BROMOCORAH

BROMOCORAH
Penasaran


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


"Assalamu'alaikum..." Suara salam seseorang dari arah pintu menghentikan obrolan Ajeng dan Habiba sore ini. Habiba segera berdiri dan bergegas membuka pintu kamarnya.


"Wa'alaikumsalam..." Sahut Habiba sembari melangkah cepat dari tempat tidur ke pintu kamar.


"Oh, kebetulan kamu sendiri, Habiba." Ucap salah seorang santriwati pada Habiba begitu pintu kamar terbuka.


"Kamu di suruh ke kantor informasi, Ba." Sambungnya.


Kening Habiba berkerut, "Saya? Ada apa ya?" Tanya Habiba keheranan.


"Saya tidak tahu Habiba. Saya cuma di titipin pesan untuk menyampaikan ke kamu saja." Ucap santriwati itu lagi.


"Baik. Terima kasih ya." Sahut Habiba dengan suara lembut.


Tak lama santriwati itu pun berlalu.


"Siapa Habiba?" Tanya Ajeng penasaran.


"Wulan, Jeng." Sahut Habiba datar sembari membetulkan jilbabnya.


"Ada apa Wulan mencari kamu?" Tanya Ajeng makin penasaran.


"Nggak tahu, Jeng. Dia cuma menyampaikan pesan, saya di suruh ke kantor informasi gitu aja." Sahut Habiba.


"Yasudah sana kesana dulu ya, Jeng." Lanjutnya kemudian melangkah meninggalkan kamar.


Ajeng pun sedikit mengerutkan kening. Dia merasa ada sesuatu. Dia pun berpikir apa mungkin ini ada kaitannya dengan pelengseran Abahnya Habiba oleh Ajimukti itu. Jika memang benar, maka Ajeng harus pura pura tidak tahu seperti pesan Ajimukti dan Manan, sewaktu di perjalanan kesini tadi, untuk menjaga perasaan Habiba.


Begitu tiba di ruang informasi pesantren, seorang pengurus pesantren sudah menunggu Habiba.


Setelah mengucapkan salam Habiba pun di persilahkan masuk oleh pengurus itu.


"Ada apa ya, Kang?" Tanya Habiba pada pengurus itu sedikit menaruh rasa penasaran.


"Begini Habiba. Tadi ada yang mencari kamu kesini. Menanyakan apa kamu sudah datang kesini apa belum." Ucap pengurus itu sembari mencari sesuatu di laci mejanya.


Habiba kembali mengerutkan kening, " Siapa, Kang? Sampeyan tahu tidak namanya?" Tanya Habiba masih diselimuti rasa penasaran, karena selama nyantri tidak ada orang lain yang mencarinya selain Abah dan Uminya, juga Faruq.


Habiba sempat berpikir apa mungkin itu Faruq. Karena setelah pindah rumah pun Abahnya berpesan untuk tidak memberi tahu pihak Pondok Hidayah, itu berlaku juga untuk Faruq.


"Namanya Aufa. Katanya dia dari Pondok Hidayah milik Abahmu." Ucap pengurus itu kemudian.


Deg! Seketika jantung Habiba terasa berdetak lebih kencang. Tubuhnya mendadak terasa bergetar. Dia ingat betul, Aufa adalah nama tengah Ajimukti. Tapi untuk apa Ajimukti menemuinya, batinnya dalam hati.


"A...Aufa, Kang?" Tanya Habiba memastikan. Tatapannya kini sedikit lebih tajam.


Pengurus itu mengangguk pelan, "Apa kamu mengenalnya?" Tanya pengurus itu kemudian.


Habiba pun mengangguk, "I...iya, Kang. Beliau putra Kyai Salim Muthoriq." Jawab Habiba sedikit terbata.


Pengurus itu mengerutkan kening mendengar jawaban Habiba itu.


"Kyai Salim pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Hidayah sebelumnya?" Tanya pengurus itu memastikan.


Habiba mengangguk ringan.


"Pantas saja. Tutur bahasanya tadi begitu santun. Sama persis dengan Abahnya, Kyai Salim." Pengurus itu menggeleng kagum.


"Apa ada pesan yang beliau sampaikan, Kang?" Tanya Habiba kemudian.

__ADS_1


"Tidak ada. Hanya itu saja. Beliau hanya menanyakan apa kamu sudah datang apa belum. Tidak meninggalkan pesan apapun untuk disampaikan ke kamu." Ucap pengurus itu.


"Emmm, tunggu. Tadi beliau sempat meninggalkan nomornya. Apa kamu mau menghubunginya? Kamu bisa pakai HP saya." Lanjutnya kemudian.


Habiba berpikir sejenak. Sebenarnya ia pun penasaran ada perihal apa Ajimukti sampai jauh jauh datang kesini untuk bertemu dengannya.


"Terima kasih, Kang. Mungkin lain kali saja. Kalau sekarang tidak dulu saja." Ucap Habiba kemudian. Untuk sementara dirinya ingin menjaga amanah yang sudah Abahnya berikan padanya.


Pengurus itu hanya mengangguk.


"Mungkin hanya itu Habiba yang ingin saya sampaikan. Kamu bisa kembali lagi ke kamar kamu." Ucap pengurus itu kemudian.


"Baik, Kang. Terima kasih untuk informasinya." Sahut Habiba sebelum akhirnya meninggalkan ruang informasi itu.


Dalam hati Habiba masih bertanya tanya tentang ada apa sebenarnya. Ada keperluan apa Ajimukti ingin menemuinya disini.


Hatinya terus diselimuti berbagai pertanyaan. Dalam kondisi seperti itu, Habiba mengangkat sebelah tangannya, menatap gelang kaoka yang masih melingkar manis di pergelangan tangannya.


Cukup lama Habiba berdiri mematung sembari menatap gelang itu. Tiba tiba ingatannya kembali pada sore itu. Pada kejadian yang mengharuskannya keluar dari Pondok Hidayah. Bukan tentang Habiba yang harus meninggalkan Pondok Hidayah, tapi pada obrolan terakhirnya dengan Ajimukti saat itu.


Habiba tersenyum. Dia tak ingin mengira-ira tentang kedatangan Ajimukti ke pesantren ini untuk menemuinya itu ada tujuan apa. Tapi saat ini dia cukup mendapat jawaban. Entah benar atau tidak, Habiba hanya ingin menikmati jawaban yang sudah di dapatkannya itu untuk semakin menguatkan perasaannya pada Ajimukti.


Kumandang adzan Maghrib membangunkan lamunannya. Habiba segera bergegas kembali ke kamar. Di dalam kamar, Ajeng sudah bersiap untuk ke masjid pesantren, untuk melaksanakan sholat Maghrib berjamaah.


"Ada apa tadi Habiba?" Tanya Ajeng begitu Habiba kembali ke kamar.


"Nggak ada apa apa, Jeng. Emmm, cuma tadi ada titipan dari Abah." Ucap Habiba sedikit berbohong. Ia tidak ingin berterus terang dulu saat ini, mengingat Ajimukti kini bukan lagi santri seperti saat Habiba sempat bercerita pada Ajeng. Melainkan kini Ajimukti adalah pengasuh penerus Kyai Salim.


"Maafkan saya, Jeng." Batinnya kemudian.


Ajeng hanya mengangguk, lalu menghela nafas. Ajeng lega itu bukan soal kabar kepemilikan Pondok Hidayah sudah diganti Ajimukti, lebih tepatnya kembali ke pemilik sahnya.


Habiba dan Ajeng tak lagi meneruskan perbincangan itu. Mereka kini segera melangkah menuju masjid pesantren bersama beberapa santriwati yang lain.


"Kita sholat sekalian istirahat dulu, Kang." Ucap Ajimukti pada Sobri.


"Nggeh, Gus." Sahut Sobri santun.


"Kebetulan belum qomat, Jik. Kita bisa ikut jamaah sekalian." Timpal Manan.


"Iya, Nan. Yasudah kita ambil wudhu dulu." Ajimukti melangkah ke padasan yang tersedia di salah satu sisi masjid itu.


Selepas Maghrib berjamaah, Sobri menyandarkan tubuhnya di tiang teras masjid dan Manan terlihat buru buru karena sedang ada urusan di kamar mandi. Sementara Ajimukti sendiri masih wiridan di dalam masjid.


Tak lama Ajimukti pun keluar dari masjid dan segera menyusul Sobri.


"Manan mana, Kang?" Tanya Ajimukti begitu melihat Manan tidak ada disana.


"Kang Manan ke kamar mandi, Gus. Sepertinya kebelet." Sahut Sobri sembari sedikit tersenyum.


Ajimukti hanya tersenyum, mengangguk dan kemudian ikut duduk bersama Sobri.


"Sampeyan sepertinya menaruh hati sama Ajeng ya, Kang? Maaf kalau saya salah. Itu hanya dari yang saya lihat saja lho, Kang." Ucap Ajimukti kemudian.


Sobri sedikit tersentak dan seketika rona wajahnya memerah.


"Alah, njenengan itu lho, Gus. Ada ada saja." Sobri mencoba menutupi perasaannya.


"Tapi benar tho, Kang?" Ajimukti mendesak.


Sobri tak bisa berkutik. Sepertinya gerak gerik dan ekspresi wajahnya tidak bisa lagi ia tutup tutupi dari Ajimukti.

__ADS_1


"Tapi saya minder, Gus." Ucap Sobri sedikit malu malu.


Ajimukti tersenyum. "Apa perlu saya yang bilang sama Dik Ajeng, Kang?" Ucap Ajimukti kemudian sembari melirik ke arah Sobri yang tersipu.


"Wah, jangan, Gus. Saya belum siap." Sahut Sobri cepat.


Ajimukti tertawa, "Dewi bagaimana, Kang?" Goda Ajimukti kemudian, mengingat Sobri pernah di kejar kejar salah satu santriwati itu, bahkan santriwati itu pernah mengirimi Sobri sepucuk surat.


"Ah, mpun lah, Gus. Itu kan sudah lama berlalu. Masih ingat saja njenengan ini. Bikin saya malu saja." Sobri mulai memasang mimik cemberut.


Ajimukti tertawa, " Tapi iya lho, Kang. Tiap kali saya ingat itu rasanya pengen ketawa."


"Ah, njenengan niku, Gus Gus." Sobri nampak mulai malas jika membahas soal dirinya mendapat surat dari Dewi kala itu.


Tak lama Manan pun kembali.


"Sudah lega, Nan?" Tanya Ajimukti kemudian.


Manan hanya tertawa. "Lanjut lagi, Jik?" Ucapnya kemudian.


"Iya, Gus. Nanti biar tidak terlalu malam sampai pondoknya." Timpal Sobri.


Ajimukti hanya mengangguk kemudian berdiri di ikuti Sobri.


"Saya saja Kang yang bawa mobilnya. Kang Sobri istirahat saja." Ucap Manan kemudian.


"Tidak apa apa, Kang?" Tanya Sobri merasa tidak enak sama Manan.


"Sudah, Kang. Tenang saja. Lagian saya juga mau nyicipin naik mobil yang harganya selangit ini kayak apa. Siapa tahu nanti bisa ketularan." Manan sedikit berkelakar.


"Ah, kamu bisa saja, Nan." Ucap Ajimukti kemudian.


"Yasudah, Kang Sobri. Biar Manan saja yang nyetir. Awas saja kalau jalannya kayak siput. Bisa buat nyeplok telur entar bangkunya." Lanjut Ajimukti.


"Tenang saja, Jik. Patas pokoknya." Manan nampak bersemangat.


Mereka pun akhirnya melanjutkan perjalanan kembali ke Pondok Hidayah.


Langit sudah sepenuhnya gelap. Lampu yang masih jarang jarang dari rumah rumah di pinggiran jalan menjadi hiasan tersendiri malam ini.


Manan terus memacu gasnya di balik kemudi, menembus jalanan gelap dan sedikit mulai berkabut. Kepalanya terlihat mengangguk angguk mengikuti irama musik yang di putarnya. Mulutnya pun terlihat umak umik menirukan senandung yang mengalun merdu, sama halnya seperti Ajimukti dan Sobri yang juga terdengar ikut bersenandung mengikuti salah satu Sholawat yang diputar Manan itu. Sholawat Asnawiyyah, Sholawat Karangan KH. Raden Asnawi dari Kudus itu pun menemani perjalanan mereka malam ini.


Yaa Robbi Sholli 'alarrosulli muhammadin sirril 'ula...


Wal Anbiya Wal-mursaliinal ghurri khotman awwala...


Yaa Robbi nawwir qolbana...


Bi nuuri qur’aanin jalla...


Waftah lanaa bidarsin aw...


Qiroatin turottalaa...


Warzuq bifahmil anbiyaa...


Lanaa wa ayya mantalaa...


Tsabit bihi iimananaa...


Dunia waukhron kamila...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2