
Faruq melangkah mendekati Ajimukti, kemudian meraih pundak Ajimukti.
"Beliau lah Gus Aufa bin Salim Muthoriq, Pakdhe." Ucap Faruq dengan kembali merekahkan senyumnya.
Kyai Aminudin meradang, lalu terbawa terbahak seperti kesetanan. "Berandalan ini yang kamu bilang penerus? Anaknya Kang Salim? Lucu sekali kamu Faruq."
Dullah yang sejak tadi memang sudah menahan marah dengan lantang segera mengacungkan telunjuknya ke arah wajah Kyai Aminudin, "Jaga bicara anda, Kyai."
Melihat tatapan tajam Dullah dengan mata yang penuh amarah, Kyai Aminudin sedikit memundurkan badannya. Seketika tubuhnya bergetar.
Ajimukti meraih sebelah tangan Dullah, mengisyaratkannya untuk tenang. Dullah pun segera menurunkan tangannya.
"Sudah, Gus! Sebaiknya anda bicara semua sekarang. Semua orang sudah menantikan saat saat ini." Ucap Faruq kemudian kepada Ajimukti.
Ajimukti menghela nafas, "Maaf Gus sebelumnya. Tapi dari mana Gus Faruq tahu panggilan saya di Jogja? Apa selama ini Gus Faruq memang sudah tahu?" Tanya Ajimukti sejurus kemudian.
Faruq tersenyum, "Sewaktu pemakaman Kyai Salim. Kebetulan saya dan Gus Ali yang mewakili pihak pesantren mengantar jenazah kesana. Seperti wasiat Kyai Salim, beliau ingin di makamkan di pesarean belakang Pondok Pesantren Fadhlun Muthoriq, Di Jogja tanah kelahirannya, dan biar dekat dengan Bu Nyai Kartika, katanya. Selepas pemakaman delapan tahun lalu, kebetulan saya dan Gus Ali menyempatkan bersilaturahmi dengan Bu Nyai Kartika, yang ketika itu berada di ndalem, saya melihat foto yang terpajang di dinding ndalem. Bu Nyai menjelaskan, bahwa foto itu adalah Aufa, putra semata wayang Kyai Salim. Sejujurnya saya tidak tahu kalau njenengan ini Gus Aufa itu sebelum akhirnya Gus Ali yang memberi tahu saya. Begitu, Gus." Ucap Faruq sedikit menundukkan kepalanya.
Habiba dan Nyai Sarah yang mendengar itu pun tersentak kaget hampir tidak percaya bahwasannya Ajimukti yang selama ini mereka tahu sebagai santri baru ternyata adalah putra Kyai Salim, Pengasuh Pondok Hidayah sebelumnya.
"Bagus sekali!" Kyai Aminudin tepuk tangan ringan mendengar cerita Faruq, membuat seluruh yang ada di teras itu mengarahkan pandang ke arahnya.
"Benar benar tidak tahu diri kamu, Faruq. Sama Pakdhe mu sendiri saja kamu berani menikam. Luar biasa." Kyai Aminudin nampak geram terhadap Faruq. Pandangannya benar benar penuh dengan kebencian.
"Maaf, Pakdhe. Sekai lagi maaf. Tapi kalau bukan karena saya sayang dengan Pakdhe. Saya tentu sudah membiarkan Pakdhe terjerumus semakin dalam. Tapi saya ingin Pakdhe bertaubat, menyadari kekhilafan Pakdhe." Ucap Faruq bersungguh sungguh.
"Simpan kata kata manis kamu itu, Faruq. Mulai sekarang, saya tidak akan menganggap kamu keponakan saya lagi!" Ucap Kyai Aminudin dengan nada tinggi sembari mengarahkan telunjuknya kearah Faruq.
Ajimukti yang merasa sudah saatnya berbicara, meraih lengan tangan Kyai Aminudin dan menurunkannya.
"Kyai, ingat! Wa man kaana yu'minu bil-lahi wal-yaumil-akhiri falyashil rahimah, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi. Maaf, Kyai. Bukan saya laduk. Tapi saya rasa sangat tidak pantas seorang yang menyandang gelar Kyai yang seharusnya menjadi panutan umat, berkata seperti itu." Ajimukti masih menyempatkan melempar senyum di wajah tenangnya.
"Siapa kamu berani ndalil di depan saya?" Kyai Aminudin menantang.
Ajimukti tersenyum, "Sebelum saya Kyai usir, saya hanya Ajimukti si berandalan dan hanya santri baru di pesantren ini. Tapi setelah saya Kyai usir, dan yang berbicara di hadapan Kyai saat ini adalah Ajimukti Aufatur Muthoriq bin Salim Muthoriq bin Idris Muthoriq bin Muthoriq." Sorot mata Ajimukti yang sebelumnya terlihat teduh, kini terlihat lebih tegas. Ada aura yang menakutkan dari sorot matanya itu.
"Selama delapan tahun saya hanya mengamati Kyai dari jauh. Tapi setelah banyak kabar yang saya terima tentang keserakahan Kyai yang mengatasnamakan pesantren, saya berpikir sudah saatnya saya mengambil pesantren ini dan mengembalikannya seperti apa yang bapak saya niatkan saat beliau membangun pesantren ini." Lanjut Ajimukti kemudian.
Kyai Aminudin menyeringai, sepertinya semua yang orang katakan itu masih saja belum membuatnya menyadari kesalahannya, "Omong kosong! Apa saya harus percaya begitu saja? Apa saya harus menyerahkan apa yang sudah menjadi hak milik saya?" Ucapnya kemudian.
Nyai Sarah yang sejak awal tahu ulah suaminya, kini mendekat kembali mendekat. "Abah, sudah. Benar apa yang mereka katakan. Semua ini bukan hak kita, Bah. Terima lah kenyataan ini. Abah harus sadar, Abah selama ini sudah salah jalan." Air mata Nyai Sarah tidak lagi bisa ditahannya.
"Diam kamu! Kamu tidak usah ikut campur!" Bentak Kyai Aminudin pada istrinya.
"Bahkan dengan istrimu pun kamu sekeji itu, Kang Amin. Apa masih pantas kamu menjadi panutan di pesantren yang dibangun dengan susah payah oleh Kang Salim ini?" Prastowo menimpali.
"Asal kamu tahu, Kyai Amin! Pesantren ini adalah amanah besar Kyai Idris Muthoriq yang di titipkannya pada Kyai Zaini Anwar untuk Kang Salim. Bagaimana Kyai Amin yang bahkan tidak pernah tahu asal usul semua itu mengaku ngaku berhak atas semua ini." Imbuh Anggoro sembari menghisap rokoknya.
"Abah, benar apa yang dikatakan Pak Anggoro dan Pak Prastowo! Sadarlah, Bah. Habiba sangat malu dengan semua kenyataan ini, Bah. Kembalikan semua ini pada yang berhak, Bah. Kepada Kang Aji, emmm, maksud Habiba, Gus Aufa." Habiba kali ini mulai ikut bicara sembari menenangkan Nyai Sarah yang sudah dibanjiri air mata, meski dirinya pun tidak bisa untuk tidak menangis.
Kyai Aminudin hanya terdiam. Posisinya saat ini benar benar terpojok. Semua orang sudah benar benar membuatnya tidak lagi bisa berkelit saat ini.
"Gus Aufa, saya benar benar meminta maaf untuk semua perbuatan Abah saya. Atas nama Abah saya, saya benar benar meminta maaf pada njenengan, Gus." Habiba tiba tiba saja duduk bersimpuh di bawah kaki Ajimukti.
"Bangunlah, Ning. Jangan begitu. Jauh jauh hari saya sudah memaafkan Kyai Aminudin. Saya sama sekali tidak membencinya. Saya hanya ingin Abah Ning Biba ini menyadari kekhilafannya." Ajimukti ingin membangunkan Habiba, tapi ia sadar itu sangat tidak pantas. Lalu ia memberi isyarat pada Faruq, Faruq tahu apa yang harus dilakukannya. Faruq pun segera meraih pundak Habiba dan berusaha membangunkannya.
Tapi seketika, Kyai Aminudin menepis tangan Faruq, "Jauhkan tangan kotor kamu dari Habiba." Gertak Kyai Aminudin pada Faruq sembari mengangkat tubuh Habiba.
__ADS_1
Setelah berdiri Kyai Aminudin mendorong tubuh Habiba, untuk Nyai Sarah segera meraihnya, "Abah!!!" Pekik Nyai Sarah.
"Keterlaluan kamu, Aminudin!" Dullah terlihat geram, tangannya mengepal sekuat tenaga. Tapi Ajimukti segera menenangkannya.
"Kenapa? Dia anakku! Sangat tidak pantas dia bersujud memohon di kaki berandalan ini." Kyai Aminudin sekali lagi mengarahkan telunjuknya ke arah Ajimukti.
Dullah tidak bisa lagi melihat itu. Tanpa memperdulikan Ajimukti, Dullah segera meraih tangan Kyai Aminudin dan memutarnya hampir mematahkan pergelangan tangan Kyai Aminudin.
Kyai Aminudin mengerang kesakitan.
"Sudah, Dullah hentikan!" Seru Anggoro kemudian.
"Biarkan saja, Ro. Biar dia tahu diri. Saya pun sejak tadi tida tahan dengan sikapnya yang tidak tahu diri ini." Prastowo ikut berujar.
"Sudah, Lek. Lepaskan!" Ajimukti meraih tangan Dullah.
Dullah mau tidak mau melepaskan tangan Kyai Aminudin. Nyai Sarah dan Habiba segera menghampiri Kyai Aminudin yang masih kesakitan itu.
"Maafkan saya, Ning Biba. Tapi saya hanya tidak lagi bisa melihat sikap keterlaluan Abah sampeyan ini." Ucap Dullah lirih pada Habiba.
Habiba tidak berkata apapun, dia menyadari kesalahan Abahnya. Jika dia diposisi Dullah pun, mungkin dia akan berbuat yang sama. Bagaimanapun juga, Dullah bahkan rela mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi Ajimukti.
"Gus, maafkan suami saya. Kami akan segera mengemasi barang barang kami dan meninggalkan pesantren ini." Ucap Nyai Sarah kemudian.
Kyai Aminudin meradang, "Apa kamu sudah gila? Apa yang kamu katakan? Sampai kapanpun saya tidak akan meninggalkan semua yang sudah susah payah saya dapatkan." Kyai Aminudin rupanya masih belum bisa menerima semua itu.
"Abah! Mau sampai kapan Abah tidak bisa menyadari semua kekhilafan Abah. Usir setan yang sudah merasuki hati Abah. Abah tidak layak mempertahankan yang bahkan bukan hak Abah!" Habiba meninggikan suaranya.
"Tutup mulut kamu!" Kyai Aminudin hampir menampar Habiba, dengan cepat Ajimukti menahan lengan Kyai Aminudin.
Kyai Aminudin menatap tajam Ajimukti dengan penuh kebencian.
"Jadi ini Habiba laki laki yang membuatmu tergila gila. Membuatmu selama ini menentang Abah. Bahkan dia tidak punya unggah ungguh kepada orang tua." Kyai Aminudin masih menatap tajam Ajimukti dengan seulas senyum menyeringai di bibirnya.
"Tidak pantas juga, orang seperti kamu dihargai, Kyai Amin! Bahkan kamu sendiri tidak bisa menghargai dirimu sendiri! Kamu sendiri yang membuat orang orang menunjukkan bahwa kamu memang tidak pantas dihormati!" Anggoro memekik dengan lantang.
"Kalau Abah memang masih bersikeras dengan pendirian Abah ini, silahkan! Tapi Umi juga Habiba akan tetap pergi dari sini. Ini semua bukan hak kita." Ucap Nyai Sarah yang sepertinya sudah tidak tahan lagi. "Ayo, Nduk! Kita kemasi barang barang kita." Nyai Sarah meraih pipi putrinya yang masih basah itu.
"Tunggu, Bu Nyai, Ning Biba!" Ajimukti menahan ibu dan anak itu, "Tetaplah tinggal disini!" Ucap Ajimukti kemudian.
"Tidak, Gus. Kami akan kembali ke rumah kami saja. Sudah cukup kami membuat kekhilafan. Kami tidak ingin lagi mengotori amanah leluhur pesantren ini." Ucap Nyai Sarah tulus, "Sekali lagi, atas nama suami saya, saya minta minta maaf yang sebesar besarnya, Gus!" Nyai Sarah menangkupkan kedua telapak tangannya.
"Apa yang kalian lakukan! Memalukan!" Kyai Aminudin masih bersikeras tidak mau mengakui kesalahannya.
"Kamu, Kyai Amin yang memalukan, bahkan istrimu pun meminta maaf untuk mu. Tapi lihat dirimu!" Anggoro melontarkan kata katanya kembali.
Nyai Sarah tidak lagi mengindahkan ucapan suaminya, juga ucapan Ajimukti yang berusaha menahannya. Kini dia bersama Habiba berlalu dan bergegas masuk ke dalam untuk berkemas.
Ajimukti tak bisa lagi menahan. Dia hanya kemudian mendekat ke Faruq.
"Bantu saya, Gus." Bisik nya.
Faruq mengangguk paham dengan ucapan Ajimukti. "Baik, Gus Aufa. Saya mengerti."
Faruq segera berlalu menyusul Nyai Sarah ke dalam rumah.
Begitu Nyai Sarah dan Habiba berlalu, Kyai Aminudin terduduk lemah dengan lutut sebagai tumpuan di lantai. Tangannya mencengkeram kuat sarung yang ia kenakan. Ali yang mencoba mendekati Kyai Aminudin.
__ADS_1
"Kyai, segeralah sadar akan semua kekhilafan Kyai ini. Jangan biarkan setan menguasai hati Kyai. Ingat Kyai. Kyai dan Abah saya adalah sahabat karib. Kyai sudah saya anggap pengganti Abah saya. Saya pun tidak ingin Kyai terus terperosok ke dalam lubang kenistaan seperti ini." Ucap Ali sembari mengelus pundak Kyai Aminudin.
Kyai Aminudin tertawa kecil, "Kalian semua benar! Saya cuma orang yang sok sok'an jadi penguasa disini. Sekarang silahkan jika kalian ingin menghukum saya. Saya sudah siap." Ucap Kyai Aminudin dengan nada tak bersalahnya.
"Jika kami mau, kami sudah sejak lama melempar mu, Kang Amin!" Seru Prastowo yang sebenarnya sudah sangat geram dengan sikap Kyai Aminudin.
"Lakukan saja! Lempar saya, Kang Prastowo!" Ucap Kyai Aminudin menantang.
Dullah yang benar benar sudah dipenuhi amarah sejak tadi ingin meraih Kyai Aminudin dan memberinya sedikit pelajaran, tapi lagi lagi Ajimukti menahannya.
"Bangunlah, Kyai. Masih ada kesempatan untuk Kyai mengakui semua kekhilafan Kyai itu." Ajimukti kini ikut berjongkok dan wajahnya tepat menghadap wajah Kyai Aminudin.
Ajimukti mengulurkan tangannya tapi Kyai Aminudin segera menepisnya. "Simpan rasa kasihan mu itu!" Ucapnya kemudian.
"Kamu sudah menang. Munafik! Kamu sebenarnya senang kan? Ingin menertawakan saya kan?" Sambungnya.
Ajimukti tersenyum, "Terserah apa yang Kyai pikirkan tentang saya." Ucap Ajimukti masih diposisi nya.
Dullah geram, "Dasar manusia berhati batu!"
Faruq kembali dari dalam rumah, Ajimukti segera berdiri menghampirinya.
"Sepertinya keputusan Budhe dan Habiba sudah tidak bisa ditahan, Gus." Ucapnya lirih.
Ajimukti menghela nafas, "Baiklah, Gus. Terima kasih."
Tak lama Habiba dan Nyai Sarah pun keluar dengan beberapa koper besar.
"Kalian mau kemana?" Kyai Aminudin meradang.
Nyai Sarah dan Habiba tidak menggubris ucapan Kyai Aminudin itu.
Ajimukti mendekat ke Habiba, "Ning, apa tidak sebaiknya Ning Biba tetap disini?" Ucapnya kemudian.
Dengan pipi yang masih sedikit basah dan mata yang sembab, Habiba mencoba tersenyum, "Saya sudah cukup dipermalukan Abah, Gus. Tidak pantas bagi saya untuk tetap tinggal disini."
Habiba merogoh saku di samping bajunya. "Ini saya kembalikan, Gus." Habiba mengeluarkan bross yang waktu itu pernah Ajimukti belikan untuknya.
"Simpan saja, Ning. Saya pun akan tetap memakai ini." Ajimukti menunjukkan gelang kaoka yang masih terpasang di pergelangan tangan kirinya.
"Tapi, Gus..."
"Biarkan Allah yang kelak menunjukkan jalan-Nya, Ning." Ajimukti melempar senyum.
Habiba pun tidak bisa lagi menyembunyikan senyumnya. Tangannya kini menggenggam kuat bross itu.
"Saya permisi, Gus." Ucapnya seraya masuk ke dalam mobil. Faruq pun segera ikut masuk kedalam mobil itu untuk mengantar Nyai Sarah dan Habiba kembali ke rumah yang sudah bertahun tahun mereka tinggalkan.
"Saya titip Ning Biba, Gus." Ucapnya pada Faruq sebelum masuk mobil.
"Sendiko, Gus. Saya pastikan Habiba akan baik baik saja."
Sebelum pergi, Nyai Sarah kembali mendekat pada Kyai Aminudin. Tanpa berkata apapun dan hanya berdiri di depannya. Kyai Aminudin hanya mendengus lalu berdiri dan berlalu masuk ke dalam mobil bersama istrinya.
Semua yang ada di teras itu kini bernafas lega setelah sekian lama, akhirnya Pondok Hidayah kembali pada pemilik sah nya.
Ajimukti masih berdiri mematung mengamati mobil Range Rovert Sport yang semakin jauh keluar dari halaman pesantren. Harusnya dia bisa tersenyum lega saat ini. Tapi nyatanya ada rasa yang mengganjal di hatinya.
__ADS_1
Ajimukti menghela nafas, lalu kembali ke teras ndalem.
Bersambung...