BROMOCORAH

BROMOCORAH
Tahlilan


__ADS_3

"Sudah kita bolos sehari kan juga tidak apa apa, Bli." Ucap Arya ketika itu pada temannya, Nyoman.


"Tapi, Bli. Itu tidak baik. Takut ah saya, Bli. Bli saja, saya tidak mau ikut ikut." Sahut Nyoman yang memang bernyali ciut pada Arya.


"Ah, kamu, Bli." Arya sedikit mencibir lalu mengibaskan tangannya.


"Kalian pasti mau bolos bandongan lagi ya tho?" Ajimukti yang tiba tiba datang dan mendengar obrolan Arya dan Nyoman segera menebak.


"Ah, kamu, Fa. Kalau mau ikut ayok, kalau tidak ya jangan berisik!" Ketus Arya setelahnya.


"Saya juga tidak berani, Bli. Takut kena ta'zir lagi saya." Sahut Nyoman dengan mimik wajah memelas.


"Ah, kamu, Bli. Cemen!" Arya mengarahkan jempolnya ke bawah pada Nyoman.


"Lagian kenapa sih, Ya? Kan kita tinggal duduk dan mendengarkan saja." Ucap Ajimukti kemudian.


"Ah, Riko osing paham, Fa. Isun pasti ngleker baen saben saben bandongan." Keluh Arya dengan dialek Banyuwanginya.


Ajimukti kemudian tertawa, "Siapa suruh kalau malam begadang, Ya Ya. Diuwel Pak Kyai, Kapok Riko."


"Iya, Ya. Nanti di marahi Pak Kyai lagi tahu rasa kamu, Bli." Imbuh Nyoman.


"Genengno baen. Isun arep golek jebeng baen nong pasar." Ucap Arya sembari menyeruput kopinya.


"Terserah Bli saja kalau begitu. Saya tidak ikut ikut." Sahut Nyoman.


"Iya, Ya. Kamu sendiri saja." Imbuh Ajimukti lalu ikut meraih gelas kopi.


"Itu kopi tiang, Bli." Seru Nyoman.


"Sak sruputan, Bli." Sahut Ajimukti sembari terkekeh.


Arya terlihat mulai menampakkan ekspresi kesal saat itu lalu berdiri dari duduknya dan berlalu tanpa berkata kata.


"Anak itu." Gumam Ajimukti menatap kepergian Arya sembari hanya bisa gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Sebenarnya Arya itu anak yang pandai, Bli. Sangat disayangkan sekali sikap keras kepalanya masih sulit di kendalikan." Ucap Nyoman sembari menepuk pundak Ajimukti.


"Benar, Bli. Tapi dengan dia begitu saja sudah sangat menguasai semua materi, apalagi jika dia lebih tekun, Bli. Emmm, kemungkinan dia kelak akan menjadi Kyai yang mumpuni." Puji Ajimukti kemudian.


"Lalu kita harus bagaimana, Bli?" Tanya Nyoman kemudian.


Ajimukti hanya kemudian menaikkan bahunya, isyarat bahwa ia pun tidak memiliki solusi saat ini.


Namun ketika kajian tiba, Ajimukti tidak terlihat kehadirannya. Nyoman memutar pandangannya ke segala arah, namun memang Ajimukti tidak ada disana. Ia pun yakin bahwa Ajimukti pastilah menyusul Arya.


Ketika Ajimukti menyusul Arya itu, Ajimukti melihat Arya yang sepertinya sedang berbicara dengan seseorang yang usianya lebih tua dari Arya beberapa tahun. Ajimukti hanya kemudian mengamati obrolan mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh, sehingga apa yang menjadi obrolan antara Arya dan orang itu bisa begitu saja terdengar oleh Ajimukti.


"Jadi menurut Mas Arya, bagaimana dengan tahlilan itu sendiri? Sejujurnya ya Mas, saya itu bimbang." Ucap orang itu dengan mimik wajah yang nampak gelisah.


Arya kemudian sedikit melengkungkan bibirnya.


"Tahlilan ya tahlilan saja, Lek. Soal bagaimana reaksi orang orang disekitar Lek Girin, itu hak mereka untuk berkomentar. Toh, selama tidak menyalahi aturan, kenapa juga harus memusingkan komentar orang, Lek." Sahut Arya masih dengan ekspresi yang belum berubah.


Lelaki bernama Girin itu hanya kemudian mengangguk.


"Tahlilan, sebagian kaum Muslimin menyebutnya dengan Majelis Tahlil, selamatan kematian, kendurinan dan lain sebagainya. Apapun itu, pada dasarnya tahlilan adalah sebutan untuk sebuah kegiatan dzikir dan bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Yang mana didalamnya berisi kalimat kalimat thayyibah,  tahmid, takbir, tasybih hingga sholawat, do’a dan permohonan ampunan untuk orang yang meninggal dunia, pembacaan al-Qur’an untuk yang meninggal dunia dan yang lainnya. Semua ini merupakan amaliyah yang tidak ada yang bertentangan dengan syariat Islam, Lek. Bahkan, merupakan amaliyah yang memang dianjurkan untuk memperbanyaknya." Lanjut Arya lagi.


"Jadi karena dibacakannya tahlil dalam acara itu maka disebut tahlilan, Mas? Begitu?" Tanya Girin dengan sangat polosnya.


Arya nampak tersenyum, "Benar, Lek Girin Istilah tahlilan sendiri diambil dari mashdar dari fi’il madzi Hallalla – Yuhallilu – Tahlilan, yang bermakna membaca kalimat Laa Ilaaha Illallaah. Dari sini kemudian kegiatan merahmati mayyit ini di namakan tahlilan, karena kalimat thayyibah tersebut banyak dibaca didalamnya dan juga penamaan seperti ini sebagaimana penamaan shalat sunnah tasbih, dimana bacaan tasbih dalam shalat tersebut dibaca dengan jumlah yang banyak, tiga ratus kali, sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Namun, masing masing tempat kadang memiliki sebutan tersendiri yang esensinya sebenarnya sama, sehingga ada yang menyebutnya sebagai Majelis Tahlil, Selamatan Kematian, Yasinan, Kenduri, Tahlil, dan lain sebagainya. Nah, Tahlilan sendiri sudah ada sejak dahulu, di Indonesia pun atau Nusantara pun tahlilan sudah ada jauh sebelum munculnya aliran yang kontra, yang mana tahlilan di Indonesia di prakarsai oleh para ulama seperti Walisongo dan para da’i penyebar Islam lainnya. Tahlilan sebagai warisan Walisongo terus di laksanakan oleh masyarakat muslim hingga masa kini bersamaan dengan sikap kontra segelintir kaum muslimin yang memang muncul di eraera di belakangan. Dalam hal ini, setidaknya ada beberapa hal pokok dalam tahlilan yang harus diketahui, Lek. Sebab kadang sering dipermasalah. Nah, untuk mempermudah memahami masalah ini yakni amaliyah amaliyah masyru’ yang terdapat dalam tahlilan. Maka, bisa kita cari dalilnya, Lek. Kan sekarang sedang marak sedikit sedikit dalil untuk pembenaran." Lanjut Arya nampak sedikit tersenyum kecut. Girin pun kemudian mengangguk anggukan kepalanya.


"Lalu apa saja dasar penguat itu, Mas?" Tanya Girin kemudian.


"Pada dasarnya, tahlil itu kan mengirimkan do'a untuk orang orang yang sudah mendahului kita kan, Lek? Nah, berkaitan dengan do’a, hal ini tidak begitu dipermasalahkan, sebab telah menjadi kesepakatan ulama ahlus sunnah wal jama’ah bahwa do’a sampai kepada orang mati dan memberikan manfaat bagi orang mati. Begitu banyak dalil yang menguatkan hal ini. Diantaranya dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’alaa telah berfirman dalam surat al-Hasyr ayat yang ke sepuluh, Lek. Disana dikatakan, dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Mereka yang dimaksud itu kaum Muhajirin dan Anshar. Nah, mereka berdoa, Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang orang yang beriman, Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. Nah, jelas sekali kan, Lek. Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’alaa memberitahukan bahwa orang orang yang datang setelah para sahabat Muhajirin maupun Anshar, mendo’akan dan memohonkan ampun untuk saudara saudaranya yang beriman yang telah wafat atau mendahului mereka sampai hari qiamat. Mereka yang dimaksudkan adalah para tabi’in, dimana mereka datang setelah masa para sahabat, mereka berdoa untuk diri mereka sendiri dan untuk saudara mukminnya serta memohon ampun untuk mereka." Jelas Arya kemudian.


"Jadi begitu ya, Mas?" Gumam Gurun masih sembari mengangguk anggukan kepalanya.


"Benar, Lek Girin. Selain itu, Lek. Dalam Surat at-Taubah ayat yang kesepuluh pun dijelaskan, dan mendo'alah untuk mereka, sesungguhnya do'a kamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka. Dalam sebuah hadits juga Rasulullah bersabda, Lek. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pada malam hari yaitu keluar pada akhir malam ke pekuburan Baqi’, kemudian Rasulullah mengucapkan Assalamu’alaykum dar qaumin mu’minin wa ataakum ma tu’aduwna ghadan muajjaluwna wa innaa InsyaAllahu bikum laa hiquwn, Allahummaghfir lil-Ahli Baqi al-Gharqad. Ini salah satu ayat dan hadits yang menyatakan bahwa mendo’akan orang mati adalah masyru’, perkara yang disyariatkan, dan menganjurkan kaum muslimin agar mendo’akan saudara muslimnya yang telah meninggal dunia. Banyak ayat ayat serupa dan hadits hadits yang menunjukkan hal itu jika kita mau mengkajinya, Lek." Jelas Arya masih terus memberi pengertian pada Girin.


Ajimukti yang diam diam menyaksikan bagaimana Arya memberi penjelasan pada Girin, merasa kagum dengan wawasan Arya yang begitu luas itu. Dia masih terus memperhatikan bagaimana Arya yang masih terus juga memberi penjelasannya pada Girin.

__ADS_1


"Ulama besar madzhab Syafi’iyah yaitu al-Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar pun menyebutkan hal serupa, bab perkataan dan hal hal lain yang bermanfaat bagi mayyit, ‘Ulama telah ber-ijma’ atau bersepakat bahwa do’a untuk orang meninggal dunia bermanfaat dan pahalanya sampai kepada mereka. Dan ‘Ulama’ berhujjah dengan firman Allah, Dan orang orang yang datang sesudah mereka, mereka berdoa "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan ayat-ayat lainnya yang maknanya masyhur, serta dengan hadits hadits masyhur seperti do’a Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, ya Allah berikanlah ampunan kepada ahli pekuburan Baqi al-Gharqad, juga do’a, “ya Allah berikanlah Ampunan kepada yang masih hidup dan sudah meninggal diantara kami, dan hadits hadits yang lainnya." Ucap Arya melanjutkan.


"Didalam Minhajuth Thalibin pun di sebutkan, dan memberikan manfaat kepada mayit yang berupa shadaqah juga do’a dari ahli waris dan orang lain itu. Imam al-Mufassir Ibnu Katsir asy-Syafi’i terkait do’a dan shadaqah juga menyatakan sampai, Lek. Adapun do’a dan shadaqah, maka pada yang demikian ulama telah sepakat atas sampainya pahala keduanya, dan telah ada nas nas dari syariat atas keduanya, begitu keterangannya. Lalu Syaikh an-Nawawi al-Bantani, beliau Sayyid ‘Ulama Hijaz didalam Nihayatuz Zain beliau menerangkan, dan do’a memberikan manfaat bagi mayyit, sedangkan do’a yang mengiringi pembacaan al-Qur‘an lebih dekat di ijabah. Syaikh al-‘Allamah Zainudddin bin ‘Abdul ‘Aziz al-Malibari didalam Fathul Mu’in pun menjelaskan hal yang sama. Sayyid al-Bakri Syatha ad-Dimyathi didalam I’anatuth Thalibin juga menjelaskan itu. Lalu, Syaikhul Islam al-Imam Zakariyya al-Anshari didalam Fathul Wahab, Imam Ibnu Hajar al-Haitami didalam Tuhfatul Muhtaj, Imam Syamsuddin al-Khathib as-Sarbiniy didalam Mughni pun juga menjelaskan, Al-‘Allamah Muhammad az-Zuhri al-Ghamrawi didalam As-Siraajul Wahaj, Al-‘Allamah Syaikh Sulaiman al-Jamal didalam Futuhat al-Wahab, dan masih banyak lagi pertanyaan ulama ulama Syafi’iyah yang termaktub didalam kitab kitab mereka, Lek. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa do’a jelas sampai dan memberikan kepada orang mati dan ulama telah berijma’ tentang ini. Artinya dari sini, mayyit bisa memperoleh manfaat dari amal orang lain berupa do’a. Ini adalah amal baik dan penuh kasih sayang terhadap saudara muslimnya yang telah meninggal dunia, dan telah menjadi kebiasaan kaum muslimin terutama yang bermadzhab syafi’i, yang dikemas dalam kegiatan tahlilan itu, Lek." Jelas Arya masih nampak bersemangat.


"Emmm, baik, Mas Arya. Terima kasih untuk penjelasannya, Insya Allah saya sedikit banyak paham meski belum seluruhnya paham, Mas." Sahut Girin kemudian.


Arya mengangguk anggukan kepalanya, lalu sekelebat pandangannya tertuju pada sebuah arah tak jauh darinya.


"Tidak baik menguping. Tahassus, memata matai dengan pendengaran itu termasuk dosa besar ketiga puluh delapan. Wa manis-tama'a ila hadiitsi qaumin wa hum lahu kaarihuuna au yafirruuna minhu shubba fii udunihil-anaku yaumal-qiyaamah." Ucap Arya dengan suara sedikit meninggi ke arah pandangan matanya.


Ajimukti pun keluar dari tempatnya berdiri, lalu sedikit memperlihatkan senyumnya.


"Tidak semua tahassus itu tajassus, untuk mencari keburukan orang lain." Sahut Ajimukti sembari melangkah ke arah Arya.


Arya hanya kemudian mengibaskan tangannya.


"Kenapa kamu disini? Tidak ikut bandongan? Tidak takut kena ta'zir?" Tanya Arya kemudian.


"Disana ngaji disini juga ngaji. Kan sama saja. Justru disini langsung melihat pengamalannya." Sahut Ajimukti sedikit melengkungkan bibirnya.


"Ngomong apa riko itu? Wis ta, balik ke pesantren sana saja!" Gertak Arya dengan sedikit mengibaskan tangannya.


"Kami itu lho, Ya. Samar banget ketahuan gerak gerik kamu di luar pesantren. Hmmmm..." Ucap Ajimukti sembari menyalakan sebatang rokoknya.


Arya hanya kemudian geleng geleng kepala.


"Terserah kamu saja lah, Fa. Asal kalau kena damprat Pak Kyai tidak bawa bawa nama saya saja." Ucap Arya kemudian.


"Kenapa? Kamu takut, Ya? Ternyata punya rasa takut juga ya kamu itu?" Sahut Ajimukti dengan sedikit tertawa.


Arya tak menyahut, ia hanya kemudian meraih rokok Ajimukti.


"Join...!!!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2