
"Tapi apa Mas Aji yakin dengan begitu bisa membuat anak saya berubah?"
Ajimukti tersenyum, "Pak Samsuri ragu?"
Samsuri sedikit mengerutkan keningnya seolah berpikir.
"Bukan saya ragu, Mas. Tapi saya tau bagaimana watak anak saya. Dia lebih senang keluyuran ketimbang diam di rumah. Nongkrong sama teman temannya. Dan tidak pernah sekali pun belajar agama." Ucap Samsuri kemudian.
Ajimukti tersenyum masam, "Anak bapak yang tidak pernah belajar agama atau bapak yang tidak pernah mengarahkannya untuk belajar agama?" Tanyanya kemudian.
Samsuri sedikit kaget, ekspresi wajahnya terlihat canggung dan nampak malu.
"Saya memang tidak begitu memantau perkembangannya sejak kecil, Mas. Semua saya serahkan pada ibunya. Karena terus terang, sejak orang tua saya meninggal, sayalah tulang punggung utama keluarga. Selain untuk anak istri saya, saya juga harus menghidupi ibu saya juga menanggung pendidikan adik adik saya dulu, karena saya anak mbarep di keluarga, Mas." Samsuri sedikit terbuka kali ini meski dengan sedikit malu ia mengatakannya.
Ajimukti mengangguk paham, "Al-ummu madrasah Al-ulla, Pak. Ibu itu sekolah pertama seorang anak. Jadi anak akan terbentuk seperti apa, itu orang tua lah yang membentuknya sejak awal. Jika anak sering dimarahi, ia hanya akan belajar membantah. Jika anak di pukul, dia akan belajar melawan. Jika anak diancam, ia akan belajar menggertak. Tapi jika anak di mendapat perlakuan yang lemah lembut dengan pendekatan yang baik sejak dini, maka anak akan belajar menghargai."
"Saya hanya bisa menyarani itu. Tapi jika Pak Samsuri ragu, tidak usah. Mungkin bapak punya solusi lain." Lanjut Ajimukti kemudian.
"Saya sudah tidak ada solusi, Mas. Itulah kenapa saya menurut saja ketika Nugroho menyarankan kepada saya untuk kesini." Sahut Samsuri.
"Keraguan akan sebuah pilihan, itu timbul karena adanya pertimbangan dari pilihan lain, Pak. Iya iya, tidak tidak. Dari pada iya tidak ya? Lebih baik tidak saja." Imbuh Ajimukti.
Samsuri mengangguk. "Saya paham, Mas. Saya mungkin memang ragu mengingat bagaimana watak anak saya." Ucapnya kemudian.
Ajimukti kembali tersenyum, "Watak lan watuk memang beda, Pak. Watuk, bisa diobati. Tapi watak, itu sudah seperti menyatu dengan diri seseorang itu. Cara merubahnya hanya dengan membiasakannya tidak menunjukkan wataknya itu."
"Apa tidak ada alternatif lain, Mas? Saya khawatir kalau anak saya menolak. Jadi saya ada plant B." Sahut Samsuri lagi.
"Begini, Pak Samsuri. Jika kita memiliki dua pilihan. Maka lakukan sesuai pilihan kedua, karena itu yang terbaik. Kenapa saya bilang itu yang terbaik? Karena jika pilihan pertama itu baik, tentu tidak perlu lagi mencari pilihan kedua kan?" Ucap Ajimukti kemudian.
Sekali lagi Samsuri mengangguk. "Mas Aji yakin dengan memasukkannya ke pesantren bisa membuatnya berubah?" Tanya Samsuri mengulangi pertanyaannya di awal.
"Loh, kalau saya tidak yakin kenapa saya menyarankan itu, Pak?" Timpal Ajimukti.
"Jika kita di dekat penjual ikan, tidak mungkin tidak kita tidak mencium bau amis, bahkan ikut amis. Tapi jika kita di dekat penjual parfum, tidak mungkin tidak juga kita tidak mencium aroma wangi, bahkan ikut wangi. Baik itu biasa, Pak. Tapi, biasa baik itu yang susah." Lanjut Ajimukti kemudian.
Dan sekali lagi Samsuri hanya mengangguk paham.
"Taruhlah sebuah pengibaratan, Pak. Jika kita sedang di acara musik, dangdutan misalnya. Kita bergoyang itu wajar. Tepak papane. Tapi jika kita sedang di acara rapat misalnya, disaat sedang serius lalu kita bergoyang lenggak lenggok, apa itu pas Pak kira kira? Seseorang akan mengikuti tempat. Bukan tempat dan yang mengikuti seseorang. Bukan begitu, Pak?" Tanya Ajimukti setelahnya.
"Mas Aji benar." Sahut Samsuri sembari kembali mengangguk.
"Baiklah, saya akan bujuk anak saya supaya mau nyantri disini." U
Lanjutnya.
"Silahkan. Jika bapak sudah yakin, kapan pun bapak mengantar anak bapak itu kesini. Pintu pesantren ini akan selalu terbuka lebar." Sahut Ajimukti.
__ADS_1
Tak lama setelah perbincangan itu, Samsuri pun undur diri dari pesantren. Sebelum pergi Samsuri memastikan bahwa dalam waktu dekat ini, ia akan kembali bersama anaknya. Ajimukti hanya kembali mempersilahkannya.
Setelah Samsuri meninggalkan pesantren. Ajimukti pun kembali duduk di teras ndalem nya. Kali ini ia hanya sendiri. Sobri dan yang lainnya sudah sejak kedatangan Samsuri tadi meninggalkan teras ndalem.
Ajimukti masih tidak menyangka bahwa Nugroho bisa memberi Samsuri saran semacam itu. Ia berpikir apakah Nugroho sudah berubah sejak kedatangannya waktu itu.
Ajimukti menghela nafas. Karena memikirkan Nugroho itu, akhirnya ia berinisiatif untuk mencoba menemui Nugroho dan melihat sendiri bagaimana Nugroho sekarang.
Ajimukti segera bangun dari duduknya dan bersiap siap untuk pergi ke Lapas tempat dimana Nugroho ditahan untuk mempertanggungkan perbuatannya. Kali ini sama seperti sebelumnya, ia sengaja datang menemui Nugroho seorang diri.
Setengah jam berlalu. Kini Ajimukti sudah tiba di Lapas tempat yang pernah di datangi beberapa waktu lalu. Seorang petugas penjaga pintu gerbang berseragam biru yang sepintas mirip seragam TNI angkatan laut segera mempersilahkan masuk dan segera ke ruang kunjung.
Sama seperti kedatangannya waktu itu. Kali ini pun Ajimukti segera ke petugas kunjungan dan menyerahkan kartu identitasnya lalu mengambil tempat duduk untuk menunggu Nugroho yang sedang di panggil seorang tamping yang sama dengan tamping yang waktu dirinya datang pertama kali ke tempat ini.
Sekitar lima menit sejak Ajimukti menunggu di ruang tunggu, akhirnya Nugroho pun tiba di ruang kunjungan itu.
"Kamu, tho?" Tanya Nugroho dengan ekspresi datar.
"Apa kabarnya pak Nugroho?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Kabar yang seperti apa yang kamu tanyakan?" Tanya Nugroho.
"Keadaan Pak Nugroho." Sahut Ajimukti.
"Keadaan saya seperti yang kamu lihat. Saya baik baik saja." Sahut Nugroho.
"Ada apa kamu kesini?" Tanyanya setelah itu.
"Kenapa? Ada masalah? Atau apa?" Tanya Samsuri masih dengan wajar datar.
"Berarti benar?" Tanya Ajimukti memastikan.
"Iya, memang saya yang menyarankannya untuk menemui kamu. Jawab Nugroho kemudian.
"Kenapa bapak menyarankan seperti itu?" Tanya Ajimukti sarat keheranan.
"Kenapa? Tidak boleh?" Tanya Nugroho sedikit menatap tajam Ajimukti.
Ajimukti tersenyum, "Justru saya tidak menyangka bahwa Pak Nugroho lah yang menyarankan itu. Entah apa maksud bapak dengan menyarankan itu."
"Maksud? Kamu tanya maksud saya? Kamu itu lucu." Sahut Nugroho sedikit tersenyum sinis.
Ajimukti hanya mengerutkan keningnya karena keheranan dengan ekspresi wajah Nugroho kali ini.
"Saya paham. Saya bukan orang baik baik. Setidaknya, tempat saya berada saat ini sudah bisa menunjukkan siapa saya ini. Tapi, apakah tidak pantas untuk orang seperti saya berubah? Tidak untuk menjadi orang baik. Minimal menjadi lebih baik. Apakah tidak pantas?" Tanya Nugroho kemudian.
Ajimukti tersenyum, "Hukum Allah dan hukum dunia berbeda, Pak. Dan saya sudah melihatnya sendiri. Disini, bapak hanya tinggal menjalani sisa hukum dunia. Tapi insya Allah, Allah sudah memaafkan kekhilafan Pak Nugroho. Karena Al Ghaffar dan Al Afuww itu hanya Allah."
__ADS_1
"Kalau sudah begini saya jadi kangen Budi. Sejak saya disini, ia belum pernah sekalipun mengunjungi saya." Nugroho sedikit menyunggingkan bibirnya. Dari wajahnya nampak kesedihan yang mendalam.
"Apa perlu saya menemui Budi?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Tidak perlu. Saya yang salah. Dan saya cukup bisa memahami karakter Budi." Sahut Nugroho.
"Saya minta maaf, Le. Benar kata kamu waktu itu. Tidak seharusnya kesalahan masa lalu orang tuamu kamu menanggungnya. Dan lagi, jauh dalam lubuk hati saya, saya pun yakin ini bukan salah bapak kamu. Saya hanya seorang adik yang ingin membela kakaknya." Ucap Nugroho kemudian.
"Sudahlah, Pak. Tidak udah disesali. Saya sudah memaafkan Pak Nugroho bahkan sebelum bapak memintanya." Sahut Ajimukti sedikit melengkungkan bibirnya.
"Dengan berada disini saya pun menyadari satu lagi kesalahan saya. Tapi sudahlah, biarkan itu menjadi penyesalan saya sendiri." Kini wajah Nugroho nampak benar benar muram.
"Kesalahan? Kesalahan apa itu, Pak? Apa masih soal Budi?" Tanya Ajimukti.
Nugroho menggeleng berat, "Bukan, Le. Ini soal Kang Mas Saputro. Dia kakak kedua saya."
Ajimukti mengangguk, "Apa desas desus yang saya dengar itu benar, Pak?"
Nugroho tersenyum kecut, "Jadi kamu pun sudah tahu ya, Le. Jadi tidak perlu saya jelaskan. Anggap saja semua yang kamu tahu itu benar dan memang benar." Ucapnya kemudian.
"Belum terlambat untuk bertaubat selagi sempat, Pak." Timpal Ajimukti.
"Ya kamu benar."
"Oh iya. Apa kamu tidak tersinggung saya panggil 'La Le La Le?'." Tanya Nugroho kemudian.
"Loh, kenapa saya harus tersinggung, Pak?" Tanya Ajimukti membalik.
"Kamu itu seorang 'Gus', saya panggil 'Le' apa pantas? Sebagian orang mengganggap panggilan itu rendah dan kasar kan?" Tanya Nugroho lagi.
Ajimukti tersenyum, "Sibu saya memanggil saya juga begitu. Apa berarti ibu saya kasar dan merendahkan saya, Pak?" Jawab Ajimukti kembali dengan pertanyaan.
"Saya cuma senang saja memanggil anak laki laki begitu ketika saya sudah merasa akrab." Sahut Nugroho.
Ajimukti mengangguk, "Saya cukup paham, Pak. Justru bagi saya, panggilan itu bermakna sekali, Pak. Ada ketulusan di dalamnya."
Nugroho tersenyum.
"Dan lagi bukankah sudah umum, Pak. Semakin dekat dan semakin akrab, akan semakin kasar. Hanya orang orang yang dekat saja yang berani memanggil seseorang dengan panggilan yang notabene nya dianggap kasar. Semisal 'Le' itu tadi. ***. Bahkan 'Su'." Ucap Ajimukti sembari tertawa.
"Ya ya ya. Kamu benar, Le." Nugroho pun kini nampak tertawa lepas.
"Oh iya, Le. Saya titip Samuel. Semoga saja ada hidayah yang membawanya kelak menjadi mualaf." Ucap Nugroho kemudian.
"Aamiin, Pak. Saya pun merasa hidayah Allah perlahan lahan mulai menyentuh Samuel." Sahut Ajimukti.
Nugroho mengangguk ringan.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, seorang tamping datang mendekati mereka dan mengatakan bahwa waktu kunjungan sudah selesai. Ajimukti pun pamit undur diri pada Nugroho. Saling melepaskan dengan sebuah keadaan yang sangat baik dengan sebuah senyuman yang sama sama terlempar tulus dari keduanya mengakhiri pertemuan Ajimukti dan Nugroho siang ini.
Bersambung...