
Hampir dua Minggu sudah berlalu sejak hari dimana Ajimukti menemui Nugroho di Lembaga Pemasyarakatan waktu itu. Setelah itu pun, Baron dan Suko melepaskan Warsito yang sempat mereka tahan atas perintah Prastowo. Tidak lagi ada pergerakan dari Nugroho setelah kejadian itu. Semua berjalan baik tanpa lagi ada kekhawatiran yang terjadi seperti sebelum sebelumnya.
Pagi ini, suasananya begitu nampak cerah. Langit di atas pesantren pun berwarna biru cerah dengan awan putih menggantung indah. Matahari belum sepenuhnya menampakkan diri, burung burung yang berkicau di antara dahan dahan pohon di halaman masjid pesantren pun nampak riuh mengisi pagi. Kupu kupu dengan sayap indah mereka juga nampak beterbangan diantara beberapa bunga yang tumbuh subur di beberapa sisi halaman, daun daun yang masih basah oleh embun semalam, membuat kupu kupu itu betah berlama lama di sekitarnya.
Ajimukti sedang bersiap diri di teras ndalem menunggu Manan yang juga sedang bersiap. Tak jauh darinya, Sobri nampak sedang menikmati sebatang rokok di tangannya.
"Sampeyan beneran nggak ikut, Kang?" Tanya Ajimukti sembari mengenakan sepatunya.
"Tidak, Gus. Saya ingin disini saja. Lagian disini Gus Faruq juga pasti kerepotan waktu njenengan tidak ada." Sahut Sobri sembari masih menikmati rokoknya.
Ajimukti mengangguk, "Sekalian ada yang ingin saya sampaikan kalau memang sampeyan tidak ikut ke Jogja, Kang." Ucapnya kemudian.
"Apa itu, Gus?" Tanya Sobri sedikit penasaran.
"Mengenai Dik Ajeng, Kang." Ucap Ajimukti yang sudah selesai mengenakan sepatunya dan kini meraih bungkus rokok di atas meja di depannya.
"Ajeng? Ada dengannya, Gus?" Tanya Sobri antusias begitu Ajimukti menyebut nama itu.
Ajimukti tersenyum lalu menyulut sebatang rokok yang sudah dipegangnya.
"Saya tahu sampeyan mulai menyimpan perasaan sama Ajeng. Ya, saya harap sampeyan kelak bisa benar benar menjaganya." Ucap Ajimukti setelah itu.
Sobri tersenyum pias, "Saya hanya bisa menyerahkan semua sama Allah, Gus. Juga Ajeng sendiri. Bagaimana pun perasaan manusia tidak bisa dipaksakan." Ucapnya berat.
"Saya yakin, Kang. Ketika Dik Ajeng melihat kesungguhan yang ada pada sampeyan. Dia akan bisa dengan ketulusannya menerima sampeyan, Kang." Ucap Ajimukti sembari masih menikmati rokok ditangannya.
Sobri nampak menghela nafasnya, "Apa saya boleh matur, Gus. Tapi maaf sebelumnya jika saya laduk."
"Katakan saja, Kang. Jika sampeyan sungkan begini. Itu sama dengan sampeyan tidak menganggap kita ini saudara." Sahut Ajimukti kemudian.
"Sebenarnya... Sebenarnya Ajeng sudah memiliki tambatan hatinya sendiri, Gus. Dan saya pun tidak yakin apa saya bisa memenangkan hati Ajeng dengan keadaan hati Ajeng yang sudah lebih dulu terisi oleh seseorang." Suara Sobri kali ini terdengar berat.
Ajimukti tersenyum, "Saya tahu maksud sampeyan, Kang. Saya pun bukan orang yang buta untuk melihat keadaan sekitar saya. Saya cukup peka. Tapi saya hanya ingin menjadikan Dik Ajeng tidak lebih dari adik saya, sama seperti sampeyan juga Manan. Saya ingin merangkul semua sebagai saudara saudara saya."
"Jadi sampeyan sudah menyadari itu, Gus?" Tanya Sobri nampak terkejut.
Ajimukti mengangguk, "Seperti yang saya bilang, Kang. Saya pun cukup peka untuk membaca sikap Dik Ajeng pada saya disetiap kesempatan bertemu."
"Tapi bukan berarti saya ingin mengecewakan Dik Ajeng, Kang. Demi Allah, tidak sekalipun terbersit niat seperti itu dalam hati saya. Saya hanya ingin Dik Ajeng mendapatkan yang terbaik untuk dirinya. Tapi bukan berarti saya menganggap diri saya pun tidak baik untuk Dik Ajeng. Hanya saja, perasaan saya pada Dik Ajeng sudah seperti perasaan kakak kepada adiknya. Saya tidak ingin merubah perasaan itu, Kang. Sungguh sangat berdosa jika saya menaruh hati pada wanita yang sudah saya anggap seperti adik saya sendiri." Ajimukti kali ini nampak serius dalam menjelaskan tentang perasaannya.
Sobri hanya mengangguk, "Saya mengerti, Gus. Maafkan saya."
Ajimukti menghela nafasnya, "Saya pun kadang memikirkan ini, Kang. Bagaimana nanti saya menjelaskan pada Dik Ajeng. Karena kadang apa yang orang pikirkan tidak sama dengan apa yang kita pikirkan."
"Itu kenapa saya yakin sampeyan kelak pasti bisa memenangkan hatinya Dik Ajeng. Pelan pelan menggeser posisi saya dihatinya Dik Ajeng. Dengan begitu, Dik Ajeng pada akhirnya bisa menerima saya sebagai Kakaknya tanpa embel embel rasa yang tidak seharusnya." Lanjut Ajimukti kemudian.
"Insya Allah, Gus. Saya akan bantu njenengan soal ini." Sahut Sobri kemudian.
"Tidak, Kang. Jangan lakukan itu untuk membantu saya. Lakukan itu untuk sampeyan dan Dik Ajeng atas ijin Allah. Karena akan terdengar picik sekali jika saya mengorbankan sampeyan hanya agar Dik Ajeng tidak kecewa dan benci sama saya." Ucap Ajimukti seraya tersenyum.
"Baik, Gus. Saya bisa memahami semua. Pangestunipun njenengan mawon." Sahut Sobri kemudian ikut tersenyum.
Disaat itu Manan sudah terlihat berjalan ke arah mereka. Ajimukti pun segera berdiri dari duduknya.
"Sudah, Nan?" Tanyanya pada Manan begitu Manan mendekat.
"Sudah, Jik. Tinggal berangkat." Sahut Manan cengengesan.
"Yasudah, Kang. Kami berangkat dulu." Ucap Ajimukti pada Sobri.
"Hati hati, Gus. Kabari saya begitu sampai di Jogja." Ucap Sobri pada Manan.
__ADS_1
Ajimukti hanya mengangguk, lalu segera berjalan ke arah mobilnya.
"Tidak baik seorang Gus bawa mobil sendiri. Sebaiknya sampeyan duduk tenang biar saya yang bawa mobilnya." Manan menahan Ajimukti ketika akan membuka pintu depan, Ajimukti hanya tertawa melihat sikap Manan.
"Kang Manan, saya titip Guse." Ucap Sobri pada Manan yang sudah bersiap duduk di belakang kemudi.
"Siap, Kang. Saya pastikan Ajik baik baik saja sama saya." Sahut Manan masih nampak cengengesan.
Tak lama Ajimukti dan Manan pun berlalu meninggalkan area Pondok Hidayah.
"Tadi ngobrolin apa sama Kang Sobri, Jik?" Tanya Manan di tengah tengah perjalanan mereka.
"Ya hanya membahas soal perasaan sih." Sahut Ajimukti sembari sedikit tertawa.
"Perasaan?" Manan mengerutkan keningnya, "Perasaan siapa, Jik? Kamu ini bikin saya penasaran." Lanjutnya kemudian.
"Ya, soal Kang Sobri dan saya diantara dia, Nan." Sahut Ajimukti.
"Dia? Maksud kamu, Jik?" Manan semakin dibuat penasaran dengan jawaban Ajimukti itu.
"Ya, siapa lagi, Nan. Kamu sudah tahu jadi apa masih mau pura pura tidak tahu?" Ucap Ajimukti sembari melirik Manan.
Manan menelan ludah.
"Tokoh utama kalau saya bicara dengan Kang Sobri dalam hal soal perasaan kan ya pasti dia, Nan. Masak masih butuh marjik lagi, Nan?" Ajimukti merebahkan kepalanya.
Manan mengangguk. "Jadi kamu sudah tahu, Jik?"
"Seperti yang sudah saya bilang sama Kang Sobri juga, Nan. Saya cukup peka dengan keadaan di sekitar saya."
Manan kemudian hanya terdiam. Setidaknya kekhawatirannya sedikit berkurang saat ini, dan dia pun yakin Ajimukti akan punya solusi untuk semua tentang pergulatan rasa saat ini.
"Bahas apa, Nan? Ada sesuatu kah yang mau kita bahas? Kenapa kamu sepertinya gelisah, Nan?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Entahlah, Jik." Manan meringis kemudian.
Ajimukti tersenyum, "Ingat, Nan. Alaa Inna auliyaa' allaahi laa khaufun 'alaihim walaa hum yahzanuun. Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati."
Manan seketika tertawa, "Saya kan bukan wali Allah, Jik."
"Jangan salah, Nan. Hanya Allah yang berhak menentukan siapa siapa yang berhak menjadi wali-Nya. Sekarang kamu pesimis tapi siapa tahu kelak Allah memilihmu untuk menjadi waliyullah. Siapa yang tahu?" Sahut Ajimukti.
"Aamiin, Jik. Jika itu benar, itu karena doa kamu tentunya."
"Bukan karena doa saya, Nan. Tapi memang tingkat keimanan dan ketaqwaan kamu yang memang layak menjadi waliyullah." Timpal Ajimukti.
Manan hanya kemudian tersenyum.
"Tapi bukan soal walinya yang saya bahas disini, Nan. Tapi sifat baik yang terkandung di ayat itu. Salah satu sifat baik itu termasuk tidak pernah punya rasa takut, rasa gelisah, dan itu yang harus kita tiru, Nan. Karena jika kita punya rasa gelisah itu lama lama bisa membuat kita nggak ridho sama qada' dan qadar. Jadi kudu ceria, Nan."
Manan mengangguk, "Tapi bukankah manusia tetap tidak bisa jauh dari kegelisahan dan rasa takut, Jik?" Tanyanya kemudian.
Ajimukti tertawa, "Memang benar, Nan. Sama seperti saya, saya pun sering merasakan susah, gelisah, takut dalam hal hal tertentu, tapi ya saya paksa, Nan. Karena kalau lama lama saya pelihara itu hanya akan membuat saya nggak ridho dengan qada' dan qadar. Jadi yo tak pekso seneng, nganti suwe suwe kulino, Nan. Lho, gimana itu, untuk senang saja harus dipaksa. Makanya sekarang saya jarang susah, bahkan punya saudara yang nggak jelas kayak kamu saja saya tidak bisa susah. saking wis kulino." Ajimukti sedikit tertawa kali ini.
Manan pun mendengar itu mau tidak mau ikut tertawa.
"Pokoknya, Nan. Senang itu ibadah. Wis arep piye kahanane penting seneng. Karena sifat wali itu laa khaufun 'alaihim walaa hum yahzanuun." Ajimukti nampak tersenyum dengan posisinya masih bersandar.
"Siap, Jik. Pokok'e seneng." Manan tertawa setelahnya.
"Kamu tahu orang gila kan, Nan?" Tanya Ajimukti kemudian
__ADS_1
Manan mengangguk.
"Banyak diantara para Waliyullah yang justru berpenampilan layaknya seperti orang gila, mereka lah para Wali Jadzab. Taruhlah contoh seperti halnya Uways Al-Qarny, tentu kamu sudah tahu kan cerita tentang beliau?"
Manan sekali mengangguk, "Wah, ini menarik Jik kalau sudah bicara wali wali begini. Pernah dulu ada orang yang bertanya pada saya tentang benar tidaknya keberadaan Wali Madjzub. Sampai sekarang pun saya belum bisa mengulik tentang itu, Jik."
Ajimukti tersenyum, "Begini, Nan. Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus memahami terlebih dahulu pembagian maqam kewalian dalam perspektif kajian ilmu tasawuf. Meyakini adanya manusia pilihan yang menjadi kekasih Allah adalah salah satu ajaran pokok dalam agama Islam. Kekasih Allah atau yang biasa dikenal dengan Waliyullah adalah orang-orang terpilih yang memiliki kedekatan secara khusus dengan Allah Subhanahu Wata’ala. Seperti yang diterangkan dalam Al-Qur'an surat Yunus ayat enam puluh dua yang tadi sempat saya sampaikan."
"Lalu, Nan. Kelompok Waliyullah ini secara pandangan tawasuf terbagi menjadi tiga kategori besar, yaitu, Wali Sufi, Wali Malamatiyyah, dan Wali Djazab atau yang juga sering disebut Wali Madjzub. Meskipun nanti dalam kewalian sufi, ada wali yang berperan sebagai Wali Masyhur yaitu wali wali yang dikenal dikalangan masyarakat dan juga Wali Mastur, yaitu wali yang tersembunyi. Wali dari kalangan sufi terdiri dari para wali yang dapat dikenali maqam dan kepangkatannya, seperti Wali Qutbul Ghauts, Ghauts, Quthbul Aqtab, Quthub, Imamah, Badal atau Budala, Nuqaba, Nujaba, Autad, dan masih banyak kepangkatan lainnya, menurut Imam Ibnu Arabi. Demikian pula disebutkan oleh Syekh Yusuf an-Nabhani di dalam kitab Jaamie Karamatil Awliya."
Manan melongo mendengar penjelasan Ajimukti itu, "Sebegitu tahunya kamu, Jik. Tidak saya sangka." Puji Manan kemudian.
Ajimukti tersenyum, "Hasil tidak pernah mengkhianati usaha, Nan. Saya hanya sering ngangsu ilmu, jadi saya pun tidak serta merta tahu. Butuh usaha untuk tahu."
"Mantap, Jik. Lanjut dah." Manan semakin bersemangat di balik kemudi.
"Tadi sampai mana malah lupa saya, Nan." Ajimukti nampak garuk garuk kepalanya.
Manan tertawa, "Emmm, pangkat Maqam, Jik." Celetuk Manan mengingat ingat.
"Emmm, yasudah saya lanjutkan saja, Nan. Para Waliyullah ini mengemban berbagai macam tugas masing-masing serta diberi keistimewaan oleh Allah dengan memiliki karamah yang berbeda beda, Nan. Jalan yang ditempuh mereka tak lain adalah menggapai Makrifatullah. Dalam ilmu tasawwuf, terdapat dua jalan untuk menggapai makrifat ini." Ajimukti melanjutkan.
"Dua jalan, Jik. Apa saja itu, Jik?" Tanya Manan semakin terlihat antusias.
"Dua jalan itu, Nan. Pertama, Suluk. Jalan ini adalah pilihan jalan yang ditempuh secara normal. Seseorang yang mengamalkan laku tasawuf secara tidak langsung juga disebut sebagai salik. Nah, yang kedua, yang kamu tanyakan, yaitu Jadzab atau Madjzub. Jalan ini adalah jalan khusus yang tidak sembarang orang bisa mengamalkan, hanya orang-orang khusus yang memang terpilih yang dapat menempuh jalan ini. Dua jalan menuju Makrifatullah ini, secara sederhana diilustrasikan dalam kitab Nasihah al-Murid fi Thariq ahli as-Suluk wa at-Tajrid, Nan. Kitabnya nanti di pesantren saya perlihatkan, kebetulan saya ada kitabnya." Lanjut Ajimukti kini sembari meraih bungkus rokok dan membuka kaca jendela mobilnya.
Manan hanya geleng geleng kepala ringan, dengan penjelasan Ajimukti ini, dirinya sedikit banyak punya gambaran, bahkan lebih dari yang ia harapkan.
"Mengutip sedikit dari kitab itu, Nan. Perlu kita ketahui bahwa jadzab dan suluk itu seperti pepohonan. Pohon jadzab memiliki akar dan tangkai, begitu pula pohon suluk juga memiliki akar dan tangkai. Setiap akar dan tangkai dari kedua pohon tersebut memiliki buah. Akar dari pohon jadzab adalah ilmu laduni yang bersifat ghaib, dan buah dari tangkai pohon jadzab adalah saat orang yang jadzab mendapat perintah Allah agar mengatakan pada sesuatu kun fa yakun, segalanya murni pemberian dari Allah. Sedangkan akar dari pohon suluk dapat membuat pohon berbuah dengan Ilmu yang dzahir atau tampak, Nan. Dan tangkainya berbuah dengan amal yang bersifat dzahir pula, meski orang yang mengamalkan laku suluk dan orang jadzab berbeda, orang yang mengamalkan laku suluk beribadah di belakang tirai penghalang dari Allah, sedangkan orang jadzab tidak ada di antara penghalang apa pun. Pesan dari Allah langsung pada mereka, dan ibadah dari mereka langsung tertuju pada Allah. Sampai disini kamu paham tidak?" Tanya Ajimukti kemudian.
Manan mengerutkan kening, "Berarti dengan kata lain, berdasarkan referensi itu, orang yang mengamalkan laku suluk masih berada di bawah orang yang sudah sampai pada fase jadzab ya, Jik?" Tanyanya kemudian.
Ajimukti mengangguk, "Benar, Nan. Jadzab adalah tampaknya sifat-sifat ilahi. Ketika dalam kondisi jadzab, akan betul-betul tampak secara nyata sifat-sifat Allah dan seseorang mampu merasakannya. Orang yang dalam kondisi jadzab seringkali melakukan perbuatan di luar nalar manusia biasa, Nan. Sebab, apa yang dilakukan oleh mereka dalam keadaan jadzab sudah di luar kapasitasnya sebagai manusia."
"Itu sebabnya banyak Wali Jadzab yang berperilaku seperti orang gila ya, Jik?" Tanya Manan polos.
Ajimukti mengangguk, "Tapi meski demikian, Nan. Patut dibedakan antara orang yang melakukan hal-hal aneh atau khaariq al-aadah karena memang betul-betul jadzab dengan orang yang hanya pura-pura jadzab. Kan banyak juga itu yang sok njadzab. Padahal ngaji juga belum khatam." Ajimukti kemudian tertawa.
Manan pun ikut tertawa, "Lalu bagaimana membedakannya, Jik?" Tanyanya kemudian.
"Nah, begini, Nan. Untuk menandai perbedaan dua orang ini cukup sederhana, yakni dengan cara melihat tingkah laku orang tersebut setelah kondisi terjaga. Jika saat kondisi normal, ia senantiasa berzikir dan beribadah serta menjauhi hal hal duniawi yang bersifat profan, maka bisa dipastikan keanehan yang ia lakukan adalah berangkat dari Maqam Jadzab. Nah, sebaliknya, jika seseorang setelah dalam kondisi normal justru lebih mendekatkan diri pada hal-hal yang bersifat duniawi dan senang mendekat dengan orang-orang yang memiliki ambisi duniawi, maka bisa dipastikan keanehan yang ia lakukan bukanlah bermula dari keadaan jadzab. Tapi hanya sebatas tipu daya yang dilakukannya untuk menarik perhatian orang lain. Perbedaan dua karakteristik ini seperti yang digambarkan dalam pembahasan menari saat berzikir yang dijelaskan dalam kitab Zad al-Muslim fi ma Ittafaqa ‘alaihi al-Bukhari wa Muslim, Nan." Ajimukti menjelaskan.
Manan mengangguk, "Kamu juga ada kitabnya, Jik?" Tanyanya lagi.
"Ada, tapi sepertinya ada di Kang Sobri. Nanti kamu bisa tanyakan sama beliau." Sahut Ajimukti.
"Sedikit saya kutip dari bagian kitab itu, Nan. Di sana dikatakan, bahwa menari pada saat berdzikir bukan bagian dari ajaran syariat dan bukan bagian dari budi pekerti yang baik. Tindakan tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk dibenarkan oleh siapa pun kecuali bagi orang khusus dari kalangan orang jadzab.
Menurut sebagian kalangan ulama sufi jadzab memiliki tanda-tanda tertentu, Nan. Yang membedakan antara tindakan jadzab yang hakiki, dan tindakan yang berangkat dari main-main dan tipu daya di hadapan manusia.
Mereka berkata, bahwa orang yang jadzab ketika setelah sadar ia berpaling dari dunia dan menghadap untuk berdzikir pada Allah dan beribadah kepada-Nya. Maka sikap jadzabnya adalah sikap jadzab yang sungguhan, tindakannya menari saat berdzikir dianggap udzur.
Sedangkan ketika setelah sadar dari jadzab dan selesai menari saat dzikir, seseorang lantas menghadap pada dunia dan merasa senang berjumpa dengan orang yang tergiur dengan dunia. Hingga tidak ada perbedaan antara dirinya dan orang yang tergiur dengan dunia dalam perbuatan dan sikap main-mainnya, maka ia adalah orang yang main-main dan bohong atas klaim kejadzabannya saat menari dan bersenda gurau, ia adalah bagian dari orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau."
"Nauzubillah, Jik." Manan geleng geleng. "Berarti dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa jadzab adalah sebuah keadaan saat seseorang sudah lepas dalam kapasitasnya sebagai manusia karena tampak secara jelas padanya sifat-sifat Allah atau tajalli ya, Jik? Dan segala keanehan dari perbuatan yang dilakukan dalam kondisi jadzab bermula dari petunjuk Allah, begitu, Jik?" Tanyanya kemudian.
"Betul, Nan. Orang yang sudah sampai pada Maqam Jadzab inilah yang kemudian biasa dikenal dengan sebutan Majdzub. Sedangkan masyarakat mengenal orang yang sudah sampai pada maqam ini dengan sebutan Wali Jadzab atau Wali Majdzub. Dan orang yang dijadikan Wali Madjzub ini hanya sebatas untuk dirinya sendiri dan tidak untuk dijadikan sebagai guru, berbeda dengan Wali Sufi yang memang ditugaskan sebagai Murabbi Mursyid membimbing para murid muridnya." Jelas Ajimukti.
Manan lagi lagi hanya mengangguk. Pembahasan demi pembahasan pun pada akhirnya menemani perjalanan mereka menuju kota gudeg Yogyakarta di pagi menjelang siang ini.
Bersambung...
__ADS_1