BROMOCORAH

BROMOCORAH
Kekhawatiran Sumiatun


__ADS_3

Seminggu setelah kepulangan Dullah dan Nyai Kartika ke Pondok Pesantren Fadhlun Muthoriq, Ajimukti mulai disibukkan dengan beberapa kegiatan pesantren. Selain mengajar dan mengurusi kebutuhan para santri, Ajimukti juga mulai memikirkan tentang perencanaan pembangunan asrama pondok putri seperti yang sebelumnya sudah direncanakan Kyai Aminudin. Selain itu, dirinya juga terus mencari keberadaan Kyai Aminudin yang sampai hari ini belum juga diketahui kabar keberadaannya.


Pagi itu Ajimukti sedang bersantai dengan Sobri ketika tiba tiba Prastowo datang dengan sepeda motor roda tiganya. Di bak belakang sepeda motor itu penuh dengan daging ayam potong yang sudah sekalian dibersihkan.


Ajimukti segera bangun dari duduknya ketika melihat kedatangan Prastowo itu, begitu juga Sobri.


"Kenapa pagi pagi sekali, Lek?" Tanya Ajimukti setelah mereka saling mengucapkan salam.


"Iya, Mas. Soalnya nanti mau ke Pacitan." Sahut Prastowo sembari membuka pintu bak belakang motornya.


Beberapa santri ndalem segera menurunkan daging ayam potong itu dari motor dan langsung membawanya ke pawon ndalem.


"Ke Pacitan? Ada acara apa, Lek?" Tanya Ajimukti sedikit ingin tahu sembari mempersilahkan Prastowo duduk.


Prastowo tertawa, membuat Ajimukti mengerutkan keningnya. Begitu juga Sobri.


"Mengantar Ajeng, Mas. Kan Minggu Minggu ini Akhirus-sanah pesantren nya Ajeng, Mas." Sahut Prastowo sembari duduk dan mengeluarkan rokok kreteknya.


Ajimukti mengangguk, "Oh, iya saya lupa, Lek." Sahut Ajimukti sedikit tersenyum malu.


Tiba tiba Ajimukti teringat sesuatu.


"Boleh saya yang mengantar Dik Ajeng, Lek?" Ucap Ajimukti dengan sedikit mencondongkan kepalanya ke arah Prastowo.


Prastowo mengerutkan keningnya. Begitu juga dengan Sobri yang mendengar permintaan Ajimukti itu.


"Kok njenengan, Mas. Nggak usah, Mas. Saya kebetulan longgar hari ini." Sahut Prastowo tidak enak.


Ajimukti tersenyum, "Bukan soal longgar atau tidaknya sampean, Lek. Tapi ini masih soal pencarian Kyai Aminudin." Ucap Ajimukti kemudian.


Prastowo semakin tidak mengerti maksud dari ucapan Ajimukti kali ini.


"Maksudnya, Mas?" Tanya Prastowo tanpa ragu.


Ajimukti sekali lagi tersenyum, "Begini, Lek. Kan Dik Ajeng sama Ning Biba satu pesantren, satu kelas malah. Nah, otomatis Ning Biba juga akan kembali ke pesantren untuk mengikuti Akhirus-sanah itu kan, Lek. Ya, siapa tahu jika saya bisa bertemu Ning Biba saya bisa dapat informasi tentang keberadaan Kyai Aminudin. Atau malah disana saya bisa bertemu Kyai Aminudin sekalian, siapa tahu Kyai Aminudin kebetulan mengantar Ning Biba." Ucap Ajimukti kemudian.


Prastowo mengangguk paham. "Mas Aji benar. Kenapa saya tidak kepikiran sampai disitu ya. Padahal kan beberapa hari yang lalu kita sempat meminta Ajeng untuk menghubungi Habiba, anaknya Kang Amin itu."


"Iya, Lek. Hanya saja nomor Ning Biba sudah tidak dipakai lagi seperti kata Gus Faruq yang juga sudah beberapa kali mencoba menghubungi Ning Biba." Imbuh Ajimukti.


"Yasudah, Mas Aji. Kalau begitu saya langsung saja untuk menyampaikan ini sama Ajeng kalau Mas Aji yang akan mengantarnya ke pesantren." Ucap Prastowo seraya berdiri dari duduknya.


"Iya, Lek. Terima kasih sebelumnya." Ucap Ajimukti.


"Saya yang terima kasih, Mas. Saya malah jadi merepotkan njenengan." Ucap Prastowo sembari melempar senyum.


Tak lama pria berpostur tubuh gempal dengan kulit sedikit gelap itu berlalu dari ndalem pesantren dengan sepeda motor roda tiganya.


"Nanti sampeyan ikut juga, Kang!" Ucap Ajimukti pada Sobri ketika Prastowo sudah berlalu.


Sobri tersentak. Tiba tiba ada semangat yang menggebu karena ajakan Ajimukti itu.


"Baik, Gus." Sahut Sobri dengan begitu bersemangat.


"Saya akan ajak Manan juga, Kang." Ucap Ajimukti sembari berdiri. "Saya cari Manan dulu. Sampeyan siapkan mobil, Kang!" Lanjutnya.


"Baik, Gus. Sendiko."


Ajimukti segera mencari Manan. Sementara Sobri segera meraih kunci mobil dan menuju ke arah halaman parkir pesantren. Hatinya pagi ini sedang berbunga bunga.


Sementara itu Prastowo sudah kembali ke rumahnya. Sumiatun yang melihat kedatangan Prastowo agak sedikit heran.


"Kok cepet temen, Pak. Tumben nggak ngobrol dulu sama Guse?" Tanya Sumiatun kemudian.

__ADS_1


"Ajeng mana, Bu?" Tanya Prastowo begitu turun dari motornya tanpa menjawab pertanyaan istrinya itu.


"Baru selesai mandi. Terus tadi ibu lihat lagi beres beres." Sahut Sumiatun singkat.


"Tolong panggilkan sebentar, Bu! Ada yang mau bapak sampaikan sama dia." Ucap Prastowo sembari duduk di lincak emperan rumahnya.


Sumiatun agak penasaran. Tapi segera ia masuk ke dalam rumahnya untuk memanggil anak perempuannya itu.


Tak lama Ajeng pun keluar beriringan dengan Sumiatun. Dari raut wajah mereka sama sama menunjukan rasa penasaran.


"Bapak manggil Ajeng?" Tanya Ajeng begitu tiba di teras rumahnya.


"Duduk lah dulu!" Pinta Prastowo kemudian. "Ada yang mau bapak sampaikan ke kamu." Lanjutnya.


Ajeng segera duduk bersebelahan dengan ibunya, Sumiatun.


"Ada apa to, Pak? Kok ibu jadi penasaran." Ucap Sumiatun sedikit mengerutkan kening.


"Begini, Nduk. Nanti bapak tidak bisa nganter kamu." Ucap Prastowo kemudian.


Baik Ajeng maupun Sumiatun agak tersentak. Seketika wajah Ajeng nampak berubah kecewa.


"Lha piye to bapak iki?" Sumiatun sedikit menggertak.


"Sebentar to, Bu. Bapak belum selesai bicara." Prastowo sedikit membalas gertakan istrinya. Sementara Ajeng tidak berubah ekspresi saat ini.


"Nanti kamu berangkat ke Pacitan akan di antar sama Mas Aji." Ucap Prastowo kepada Ajeng kemudian.


Mendengar nama Ajimukti, apalagi akan mengantarkannya ke pesantren, seketika ekspresi wajah Ajeng berubah. Kini sorot wajahnya nampak berseri dengan bola mata yang menyala.


Sumiatun pun nampak terkejut dengan apa yang baru saja Prastowo sampaikan.


"Bapak serius?" Tanya Sumiatun sedikit penasaran.


"Yasudah cuma itu yang mau bapak sampaikan, Nduk. Kamu siap siap lagi sana!" Ucap Prastowo kemudian.


Ajeng tak menyahut. Dirinya segera bergegas masuk ke dalam kamarnya dengan penuh semangat lalu menjatuhkan tubuhnya ke amben tempat tidurnya. Ia tak dapat lagi menyembunyikan kebahagiaan hatinya saat ini. Senyumnya pun semakin menunjukkan kebahagiaan yang kini tengah dirasakannya.


Ajeng segera bangun dan kembali menyiapkan semua yang akan dibawanya kembali ke pesantren. Rasanya sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Ajimukti siang nanti.


Sementara itu di teras, Sumiatun masih nampak penasaran dengan perihal Ajimukti yang akan mengantarnya kembali ke pesantren.


"Ada apa sebenarnya, Pak? Kenapa tiba tiba Guse yang nganter Ajeng?" Tanya Sumiatun menyelidik.


"Ibu ini lho. Kayak Ajeng diantar siapa saja. Wong yang nganter itu Mas Aji. Ibu nggak usah khawatir. Khusnudzon, Bu. Masak mau curiga sama Mas Aji." Prastowo sedikit menyindir istrinya.


Sumiatun mendengus, "Bukan berpikir yang seperti itu, Pak. Bapak ini lho malah yang su'udzon sama ibu."


"Habisnya ibu dari tadi sepertinya penasaran begitu kok." Prastowo masih tak mau kalah.


Sumiatun menghela nafas. Sedikit jengkel dengan suaminya. Prastowo menyadari itu lalu tersenyum melihat ekspresi istrinya.


"Begini, Bu. Seperti yang kita semua tahu. Mas Aji itu kan masih berusaha mencari tahu keberadaan Kang Amin. Nah, sementara Habiba, anaknya Kang Amin kan satu pesantren sama Ajeng. Mas Aji berharap beliau bisa bertemu Habiba di pesantren Pacitan, agar bisa mendapat informasi tempat tinggal mereka sekarang. Sukur sukur bisa bertemu Kang Amin, siapa tahu Kang Amin lagi nganter Habiba juga. Begitu, Bu." Prastowo menjelaskan panjang lebar.


Mendengar itu, Sumiatun agak khawatir. Dia tahu bagaimana Ajeng tadi, meski pun tidak terang terangan di perlihatkannya. Tapi ekspresiya tadi begitu terlihat bahagia ketika tahu dirinya akan diantar Ajimukti. Sumiatun khawatir Ajeng akan salah paham dengan maksud Ajimukti ini.


Sumiatun menghela nafas, berusaha menenangkan perasaannya dan meredam kekhawatirannya saat ini. Bagaimanapun dia juga tidak mungkin merusak kebahagiaan putrinya. Sumiatun hanya bisa berharap, semoga saja Ajeng bisa memahami semua ini.


Beberapa jam berlalu. Sebuah mobil bercat silver berhenti di halaman rumah Prastowo. Dari pintu kemudi nampak keluar Ajimukti disusul Sobri dari pintu sebelahnya dan Manan pun juga terlihat keluar dari pintu belakang.


Prastowo nampak tersenyum menyambut kedatangan Ajimukti itu. Di belakangnya pun terlihat Sumiatun dan juga Ajeng yang sudah bersiap dengan beberapa barang bawaannya.


"Loh, Manan juga ikut?" Tanya Prastowo sesaat setelah saling menyapa dengan Ajimukti dan yang lain.

__ADS_1


"Iya, Pak Dhe. Di ajak Ajik ini." Sahut Manan sedikit melempar senyum.


"Sengaja, Lek. Soalnya kan Ajeng kan cukup dengan Manan. Biar nggak canggung. Jadi ada teman mengobrol nanti di jalan." Ajimukti menjelaskan.


Prastowo mengangguk paham.


"Kita berangkat sekarang?" Tanya Ajimukti beralih pada Ajeng setelah beberapa saat berbasa basi


"Nderek njenengan saja, Kang. Kalau mungkin masih ada yang ingin dibicarakan sama bapak." Sahut Ajeng sedikit menundukkan kepalanya.


"Sudah tidak ada kok, Dik. Kalau begitu kita berangkat sekarang saja bagaimana?" Ucap Ajimukti kemudian.


Ajeng hanya mengangguk.


Setelah berpamitan mereka pun segera bersiap.


"Kang Sobri, tolong bantu memasukan barang Dik Ajeng ke bagasi ya." Ucap Ajimukti pada Sobri.


"Iya, Gus." Sobri segera mendekat ke Ajeng untuk membawakan barangnya. Disaat itu pandangannya bertemu dengan pandangan Ajeng. Sobri sedikit bergetar, lalu segera menyembunyikan tatapannya.


"Biar saya sendiri saja, Kang." Ucap Ajeng ketika Sobri hendak membantunya membawakan barangnya.


"Sudah saya saja, Dik. Dawuhe Guse. Mpun, sampeyan masuk saja." Sobri tak berani menatap Ajeng. Ia segera membawa barang bawaan Ajeng dan segera mengangkatnya dan kemudian memasukkannya ke bagasi.


Tak berapa lama mereka pun segera berlalu dari halaman rumah Prastowo. Untuk beberapa saat Sumiatun memandang mobil bercat silver itu hingga benar benar tak terlihat lagi. Prastowo menatap Sumiatun, lalu mendekat ke arahnya.


"Kamu kenapa, Bu? Belum rela di tinggal anak wedokmu?" Tanya Prastowo kemudian.


Sumiatun hanya menghela nafas. Meski mendengar ucapan Prastowo tapi ia sedang tak berniat menanggapinya.


Prastowo tersenyum, lalu meraih pundak istrinya itu, "Wong ya paling nggak sampai dua bulan anakmu itu pulang lagi, Bu. Sudah jangan terlalu nggondheli. Malah entar anakmu nggak kerasan di sana."


Sumiatun melenguh, "Bukan soal itu, Pak. Kalau itu ibu juga ngerti, anak kita sedang berjuang menuntut ilmu, biar benar benar dadi uwong sing migunani."


Prastowo mengerutkan kening. Ada rasa ketidak pahaman dari ucapan Sumiatun ini.


"Lalu soal apa, Bu?" Tanya Prastowo tak ingin berprasangka buruk.


Sumiatun menghela nafasnya, lalu menoleh ke arah Prastowo membuat Prastowo semakin bingung apa maksud Sumiatun.


"Apa bapak tidak sadar? Tidak merasa aneh?" Tanya Sumiatun kemudian.


"Maksud ibu apa? Sadar soal apa? Aneh kenapa? Mbok ya kalau ngomong itu jangan bertele tele tho, Bu." Prastowo semakin dibuat kebingungan kali ini.


"Anakmu, Pak." Sumiatun menekan kata katanya.


"Iya, Ajeng kenapa?" Prastowo menjawab datar namun tegas.


"Ah, bapak ini jan tenan. Nggak peka blas jadi orang tua." Sumiatun nampak kesal.


"Nggak peka piye tho, Bu? Ibu ini lho, kalau ngomong suka berbelit belit. Bikin orang bingung." Prastowo pun tak kalah kesal dengan istrinya.


"Anakmu wedok iku kesengsem sama Guse, Pak. Mbok ya peka sedikit kenapa?" Sumiatun mulai meninggikan suaranya.


Prastowo tersentak dan kembali mengerutkan keningnya.


"Maksud ibu, Ajeng suka sama Mas Aji? Begitu, Bu?" Tanya Prastowo masih ingin kejelasan.


"Ah, mbuh, Pak. Wong wis dibilangin begitu masih juga tanya." Sumiatun melangkah masuk ke dalam rumah.


Prastowo masih berdiri dengan sejuta pertanyaan bergelayut di benaknya tentang omongan istrinya barusan. Tak lama Prastowo pun menghela nafas lalu menyusul Sumiatun masuk ke dalam rumah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2