
Di pagi yang sama di tempat yang berbeda dengan suasana yang berbeda juga. Di sebuah warung pinggiran jalan nampak dua orang pemuda yang sepertinya sedang berbincang di antara bising suara alunan lagu dangdut dari radio yang diputar keras oleh pemilik warung.
"Hmmm, saya lihat kamu mulai betah." Ucap salah satu pemuda pada pemuda yang lain.
"Betah tidak betah, Ya." Pemuda yang diajak bicara pemuda yang lain itu nampak sedikit menggerutu.
"Sudahlah, Hexa. Kamu harus sabar dulu. Oke!" Sahut pemuda itu pada pemuda yang tak lain adalah Hexa sembari menepuk pundak Hexa.
"Hmmm, kamu enak ngomongnya. Saya yang jalanin lho ini." Gerutu Hexa lagi.
Si pemuda lawan bicara Hexa kemudian tertawa. Lalu kemudian menghentikan tawanya dan menatap tajam Hexa.
"Itu kenapa pipi kamu? Sepertinya habis kena pukul? Siapa yang melakukannya?" Tanya si pemuda itu kemudian.
"Sudahlah, Arya. Ini bukan apa apa." Sahut Hexa sembari mengibaskan tangannya pada lawan bicaranya yang dipanggilnya Arya itu.
"Hmmm, ya ya ya. Semoga saja memang bukan apa apa." Sahut Si pemuda bernama Arya itu kemudian.
"Oh, iya, Hexa. Kemarin saya bertemu Armel." Ucap Arya kemudian.
Mendengar nama Armel disebut sebut oleh Arya, Hexa segera memutar pandangannya cepat dan menatap tajam Arya.
"Lalu apa kalian sempat mengobrol?" Tanya Hexa kemudian.
Arya tersenyum kecut. "Sempat namun tidak banyak."
"Apa yang dia bicarakan?" Tanya Hexa memburu.
Arya tertawa melihat ekspresi tidak sabarnya Hexa itu.
"Hexa Hexa, kamu pasti berharap dia membicarakan atau menanyakan kamu kan?" Tebak Arya kemudian.
Hexa memalingkan pandangannya, "Tidak juga."
"Sudahlah, kamu tidak usah bohong." Ujar Arya setelahnya sembari sedikit melengkungkan bibirnya.
"Dia memang menanyakan kabar kamu. Dia sebenarnya ingin bertemu dan bicara banyak sama kamu." Imbuh Arya kemudian.
"Bicara dengan saya? Apa yang mau dia bicarakan? Apa dia bilang ke kamu?" Tanya Hexa masih memburu.
Arya melambaikan tangannya, "Tidak! Dia tidak bicara soal apa yang ingin dia bicarakan. Dia hanya bilang banyak yang ingin dia bicarakan sama kamu." Sahut Arya.
Untuk sesaat Hexa tidak menyahut, ia hanya kemudian tertunduk dan menghela nafasnya berat.
"Kenapa?" Tanya Arya yang melihat perubahan pada Hexa.
"Jujur, Ya. Saya pun ingin sekali bertemu dengannya. Tidak perlu bertemu, melihatnya saja sudah cukup. Tapi setelah saya pikir pikir rasanya itu hanya akan membuat kepedihan saya semakin terasa jelas lagi, Ya." Sahut Hexa kemudian.
"Hmmm, itu artinya kamu sudah tidak ingin lagi bicara dengannya?" Tanya Arya memastikan.
Hexa sedikit menaikkan bahunya, "Entahlah, Ya. Saya tidak ingin menjadi pengganggu dalam hubungannya dengan pilihannya itu. Lagian apa lagi yang ingin dia bicarakan, Ya? Rasanya semua sudah tidak ada yang perlu lagi dibicarakan." Sahut Hexa dengan suara berat.
Arya kemudian hanya menepuk pundak Hexa, "Yakinlah, Hexa. Suatu saat ada yang lebih baik datang untuk kamu."
Hexa hanya kemudian tersenyum mendengar ucapan Arya itu.
Sementara itu di tempat Ajimukti. Ajimukti masih menikmati obrolannya bersama Manan, Sobri, Khalil juga Imam. Namun tak lama setelahnya, Khalil juga Imam terlihat melirik jam.
"Ngapunten, Gus. Saya sama Imam harus pamit dulu. Mau ke pasar. Kebetulan ada beberapa keperluan yang harus kami beli." Ucap Khalil setelah itu.
"Oh, iya, Kang. Anu, sekalian saya nitip rokok ya, Kang." Sahut Ajimukti sembari terlihat merogoh uang di sakunya.
"Pakai ini saja, Gus. Kebetulan ada." Sahut Imam.
"Sudah, tidak usah, Kang. Ini saja." Ucap Ajimukti sembari menyodorkan uang ke arah mereka berdua.
Mereka hanya kemudian menerima uang itu.
__ADS_1
"Dua bungkus yang biasa ya, Kang."
"Nggeh, Gus." Setelah berpamitan, mereka pun berlalu dari halaman itu. Sementara obrolan di halaman masjid pesantren masih terus berlanjut.
Setelah beberapa saat berjalan kaki, menerjang terik matahari pagi yang mulai terasa sengatannya. Khalil juga Imam pun tiba di pasar. Mereka terlebih dulu membeli titipan Ajimukti sebelum mencari keperluan untuk mereka.
"Sepertinya kalian santri ya?" Sapa seseorang dari arah belakang mereka ketika mereka berada di depan toko pinggiran pasar.
Dengan cepat Khalil juga Imam menoleh dan mendapati seorang dengan kaos hitam juga celana dan jaket jeans. Dilihat dari penampilannya, pemuda ini sepertinya masih warga daerah sini karena begitu hafal nya dia dengan sandangan santri Pondok Hidayah.
"Benar. Kami santri Pondok Hidayah. Sampeyan ini siapa ya?" Tanya Khalil kemudian.
Pemuda itu tersenyum, "Kenalkan, saya Arya. Kebetulan saya perantau." Ucap pemuda bernama Arya itu sembari menjulurkan tangannya mengajak berkenalan.
Tanpa sungkan Khalil dan Imam menyambut tangan Arya itu.
"Khalil."
"Imam."
"Sudah lama Mas Mas ini nyantri di pesantren itu?" Tanya Arya kemudian.
"Emmm, jalan sekitar delapan tahun ini." Sahut Khalil sedikit melempar senyum.
Arya pun kemudian mengangguk anggukan kepalanya.
"Yang saya dengar dari orang orang, sekarang pengasuhnya masih muda. Apa itu benar?" Tanya Arya lagi.
"Ya, itu benar. Memang pengasuh yang sekarang masih sangat muda. Masih seumuran kami. Tapi wawasan beliau jauh di atas kami." Sahut Khalil setelahnya.
"Emmm, begitu ya. Kalau boleh tahu namanya siapa?" Tanya Arya lagi.
"Kami biasa memanggilnya Ajimukti. Gus Aji. Tapi sewaktu beliau di Jogja banyak yang memanggilnya Gus Aufa." Jelas Khalil setelahnya.
"Hmmm, Jogja ya?" Gumam Arya sembari mengangguk anggukan kepalanya.
"Baiklah, baiklah. Senang berkenalan dengan kalian." Ucap Arya kemudian.
Khalil hanya kemudian melempar senyum.
"Sampaikan salam saya untuk Gus kalian itu." Ucap Arya setelahnya.
"Baik, nanti kami akan sampaikan insya Allah. Yasudah kalau begitu kami permisi dulu Mas Arya." Ucap Khalil kemudian.
Arya hanya mengangguk. Khalil dan Imam pun berlalu untuk membeli keperluan yang mereka cari.
"Sepertinya tadi asik mengobrolnya." Tegur Hexa yang keluar dari arah samping toko pada Arya.
Arya hanya tersenyum.
"Ngobrol apa tadi?" Tanya Hexa kemudian.
"Hanya kenalan saja." Sahut Arya singkat.
"Kamu kenal mereka?" Imbuh Arya setelahnya.
"Kenal dekat tidak. Sebatas tahu saja. Namanya Khalil dan Imam. Mereka senior di pesantren juga khodam." Sahut Hexa.
"Yasudah, sebaiknya kamu segera kembali saja ke pesantren. Khawatir kalau mereka tiba tiba muncul di sini." Ucap Arya kemudian.
"Ya, ini saya juga mau kembali saja." Sahut Hexa sembari mulai mengayunkan kakinya meninggalkan tempat itu. Arya hanya kemudian tersenyum dan ikut berlalu juga dari tempat itu, berlawanan arah dengan Hexa.
Saat berjalan ke arah motornya itu, Arya kembali bertemu dengan Khalil dan Imam. Arya kembali menyapa mereka berdua.
"Ini mau kemana, Mas?" Tanya Khalil kemudian.
"Mau muter muter saja, Mas. Niatnya mau cari kerja tapi susahnya setengah mati." Keluh Arya basa basi.
__ADS_1
"Memang, Mas. Keadaan sedang sulit semakin dipersulit dengan susahnya cari kerja." Sahut Khalil setelahnya.
"Benar, Mas. Saya pikir nganggur itu enak enak saja, ternyata malah lebih tidak enak." Kelakar Arya sembari sedikit terkekeh.
"Sebaiknya kita ngobrol sambil ngopi lebih enak ini, Mas. Itu kalau kalian berdua tidak sedang buru buru." Imbuh Arya setelahnya.
"Emmm, begitu juga tidak apa apa, Mas Arya. Kebetulan di pesantren kami juga tidak ada kegiatan setelah ini." Sahut Khalil.
"Kalau begitu kita ngopi di warung sana saja, Mas." Tunjuk Arya pada salah satu warung tak jauh dari tempat mereka berada saat ini.
Khalil hanya mengangguk lalu berjalan mengikuti Arya, sementara Imam hanya terus mengekor di belakang Khalil.
"Kopi tiga, Kang." Seru Arya pada si penjual ketika mereka sudah berada di warung.
"Loh, Mas Arya tadi sepertinya sama..."
Arya segera memotong ucapan si penjual dengan menempelkan jari telunjuknya di depan mulut. Si penjual pun diam dan tidak meneruskan ucapannya, lalu segera membuat kopi pesanan Arya.
"Sepertinya kamu sering disini ya, Mas Arya?" Tanya Khalil kemudian.
"Iya, Mas. Hampir setiap hari." Sahut Arya sembari menyalakan rokok.
Khalil hanya mengangguk.
"Kalau setiap hari berarti sampeyan kenal dengan anak muda yang juga sering nongkrong disini, Mas?" Tanya Imam tiba tiba.
Arya sedikit mengerutkan keningnya. "Anak muda? Siapa namanya?" Tanya Arya kemudian.
"Hexa." Jawab Imam singkat.
Arya sedikit menelan ludah. Tepat pada saat itu si penjual kopi datang mengantar kopi pesanan mereka.
"Wah, terima kasih, Kang." Ucap Arya pada si penjual.
"Sama sama, Mas Arya." Sahut si penjual.
Arya sedikit mengedipkan matanya, si penjual tidak begitu paham namun ia hanya kemudian mengangguk saja dengan pelan.
"Monggo kopinya di sambi dulu mumpung masih panas ini, Mas." Ucap Arya sembari menggeser gelas kopi ke hadapan Khalil dan Imam.
"Terima kasih, Mas Arya." Sahut Khalil.
"Saya itu sebenarnya pingin sekali bisa ngaji, Mas. Tapi orang bilang biaya pesantren itu mahal. Saya takut nyusahin orang tua saya, Mas. Makanya saya senang setiap dapat teman santri. E, siapa tahu ilmunya nular." Ucap Arya kemudian.
"Ngaji saja, Mas. Ikut ke pesantren kami. Pesantren kami gratis, Mas." Sahut Khalil setelahnya.
"Gratis, Mas?" Tanya Arya sedikit mengerutkan kening.
"Benar, Mas. Dulu juga waktu Kyai Salim yang pegang juga di gratiskan. Tapi waktu Kyai Aminudin memang ada sedikit biaya untuk kelangsungan pesantren. Baru setelah di pegang kembali oleh Gus Aji ini, pesantren kembali di gratiskan." Jelas Khalil kemudian.
"Kyai Salim itu?"
"Kyai Salim itu bapaknya Gus Aji, Mas. Tapi beliau sudah lama meninggal." Jelas Khalil.
Arya hanya kemudian mengangguk anggukan kepalanya ringan.
"Oh, iya, Mas. Soal yang saya tanyakan tadi bagaimana ya, Mas?" Sela Imam kemudian.
"Pertanyaan? Pertanyaan yang mana ya, Mas. Maaf, soalnya saya itu orangnya pelupa." Sahut Arya sedikit meringis samb garuk garuk kepalanya.
"Soal anak muda bernama Hexa, Mas. Kan Mas Arya katanya hampir setiap hari disini. Berarti Mas Arya kenal dengan anak muda bernama Arya itu mungkin?" Ulang Imam mengulangi pertanyaannya.
Sekali lagi Arya menelan ludahnya. Lalu diam dan mengerutkan kening seolah memikirkan sesuatu.
"Hexa ya?"
Bersambung...
__ADS_1