BROMOCORAH

BROMOCORAH
Ajimukti VS Budi Nugroho


__ADS_3

Sore ini di kamar mandi pondok sisi utara lantai satu. Budi sedang bersandar di ambang pintu menuju kamar mandi. Di dalam ada sepuluh kamar mandi juga bilik besar untuk para santri mencuci.


Tak jauh darinya Khalil dan Imam pun berdiri menghadap ke area pesantren, menahan siapa pun yang hendak ke kamar mandi untuk pindah ke kamar mandi pondok sisi selatan.


"Aku masuk kedalam sekarang. Kalian jaga disini dan tetap jangan biarkan siapapun masuk!" Perintah Budi kepada Khalil dan Imam.


Dengan sedikit keraguan Khalil dan Imam pun hanya mengangguk mengiyakan.


Tak lama Budi pun terlihat melangkah ke dalam dan tepat berdiri di depan pintu kamar mandi yang tertutup. Dan begitu pintu kamar mandi dibuka senyum Budi pun menyeringai.


"Mas Budi?" Ajimukti yang membuka pintu kamar mandi seketika kaget melihat Budi yang tiba tiba berdiri di depan pintu kamar mandi.


Budi masih tersenyum sinis dan menatap Ajimukti penuh kebencian. Ajimukti menyadari ada sesuatu yang membuat Budi berdiri didepannya saat ini.


"Heh, anak baru! Saya peringatkan padamu ya. Berhenti mencari muka disini!" Ucap Budi sedikit menekan dan mengarahkan telunjuknya ke arah Ajimukti.


Ajimukti nampak tenang, sedikit pun tidak terpengaruh dengan ucapan Budi yang terkesan mengintimidasi itu.


"Saya tidak mengerti dengan ucapan Mas Budi ini apa maksudnya. Bisa Mas Budi perjelas lagi!" Ajimukti sedikit menundukkan kepalanya.


Budi kembali menyeringai dan terlihat geram dengan ucapan Ajimukti itu. Tangannya pun kini mulai terlihat terkepal.


Budi seketika mengayunkan tinjunya, Ajimukti dengan tenang menghindari tinjuan itu tanpa sebuah perlawanan.


"Aduh!" Budi terlihat kesakitan. Tinjunya yang di lontarkan kearah Ajimukti, justru menghantam tembok kamar mandi dan cukup keras.


Budi mengerang dan memegangi tangannya sambil meringis. Ajimukti hanya geleng geleng dan tanpa berkata berlalu begitu saja meninggalkan Budi yang kesakitan.


Setiba di depan, Ajimukti melihat Khalil dan Imam berdiri disana. Khalil dan Imam saling melempar pandang dan menelan ludah. Tiba tiba mereka merasakan ketakutan menyelinap ke dalam dada mereka dan membuat mereka merasakan sesak yang luar biasa.


Ajimukti mendekat ke arah mereka. Mereka semakin terlihat gemetar sampai tak berani menatap Ajimukti.


"Tolong bantu Mas Budi. Sepertinya, latihannya meninju keliru. Tembok kamar mandi saya pikir terlalu keras untuk tangan halus Mas Budi." Ucap Ajimukti tenang dan kemudian melangkah kembali ke kamarnya.


Begitu Ajimukti terlihat menjauh, mereka segera masuk kedalam kamar mandi. Mereka melihat Budi mengerang kesakitan di depan salah satu kamar mandi.


"Apa yang terjadi, Bud?" Mereka segera menghampiri Budi dan melihat punggung tangannya memar dan sedikit ada luka gores.


"Sudah jangan banyak tanya. Sakit sekali ini. Cepat Carikan kompres!" Teriak Budi pada keduanya. Budi nampak malu untuk mengakui kekalahannya kali ini.


Khalil segera berlari keluar untuk mencari kompres untuk mengompres tangan Budi itu. Sementara Imam hanya mencoba menenangkan Budi yang masih terdengar mengerang kesakitan.


Sementara itu Ajimukti begitu tiba di kamarnya langsung menghampiri Dullah yang sedang enak enak rebahan.


"Budi baru saja mencoba menyerang saya, Lek." Ucap Ajimukti dengan tenang.

__ADS_1


Dullah terlonjak dan segera bangun dari rebahan nya sembari membenarkan songkok nya.


"Budi? Menyerang sampeyan, Mas? Terus bagaimana? Apa sampeyan kenapa kenapa? Mana Budi biar saya kasih pelajaran dia." Seketika emosi Dullah tidak terkontrol.


"Sudah, Lek. Saya tidak apa apa. Justru Budi itu kelihatannya kesakitan sekali." Sahut Ajimukti sedikit melengkungkan bibirnya.


Dullah mengerutkan keningnya. Ia berpikir, Ajimukti justru mungkin malah menghajar balik Budi. Bagaimana pun juga Ajimukti adalah anggota perguruan pencak silat Pagar Nusa dengan sabuk hijau badge Hitam setara pelatih.


"Mas Aji menghajar Budi?" Tanya Dullah ragu ragu.


Ajimukti menggeleng, "Menyentuh pun tidak, Lek. Budi terlalu bersemangat ingin meninju saya tadi. E, malah tembok yang di tinjunya. Cukup keras dan pasti sakit sekali itu tadi, Lek." Lanjut Ajimukti menjelaskan dengan sedikit menahan tawa.


Tapi Dullah tentu tidak bisa untuk tidak tertawa. Mendengar cerita Budi itu, seketika tawa Dullah pecah.


"Bisa bisanya itu lho. Terus dimana dia tadi mencoba menyerang sampeyan, Mas?" Tanya Dullah kemudian


"Di kamar mandi, Lek." Sahut Ajimukti datar.


"Loh, di kamar mandi? Berani sekali dia. Apa tidak ada anak anak lain, Mas?" Tanya Dullah menyelidik.


"Khalil dan Imam suruh jadi security, Lek. Suruh menghalau yang mau masuk ke kamar mandi." Jelas Ajimukti kemudian.


Dullah hanya mengangguk paham, "Biar tahu rasa dia. Makan itu senjata makan tuan." Sekali lagi Dullah tertawa dan tersenyum kecut.


Malamnya selepas kajian, Ajimukti melihat tangan Budi yang terbalut kain perban. Budi masih terlihat geram dan memandang sinis ke arah Ajimukti. Ajimukti justru membalas tatapan kebencian Budi itu dengan senyum yang begitu tulus.


Ajimukti mendekat ke arah Budi, "Bagaimana Mas Budi tangannya? Apa masih sakit? Saya melihat pukulan tadi cukup keras. Jika saja pukulan itu mengenai wajah saya. Pasti sudah muntah darah saya tadi." Ucap Ajimukti kemudian, dengan sikap tenang.


"Kamu?" Budi terlihat menyeringai dan wajahnya kini merah padam karena marah. Ia merasa sedang disindir dan di permalukan Ajimukti dengan ucapannya saat ini.


Ajimukti kembali melempar senyumnya dan kini tangannya terlihat merogoh rokok di sakunya. Dengan tenang Ajimukti menyalakan sebatang rokok.


Sikap Ajimukti ini membuat Budi semakin meradang. Gigi gerahamnya terdengar saling bertaut membuat rahangnya terlihat mengeras. Budi meringis menahan sakit ketika berusaha mengepalkan tangannya.


"Saya tidak punya waktu untuk mengurusi anak seperti kamu." Ucap Budi hendak berlalu, karena Budi sadar hanya akan membuat dirinya semakin dipermalukan jika tetap melawan Ajimukti dengan kondisi tangannya saat ini.


Ajimukti tersenyum kecut sembari menghisap rokok di tangannya, "Tapi Mas Budi sepertinya punya cukup banyak waktu untuk menyerang seorang junior yang sedang sendirian di kamar mandi." Ucap Ajimukti kemudian.


Mendengar ucapan Ajimukti itu, emosi Budi semakin menyala. Rasanya ia ingin menghajar Ajimukti habis habisan.


"Bagaimanapun sampeyan itu sempat menjadi guru saya, Mas Budi. Guru itu di gugu lan di tiru. Kalau seperti itu apa pantas di sebut guru, Mas?" Ajimukti terus melontarkan ucapan ucapan pedasnya ke Budi.


Budi merasa sedang benar benar di pojokan Ajimukti saat ini. Khalil dan Imam yang mendengar ucapan Ajimukti itu pun hanya bisa diam membisu, rasanya untuk bernafas saja mereka ingin tak terdengar saat ini.


"Hanya seorang pengecut yang bermain seperti itu, Mas. Menyerang dalam keadaan sepi dan sendiri." Ajimukti semakin memojokkan Budi. Ucapannya terdengar tenang tapi begitu memukul Budi.

__ADS_1


Budi semakin meradang. Dia sudah tak memperdulikan rasa sakit di tangannya. Tangannya kini mengepal di balik perban yang membalutnya. Matanya memerah, sepertinya bola mata itu hampir hampir keluar dari kelopaknya.


"Hentikan bualanmu, bocah sok pintar! Kamu tidak tahu kamu sedang berbicara dengan siapa? Saya bisa saja membuatmu di tendang dari pesantren ini." Ucap Budi dengan penuh emosi.


Ajimukti kembali tersenyum sinis, "Atas dasar apa Mas Budi ingin mendepak saya dari pesantren?" Tanya Ajimukti sejurus kemudian.


Budi menghentakkan kakinya ke tanah. "Heh, bocah! Kamu tanya atas dasar apa?" Budi berbalik dan meraih kerah baju Ajimukti. Ajimukti tidak bergerak sama sekali. Ia tetap tenang saat ini.


"Saya sepertinya harus memberi tahu kamu sesuatu hal agar kamu bisa membuka mata kamu. Agar kamu tidak lagi berbicara neko neko dan kurang ajar sama saya!" Budi menatap lekat ke arah Ajimukti.


Ajimukti melepas genggaman tangan Budi, lalu kembali tersenyum sinis, "Terima kasih atas tawarannya. Tapi saya rasa, saya sudah cukup mengenal sampeyan, Mas." Ajimukti merapikan kerah bajunya.


"Heh, bocah! Dengar baik baik! Pasang telinga kamu! Saya ini calon suami Habiba! Kamu tahu Habiba kan? Dan ingat baik baik! Setelah saya menjadi menantu Kyai Aminudin, saya pastikan kamu orang pertama yang akan saya cutat dari pesantren ini!" Ucap Budi mengancam.


Ajimukti menggelengkan kepalanya ringan, lalu menatap Budi.


"Apa Mas Budi yakin Ning Biba pun mau? Saya dengar dengar Ning Biba menolak lamaran itu! Atau itu hanya rumor? Jadi mana yang benar, Mas?" Tanya Ajimukti sedikit meledek.


"Kamu!!! Bocah!!! Dengar ya, saya pastikan Habiba akan menerima saya. Tidak ada wanita yang akan menolak Budi." Budi kembali menyeringai, "Bapakku punya semuanya dan saya pastikan tidak ada yang tidak mungkin bagi bapakku! Ingat itu, bocah!" Budi menggertak.


Ajimukti masih terlihat tenang, dan sekali lagi ia melempar senyum ke arah Budi.


"Saya tahu, Mas. Pak Nugroho Sastro Darmono adalah seorang pengusaha sukses dan sampeyan sebagai anak satu satunya begitu membanggakan kesuksesan bapak sampeyan itu." Ajimukti menggeleng.


"Heh, bocah!!! Kamu! Kamu darimana tahu nama panjang bapakku?" Tanya Budi sekali dengan wajah merah padam karena emosinya kian meledak.


Ajimukti menyilangkan tangannya di dada lalu terdengar menghela nafas panjang.


"Tidak ada yang tidak mengenal nama besar Sastro Darmono, kakek sampeyan, Mas. Kakek sampeyan adalah pebisnis yang, ya... cukup bisa dibilang paling sukses." Ajimukti masih di posisinya. Budi terlihat makin murka. Sementara Khalil dan Imam terbelalak mendengar itu. Mereka yang bahkan sudah cukup lama kenal Budi dan dekat dengan Budi pun bahkan tidak tahu nama panjang bapaknya Budi.


"Tahu dari mana kamu soal kakek ku, Hah!!!" Budi menyeringai menatap tajam Ajimukti.


Ajimukti menyunggingkan senyumannya, "Pak Nugroho Sastro Darmono, bapak sampeyan yang sangat sampeyan banggakan adalah anak ketiga keluarga Sastro Darmono, benar begitu, Mas Budi?" Tanya Ajimukti sembari mengarahkan pandang ke arah Budi yang kian geram, "Kakak pertamanya bernama Ningsih Sastro Darmono, seorang yang harusnya menjadi pewaris atas semua bisnis keluarga Sastro Darmono, tapi sayangnya sejak usia remaja beliau mengalami gangguan kejiwaan, dan sampai sekarang pun masih di rawat di pusat rehabilitasi kejiwaan di Surabaya. Yang akhirnya menjadikan Pakdhe sampeyan, yaitu adik kedua Pak Nugroho yang bernama Saputro Sastro Darmono sebagai penerus bisnis keluarga Sastro Darmono. Tapi sayangnya, belum terlalu lama menjabat, Pakdhe sampeyan itu, dikabarkan bunuh diri dengan melompat dari lantai lima gedung perusahaan yang sekarang di pegang bapak sampeyan, Pak Nugroho. Dari kabar yang beredar, itu dilakukan Pakdhe sampeyan lantaran beliau depresi karena perusahaan mengalami kerugian juga dikejar hutang dari perusahaan lain, ya... kurang lebih sekitar 4 triliunan." Ajimukti tersenyum, lalu menghela nafasnya.


Budi terlihat semakin ingin meluapkan emosinya. Dia tidak habis pikir dari mana Ajimukti tahu tentang seluk beluk keluarganya itu.


Ajimukti meneruskan ucapannya, "Setelah itu, barulah Pak Nugroho, bapak sampeyan di angkat sebagai penerus perusahaan Sastro Darmono. Tapi entah kenapa, setelah perusahaan di pegang bapaknya sampeyan, perusahaan yang menagih hutang itu pun tidak lagi menagih? Saya tidak mau bersu'udzon seperti beberapa kabar burung yang beredar. Dan belum lama ini, ada kabar yang mengatakan bahwa Pak Lek sampeyan pun sedang berurusan dengan narkotika. Entah kabar itu benar atau tidak. Dan yang baru baru ini dan masih hangat, bapak sampeyan, Pak Nugroho, dikabarkan terlibat dalam kasus korupsi anggaran dana pembangunan sebuah jalan raya. Apa kabar itu benar, Mas Budi?" Tanya Ajimukti kemudian. Kini tatapan nya begitu tajam ke arah Budi.


Budi tersentak. Emosinya kini berubah menjadi sebuah ketakutan. Rasanya badannya kini gemetaran. Tiba tiba keringat dingin mengucur diantara keningnya.


Ajimukti mengamati ekspresi Budi saat ini yang tiba tiba berubah dari sebelumnya. Ajimukti kini melepas silangan tangan di dadanya dan berniat meninggalkan tempat itu. Namun sejenak Ajimukti mendekatkan diri ke hadapan Budi.


Khalil dan Imam seketika memundurkan badan mereka. Mereka hanya bisa tertunduk saat ini. Badan mereka pun tak kalah gemetarannya dengan Budi saat ini.


"Saya tahu Mas Budi sebenarnya santri berprestasi, saya tidak meragukan itu. Tapi ijinkan saya yang bodoh ini mengingatkan, barangkali Mas Budi lupa karena terlalu fokus pada rencana pernikahan Mas Budi dengan Ning Biba. Maaf beribu maaf. Tapi jika Mas Budi ada waktu luang, sempatkanlah membuka kembali di Al-Qur'an Surat al- Baqarah ayat 34, Shad ayat 73 dan 74, Az- Zumar ayat 72, al- ‘Araf ayat 13 dan surat an- Nahl ayat 22 dan 23. Di sana, di beberapa ayat itu, saya yakin Mas Budi akan menemukan sesuatu yang akan mengingatkan Mas Budi kembali." Ucap Ajimukti terakhir kali sembari menepuk pundak Budi yang berdiri mematung tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya kini.

__ADS_1


Ajimukti berlalu dari dari tempat itu. Ketiga seniornya masih terpaku di tempatnya dan belum beranjak sedikit pun. Diam diam, tanpa mereka sadari, seseorang tengah mengamati perseteruan Ajimukti dan Budi sejak tadi. Dan kemudian ikut beranjak pergi setelah melihat Ajimukti berlalu dari tempat itu.


Bersambung...


__ADS_2