
"Setelah ini kami mau kemana, Bud?" Tanya Arya selepas Maghrib kala itu.
"Entahlah, Bang. Emmm, mungkin akan ke tempat biasa saja. Bang Arya sendiri memangnya setelah ini mau kemana?" Tanya Budi kemudian.
Arya tersenyum sembari memakai sepatunya di teras masjid tempat mereka mengikuti jama'ah Maghrib sebelumnya.
"Saya ingin pulang saja, Bud." Sahutnya singkat masih sembari mengencangkan ikatan sepatunya.
"Pulang? Emmm, bukankah kemarin baru saja dari rumah ya, Bang? Tumben sekali?" Tanya Budi sedikit keheranan.
Lagi lagi Arya tersenyum, "Iya memang, Bud. Tapi setelah saya pikir pikir ibu semakin sepuh. Butuh teman mengobrol sepertinya. Kamu juga sebaiknya pulang saja dulu, Bud. Bukankah sudah beberapa Minggu kamu tidak mengunjungi ibu kamu." Ucap Arya kemudian.
Budi hanya menghela nafas, "Saya hanya enggan kalau pada akhirnya saya lagi lagi dipaksa untuk membesuk bapak, Bang. Saya belum siap." Sahutnya dengan suara berat.
"Tidak baik begitu, Bud. Mau bagaimana pun juga beliau bapak kamu. Orang yang sangat menyayangi kamu." Ucap Arya kemudian.
"Tapi, Bang." Budi nampaknya berusaha menyangkal.
"Tidak ada tapi, Bud. Mau bagaimana pun juga beliau tetap harus kamu hormati. Kecil dibesarkan, apa iya setelah besar dan merasa bisa apa apa sendiri lalu kamu lupa. Jangan merasa kamu lebih baik, Bud. Meski bapakmu seperti itu, jika dibandingkan kebaikan kamu, tentu kebaikan kamu tidak ada seberapanya. Jika kamu tidak bisa terima perilaku bapak kamu, setidaknya terima fisiknya. Jika masih belum bisa, ingat kebaikan beliau kepada kamu selama ini. Dan lagi, Bud. Justru disaat seperti beliau butuh kamu. Jangan justru kamu lepaskan. Jika kamu anggap apa yang sudah beliau lakukan itu salah, dan kamu tahu itu salah, luruskan. Beri arahan. Jika dengan kamu telantarkan begitu, yang saya khawatirkan ke depannya, Bud. Bisa saja beliau bukan makin baik tapi justru sebaliknya, na'udzubillah. Bukan saya sok tahu Bud. Tapi lingkup penjara itu kejam, kalau kuat ya bisa jadi benar benar sebagai tempat perenungan dan penyesalan, tapi kalau lemah, bukankah hanya akan menjadi semakin menjadi." Ucap Arya panjang lebar.
Budi sekali lagi menghela nafasnya dalam dalam.
"Ya, Bang. Kamu benar."
"Selagi masih ada waktu juga kesempatan, Bud. Jangan sampai kamu kecewa pada akhirnya. Seperti ini saja kamu sudah sangat kecewa kan? Bagaimana jika sampai lebih dari ini?" Ucap Arya lagi.
Budi hanya kemudian mengangguk.
"Yasudah kalau begitu, kamu pikir baik baik ucapan saya tadi." Ucap Arya sembari bangun dari duduknya.
"Kita berpisah disini. Saya akan langsung kerumah, Bud." Lanjut Arya kemudian.
"Iya, Bang. Hati hati."
"Kamu yang harusnya hati hati. Hati hati mengendalikan hati, Bud." Ucap Arya setelah itu dengan seulas senyum tersungging dan setelahnya ia pun berlalu meninggalkan Budi sendiri di teras masjid itu.
Beberapa jam kemudian Arya nampak sudah berdiri di depan gerbang yang mulai berkarat. Sejenak pandangannya tertuju pada rumah di balik gerbang itu. Pintunya nampak terbuka dan tanpa pikir panjang, ia pun segera melanjutkan langkahnya.
"Assalamu'alaikum..." Ucap Arya sembari duduk di kursi yang terbuat dari anyaman ban bekas di teras rumah itu, juga sembari melepas sepatunya.
"Wa'alaikum salam... Ealah, kamu, Le. Ibu pikir tamu dari mana." Sahut wanita paruh baya dari dalam rumah itu.
Arya tak segera menyahut, ia masih sibuk melepas ikatan sepatunya.
"Tumben sekali habis pulang ini kok pulang lagi, Le? Ada apa?" Tanya wanita paruh baya itu dengan masih berdiri di ambang pintu.
"Ibu ini aneh, anak sering pulang di tumbenkan, lama tidak pulang di angan angan." Gerutu Arya kemudian menyandarkan punggungnya pada tembok rumah itu.
"Ya bukan begitu, Le." Sahut wanita paruh baya itu kemudian.
"Yasudah, Bu. Ibu masak apa? Arya lapar." Ucap Arya kemudian.
"Sayur lodeh sama sambel, ada ikan asinnya juga." Sahut wanita paruh baya itu kemudian.
__ADS_1
"Wah, pas kalau begitu." Arya segera berdiri meraih sandal jepit dan segera masuk ke dalam. Melihat tingkah Arya yang seperti itu, wanita paruh baya itu hanya kemudian tersenyum sembari menggelengkan kepala.
"Kebetulan kamu pulang, Le. Ada yang mau ibu sampaikan." Ucap wanita itu pada Arya di sela sela makannya.
"Pasti itu mengenai anaknya Pak Dhe itu ya, Bu?" Tebak Arya kemudian.
Wanita itu tersenyum, "Bukan, Le. Soal itu sekarang terserah kamu saja."
Arya mengangkat kepalanya, "Lalu soal apa, Bu?"
"Kemarin Angga bilang. Lusa nyewu nya Simbahmu. Kamu temani ibu ke rumah Pak Lek mu ya, Le." Ucap wanita itu kemudian.
"Oh, soal itu tho, Bu." Arya tak begitu memperhatikan ia hanya terus mengunyah sisa makanan di piringnya.
"Bisa kan?" Tanya wanita itu lagi.
"Insya Allah, Bu." Sahut Arya.
"Kalau hal baik itu, Allah bakal mengijinkan, Le. Tinggal kemauan orangnya saja." Ucap wanita itu kemudian.
"Tapi kan tetap semua Allah yang menentukan, Bu. Meski baik. Tapi jika Allah tidak menghendaki mau bagaimana lagi, Bu." Debat Arya kemudian.
"Memang, Le. Semua atas kehendak Allah. Tapi misal pada akhirnya tidak bisa karena sebuah hal yang mengharuskan tidak bisa, itu perkara lain. Tapi terkadang, orang dengan gampang bilang insya Allah sementara sebenarnya orang itu tidak punya kemauan. Ijin Allah itu bukan untuk main main, Le. Insya Allah itu artinya iya, bisa jadi tidak jika memang ada hal baik lain untuk menggantinya." Ucap wanita itu setelahnya.
Mendengar itu Arya sedikit menelan ludah.
"Jadi bagaimana bisa kan?" Tanya wanita itu mengulang.
"Yang ibu tanyakan bukan usaha kamu kok, Le. Yang ibu tanyakan bisa apa tidaknya." Wanita itu kian mendesak Arya.
Pada akhirnya Arya pun tak berkutik, "Iya, Bu. Iya."
Mendengar jawaban Arya itu, wanita itu kemudian tersenyum, "Nah, begitu kan jelas. Lagian Angga berharap sekali bisa bertemu kamu. Sama satu lagi, kamu kan belum kenalan sama kakaknya Angga kan? Ya, meski itu anak gawane Bu Lek kamu, tapi bagaimana pun juga kan sekarang kita sudah jadi keluarga, Le. Berarti kakaknya Angga juga keponakan ibu tho. Adik kamu juga."
"Oh, iya, sampai lupa, Bu." Sahut Arya sembari cengengesan.
"Ibu sudah bertemu kakaknya Angga itu?" Tanya Arya kemudian.
"Sudah sekali. Dan nanti kamu jangan mikir neko neko waktu bertemu kakaknya Angga. Meski penampilannya seperti itu tapi sekarang dia sudah ndalan. Dia juga ngaji katanya." Ucap wanita itu kemudian.
"Penampilannya seperti itu? Maksudnya bagaimana itu, Bu?" Tanya Arya nampak penasaran.
"Ya nanti kamu akan tahu sendiri, Le. Yasudah dilanjut makannya, ibu mau isah isah dulu." Ucap wanita paruh baya itu pada Arya dan setelahnya beranjak dari ruang makan itu.
Sementara itu di tempat lain.
Budi nampak berdiri mematung di luar gerbang sebuah rumah yang cukup megah dengan pagar tembok tinggi. Beberapa kali ia nampak menghela nafasnya. Ia ragu untuk sekedar menekan bel yang menempel di samping gerbang tempatnya berdiri.
Pada akhirnya Budi mengurungkan niatnya. Ia memutar arah langkah kakinya setelah sebelumnya kembali menghela nafas untuk menenangkan gejolak hatinya.
Tepat disaat ia akan melangkah pergi, pintu gerbang terdengar terbuka, suara seseorang yang cukup dihafalnya menghentikan langkahnya saat ini.
"Kenapa tidak masuk, Bud? Sejak tadi berdiri disana apa tidak capek?" Ucap seseorang yang sesaat sempat mengagetkan Budi.
__ADS_1
"Bagaimana Pak Lek bisa tahu saya disini?" Tanya Budi kemudian.
Seseorang yang di panggil Pak Lek itu hanya tersenyum, "Kamu lupa bahwa di sudut gerbang itu ada kamera cctv?" Ucap lelaki itu kemudian.
Budi sekali menghela nafasnya dalam dalam.
"Ibu ada?" Tanyanya kemudian.
"Ada. Dan kamu sudah ditunggu di dalam. Sengaja Pak Lek yang menemui kamu." Ucap lelaki itu kemudian.
"Jadi ibu juga tahu saya kemari?" Tanya Budi setelah itu.
Lelaki itu hanya mengangguk pelan.
"Masuklah!" Ucapnya sembari mendahului masuk ke dalam rumah mewah itu.
Dengan berat Budi perlahan mengayunkan kakinya mengikuti lelaki yang di panggilnya Pak Lek itu.
"Kenapa kamu tidak mau masuk, Le? Kenapa harus Pak Lek mu Warsito menemuimu dulu baru kamu mau masuk?" Ucap seorang wanita yang langsung menyambut kedatangan Budi di ambang pintu.
Budi hanya terpaku, ia hanya kemudian meraih tangan wanita itu dan menciumnya.
"Dasar anak bandel." Gerutu wanita itu dengan suara berat lalu bulir bulir bening segera membasahi wajah wanita itu. Secepat kilat wanita itu segera memeluk Budi. Budi hanya bisa terpaku, ia ragu untuk benar benar membalas pelukan wanita itu.
Warsito yang melihat itu pelan pelan menepi dan melangkah meninggalkan keduanya.
"Apa kamu semarah itu sama bapakmu sampai sampai untuk bertemu ibu pun kamu enggan, Le?" Tanya wanita itu sembari melepas pelukannya.
"Maafkan saya, Bu." Ucap Budi yang kini mulai tidak lagi bisa menahan air matanya.
"Yasudah, pokoknya malam ini kamu harus menginap disini." Ucap wanita itu kemudian.
Budi tak menyahut, ia hanya sekilas melengkungkan bibirnya.
"Sekarang masuk dulu. Kita mengobrol di dalam." Wanita itu segera menuntun Budi masuk ke dalam rumah.
Untuk sesaat Budi sedikit ragu meski ia pun akhirnya menurut saja. Bayangan tentang kehidupannya dulu dengan cepat merangsek memenuhi benaknya. Tentang bagaimana kebahagiaannya di masa kecil yang selalu di manja bapak ibunya. Mengingat itu semua, Budi hanya bisa menghela nafas sembari menyeka air matanya yang tadi sempat membasahi pipinya.
"Cerita sama ibu, kemana saja kamu selama ini? Kenapa tidak pernah mau pulang ke rumah?" Tanya wanita itu sesaat setelah mengajak Budi duduk di salah satu sofa di ruangan yang cukup besar.
"Saya hanya mencoba membenahi diri saya saja, Bu." Sahut Budi lirih.
"Soal apapun itu, ibu mewakili bapak juga pribadi ibu sendiri, ibu minta maaf, Le. Tapi ibu harap, ibu berharap sekali, tolong, tolong jangan siksa ibu dengan cara kamu seperti ini." Ucap wanita itu kemudian.
"Sudahlah, Bu. Ibu tidak bersalah. Saya lah yang harusnya minta maaf. Saya terlalu egois juga terlalu lemah, terlalu kekanak kanakan untuk menerima setiap kenyataan yang jauh diluar dugaan saya." Ucap Budi sembari menundukkan wajahnya.
Wanita itu hanya kemudian mengelus elus kepala Budi. Nampak jelas kerinduannya pada anak semata wayangnya itu.
"Kapan kamu mau mengunjungi bapak, Le?" Tanya wanita itu setelah beberapa saat terdiam.
"Soal itu, biarkan saya atur sendiri, Bu. Setidaknya sampai saya benar benar siap." Ucap Budi kemudian kembali menghela nafasnya dalam dalam.
Bersambung...
__ADS_1