
Siang itu tepat saat waktu masuk Dzuhur, Pondok Hidayah digemparkan dengan suara kumandang adzan yang begitu merdu mendayu dari seseorang yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Bagaimana tidak, seorang pemuda berambut mohawk dengan celana jeans pensil super ketat, berkaos lengan pendek yang memperlihatkan tatto di kedua lengannya dan juga dengan kedua telinga yang di peirching sebesar tutup balsem lah yang mengumandangkan adzan Dzuhur itu.
Melihat itu seketika para santri gempar dan saling beradu pandang satu sama lain, namun berbeda dengan Ajimukti dan Sobri, mereka nampak tenang dan merasa sangat hafal dengan suara itu, juga ketika melihat sebuah motor Vespa terparkir di halaman masjid itu. Dengan segera, mereka menghampiri si pemuda itu lalu saling berjabat tangan sangat akrab. Pemandangan itu membuat para santri yang melihat, kembali beradu pandang satu sama lain.
Selepas sholat Dzuhur berjamaah, Ajimukti pun berkesempatan memberi jawaban dan pengertian pada para santri dengan apa yang mereka lihat saat ini. Bahwa bukan fisik yang menjadi penentu diterima tidaknya amal manusia, akan tetapi perbuatan lah penentu segalanya.
"Dalam Hadist Riwayat Muslim Nomor 2564 disebutkan, dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian." Ucap Ajimukti dengan penekanan yang begitu sangat dapat dipahami oleh para santri.
"Hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak akan memberi ganjaran hanya karena bagaimana bentuk tubuh atau rupa kita atau seberapa banyaknya harta kita. Dzat manusia tidak dibebani hukum. Adapun yang terbebani hukum adalah perbuatan yang berkaitan dengan diri kita sebagai manusia. Allah tidak pula melihat pada banyak atau sedikitnya harta, kaya atau miskin, dan lainnya. Akan tetapi, Allah melihat kepada hati dan amal kita. Ikhlas adalah amal hati, dan amal hati sangat penting. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mengatakan bahwa amal hati merupakan dasar keimanan." Lanjut Ajimukti kemudian.
Para santri nampak bersungguh sungguh dengan apa yang Ajimukti sampaikan siang ini. Mereka yang awalnya selalu memandang rendah hanya karena penampilan dan kemampuan materi seseorang, kini sedikit demi sedikit mulai memahami jati diri sesungguhnya sebagai manusia.
"Jika kita terus dan selalu menjadikan penampilan fisik sebagai tolak ukur dalam menilai seseorang. Kita selamanya tidak akan tahu bagaimana manisnya buah salak, bagaimana harumnya nangka dan bagaimana lezatnya durian. Dan tentu kita hanya akan terjebak dengan rasa asam ketika kita makan kedondong juga susahnya menelan duku." Ajimukti mengakhiri ucapannya dengan sebuah senyum yang begitu khas dari dirinya.
Setelah Ajimukti menutup kajian selepas Dzuhur ia segera menemui pemuda itu yang tak lain adalah Ari Godril, seorang anak Punk, anak jalanan yang dengan hidayah Allah kini sudah lancar menghafal Al-Qur'an lebih dari separuh.
"Kita ngobrol di ndalem saja Kang Godril." Ajak Ajimukti pada Ari Godril yang sedang bercakap dengan Sobri dan Manan sembari menunggu Ajimukti.
"Nggeh, Gus. Saya juga sudah kangen sama wejangane njenengan." Sahut Ari Godril dengan senyum mengembang di bibirnya.
Setelah mereka tiba di teras ndalem, obrolan obrolan diselingi canda tawa membuat udara panas disekitar karena terik matahari yang menganga menjadi tidak terasa.
"Jadi Kang Godril sudah menemukan alamat yang saya minta?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Tepatnya bukan saya, Gus. Tapi Pak Lek saya yang berhasil menemukan alamat yang Gus Aufa minta itu." Sahut Ari Godril sedikit tertunduk.
"Hanya saja, saya belum mendapatkan alamat itu, Gus." Suara Ari Godril tiba tiba terdengar berat.
Baik Ajimukti maupun Sobri seketika sama sama mengerutkan kening.
"Ada apa, Kang?" Tanya Ajimukti menyelidik dari perubahan ekspresi Ari Godril ini.
"Pak Lek saya meminta syarat, Gus?" Ucap Ari Godril lirih.
"Syarat? Syarat apa itu, Kang?" Sobri kini ikut penasaran.
"Pak Lek saya memaksa saya untuk berkunjung ke rumah emak, baru setelah itu ia akan memberi alamat itu, Gus." Ari Godril nampak gelisah.
__ADS_1
Ajimukti dan Sobri kompak menganggukkan kepala. Ajimukti sebenarnya sudah tahu permasalahan Ari Godril sejak awal, hanya saja saat itu ia belum sepenuhnya bisa mengalahkan pendirian Ari Godril. Dan jika dipaksakan, ia takut akan melunturkan niat Ari Godril untuk bertaubat.
"Maaf Kang Godril. Apa emak sampeyan bahagia setelah menikah? Maksud saya dengan suaminya yang sekarang. Apa hubungan mereka baik baik saja?" Tanya Ajimukti kemudian.
Ari Godril menghela nafas, dengan ragu ia pun menjawab, "Setahu saya iya, Gus. Emak dengan suami barunya itu hidup rukun dan terlihat baik baik saja."
Ajimukti tersenyum, "Maaf lagi, Kang. Bukankah tujuan sebuah perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia? Boleh jadi keluarga yang emak sampeyan miliki saat ini akan menentukan kebahagiaan keluarga baru yang dibentuknya. Dan bukankah itu sangat baik, Kang?"
Ari Godril menatap Ajimukti, "Tapi, Gus. Bukankah sama saja dengan emak melanggar kesetiaannya pada bapak?"
"Tidak, Kang. Emak sampeyan punya hak. Dan seperti kata sampeyan dulu. Semua berlangsung jauh setelah masa idah." Ajimukti kini mendekat dan menyentuh lutut Ari Godril.
"Kang, jangan selamanya pandang emak sampeyan itu sebagai seorang ibu. Tapi pandang beliau sebagai seorang wanita. Wanita yang butuh dan memerlukan seorang laki laki. Mungkin sebagai anak sampeyan bisa memenuhi segala kebutuhan beliau. Tapi dalam sisi ini memangnya anak bisa memenuhinya? Nggak bisa, Kang. Maka nggak ada hak seorang anak untuk melarang ibunya menikah lagi, sementara ibunya butuh dan memerlukan, dan ingin mencari yang halal. Dzalim anak yang semacam itu, Kang." Ajimukti lebih menekankan ucapannya.
Ari Godril hanya tertunduk mendengar ucapan Ajimukti itu.
"Maaf, Kang Godril. Seorang wanita pun memiliki kebutuhan khusus yang kita sebagai anak tidak bisa memenuhinya. Bayangkan jika ketika seorang ibu sedang benar benar 'butuh', sementara anaknya melarangnya menikah lagi, lalu pada akhirnya terjadilah perzinahan, apa yang ada dipikiran sampeyan?" Ajimukti memandang tegas ke arah Ari Godril.
"Na'uudzubillaah, Gus." Ucap Ari Godril lirih.
Ajimukti tersenyum, "Sampeyan berkali kali bilang, pernikahan emak sampeyan sama saja dengan tidak menjaga kesetiaan bapak sampeyan kan, Kang?"
"Tidak begitu, Kang. Saya yakin justru bapak sampeyan akan bangga karena karena memiliki istri seperti emak sampeyan. Kenapa saya bilang begitu, Kang? Karena emak sampeyan sebagai mantan istri bapak sampeyan, memilih jalan halal degan melakukan sebuah pernikahan ketimbang terjerumus dalam perzihanan, Na'uudzubillaahi min dzaalik..."
"Bapak sampeyan sudah di alam barzah, Kang. Alam barzah alamnya beda, sudah tidak ada kecemburuan lagi. Kalau beliau ahli iman tentu sudah mendapatkan nikmat sendiri dari Allah, tidak akan sakit hati jika istrinya menikah lagi." Lanjut Ajimukti setelahnya.
Ari Godril masih di posisinya sejak awal duduk di sofa teras itu.
"Kita harus mendukung sebuah niat yang mulia. Pernikahan adalah jalan mulia, Kang. Belajarlah menggunakan perasaan sampeyan, saya yakin, emak sampeyan pasti tetap akan menerima sampeyan, karena bagaimana pun sampeyan anaknya, darah dagingnya, Kang. Emak sampeyan adalah mantan istri bapak sampeyan, tapi emak sampeyan tidak akan pernah menjadi mantan ibu sampeyan. Selamanya tetap akan menjadi emak sampeyan, tidak akan ada istilah mantan anak dan mantan orang tua." Ajimukti terus memberikan nasehatnya pada Ari Godril.
"Iya, Gus. Sekarang saya sedikit demi sedikit akan mencobanya meski saya pun butuh waktu." Ucap Ari Godril dengan suara berat.
Ajimukti tersenyum, "Saya bicara seperti ini bukan bermaksud menggurui sampeyan, Kang. Karena terus terang, saya tidak sedang diposisi sampeyan. Tapi keadaan kita sama, ibu saya juga seorang janda setelah bapak saya meninggal. Tapi setelah bapak meninggal hingga sekarang beliau tidak menikah lagi bukan karena saya melarang atau beliau sungkan dengan saya, bukan, tapi karena memang beliau merasa sudah tidak muda lagi, jadi beliau merasa tidak butuh dalam satu sisi itu, Kang. Saya bahkan pernah menyarankan beliau lho, Kang. Itu karena saya sadar, ada kebutuhan lain yang tidak bisa beliau dapatkan dari saya." Ajimukti sedikit tersenyum di akhir ucapannya.
Ari Godril kini mengangkat wajahnya dan memandang wajah teduh Ajimukti. Hatinya entah kenapa mulai dirasuki rasa rindu pada sosok ibunya. Seketika ia pun mulai mengusap bulir bulir bening yang mulai membasahi kelopak matanya.
"Sudah, Kang. Jangan larut. Selagi ada waktu dan sebelum menyesal, sebaiknya temui emak sampeyan." Sobri ikut meyakinkan Ari Godril.
__ADS_1
"Iya, Kang. Malu sama tatto nya itu." Ajimukti sedikit meledek melihat Ari Godril yang nampak malu karena mulai tersedu itu.
Ari Godril tersenyum. Sebuah senyum dari aura wajah yang dipenuhi kelegaan.
Tak lama setelah itu pun Ari Godril berpamitan pada Sobri, Manan juga Ajimukti. Ajimukti dan yang lainnya menyempatkan mengantar Ari Godril sampai di tempatnya memarkir Vespanya. Kini Ari Godril sudah berlalu dari halaman masjid pesantren dengan Vespanya itu.
Satu jam setelahnya, Ari Godril sudah nampak berdiri di halaman sebuah rumah yang sempat di kunjungi beberapa hari yang lalu. Kini pintu rumah itu nampak terbuka, sepertinya pemilik rumah sedang berada di rumah. Ari Godril sedikit ragu untuk mendekat ke rumah itu. Beberapa kali ia terlihat menghela nafas menenangkan perasaannya.
"Assalamu'alaikum..." Ari Godril mengucap salam begitu tepat berada di depan pintu rumah itu. Dari dalam terdengar suara seorang wanita menjawab salamnya. Seketika jantung Ari Godril berdetak kencang dan tubuhnya sedikit gemetaran.
Begitu wanita itu keluar dan melihat siapa yang kini berdiri di depan pintu. Wanita itu setengah berlari segera menghampiri Ari Godril dan segera memeluknya erat. Air matanya pun seketika membasahi baju Ari Godril saat itu. Tanpa ragu Ari Godril pun membalas pelukan itu.
Begitu pelukan wanita itu yang tak lain adalah Gitun, emaknya, dilepaskan. Ari Godril segera berlutut dan bersujud di bawah kaki wanita tua itu.
"Maafkan Ari, Mak." Ucap Ari dengan sesenggukan.
Gitun tidak mampu berkata apapun ketika melihat anak yang sudah dua puluh tahun dirindukannya akhirnya datang menemuinya. Gitun hanya segera meraih pundak Ari Godril dan memaksanya kembali berdiri, sekali lagi ia memeluk anak lelakinya itu.
Gitun pun segera mengajak Ari Godril masuk ke dalam rumah yang sudah dua puluh tahun ini di tinggalkan Ari Godril. Ari Godril mengamati sekeliling rumah itu, tak banyak berubah, selain dinding yang seluruhnya sudah di tembok, berbeda dengan saat di tinggalkannya dua puluh tahun lalu yang masih berdinding papan kayu juga triplek. Di dinding itu juga terpasang foto foto dirinya dari setiap tahunnya. Ari Godril tersenyum, ia yakin ini pasti pekerjaan Pak Lek nya yang mengirim foto foto dirinya itu.
Tak lama setelah itu, seorang laki laki terlihat masuk dari arah pintu samping. Untuk sesaat Ari Godril dan laki laki itu hanya saling pandang dalam diam meski di wajah laki laki itu terlihat sebuah senyum yang mengembang.
Tiba tiba tanpa di duga, Ari Godril segera mendekat pada laki laki itu yang tak lain adalah Slamet, bapak sambungnya, kemudian menyalami dan mencium punggung tangan laki laki itu.
"Pak'e apa kabar?" Tanya Ari Godril sedikit gemetaran dan dengan ritme jantung yang masih tak beraturan.
Mendengar panggilan yang begitu ingin di dengar dari mulut anak sambungnya itu, seketika Slamet tanpa ragu segera saja memeluk Ari Godril. Kini kedua lelaki itu saling berpelukan erat, dan tanpa sungkan Slamet pun mulai menitikkan air matanya karena saking bahagianya.
"Angga mana, Pak? Saya ingin sekali melihatnya." Tanya Ari Godril setelah mereka bertiga duduk bersama di ruangan itu.
"Adikmu masih sekolah. Sebelum Azar biasanya sudah sampai di rumah. Dia juga sangat ingin bertemu kamu. Beberapa kali dia memaksa Pak Lek mu Suko untuk mengajaknya menemui kamu, tapi selalu Pak Lek mu tolak." Sahut Slamet dengan sorot mata yang berbinar.
Ari Godril tersenyum, ia ingat memang beberapa kali Suko mengatakan bahwa Angga ingin bertemu dirinya, tapi selalu dilarangnya. Jadi bukan Suko yang menolak, tapi itu karena dirinya yang memang belum ingin bertemu Angga, adiknya.
Setelah itu, Ari Godril teringat untuk menghubungi Suko bahwa dirinya kini sudah berada di rumah emaknya. Ia ingin menagih janji Suko padanya. Tapi belum sempat Ari Godril menelfon, sebuah pesan dari Suko terlihat jelas di layar ponselnya.
"Pak Lek harap, kepulanganmu bukan sebatas karena ingin tahu alamat orang itu, tapi memang karena keinginan hatimu sendiri. Baik baiklah disitu dulu. Tanpa harus kamu hubungi, Pak Lek akan menemui mu di rumah emak mu." Begitu pesan yang ditulis Suko pada Ari Godril.
__ADS_1
Ari Godril menghela nafas lalu sebuah senyum mengembang dari bibirnya.
Bersambung...