
Sore itu tak jauh dari terminal kota Yogyakarta, Ajimukti sedang berlari kecil di pinggiran toko sepanjang jalan. Hujan deras yang mengguyur kota itu sejak siang tadi belum juga reda, malah kini terlihat semakin deras.
Tak jauh dari tempatnya berteduh, beberapa anak muda dengan sekujur tubuh mereka yang di penuhi tatto juga telinga yang di pierching hampir selebar tutup balsem, nampak sedang asik bernyanyi dengan iringan gitar kencrung yang dimainkan salah satu dari mereka.
Dandanan mereka pun terlihat nyeleneh dengan celana pensil yang penuh tembelan emblem disana sini, sepatu boots, juga jaket usang yang juga penuh tembelan emblem. Dari potongan rambut mohawk mereka menandakan bahwa mereka adalah anak punk yang memang sering nongkrong di tempat itu.
Lihatlah negri kita, yang subur dan kaya raya
Sawah ladang terhampar luas, samudra biru
Tapi rataplah negri kita, yang tinggal hanyalah cerita
Cerita dan cerita, terus cerita, cerita terus
Pengangguran merebak luas, kemiskinan merajalela
Pedagang kaki lima tergusur, teraniaya
Bocah-bocah kecil merintih, melangsungkan mimpi di jalanan
Buruh kerap dihadapi penderitaan
Diam diam dari tempatnya berteduh, Ajimukti menikmati lagu yang dinyanyikan beberapa pemuda itu diantara suara gemuruh air hujan. Pemuda pemuda itu tampak senang bernyanyi bersama dengan hanya di iringi gitar kencrung juga tepukan tangan mereka.
Tak lama salah satu dari mereka terlihat berjalan ke arah Ajimukti. Ajimukti cukup hafal dengan pemuda yang berjalan ke arahnya itu karena hampir setiap sore ia bertemu dengan pemuda itu di sekitar tempat ini.
"Mau ngaji, Gus?" Tanya pemuda itu begitu berada di dekat Ajimukti.
"Oh, iya Kang Godril. Mau ngaji." Sahut Ajimukti ramah.
"Wah, padahal hujan lagi deras derasnya lho ini, Gus. Nggak libur dulu?" Ucap pemuda yang kedua lengan tangannya penuh dengan tatto hingga ke lehernya, juga daun telinga yang menggelambir karena di pierching itu.
Ajimukti tersenyum, "Cuma hujan, Kang." Sahutnya kemudian.
Godril pun terlihat ikut tersenyum dengan jawaban Ajimukti itu. Godril adalah salah satu anak punk yang begitu akrab dengan Ajimukti. Nama aslinya, Ari. Di kawasan ini, dia paling ditakuti juga disegani diantara anak punk yang lain. Godril juga pernah berkelana ke seluruh wilayah Jawa dan Bali untuk bertemu dengan anak punk yang lain. Dan karena itu lah, dia cukup dikenal dan tidak anak punk yang tidak mengenalnya.
"Tapi kan deras banget ini, Gus." Ucap Godril kemudian.
__ADS_1
"Ya, memang, Kang. Tapi hujan kan nggak bisa dijadikan alasan, Kang. Hujan itu sudah ketetapan Allah. Hitung hitung untuk menguji niat, Kang. Bukan malah dijadikan alasan. Kalau baru hujan saja sudah dijadikan alasan buat nggak berangkat ngaji, gimana nanti kalau Allah juga nyari alasan buat nggak ngasih kita nafas?" Sahut Ajimukti sedikit tapi cukup mengena.
Godril tersentak. Sesaat setelah mendengar ucapan Ajimukti itu, tiba tiba tubuhnya terasa ngilu dan rasanya ada yang berdesir di ulu hatinya. Rasa rasanya ucapan Ajimukti yang singkat itu bisa begitu masuk ke dalam relung hatinya yang paling dalam. Ada ketakutan yang tiba tiba menyelinap dan membuat tubuhnya sedikit bergetar.
Tak lama setelah itu, hujan pun mulai sedikit reda. Ajimukti berniat melanjutkan jalannya ke tempat ngaji. Karena mungkin beberapa santri di tempat itu sudah menunggunya sejak tadi.
"Saya permisi dulu ya, Kang Godril. Sudah lumayan reda ini." Ucap Ajimukti kemudian.
Godril sedikit kaget lalu tersadar dari lamunannya. Dengan terbata dia hanya menjawab singkat, "I...iya, Gus."
Setelah itu Ajimukti pun segera bergegas kembali berlarian kecil diantara beberapa toko di sepanjang jalan itu. Sementara Godril masih penasaran dengan perasaan aneh yang kini mulai menguasai hatinya.
Hingga beberapa hari, perasaan aneh itu terus saja mengusik ketenangan Godril. Untuk pertama kalinya hatinya merasa gelisah dan ada rasa takut yang tidak bisa ia jelaskan. Kata kata Ajimukti tempo hari, benar benar membuatnya sedikit keluar dari zona nyamannya selama ini.
Sore itu seperti biasa, Ajimukti melintas di tempat biasa Godril nongkrong bersama anak punk yang lainnya. Melihat kelebat Ajimukti, Godril segera berlari menyusul Ajimukti.
"Gus, tunggu!" Seru Godril setengah berlari mencoba menahan langkah Ajimukti.
Merasa ada yang memanggilnya Ajimukti pun segera menghentikan langkahnya dan memutar badannya.
"Kang Godril? Ada apa, Kang?" Tanya Ajimukti begitu tahu ternyata Godril yang memanggilnya.
Ajimukti melirik jam di tangannya. "Emmm, masih ada waktu sekitar setengah jam sebelum kajian di mulai, Kang. Ada apa memangnya?" Tanya Ajimukti masih sedikit penasaran.
Godril sedikit tertunduk, untuk sesaat ia terdiam dalam keraguan. Ajimukti masih menunggu sampai akhirnya Godril mulai berbicara.
"Maaf, Gus. Mungkin ini terdengar konyol. Tapi apa pantas orang seperti saya ini..." Godril nampak ragu meneruskan ucapannya. Ajimukti masih diam menunggu Godril melanjutkan ucapannya.
"Bertaubat..." Lanjutkan Godril sedikit tertahan.
Ajimukti seketika tersenyum, "Subhanallah..." Ucapnya kemudian. Sementara Godril masih tertunduk.
Ajimukti mendekat pada Godril lalu menepuk bahunya, "Kang Godril, Allaaha yahdii man-yasyaa', wa huwa a'lamu bil-muhtadiin, Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. Beruntunglah sampeyan, Kang. Mudah mudahan ini memang hidayah Allah untuk sampeyan." Ucapnya kemudian.
"Tapi, Gus? Apa pantas? Lihatlah diri saya ini!" Wajah Godril nampak malu memperlihatkan seluruh tatto di badannya.
Sekali lagi Ajimukti tersenyum sebelum akhirnya berkata, "Kang Godril, Bukan kesempurnaan fisik maupun kekayaan harta benda yang Allah lihat, tetapi kualitas hati dan mutu perbuatan hamba-Nya lah yang paling utama di pandangan Allah. Hati, seharusnya menjadi perhatian utama daripada lahiriah. Baiknya hati, berakibat kepada baik pula amalan lainnya. Hati yang bersih, berakibat kepada amalan yang lain bisa diterima. Beda halnya jika memiliki hati yang rusak, terutama hati yang tercampur noda syirik. Innallaaha lama yandhuru ilaa shuwarikum wa amwaa-likum walakin-yandhuru ilaa quluubikum wa a'maalikum, Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik dan harta kalian tetapi Ia, melihat hati dan amal kalian." Ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Jadi Kang Godril jangan pernah merasa bahwa fisik yang inilah itulah, sebagai alasan. Yang terpenting adalah niat, Kang. Keinginan. Ketika niat itu sudah ada di dalam hati Kang Godril. Kang Godril jangan pernah ragu akan kewelas asihan nya Allah." Lanjut Ajimukti kemudian.
Godril masih tertunduk. Untuk pertama kalinya seorang Godril yang tidak pernah takut pada siapapun kini hanya bisa diam dan tertunduk malu ketika dihadapkan pada Ajimukti.
"Tapi bagaimana dengan ini, Gus?" Godril menunjukkan banyaknya tatto di tubuhnya.
"Bukankah nantinya ini akan berpengaruh dalam ibadah? Saya pernah mendengar bahwa tatto itu haram dan sembahyang kita tidak diterima." Wajah Godril kali nampak sedikit cemas.
"Memang, Kang. Allah melaknat seseorang yang bertatto seperti dalam sebuah hadits, Allah melaknat orang-orang yang mentato dan yang minta untuk ditato. Dan hukum tatto sendiri adalah haram. Sebab dalam prosesnya, tatto itu sama saja dzolim pada diri sendiri, menyakiti diri sendiri." Mendengar ucapan Ajimukti ini, Godril nampak seketika lemas. Ada guratan kekecewaan, gelisah dan kecemasan di wajahnya.
"Tapi meski begitu, Kang. Kita harus berpikiran jernih. Tatto yang diharamkan, tapi ibadah terutama sholat, adalah kewajiban. Kadang timbul pertanyaan, apakah orang yang memiliki tatto wudhu dan shalatnya sah? Orang-orang yang bertato kemudian wudhu dan melaksanakan shalat, maka yang dilakukannya itu sah. Tato yang enggak boleh, tetapi orang shalat dengan tato ya masih sah wudhunya, masih sah shalatnya." Lanjut Ajimukti.
"Berarti masih sah, Gus?" Tanya Godril ragu.
Sekali lagi Ajimukti melempar senyumnya, "Saya sedikit banyak dapat memahami kekhawatiran sampeyan, Kang. Kadang kala, kekhawatiran muncul dari mereka yang bertato bahwa shalatnya tidak sah. Sapuan air wudhu dinilai tidak sampai pada permukaan kulit yang tertutup warna tatto. Tapi menurut saya, sampeyan tidak perlu khawatir, Kang Godril. Karena air wudhu dapat membasahi kulit yang terhalang tatto. Dengan demikian, jika sampeyan ingin sholat. Sholat sampeyan insya Allah diterima oleh-Nya. Wudhunya sah, dan airnya bisa masuk. Dan ini sudah dikaji oleh para ulama, tidak perlu membuang tatonya. Bahkan, jika ada imam sholat yang bertatto, boleh boleh saja." Ucap Ajimukti kemudian.
"Sudahlah, Kang. Jangan hal itu dipermasalahkan. Sholat, insya Allah tetap sah. Urusan ganjaran, biar itu Allah yang mengurus, tugas kita menjalankan apa yang menjadi kewajiban kita sebagai hamba-Nya." Sekali lagi Ajimukti menepuk pundak Godril.
"Apa saya perlu menghapusnya, Gus?" Tanya Godril kemudian.
"Apa itu juga sakit Kang saat penghapusan?" Tanya Ajimukti balik.
"Saya belum pernah, Gus. Tapi kata teman teman yang pernah ya sakit, Gus. Apalagi kalau manual, pakai setrika." Godril terlihat menelan ludah.
Sekali lagi Ajimukti tersenyum, "Kalau sakit ya nggak usah, Kang. Itu sama saja sekali lagi mendzolimi diri sendiri. Yang terpenting sekarang sampeyan tahu hukumnya, dan tidak akan mengulanginya lagi. Setelah ini tinggal melakukan apa yang seharusnya sampeyan lakukan tanpa harus memperdulikan seberapa banyak tatto sampeyan."
"Orang baik tidak selalu datang dari mereka yang memiliki keindahan tampilan fisik." Sambungnya.
"Baik, Gus. Terima kasih untuk pencerahannya." Kali ini wajah Godril terlihat lebih berseri. Ia pun merasakan ganjalan di hatinya beberapa hari ini sudah mulai hilang sedikit demi sedikit.
Ajimukti melirik jam di tangannya, " Maaf Kang Godril, saya harus berangkat ngaji. Kasihan anak anak kalau menunggu terlalu lama. Kita bisa sambung lagi besok. Insya Allah kapan saja Kang Godril ada yang ingin ditanyakan saya siap menjawab. Jika saya tidak tahu, saya akan mencari tahu untuk pertanyaan sampeyan nantinya."
"Silahkan, Gus. Sekali lagi terima kasih untuk waktunya."
Dan dari sejak saat itu, hampir setiap sore Ajimukti menyempatkan berbincang dengan Godril. Dari yang awalnya hanya saling tanya jawab, sedikit demi sedikit mulai membahas kitab, hingga akhirnya Godril pun berniat untuk menjadi tahfidzul-qur'an.
Hingga saat ini, saat tiba tiba Sobri menghubunginya karena Ajimukti membutuhkan bantuannya untuk mencari Kyai Aminudin, dengan tanpa ragu, Godril mengiyakan dan memastikan akan segera bergerak dan mencari tahu dan sesegera mungkin mengabarkan hasil penelusurannya dan orang orangnya pada Sobri.
__ADS_1
Bersambung...