BROMOCORAH

BROMOCORAH
Sebuah Rencana


__ADS_3

Corak keemasan yang terlukis dalam jingga, menggiurkan pandang dalam senja kala. Angin lembut beraromakan harum padi menguning, mendayu-mendayu menghantarkan kesenduan. Menyenandungkan kidung dibalik awan senja. Berlantunkan denting-denting sepi yang membalut jiwa. Keindahannya mengisyaratkan kepedihan yang menyayat hati, menghiaskan kesepian dalam takjub indahnya.


Setidaknya itulah yang dirasakan seorang gadis yang tengah duduk termenung memandangi senja. Tiupan angin yang dingin membelai-belai wajahnya yang cantik. Memainkan serta jilbab panjangnya dengan indah. Ilalang yang menari di sekitar pun turut meramaikan keheningan dalam senja.


Gadis itu hanya diam menatap senja dengan tatapan kosong. Setiap sore, sekembalinya di kota ini, ia selalu habiskan waktunya untuk merasakan senja di bukit belakang pesantren. Baginya senja dan dia saat ini mempunyai kemiripan. Kesepian. Itulah yang difikirkan gadis berkulit putih bersih itu. Senja yang memancarkan kesepian dan dirinya yang selalu merasa kesepian. Entahlah, apa karena ia merasa kesepian lalu senja terlihat memancarkan kesepian pula baginya? Ataukah senja memang memancarkan kesepian setiap kehadirannya?


Perlahan senja mulai menghilang bersama mentari yang mulai tenggelam, menyisakan kegelapan yang dihiasi oleh gemerlap bintang. Gadis itu menengadahkan kepalanya menuju bintang-bintang yang terlihat indah. Namun sepertinya pikiran gadis itu lain.


“Mengapa semuanya terlihat sama?” Gadis itu bergumam. “Sepi” Tambahnya lalu mendengus.


"Habiba, kamu melamun ya?" Suara itu tiba tiba membangunkan kesadarannya. Sejenak menoleh ke arah suara dibelakangnya tak jauh dari tempatnya duduk menyendiri sejak beberapa saat yang lalu.


"Oh, kamu Ajeng. Ada apa?" Tanyanya seolah tidak ada apa apa.


"Kok malah tanya ada apa? Harusnya saya yang tanya, ada apa kamu melamun sendiri disini. Surup surup melamun kesambet entar." Seru Ajeng dari tempatnya. "Dipanggil dari tadi nggak nyahut." Imbuhnya.


Habiba hanya tersenyum pasi. Ia menyadari langit yang mulai gelap. Dengan sedikit malas ia pun beranjak menyusul Ajeng.


"Tuh, dengar. Sudah tarhim. Sebentar lagi Maghrib. E, malah melamun sendiri disini." Ajeng terdengar mengomel. Habiba tidak menyahut, dirinya hanya sekilas kembali tersenyum dengan senyum pasi yang menggurat di wajah ayunya.


Ajeng memang merasakan ada yang terlihat berbeda dari Habiba akhir akhir ini. Di berpikir mungkin saat ini Habiba sedang memikirkan soal Abahnya yang dilengserkan dari Pondok Hidayah oleh Ajimukti dan yang lainnya. Oleh karena itu Ajeng tidak ingin menanyakan apa yang dilamunkan Habiba saat ini. Dia takut itu hanya akan menyinggung sahabatnya itu.


Ajeng dan Habiba berjalan beriringan untuk kembali ke pesantren. Ajeng terus saja mencuri pandang ke arah Habiba yang lebih banyak diam.


"Mentang mentang lagi nggak sholat malah melamun lho kamu ini, Ba." Ajeng berusaha mencari kata yang tepat, setidaknya tidak bertanya apa yang dilamunkan Habiba saat ini.


"Saya nggak melamun lho, Jeng. Cuma lagi menikmati senja saja." Sahut Habiba dengan suara datar.


"Nggak melamun apaan. Wong saya panggil saja kamunya nggak menyahut kok." Ajeng mendebat.


Lagi lagi Habiba terlihat hanya sekilas melempar senyum ke arah Ajeng.


Sekembalinya mereka di dalam kamar. Ajeng segera meraih mukena untuk bersiap ke masjid pesantren. Sementara Habiba yang sedang berhalangan, menjatuhkan tubuhnya ke ranjang tempat tidur.


"Saya ke jamaah dulu, Ba. Kamu jangan balik melamun lagi lho. Nggak baik surup surup melamun." Pesan Ajeng kemudian.

__ADS_1


"Iya iya, Jeng." Habiba hanya menjawab dengan suara datar sembari memeluk bantal.


Ajeng hanya bisa menggelengkan kepalanya ringan melihat sikap Habiba itu. Dia cukup bisa memahami sahabatnya itu, tapi dirinya juga ingat akan pesan bapaknya juga Ajimukti sebelum dirinya berangkat pagi itu.


Ajeng terdengar sudah berceloteh bersama para santriwati yang lain yang juga akan melaksanakan sholat Maghrib berjamaah ke masjid pesantren. Habiba masih diposisinya yang tadi. Ia kini terlihat merogoh saku bajunya, mengeluarkan bross yang tidak pernah lupa ia bawa.


Habiba memandangi bross itu. Ada kebahagiaan yang selalu ia rasakan setiap kali memandang bross itu. Ada sosok yang membuatnya merasakan sebuah kerinduan yang terpancar dari balik benda kecil itu.


Suara adzan Maghrib sudah selesai berkumandang. Habiba beranjak dari rebahan nya, lalu kembali memasukkan bross itu kedalam saku bajunya. Ia kini berdiri dan melangkah, kemudian duduk di kursi plastik menghadap ke jendela. Di balik jendela adalah lahan luas yang biasa digunakan para santriwati untuk menjemur pakaian mereka.


Dihadapannya, langit membentang tiada batas. Luas, gelap, hitam, dan pekat. Namun semua tetap terlihat indah, tampak tersusun rapi dari buyaran bintang yang bersinar. Dipandang bercahaya dengan setiap kerlipan dari bentuk berbeda. Seperti sebuah harapan dan mimpi mimpi manusia laksana terkemuka. Semua tersenyum, bangga, bahagia bila melihatnya.


Dari tempatnya berada ia hanya bisa memandangi, begitu terasa kuasa Sang Pencipta. Tampak bias sinar bulan, menembus dedaunan hingga rumput yang ikut merasakan khidmatnya malam. Desiran angin, suara burung, dan binatang binatang kecil bagai okrestra merdu penyejuk jiwa, penawar dari setiap penat yang ada. Sedikit segar pikir dan rasa, menari bebas dengan lampu yang menerangi sudut sudut teras. Terbuai biusan awan yang masih menampakan wujudnya.


Sepi, tak hilir mudik yang berlalu. Renung, muhajadah diwaktu yang tepat. Mimpi, tatkala terlaksana besok. Harapan, indah didepan mata. Suara, tak sendiri menjalani semua. Angin, menyapu dingin bagi perasa. Langit, saksi hidup perjalanan manusia. Serta Syukur, bisa menikmati dunia dan alam semesta.


Habiba menyandarkan kedua tangannya di jendela, menopang dagunya dengan pandangan yang belum lepas dari hamparan gelap dan pekat namun terasa indah dilihat. Seberkas senyum tanpa permisi begitu saja melintas di benaknya. Senyum yang meski sudah lewat berlalu, namun masih begitu jelas dalam ingatannya. Senyum yang selalu mampu meneguhkannya dalam kerinduan. Senyum yang mampu menjaga konsistensi hatinya hingga sekuat seperti saat ini. Senyum yang entah kapan akan bisa ia nikmati lagi, membaharui senyum yang kini melekat kuat dalam ingatannya.


Habiba masih bertahan di posisinya. Suara rengekan serangga malam kini bersautan dengan samar samar suara mengaji para santri. Suaranya yang terbawa hembusan angin hampir terdengar seperti segerombolan lebah yang berdengung. Begitu terasa menyejukkan hati bagi siapa pun yang mendengarnya.


Asap rokok yang membumbung tinggi terlihat mengitari bias cahaya lampu, memberi kesan mendalam ketika dilihat dari kejauhan. Tatapan tatapan tajam hanya sekelebatan saja terlihat ketika tanpa sengaja mereka menggerakkan kepala hingga memperlihat kan wajah wajah mereka.


Salah satu lelaki berbadan sedikit gemuk dengan postur tubuh tidak terlalu tinggi duduk di hadapan salah seorang lelaki, karena posisi duduknya itu, membuat perutnya sedikit menggembung. Sementara lelaki dihadapannya dengan jaket kulit hitam dan bertopi seniman sesekali terlihat manggut manggut dan tersenyum menyeringai diantara kumis dan brewoknya yang tebal. Dibelakangnya berdiri seorang lelaki lagi dengan badan besar dan terlihat berotot, wajahnya pun terlihat garang memberi kesan menyeramkan bagi siapapun yang melihatnya.


"Jadi apa yang bisa saya bantu?" Ucap lelaki berjaket kulit itu antusias.


Lelaki gemuk itu segera mematikan rokoknya dan sedikit menegakkan posisi duduknya.


"Sepertinya tanpa harus saya jelaskan pun, sampeyan sudah bisa menebak kenapa saya memanggil sampeyan kesini." Ucap lelaki gemuk itu dengan senyum mengejeknya.


Lelaki berjaket kulit itu pun tertawa, kemudian membusungkan dadanya semakin menunjukkan keperkasaannya.


"Lalu siapa yang harus saya bereskan?" Tanyanya kemudian.


"Ini...!" Lelaki gemuk itu menyodorkan selembar foto pada lelaki di depannya.

__ADS_1


Lelaki berjaket kulit itupun meraih foto itu dan mengamati dengan seksama. Senyumnya kembali menyeringai lalu memasukkan foto itu ke dalam saku jaketnya.


"Hanya membereskan bocah ingusan. Apa susahnya?" Ucapnya mengejek.


"Pastikan tidak ada kesalahan!" Lelaki gemuk itu berpesan.


"Tenang saja, Bos. Anak buah saya saja cukup untuk memberinya pelajaran." Sahut lelaki berjaket kulit itu terdengar sombong.


"Terserah! Yang terpenting semua beres." Lelaki gemuk itu terdengar acuh.


"Tenang saja, Bos. Bos tinggal tunggu kabar baik dari saya saja. Asal bayaran cocok semua beres." Lelaki berjaket kulit itu sedikit berbisik mengucapkannya.


"Ini uang mukanya. Sisanya setelah semua urusan beres." Ucap lelaki gemuk itu sembari menyodorkan amplop coklat ke atas meja.


Lelaki berjaket kulit itu segera meraih amplop itu, membukanya dan menghitungnya.


"Bagaimana? Cukup?" Tanya lelaki gemuk itu sedikit melirik ke arah lelaki berjaket kulit.


"Tahu saja Bos ini. Ini sudah sangat cukup sebagai uang muka. Saya pastikan semua akan beres dalam waktu dekat, jadi saya bisa mengambil sisanya." Selesai bicara seperti itu, lelaki berjaket kulit itu kemudian tertawa.


"Dan pastikan! Kamu tidak menyebut nama saya! Kamu bisa kan?" Pesan lelaki gemuk itu kemudian.


Lelaki berjaket kulit masih tertawa, "Bos, tenang saja! Saya bukan anak kemarin sore yang baru terjun dalam urusan seperti ini. Saya pastikan saya bisa simpan dan jaga rahasia Bos. Tidak akan saya dan anak buah saya menyebut nama Bos." Ucapnya kemudian.


Lelaki gemuk itu hanya mengangguk ringan, lalu kembali meraih rokoknya. Setelah berbincang sesaat lelaki berjaket kulit itu kemudian berdiri dan pamit dari tempat itu.


"Baiklah, Bos. Karena semua sudah beres. Saya permisi dulu. Dan secepatnya akan saya kabari hasilnya." Ucap lelaki berjaket kulit itu kemudian.


"Saya harap dalam waktu dekat saya sudah mendapatkan kabar itu." Sahut lelaki gemuk itu ikut berdiri.


"Besok saya sudah akan mula bergerak dan menyuruh anak buah saya membereskannya, Bos." Ucap lelaki berjaket kulit itu penuh kepercayaan diri.


Lelaki gemuk itu hanya mengangguk. Tak lama lelaki berjaket kulit dan pengawalnya pun beranjak dari rumah itu. Lelaki gemuk itu hanya masih berdiri mengamati lelaki berjaket kulit itu masuk ke dalam mobil dan berlalu dari halaman rumahnya. Seketika senyumnya menyeringai seolah dia baru saja memenangkan sesuatu yang sangat besar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2