kubro terdapat penjelasan makna Al 'ulamaa' warotsatul-Anbiyaa’ ini. Pertama, Al 'ulamaa' Sholihun. Kedua, Al 'ulamaa' Shodiqun seperti Syekh Abdul Qadir Jailani dan lain sebagainya, mereka memiliki tobaqoh tobaqoh yang luar biasa untuk membantu awam. Ketika awam gundah, mereka memiliki karomah untuk meyakinkan awam. Karomah tersebut, bagi sebagian orang mungkin dirasa tidak masuk akal. Dianggap melenceng, syirik, bid'ah dan musyrik. Itulah kenapa, Kang. Kita pun tidak bisa asal memilih guru. Cari guru yang sanatnya benar benar tembus sampai ke Rasulullah." Imbuh Ajimukti memberikan penjelasannya.


"Leres niku kata Gus Aufa. Guru itu yang bisa digugu lan ditiru. Kalau gurunya brangasan, kita berpotensi menjadi orang dengan watak keras. Tapi kalau gurunya ngalim, kita pun berpotensi ikut alim." Imbuh Sobri lagi.


"Beruntunglah kita yang sudah bisa dekat dengan ulama dan Kyai, Gus. Saya doakan njenengan kelak bisa menjadi seorang Kyai yang disegani." Ucap Khalil kemudian.


"Leres, Gus. Saya sarujuk sama Khalil." Imbuh Imam.


Ajimukti tersenyum, "Saya malah tidak berminat menjadi Kyai, Kang. Saya ingin menjadi seperti ini saja. Yang jelas hidup saya bisa saya manfaatkan untuk kebaikan, entah itu untuk diri saya sendiri atau untuk orang lain. Karena sekarang banyak orang mengkiyaikan diri mereka, lalu bagi masyarakat dianggap sebagai panutan. Padahal tidak semua Kyai itu ulama dan tidak semua ulama bisa disebut Kyai, Kang." Sahut Ajimukti setelahnya.


"Loh, kenapa memangnya, Gus?" Tanya Khalil lalu merasa keheranan dengan tanggapan Ajimukti itu.


Ajimukti menghela nafasnya, "Kiai atau Kyai bagi pemahaman orang orang Jawa adalah penyebutan untuk mereka yang dituakan atau dihormati, Kang. Baik itu berupa orang atau barang. Seperti kata saya tadi, tidak semua Kyai diartikan ulama, Kang. Meski kita tahunya Kyai itu ulama, seperti Simbah Kyai Hasyim Asy'ari, Simbah Kyai Wahab Hasbullah, Simbah Kyai Dimyati, dan lain sebagainya. Namun, Kang. Kyai juga sering kali penyebutan untuk benda benda pusaka, seperti misal keris Kiai Joko Piturun, Gamelan Kiai Gunturmadu. Bisa juga penyebutan untuk hewan, semisal kerbau Kiai Slamet, kuda Kiai Gagak Rimang. Bahkan penyebutan Kiai juga bisa untuk makhluk halus, seperti halnya Kiai Sapujagad yang diyakini sebagai penunggu Gunung Merapi." Jelas Ajimukti kemudian.


"Nah, Itu kalau di Jawa, lain lagi bagi masyarakat Banjar dan Kalimantan. Di sana, Kiai itu gelar bagi kepala distrik, kepala distrik itu kalau di Jawa disebut wedono. Lalu apa mereka ulama? Bukan, Kang. Karena untuk ulama sendiri, disana disebut Tuan, misalnya Tuan Guru, Tuan Penghulu, Tuan Khatib. Gelar ini berasal dari nama jabatan menteri pada Kerajaan Banjar. Pemerintah Hindia Belanda lalu mengalihkan nama ini untuk nama jabatan kepala distrik untuk wilayah Kalimantan. Semisal Kiai Masdhulhak, seorang kiai yang meninggal dalam pemberontakan Hariang, Banua Lawas, Tabalong, tahun 1937." Lanjutnya lagi.


Semua yang ada ditempat itu serempak mengangguk seolah paham betul dengan apa yang Ajimukti sampaikan pada mereka.


Tanpa mereka sadari, sejauh obrolan mereka itu, rambat rambat bias surya pun kini mulai menjamah hampir di seluruh tanah dibawahnya. Daun daun yang tadinya basah oleh embun semalam, kini mulai terlihat mengering karena terpaan terik panas matahari. Obrolan masih berlanjut, sesekali ada suara tawa yang terdengar menyelingi obrolan itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2