BROMOCORAH

BROMOCORAH
Habiba Lagi! Lagi Lagi Habiba!


__ADS_3

Pagi ini dikamar atas lantai tiga terdengar suara perbincangan beberapa santri dari sebuah kamar Aliyah. Suaranya beberapa kali terdengar mengeras lalu pelan.


"Saya sampai detik ini benar benar tidak habis pikir. Kenapa waktu santri baru itu bisa selantang itu berbahasa Arab?" Ucap Budi dengan wajah gusarnya.


"Kami pun juga heran, Bud." Sahut Khalil.


"Tapi kamu ingat tidak waktu kami pernah berdebat dengan anak itu?" Imbuh Imam.


"Iya, saya ingat. Kenapa memang?" Tanya Budi kemudian.


"Ya, awalnya saya berpikir anak itu hanya menghafal saja dari yang dia baca. Tapi ternyata dari situ saya tahu kalau itu bukan sekedar hafalan tapi anak itu memang menguasai sekali, Bud. Karena beberapa kali kami sempat berhadapan dengan anak itu. Ya kan, Lil?" Ucap Imam.


"Benar, Bud. Sepertinya anak itu memang bukan santri Diniyah biasa." Imbuh Khalil.


Budi hanya mengangguk ringan. "Siapa dia sebenarnya. Sekarang saya pun yakin dia bukan santri biasa."


"Berarti rencana kita gagal, Bud?" Tanya Khalil sejurus kemudian.


"Entahlah. Saya pusing. Kita lihat besok saja." Sahut Budi sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


"Tapi saya sekarang tidak peduli dengan anak itu. Karena nanti setelah saya bisa mendapatkan Habiba. Saya bisa kapan saja mengusir anak itu dari sini.." Ucap Budi dengan senyum sinisnya, "Termasuk si santri songong itu juga. Saya akan dengan mudah menyingkirkannya."


Khalil dan Imam serempak tersenyum dan saling melempar pandang.


"Saya yakin Kyai Aminudin sudah berbicara dengan Habiba soal lamaran bapakku kemarin." Lanjut Budi.


"Kamu tidak berniat menemui Kyai Aminudin, Bud?" Tanya Khalil.


"Tidak perlu. Biar bapakku yang mengurus semuanya. Saya tinggal terima beresnya saja." Budi sedikit tertawa.


"Saya yakin Ning Biba pasti akan dengan senang hati menerima kamu, Bud. Saya yakin 100%." Ucap Khalil lagi membuat Budi tertawa kesenangan.


"Saya malah 200%, Bud." Imbuh Imam ikut tertawa.


"Secara wanita mana yang akan menolak laki laki kayak Budi ini sih, Mam." Sahut Khalil. "Cuma wanita bego yang nolak." Imbuhnya.


Budi lagi lagi hanya terbahak.


"Oh, iya, Bud. Ada lagi yang mau kami ceritakan. Sampai lupa kami." Ucap Imam kemudian menghentikan tawa Budi.


Budi mengerutkan keningnya, "Ada apa?"


"Begini, Bud. Tadi pas kami ke pasar. Orang orang pasar ada yang tanya kami apa kami temannya santri yang jago silat itu." Ucap Imam.


"Iya bener, Bud. Kami nggak tahu siapa yang mereka maksud." Imbuh Khalil.


"Terus kami tanya santri yang mana. Orang orang itu menyebutkan ciri cirinya." Lanjut Imam.


"Dan kamu tahu tidak, Bud. Ciri ciri yang orang orang pasar itu sebutkan mirip sekali dengan ciri ciri si santri baru itu. Orang orang itu juga bilang santri jago silat itu bersama temannya, dan ciri ciri temannya itu sama persis dengan ciri ciri Manan, Bud." Imbuh Khalil kemudian.


Budi nampak emosi.


"Terus. Terus. Apa lagi kata orang orang itu?" Tanya Budi kemudian.

__ADS_1


"Kata orang orang itu, si santri yang jago silat itu menangkap jambret di pasar, bukannya dihajar, e malah dikasih duit sama si santri itu, Bud." Lanjut Khalil lagi.


"Bener, Bud. Orang orang pasar juga heran." Imbuh Imam.


"Pantas saja. Mungkin jambret itu temannya si santri baru yang modelannya kayak preman itu." Budi tersenyum sinis.


"Tapi orang orang pasar muji muji dia, Bud." Imbuh Imam lagi.


"Ternyata pandai juga anak baru itu cari muka." Budi memperlihatkan wajah tidak sukanya.


"Cepat atau lambat, saya pasti akan menyingkirkan anak itu dari Pondok Hidayah ini. Kalian tenang saja." Ucap Budi kemudian.


"Iya, Bud. Jangan sampai anak itu bikin reputasi kita tergeser." Timpal Khalil.


Budi tertawa, "Kalian tenang saja. Kita tetap akan menjadi santri terpandang dan disegani di daerah ini. Apalagi nanti ketika semua orang tahu kalau saya adalah calon menantunya Kyai Aminudin. Orang orang pasti akan semakin segan sama saya."


Khalil dan Imam hanya mengangguk dengan senyum sinis mereka.


Sementara itu di salah satu kamar santri Diniyah di lantai bawah.


"Ada kabar apa dari Jogja, Mas?" Tanya Dullah pada Ajimukti ketika Ajimukti baru saja menutup telfonnya.


"Tidak ada, Lek. Cuma ini tadi Kang Hamid baru saja selesai muroja'ah di langgar. Terus nanti mau ada bandongan gitu katanya." Jawab Ajimukti.


"Yang ngroisi siapa Mas untuk bandongan nya nanti?"


"Emmm, kata Kang Hamid sih Kang Harun, Lek."


Dullah hanya mengangguk ringan.


"Bagaimana apanya, Mas. Kan sampeyan malah yang sering komunikasi sama Sobri." Sahut Dullah sembari mengerutkan keningnya.


Ajimukti tertawa ringan membuat Dullah menatap keheranan.


"Itu lho, Lek. Soal rencana Lek Dul sama Lek Pras?" Lanjut Ajimukti.


Dullah tersenyum, "Halah Mas Mas. Itukan cuma guyonan saya sama Prastowo, Mas. Lagian mana mau anaknya Prastowo sama Sobri. Orang ngeyelan gitu si Sobri."


"Ya mana tahu lho, Lek. Kan kalau emang nanti beneran kan malah bagus." Ucap Ajimukti, "Nyambung balung pisah." Lanjutnya.


Dullah hanya lagi lagi tersenyum, "Ya, kita lihat nanti, Mas. Saya tidak mau terlalu memaksakan. Biar semua Sobri sendiri yang menentukan."


"Mas Aji itu yang harusnya segera cari calon. Sudah waktunya lho ini." Celetuk Dullah kemudian membuat Ajimukti menoleh dan tertawa.


"Kok jadi saya, Lek?"


"Lha iya lho, Mas. Nunggu apa coba? Sibu juga pasti sudah nggak sabar pengen nimang cucu, Mas." Celetuk Dullah lagi lagi membuat Ajimukti geleng geleng kepala.


"Kejauhan itu, Lek." Sahut Ajimukti.


Tiba tiba Dullah mendekat. "Tapi ngomong ngomong, Ning Biba cantik juga lho, Mas."


Ajimukti mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Dan kayaknya, beda jauh dari bapaknya kalau soal watak. Kelihatan banget dari cara ngomongnya." Lanjut Dullah lagi.


"Apaan sih, Lek. Kok jadi ngomongin Ning Biba." Ajimukti nampak mulai salah tingkah.


"Iya kan saya ini juga pernah muda, Mas."


"Hmmm.... lalu?"


"Ya begitulah, Mas."


Ajimukti hanya geleng geleng kepala.


"Dulu ya, Mas. Waktu saya sama sibune sampeyan di kenalin sama ibunya Sobri itu, juga malu malu, Mas. Sampai beberapa kali ketemu masih juga malu malu." Dullah terkekeh mengingat perkenalan pertama dengan istrinya.


"E... Lha kok jebule beneran jodho." Dullah tertawa kecil sambil menutup mulutnya.


Ajimukti kembali geleng geleng kepala. "Itulah namanya jodoh, Lek. Nggak akan kemana."


"Ya, tapi kalau kita nggak kemana mana juga nggak bakal nemuin jodoh, Mas Mas." Celetuk Dullah lagi.


Ajimukti hanya tertawa. "Loh, Lek. Jodoh itu kan kayak 'Alif Lam Mim' ayat pertama surat Al-Baqarah, artinya itu hanya Allah yang tahu." Seloroh Ajimukti.


"Halah, Mas Mas." Dullah garuk garuk kepala. Ajimukti hanya masih terus tertawa.


"Saya disini cuma sedang menjaga diri saja, Lek. Nah, di saat yang sama, di tempat lain jodoh saya pun pasti juga sedang menjaga dirinya. Hingga nanti kami bertemu di saat dan cara yang paling berkah." Ajimukti masih tidak mau kalah dengan Dullah.


"Zaman sekarang susah, Mas. Nyari yang benar benar menjaga diri. Malahan sebaliknya. Nyari yang mengumbar diri yang paling gampang. Bahkan hanya demi konten. Sering kan, Mas. Lihat di medsos medsos. Hadegh." Dullah hanya geleng geleng kepala.


"Loh sama saja, Lek. Kalau banyak lelaki yang bilang, 'Zaman sekarang nyari wanita sholehah itu susah!'. Nah, wanita juga nggak sedikit yang bilang, 'Zaman sekarang nyari lelaki sholeh susah!'." Ajimukti kini menoleh ke arah Dullah dengan sedikit guratan senyumnya. "Pertanyaannya, Lek. 'Kenapa sibuk mencari, bukan menjadi?'. Ya, Kan?"


Dullah hanya tertawa. "Memang ya. Paling bisa sampeyan ini Mas kalau soal berkata kata."


"Tapi benar kan, Lek? Seorang Pria mendambakan wanita yang sempurna dan begitu juga wanita. Wanita mendambakan sosok pria yang sempurna. Namun mereka tidak tahu bahwa Allah telah menciptakan mereka untuk saling menyempurnakan satu sama lain. Ya kayak sampean sama Bulek, Lek."


"Iya juga sih, Mas." Dullah pun kembali tertawa.


"Yah, sekarang ini saya hanya perlu menggunakan waktu menunggu saya ini dengan hal baik. Karena Allah itu tahu, kapan waktu yang tepat untuk dia menyentuh hati saya, Lek."


"Dia? Ning Biba maksudnya, Mas?" Dullah mulai menggoda Ajimukti.


Ajimukti hanya melotot sementara Dullah justru tertawa terbahak.


Dullah yang suka lagu dangdut itu, tiba tiba bersiul siul dan mendendangkan sebuah lagu untuk menggoda Ajimukti.


"Memandangmu walau selalu


Tak akan pernah beri jemu di hatiku


Menyapamu walau selalu


Masih terasa merdu bagai di awal jumpa...


Jengjengjeng jeng jengjeng..."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2