
Pagi ini langit terlihat membiru cerah. Kicau kendaraan dan lalu lalang para pedagang seakan saling bertautan mencari celah. Tak ada keheningan yang dibiarkan melabuh diantara terik yang mulai menyentuh.
Aroma bahan materi mulai tersaji diantara para lapak pengais rejeki. Lengan lengan kekar para kuli panggul pun mulai memanjatkan doa doanya diantara doa doa yang terpanjatkan dari otot betis para pengayuh becak. Mereka berdoa sama, semoga tenaga yang mereka gadaikan setara dengan upah yang akan mereka bawa pulang nantinya.
Ajimukti dan Dullah masuk ke sebuah warung makan di pinggiran pasar. Dari luar warung makan itu terlihat cukup ramai. Mungkin menu di warung makan ini enak sesuai selera lidah para pengunjungnya yang rata rata para pedagang asongan atau juga bapak bapak tukang becak juga tukang ojek dan sopir sopir pengantar dagangan. Atau mungkin juga karena murah.
"Dullah, Mas Aji!" Seorang laki laki terdengar menyapa dan langsung melambaikan tangannya ke arah mereka.
"Prastowo? Cari sarapan juga?" Tanya Dullah setelah menghampiri Prastowo yang menyapanya barusan.
"Iya, Dul. Sambil nunggu istri sama anakku belanja." Sahut Prastowo menggeser duduknya.
"Loh, anak wedokmu pulang, Pras? Kapan?" Tanya Dullah sembari duduk di ikuti Ajimukti.
"Iya, Dul. Sudah dari lusa kemarin." Sahut Prastowo kemudian.
"E e e. Kok nggak kabar kabar kalau anakmu pulang, Pras?" Tanya Dullah lagi.
"Wong saya saja nggak tahu kalau dia pulang cepet kok, Dul Dul. Jam dua pagi anakku pulang dianter pihak sopir pesantren sama teman teman pondoknya. Mereka habis dari acara apa gitu aku lupa." Sahut Prastowo.
"Wah, Sobri suruh kesini aja, Lek. Kenalin sama anaknya Pak Lek Pras." Celetuk Ajimukti sedikit tertawa.
Prastowo dan Dullah pun ikut tertawa mendengar ucapan Ajimukti barusan.
"Ngomong ngomong ini kamu sama Mas Aji cari apa kok tumben pagi pagi ke pasar?" Tanya Prastowo sejurus kemudian.
"Nggak cari apa apa, Lek. Cari sarapan aja." Sahut Ajimukti.
Lagi lagi Prastowo hanya tertawa. "Yasudah ini Mas Aji mau pesan apa? Saya pesenin." Tanya Prastowo menawarkan.
"Tidak usah, Lek. Tadi sudah pesen. Masih antri katanya." Sahut Ajimukti.
Prastowo hanya mengangguk ringan. "Bagaimana perkembangan di pondok, Mas?" Tanya Prastowo sedikit memajukan badannya.
"Lumayan, Lek. Meski belum bisa bergerak sekarang. Tapi sedikit sedikit, saya sudah mulai bisa mengatur siasat untuk ke depan." Sahut Ajimukti.
"Dan kamu tahu tidak, Pras? Mas Aji kemarin habis menang lomba pidato bahasa Arab. Dan semalem itu ada perayaan kemenangan nya Mas Aji. Kamu tahu, Pras. Semalem Mas Aji bikin semua yang dateng klakep nggak bersuara." Potong Dullah dengan sangat menggebunya.
Prastowo manggut manggut, "Saya dengar soal perayaan itu, Dul. Wong istri sama anakku dateng kok."
Dullah melongo, "Loh, Mbak yu sama anakmu dateng, Pras. Kok saya nggak lihat?"
"Ya, kan tempat putra sama putri di pisah, Lek." Potong Ajimukti.
Dullah hanya meringis dan garuk garuk kepalanya. "Iya ya, Mas. Saya lupa."
"Tapi saya nggak tahu, Mas. Kalau itu perayaan buat kemenangan sampeyan. Lha wong, istri ku juga bilangnya cuma mau sholawatan di pondok gitu." Lanjut Prastowo.
"Lha kok kamu nggak ikut saja semalem itu, Pras?" Tanya Dullah kemudian.
Prastowo geleng geleng kepala dan terlihat menghela nafas membuat Dullah mengerutkan keningnya.
"Kenapa malah geleng geleng, Pras?" Dullah masih terlihat keheranan.
__ADS_1
"Kamu itu ya lucu, Dul. Mungkin nek dulu saya ikut. Wong saya juga seneng sholawatan. Tapi kalau sekarang ya dengerin dari rumah saja. Memangnya kamu mau Kyai Aminudin curiga kalau kita ini kenal?" Ucap Prastowo panjang lebar.
Dullah hanya mengangguk pelan, "Bener juga kamu, Pras. Wah pemikiran kamu selangkah lebih maju."
"Kecuali kalau kita pura pura nggak kenal, Dul." Imbuh Prastowo kemudian.
Tak lama makanan pesanan Dullah dan Ajimukti datang lengkap dengan kopi hitamnya.
"Lek Pras, nggak makan lagi?" Tanya Ajimukti pada Prastowo sembari menerima makanan yang disajikan sama pemilik warung.
"Sudah kenyang saya, Mas. Orang baru selesai saya juga." Sahut Prastowo sembari menepuk nepuk perutnya. "Monggo Mas Aji sarapan dulu saja."
Dullah sembari makan masih terdengar berbincang ringan dengan Prastowo. Sementara Ajimukti hanya bisa mendengar obrolan mereka sambil menikmati soto di depannya sembari sesekali ikut tertawa.
"Ayo Pak kita pulang." Tiba tiba istri Prastowo sudah datang. "Loh, Kang Dullah, Mas Aji. Sarapan disini juga." Lanjut Sumiatun, istri Prastowo begitu melihat Ajimukti dan Dullah di warung itu.
"Iya, Mbak Yu."
"Iya, Bu Lek."
"Belanja, Mbak yu?" Tanya Dullah kemudian pada Sumiatun.
"Biasa, Kang Dullah. Jagan tandon sayur buat seminggu." Sahut Sumiatun sembari terkekeh.
"Anakmu mana, Bu?" Tanya Prastowo yang melihat Sumiatun datang sendiri.
"Lha itu, nunggu disana." Sumiatun menunjuk ke arah anak perempuan yang sedang berdiri.
"Nggak kamu suruh kesini, Bu. Ben kenal sama Pak Lek nya sama Kakang nya juga." Ucap Prastowo pada Sumiatun.
"Walah, kok ya cocok itu sama Sobri ya, Lek." Celetuk Ajimukti lagi sambil tertawa.
"Ya, begitulah si Ajeng anakku, Mas." Sahut Prastowo sembari ikut tertawa. "Lah itu bocahe kesini!" Tunjuk Prastowo ketika Sumiatun bersama anaknya jalan ke arah warung itu.
"Sini, Nduk. Ini kenalin Pak Lek Dullah, teman bapak waktu muda dulu dan ini Mas Aji anaknya teman bapak juga." Panggil Prastowo pada anak perempuan di sebelah Sumiatun itu.
Ajimukti tertegun sejenak sebelum akhirnya menatap Ajeng, anak perempuan Prastowo itu lekat lekat.
"Loh, kamu bukankah yang kemarin....?" Tanya Ajimukti pada Ajeng tanpa basa basi sembari menunjuk ke arahnya.
"Iya." Jawab Ajeng sedikit menunduk. "Sampeyan Kang Aji kan?" Tanya Ajeng kemudian.
"Iya saya Aji. Santri Pondok Hidayah." Sahut Ajimukti.
"Loh loh loh. Kalian sudah saling kenal ya?" Potong Prastowo melihat percakapan Ajimukti dan Ajeng itu.
"Mas Aji sudah pernah ketemu anaknya Prastowo ini, Mas?" Dullah pun merasa keheranan.
"Begini, Lek. Kemarin saya sempat dikenalkan Ning Biba sama Ajeng ini, Lek." Sahut Ajimukti.
"Ning Biba? Kok bisa sampai ke Ning Biba, Mas?" Bingung saya. Dullah terlihat mengerutkan keningnya karena bingung.
"Begini, Lek. Kemarin pas di kompetisi. Saya sama Gus Faruq sempat kehilangan Ning Biba. Nah, ternyata Ning Biba ngobrol di warung sama teman teman pondoknya, termasuk Ajeng ini. Nah, terus pas saya lagi cari cari Ning Biba, Ning Biba lagi sama Ajeng ini. Jadi dikenalin gitu." Jelas Ajimukti. Sementara Ajeng hanya tersenyum mengiyakan penjelasan Ajimukti.
__ADS_1
"Berarti Ajeng ini temannya Ning Biba di pondok?" Tanya Dullah kemudian.
"Benar, Lek." Sahut Ajeng lirih dengan sedikit tertunduk.
"Sik! Sik! Sik! Ning Biba itu siapa?" Tanya Prastowo bingung dengan percakapan mereka.
"Ning Biba itu anaknya Kyai Aminudin, Lek." Sahut Ajimukti.
Prastowo terhenyak. "Bener iku, Nduk?" Tanya Prastowo pada anaknya.
"Nggih, Pak. Leres." Sahut Ajeng.
"Kok kamu nggak pernah cerita kalau anaknya Kyai Aminudin itu teman kamu satu pondok, Nduk?" Tanya Prastowo kemudian.
"Ajeng tahu nya juga belum lama sih, Pak." Sahut Ajeng kemudian.
"Oh iya, kenapa kamu kemarin tidak bareng sekalian sama kita saja?" Tanya Ajimukti pada Ajeng.
"Sebenarnya kemarin Habiba juga sudah menawarkan, Kang. Tapi saya nya yang nggak enak." Jawab Ajeng masih dengan sedikit tertunduk.
"Oh iya, Mas Aji. Suara Mas Aji semalem bikin adem pas sholawatan di pondok kemarin." Celetuk Sumiatun istri Prastowo yang sejak tadi diam. "Iya kan, Nduk?" Beralih ke Ajeng, anaknya.
"Iya lho, Kang. Bener kata Habiba kalau Habiba ragu Kang Aji ini masih Diniyah. Lha wong saya saja pas dengerin qasidah sampeyan semalem juga jadi ragu kok." Sahut Ajeng kemudian.
Dullah dan Prastowo sontak tertawa membuat Sumiatun dan Ajeng menoleh ke arah mereka. Sementara Ajimukti hanya menahan senyumnya.
"Kenapa kok Bapak sama Kang Dullah malah ketawa. Opo enek sing lucu to, Pak?" Tanya Sumiatun keheranan.
"Sudah sudah. Nanti saja di rumah bapak ceritanya." Potong Prastowo.
Ajeng sedikit mengerutkan kening. "Cerita apa, Pak?"
"Cerita soal Mas Aji ini cah ayu." Sahut Dullah sembari menepuk pundak Ajimukti.
Ajeng hanya mengangguk ringan.
"Yasudah kalau begitu saya permisi duluan. Kalian nanti mau mampir ke rumah saya dulu nggak. Saya siapin kopi kalau mau mampir." Ucap Prastowo sembari bangun dari duduknya.
"Sepertinya lain waktu saja, Lek. Nanti saya sama Lek Dul langsung ke pondok saja." Sahut Ajimukti kemudian.
"Iya, Pras. Kapan kapan saja." Imbuh Dullah.
"Yasudah kalau begitu saya duluan." Ucap Prastowo melangkah kemudian mengangkat belanjaan Sumiatun.
"Ajeng permisi dulu Kang Aji. Mampir mampir ke rumah kalau ada waktu." Ucap Ajeng dengan sedikit memulaskan senyum di wajahnya.
"Iya, Insya Allah Ajeng." Sahut Ajimukti juga dengan sedikit melempar senyum.
Tak lama pun Prastowo berlalu meninggalkan warung makan itu bersama Sumiatun, istrinya dan Ajeng, anak perempuannya.
"Jebule anak nya Prastowo ayu ya, Mas?" Tanya Dullah kembali duduk ke bangku warung itu.
Ajimukti hanya mengangguk ringan. Matanya melirik ke arah Prastowo yang mulai berjalan menjauh dari arah warung. Dan ketika itu tanpa Ajimukti duga, Ajeng pun menyempatkan menoleh ke arahnya. Gadis itu sekali lagi melengkungkan kedua bibirnya yang terkatup ke arah Ajimukti yang diam diam masih mengamati kepergiannya.
__ADS_1
Bersambung...