
Brak! Brak! Brak!
Jedug!
Budi terlihat mengobrak-abrik meja di kamarnya dengan sangat gusarnya lalu sesekali meninju tembok. Raut wajahnya merah padam dipenuhi emosi yang memuncak.
Khalil dan Imam yang menyaksikan itu hanya bisa menelan ludah dan saling pandang merinding. Untuk kedua kalinya mereka melihat kemarahan Budi ini. Mereka ingat betul bagaimana dulu Budi begitu marah ketika tahu Habiba dekat dengan Manan.
Pagi itu di salah satu kamar pondok satu tahun lalu.
"Nanti malam ada pertandingan bola api, kamu ikut kan, Nan?" Tanya Khalil yang tahu tahu sudah menyandarkan lengannya di bahu Manan.
"Iya, Nan. Nggak ada kamu gimana nasib team kita nanti? Bisa bisa dibantai habis habisan sama anak kamar sebelah." Imbuh Imam.
Manan hanya tertawa. Membuat Khalil dan Imam hanya saling pandang.
"Iya, Nan. Nanti kita tunjukan ke anak anak kamar sebelah kalau team kamar kita yang paling unggul tahun ini." Seru Budi yang sedang asik rebahan di atas tempat tidurnya.
"Iya iya. Kalian tenang saja. Saya pasti ikut kok." Sahut Manan sembari sedikit melempar senyum.
Khalil, Imam, Budi dan Manan serempak menyatukan tangan mereka ke depan dan sama sama menghempaskan ke atas seraya berseru, "Menang!"
Dan tibalah malam yang ditunggu tunggu. Semua santri sudah berkumpul di lapangan belakang pondok. Mereka semua sudah tidak sabar untuk mengikuti pertandingan bola api yang diadakan pengurus pesantren untuk memeriahkan hari santri nasional tahun ini. Pertandingan yang di ikuti oleh seluruh santri pondok putra dan ditandingkan antar kamar itu memang sudah menjadi acara tahunan selama tiga tahun terakhir.
Manan, Khalil, Imam, Budi dan Agung menyebut team mereka team Bakmi Jowo. Bakmi sendiri diambil dari inisial nama mereka berlima. Budi, Agung, Khalil, Manan dan Imam. Mereka berlima adalah teman satu kamar di Pondok Hidayah. Agung sendiri tahun ini adalah tahun terakhir dirinya di pondok ini. Tahun kemarin team Bakmi Jowo berhasil menyabet gelar juara pertama berkat kombinasi jitu Budi dan Manan sebagai penyerang inti.
Malam ini team Bakmi Jowo sudah berhasil menumbangkan beberapa team dari kamar sebelah. Mereka yakin tahun ini pun mereka akan masuk ke babak final, bahkan kembali menyandang gelar juara pertama.
Dan benar saja, akhirnya mereka berhasil masuk ke babak final berhadapan dengan salah satu team yang tahun kemarin sempat mereka tumbangkan di babak semi final.
Pertandingan di mulai. Budi dan Manan tampak serasi bermain oper operan. Beberapa tembakan panas berhasil diluncurkan Manan ke gawang lawan meski belum membuahkan hasil.
Sorak Sorai para santri yang menyaksikan pertandingan bola api malam ini semakin membuat suasana semakin panas. Dan diantara para santri, Habiba terlihat begitu semangat memberi dukungan nya ke team Bakmi Jowo, lebih tepatnya ke Manan.
"Manan! Manan! Manan!" Beberapa kali Habiba ikut sorak sorai para santri yang mengelu-elukan nama Manan itu.
Dan ketika Manan berhasil menyarangkan bolanya ke gawang lawan. Habiba tak sungkan sungkan berteriak dan semakin menyemangati Manan.
Budi yang melihat itu tampak gusar. Budi sejak awal sudah menaruh hati pada Habiba. Budi tidak terima kalau hanya Manan semata yang dipandang Habiba.
Budi mulai ingin menunjukkan kebolehannya. Ia berkali kali merebut bola dan mencoba menggiringnya sendiri. Bahkan ketika Manan meminta operan, Budi mengacuhkannya.
"Bud, oper, Bud! Oper!" Teriak Manan, tapi Budi terlihat terus menggiring bola api itu sendiri. Mengacuhkan teriakan Manan. Dan...
Duas!
Bola pun melesat tak terarah. Berkali kali kesempatan dibuang Budi begitu saja. Manan nampak mulai emosi melihat Budi yang tidak lagi kompak.
"Bud, kamu gimana sih. Tadi kalau kamu oper pasti bisa aku cetak gol." Seru Manan pada Budi. Sekali lagi Budi mengacuhkannya.
Kembali Budi seperti itu. Setiap mendapat bola, ia terus berusaha menggiringnya sendiri ke gawang lawan. Namun kini bola itu berhasil direbut lawan dan dengan sigap bola di bawa maju. Mereka tak sempat mengejar dan akhirnya. Duas!
"Goooolllll!!!!"
Teriakan dari para pendukung lawan ketika team yang mereka dukung berhasil mencetak angka.
Sekali, dua kali dan ini yang ketiga kalinya lawan berhasil mencetak gol mereka ke gawang team Bakmi Jowo.
Manan nampak gusar.
__ADS_1
"Bud, lihat kan? Kita bakal kalah." Teriak Manan dengan wajah sudah diselimuti emosi.
Dan sampai akhir pertandingan, team Bakmi Jowo tidak bisa lagi mencetak gol dan mengejar ketertinggalan angka. Mereka kalah.
Budi dengan raut wajah merah padam segera menepi di ikuti Khalil dan Imam.
"Itu kenapa, Budi. Main nya nggak asik." Ketus Agung sembari berjalan gontai meninggalkan lapangan.
"Budi bikin emosi. Tau itu anak maunya apa!" Gerutu Manan yang terlihat kesal.
"Kamu kenapa sih, Bud? Kok tadi nggak ngoper bolanya ke Manan? Banyak lho tadi peluang kita masukin bola." Ucap Khalil.
"Iya, Bud. Pasti kalau kamu oper ke Manan kita bisa mencetak gol berkali kali." Imbuh Imam.
Entah kenapa tiba tiba Budi menatap tajam ke Khalil dan Imam. Khalil dan Imam seketika merinding melihat tatapan kemarahan Budi. Budi hampir menonjok Khalil tapi seketika Manan datang dan menghentikannya.
"Bud, kamu kenapa sih?" Teriak Manan.
Budi terlihat mengepalkan tangannya. "Aku kenapa? Harusnya aku yang bertanya itu!"
Duak! Tanpa mereka sadari tiba-tiba Budi melayangkan pukulan ke wajah Manan.
Manan seketika jatuh untung ditahan oleh Agung dibelakangnya. Manan tidak tahu apa yang terjadi dengan Budi. Tapi kali ini ia rasa Budi sudah keterlaluan. Manan berusaha ingin membalas pukulan Budi tapi Budi lebih dulu kembali melayangkan pukulan ke wajah Manan sekali lagi.
Khalil dan Imam mencoba menahan Budi. Sementara Agung menahan Manan. Mereka berusaha melerai pertengkaran Budi dan Manan yang mereka pun tidak tahu apa sebabnya.
"Kamu itu teman makan teman"! Teriak Budi yang kini dipegang erat oleh Khalil dan Imam.
"Apa maksud kamu! Kamu sadar tidak! Gara gara keegoisan kamu, team kita kalah!" Manan tak kalah berteriak.
"Kamu ingin merebut perhatian Habiba kan? Padahal kamu tahu aku sudah lama naksir Habiba. Teman macam apa kamu!" Tiba tiba ucapan itu keluar dari mulut Budi. Membuat Khalil, Imam dan Agung tersentak.
"Ah, kamu itu." Budi kembali berusaha memukul Manan, Manan pun berusaha membalas pukulan yang sempat ia terima dari Budi.
"Hentikan! Ada apa ini?" Suara Habiba menghentikan mereka.
"Budi! Manan! Kalian berkelahi?" Seru Habiba melihat lebam di wajah Manan dan Budi yang terlihat mengepal penuh emosi.
"Hah!" Budi melepaskan pegangan Khalil dan Imam, tanpa berkata apapun dia segera berlalu dari tempat itu. Khalil dan Imam pun segera berlari mengejar Budi yang masih dipenuhi emosi.
"Ada apa, Nan?" Tanya Habiba melihat Manan yang terlihat masih emosi.
Manan tak menyahut. Agung melepas pegangannya pada Manan.
"Budi salah paham, Ning." Ucap Agung.
"Salah paham apa, Kang Agung?" Tanya Habiba keheranan.
Manan menahan Agung yang ingin menjelaskan ke Habiba. "Tinggalkan kami, Gung! Saya perlu bicara pada Habiba." Ucap Manan kemudian.
Agung hanya mengangguk dan kemudian pergi meninggalkan Habiba dan Manan.
"Ada apa, Nan? Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Habiba kemudian.
Manan hanya terlihat tertunduk menghela nafasnya.
"Seperti kata Agung tadi. Budi sepertinya salah paham." Ucap Manan lirih.
Habiba mengerutkan keningnya, "Salah paham soal apa, Nan?"
__ADS_1
"Soal kedekatan kita." Sahut Budi.
"Soal kedekatan kita? Apa maksudnya?" Tanya Habiba keheranan.
Manan terlihat tersenyum kecut. "Budi itu naksir kamu. Kami yang sekamar sudah tahu semua. Dan dia berpikir saya ingin menikam dia dari belakang karena sejak tadi perhatian kamu tertuju padaku."
Habiba tertawa. "Kok bisa?"
Manan mengangkat bahunya, "Entahlah, mungkin dia berpikir kita ada hubungan kali."
Habiba geleng geleng kepala. "Ada ada saja si Budi itu. Dia tidak tahu mungkin kalau kita sudah sejak kecil berteman. Dia kan baru empat tahun ini disini."
"Ya, karena selama ini dia tidak pernah lihat kita sedekat ini." Sahut Manan.
"Maaf ya, Nan?" Ucap Habiba kemudian dengan suara lirih.
"Kok kamu yang minta maaf?"
"Ya, gara gara aku, kamu jadi berantem sama Budi." Habiba terlihat murung.
Manan hanya tersenyum, "Bukan salah kamu." Sahut Manan kemudian. "Yasudah lah, saya mau cari es dulu buat ngompres bekas tonjokan Budi. Kerasa juga tonjokannya."
"Apa perlu saya kompres, Nan?" Tanya Habiba kemudian.
Manan hanya tertawa. "Nggak usah terima kasih. Saya tidak mau semakin ada kesalah pahaman."
Habiba hanya tersenyum. Manan segera beralih dari tempat itu.
"Tapi yakin, Nan. Kamu tidak apa apa?" Habiba sepertinya khawatir.
"Bapakku itu dulunya Bromocorah. Di tubuhku mengalir darah Bromocorah. Kalau cuma begini nggak berarti buat aku." Manan berkelakar.
"Kamu itu ya, Nan." Habiba tersenyum melihat sikap Manan.
"Oh iya, Ning Biba." Ucap Manan kemudian
"Ning Biba? Sejak kapan kamu panggil saya Ning, Nan?" Habiba sedikit menyipitkan matanya dan memandang Manan keheranan.
Manan hanya tertawa, "Sejak hari ini. Saya akan membiasakannya. Dan kamu juga harus membiasakan diri menganggapku sama seperti santri santri yang lain. Oke?"
"Kok jadi gitu, Nan?" Habiba nampak cemberut.
Manan tak menyahut, ia berlalu begitu saja dari hadapan Habiba.
"Oh iya, Ning Biba. Kang Manan ini meski hanya santri. Tapi tetap akan bisa menjadi kakak yang baik lho." Seru Manan sembari mengacungkan jempolnya.
Habiba seketika membalas acungan jempol Manan itu. "Bakmi Jowo nya gimana, Kang Manan?"
Manan hanya tertawa terbahak dan mengibaskan tangannya mendengar pertanyaan Habiba itu.
"Hah...!!!"
Khalil dan Imam terlonjak mendengar teriakan Budi dan segera sadar dari lamunan mereka satu tahun yang lalu.
Mereka saling pandang. Saling menelan ludah.
Jedug! Sekali lagi Budi meninju tembok kamarnya.
Bersambung...
__ADS_1