
"Besok kamu sudah siap kan untuk mengantar Nak Aji?" Tanya Kyai Aminudin sesaat setelah selesai menyimak sorogan para santri pagi ini.
"Insya Allah, Pakdhe. Semua persiapan untuk besok juga sudah siap. Tapi mohon maaf Pakdhe sepertinya Gus Ali tidak bisa ikut mengantar Ajimukti besok." Jawab Faruq sembari berjalan mengiring Kyai Aminudin ke arah ndalem.
"Iya saya tahu. Semalam Ali juga sudah ijin sama saya." Ucap Kyai Aminudin. "Lantas siapa yang akan menemanimu besok? Apa kamu ada saran?" Lanjut Kyai Aminudin.
"Mohon maaf, Pakdhe. Kemarin Habiba bilang ingin ikut. Sekalian jalan jalan katanya. Karena kan sudah lama dia tidak keluar pondok." Sahut Faruq.
Kyai Aminudin menoleh kearah Faruq. "Habiba mau ikut mengantar Nak Aji besok?"
"Iya, Pakdhe. Mungkin belum bilang saja sama Pakdhe." Ucap Faruq kemudian.
Kyai Aminudin kemudian menepuk pundak Faruq. "Baiklah kalau memang dia mau ikut. Biarkan anak itu sedikit dapat suasana luar."
"Iya, Pakdhe."
"Saya titip Habiba. Awasi dia. Karena seperti yang kamu tahu dia tidak pernah sekalipun keluar kemana mana." Ucap Kyai Aminudin sembari melangkah memasuki teras ndalem dan kemudian duduk di sofa di ikuti Faruq.
"Pakdhe tenang saja. Saya pastikan Habiba baik baik saja." Ucap Faruq sesaat setelah ikut duduk di sofa.
"Tapi, Pakdhe. Ada hal yang ingin saya tanyakan." Ucap Faruq kemudian.
Kyai Aminudin sedikit menoleh ke arah Faruq dan sedikit menurunkan kacamatanya. "Soal apa?"
"Ini mengenai Habiba, Pakdhe."
Kyai Aminudin kini benar benar menatap tajam ke arah Faruq yang duduk di hadapannya. "Habiba? Ada apa dengan Habiba, Ruq?"
Faruq terlihat menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya pun kuat kuat.
"Saya dengar dari Habiba, tentang..." Faruq sejenak menghentikan ucapannya. "Tentang rencana Pakdhe untuk menjodohkan Habiba dengan Budi."
Kyai Aminudin mengangguk ringan, "Lalu?" Tanyanya datar.
"Menurut saya, apa itu tidak terkesan buru buru, Pakdhe? Maaf kalau saya lancang." Ucap Faruq kemudian.
Kyai Aminudin entah kenapa justru tertawa membuat Faruq tidak paham maksud dari sikap Kyai Aminudin itu.
"Terburu buru katamu?" Kyai Aminudin semakin tertawa lantang.
"Dengar baik baik, Faruq. Kamu tahu Budi itu siapa? Oh ya, biar saya kasih tahu. Budi itu anak konglomerat. Bapaknya Budi pengusaha sukses. Dan kamu tahu apa artinya?" Kyai Aminudin menatap tajam Faruq. Sementara Faruq hanya tersenyum pasi.
"Semakin cepat Habiba dijodohkan dengan Budi. Akan semakin cepat keuntungan untuk pesantren ini. Coba kamu bayangkan Faruq. Belum apa apa, Pak Nugroho bapaknya Budi sudah siap untuk mendanai pembangunan pondok putri yang baru." Kyai Aminudin menegakkan posisi duduknya.
Faruq hanya bisa mengusap usap dahinya. Rasanya percuma dia bicara pada Kyai Aminudin saat ini.
"Tapi Pakdhe. Saya hanya kasihan dengan Habiba." Ucap Faruq mencoba sekali lagi meski ia tahu ini percuma saja.
"Kasihan katamu? Dengarkan Pakdhe mu ini ngomong ya! Dengar baik baik! Habiba kehidupannya akan jelas sangat terjamin jika dia menjadi menantu Pak Nugroho. Apalagi kamu tahu, Faruq. Budi itu anak semata wayang Pak Nugroho yang pada akhirnya akan mewarisi seluruh bisnis bisnis Pak Nugroho." Ucap Kyai Aminudin lantang.
"Tapi apa itu bisa menjamin kebahagiaan Habiba, Pakdhe?"
"Oh ya jelas."
Faruq hanya geleng geleng kepala. Sepertinya memang benar kata Habiba, Kyai Aminudin, Pakdhe nya, sudah bukan seperti Kyai Aminudin yang dulu. Bahkan seperti orang lain.
"Yasudah kalau begitu, Pakdhe. Saya permisi dulu." Ucap Faruq kemudian seraya berdiri. Karena baginya percuma bicara panjang lebar dengan Kyai Aminudin saat ini.
"Hmmm, pergilah! Dan bilang sama adikmu itu. Dia harusnya senang karena ada lelaki dengan bibit bebet bobot yang jelas, mau sama dia." Ucap Kyai Aminudin sembari mengulurkan tangan saat Faruq menyalaminya.
"Faruq hanya berharap kejadian seperti yang terjadi di pesantren ini dulunya, tidak terulang, Pakdhe." Ucap Faruq seraya berlalu.
__ADS_1
Kyai Aminudin seketika melotot, menunjukkan ekspresi kemarahan yang luar biasa atas ucapan Faruq itu.
Baru saja Faruq meninggalkan teras ndalem Kyai Aminudin. Habiba sudah berdiri di pojokan sisi tembok arah keluar dari halaman rumah Kyai Aminudin.
Sesaat Habiba menatap Faruq. Pun dengan Faruq.
"Saya sudah berusaha bicara, Ba. Tapi untuk saat ini rasanya percuma." Ucap Faruq kemudian. Habiba mengerti itu.
Habiba menyandarkan tubuhnya ke tembok pembatas itu. Dari sorot matanya terpancar jelas sebuah kepedihan yang teramat dalam.
"Sudahlah, Mas. Mungkin memang jalannya harus begini." Ucap Habiba lirih dibarengi dengan ******* nafasnya yang berat.
"Kamu jangan menyerah, Ba. Serahkan semua pada Allah. Mas yakin, Allah punya jalan terbaik untuk kamu keluar dari semua ini." Faruq mencoba menenangkan kegundahan Habiba.
Tidak ada ekspresi apapun yang Habiba perlihatkan. Mungkin saat ini kata kata bijak sudah tak mampu untuk membuatnya tenang. Meski sedikit sekalipun.
"Soal besok, Mas sudah izin sama Pakdhe. Ya, Pakdhe mengizinkan kamu ikut." Ucap Faruq mengalihkan pembicaraan.
Untuk kali ini ekspresi wajah Habiba mulai sedikit nampak berbeda.
"Mungkin kita bisa bicara dengannya besok, dan Mas yakin, dia akan sedikit banyak membantumu keluar dari semua ini." Ucap Faruq lagi.
"Apa Mas yakin tidak apa apa?" Tanya Habiba sedikit lebih tenang.
"Maksudnya?" Tanya Faruq ingin tahu lebih dalam.
"Apa harus Habiba memulai lebih dulu? Apa itu tidak...." Habiba menghentikan ucapannya.
Faruq tersenyum. "Sementara Mas saja yakin, kenapa kamu justru ragu?"
Habiba menatap dalam dalam mata Faruq. Senyum yang mengembang itu akhirnya kembali bisa dilihat Faruq menghiasi wajah Habiba.
"Yasudah kamu masuk sana. Mas mau persiapan ngajar lagi." Ucap Faruq sembari mengusap kepala Habiba.
Sementara itu, di tempat Ajimukti berada saat ini.
"Raqqot 'ainaaya shawqon, wa li Thoybata dzarafat 'ishqon
Fa'ataytu ilaa habiibi, fahda' ya qolbu wa rifqon
Sholli ‘ala Muhammad..."
Senandung qasidah sedang mengalun indah dari musik player ponsel Ajimukti. Sementara pemiliknya hanya menyandarkan kepalanya di tempat tidur.
"Rencana besok gimana, Mas?" Tanya Dullah yang berada tak jauh darinya.
"Besok yang mana, Lek?" Tanya Ajimukti tanpa mengubah posisinya saat ini.
"Kompetisi itu, Mas." Terang Dullah.
"Oh itu," Kini Ajimukti mengangkat kepalanya, "Ya kata pengurus sih bakal dianter sama Gus Faruq juga Gus Ali, Lek."
"Oh, begitu ya." Dullah hanya mengangguk ringan.
"Kenapa, Lek? Mau ikut?" Tanya Ajimukti kemudian melihat ekspresi datar Dullah.
Dullah hanya tersenyum seolah Ajimukti tahu apa yang ada di pikirannya saat ini.
"Khawatir saja, Mas." Gumam Dullah kemudian.
Ajimukti menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Lek Dul tenang saja. Saya akan baik baik saja kok. Percayakan urusan besok sama saya, Lek." Ajimukti berusaha meyakinkan Dullah.
"Iya, Mas. Saya percaya dan yakin sampeyan pasti bisa mengatasi itu sendiri."
Ajimukti hanya tersenyum.
"Atau jangan jangan sampeyan ya Lek yang takut disini sendirian?" Celetuk Ajimukti kemudian.
Dullah mengerutkan keningnya.
"Takut sama siapa, Mas. Mbok ya sini suruh maju tak bikin bergedel orang itu." Ucap Dullah dengan ekspresi konyolnya membuat Ajimukti terbahak.
"Jangan begitu, Lek. Ingat! Sa...bar." Ucap Ajimukti menghentikan tawanya.
"Tapi kalau sudah sama trio senior itu kalau suruh sabar rasanya kok susah ya, Mas." Ucap Dullah sembari menggaruk garukkan kopiyahnya di kepala.
"Nah, itu tantangannya, Lek."
"Kalau nggak inget mereka itu seumuran Sobri. Uuuuu, udah tak piting piting tak untel untel tak masukin septictank, Mas." Dullah nampak kesal jika sudah bicara soal trio senior.
Lagi lagi Ajimukti tertawa, "Ya, masak seorang Lek Dul mau nandangi anak seumuran itu sih, Lek. Menang nggak gandang, Kalau kalah ngisin isini."
Dullah kini ikut tertawa.
"Tapi kalau njarak ya tak sikat, Mas." Ucap Dullah masih dengan tawanya.
"Salam olahraga dong, Lek."
"Salam olahraga pokoknya." Sahut Dullah sembari mengangkat tangannya yang terkepal.
Ajimukti lagi lagi hanya terbahak melihat ulah konyol Dullah.
"Ini malah saya nggak jadi ngantuk, Lek. Padahal lagunya udah pas, udah liyer liyer tadi itu."
"Wah, kalau sudah begitu artinya nganyari kopi lagi ini, Mas." Celetuk Dullah sambil berdiri meraih pemanas air.
"Lek lek. Tahu saja yang mantap mantap." Balas Ajimukti.
"Tapi ngomong ngomong Manan kok dari tadi nggak kelihatan kemana ya, Mas?"
Ajimukti hanya mengangkat bahunya, "Nggak tahu, Lek. Ya mungkin tidur kali."
Ditengah tengah perbincangan hangat Ajimukti dan Dullah. Tiba tiba pintu kamar samar samar ada yang mengetuk.
Dullah yang kebetulan berada didekat pintu segera membuka daun pintu kamar.
"Gus Faruq?" Seru Dullah tiba tiba. Ajimukti yang mendengar segera meraih ponsel dan mematikan musik player nya.
"Kang Aji ada, Pak?" Tanya Faruq kemudian.
"Nggih. Ada, Gus. Monggo silahkan masuk." Ucap Dullah seraya mempersilahkan Faruq masuk.
"Assalamu'alaikum, Gus." Ucap Ajimukti segera menyambut tangan Faruq.
"Wa'alaikumsalam, Kang Aji."
"Ada apa ini, Gus. Kok tiba tiba menyambangi kamar saya." Ucap Ajimukti seraya mempersilahkan Faruq duduk digelaran tikar.
"Kang Aji kiranya ada waktu tidak. Ada hal yang ingin saya bicarakan sama Kang Aji." Ucap Faruq kemudian.
"Iya, Gus. Kira kira ada apa ya, Gus? Apa soal besok itu?" Tanya Ajimukti sedikit penasaran.
__ADS_1
Faruq menggeleng ringan lalu sedikit mengguratkan senyum. "Bukan, Kang Aji. Ini lebih ke persoalan pribadi."
Bersambung...