
Di pagi hari di lain hari. Ramai riuh pasar menjadi suasana tersendiri setiap pagi di kota ini. Suara tawar menawar antara pembeli dan penjual seolah menjadi nyanyian yang tidak ada jedanya di hampir setiap putaran jarum jam.
Diantara ramai riuh itu, Hexa terperanjat dari duduknya, menyeruput es teh nya sekali setelahnya berlalu dengan langkah cepat. Hal yang membuatnya begitu karena ia melihat seorang gadis yang tengah berjalan sendiri diantara orang orang yang ramai di pasar itu.
"Assalamu'alaikum... Ning Afis adiknya Gus Aji ya?" Sapa Hexa terdengar ramah begitu berada tak jauh dari gadis yang di sambanginya, Nafisa.
Nafisa nampak mengerutkan keningnya, "Sampeyan... Sampeyan bukannya santri Pondok Hidayah?" Tanyanya kemudian.
"Benar. Betul. Tepat dan tidak salah." Sahut Hexa sembari melengkungkan bibirnya ramah.
Nafisa hanya mengangguk anggukan kepalanya.
"Sendiri saja, Ning?" Tanya Hexa setelah celingukan sesaat.
"Iya, Kang." Sahut Nafisa singkat.
"Oh... Boleh saya temani?" Hexa menawarkan dirinya.
"Maaf, Kang. Tidak usah saja. Terima kasih." Sahut Nafisa kali ini ia sedikit memberi senyum pada Hexa.
"Jangan menolak, Ning. Tidak baik." Hexa terdengar memaksa kali ini.
"Lagi pula Ning ini kan masih belum lama disini. Takutnya nanti kesasar." Imbuh Hexa, Nafisa hanya kembali tersenyum.
"Oh, iya, dan lagi menjaga keamanan keluarga pesantren juga termasuk keharusan kan?" Lanjut Hexa lagi.
Nafisa tak menyahut, ia hanya sedikit melempar senyum sembari menggelengkan kepalanya ringan setelahnya ia melanjutkan jalannya menyusuri pasar.
Hexa nampak kegirangan kali ini. Setidaknya, ia merasa tawarannya tidak ditolak Nafisa.
"Sebaiknya sampeyan kembali ke pesantren, Kang. Apa tidak ada kajian?" Tanya Nafisa kemudian sembari terus berjalan.
"Ini kan hari Selasa, Ning. Ngaji libur." Sahut Hexa.
"Oh..." Hanya itu tanggapan Nafisa.
"Ning Afis mau beli apa ini?" Tanya Hexa mencari bahan obrolannya kali ini.
"Belanja sayur untuk masak, Kang." Sahut Nafisa.
"Oh, sayuran ya... Emmm, kebetulan saya tahu tempat yang jual sayur segar, Ning. Saya antar kesana bagaimana, Ning?" Tawar Hexa lagi.
"Tidak usah, Kang. Saya bisa cari sendiri." Sahut Hexa kemudian.
"Baiklah kalau begitu." Hexa nampak bingung untuk kembali mencari bahan obrolan selanjutnya.
"Nanti biar saya bawakan, Ning. Kebetulan saya juga ada kenalan supir becak disini." Ucap Hexa lagi.
"Tidak usah, Kang. Biar nanti saya bawa sendiri." Sahut Nafisa lagi kemudian ia mulai masuk ke dalam pasar masih di ikuti Hexa di belakangnya.
Hexa kembali nampak kebingungan untuk benar benar bisa mengobrol dengan Nafisa kali ini.
Nafisa kini nampak berhenti di salah satu kios sayuran di dalam pasar itu. Seorang ibu paruh baya nampak mengerutkan kening dan sedikit terkejut begitu melihat Nafisa.
"Mbak Nafisa ya?" Tanya si ibu itu kemudian.
"Iya, Bu. Masih ingat?" Tanya Nafisa balik.
"Aduh, lama tidak kelihatan. Sampai pangling ibu, Mbak." Ucap ibu itu kemudian berdiri menyalami Nafisa.
"Apa kabarnya, Bu?" Tanya Nafisa kemudian.
"Alhamdulillah, Mbak. Masih seperti ini. Mbak Nafisa sendiri bagaimana kabarnya? Apa kembali ke pesantren?" Tanya ibu itu kemudian.
"Iya, Bu. Sekarang bantu bantu disini." Sahut Nafisa.
"Iya, Mbak. Yang ibu dengar sekarang pesantren tambah regeng setelah di pegang anaknya Kyai Salim. Alhamdulillah kalau Mbak Nafisa ikut bantu bantu disini." Imbuh ibu itu kemudian.
Hexa yang mendengar percakapan Nafisa dan si ibu penjual sayur itu nampak menelan ludah. Ia tidak menyangka bahwa Nafisa sangat akrab di pasar ini. Ia tidak tahu kalau Nafisa dulunya pernah tinggal di pesantren ini.
"Ini mau belanja apa, Mbak?" Tanya ibu itu kemudian.
Nafisa nampak memberikan selembar kertas pada si ibu.
__ADS_1
"Itu saja, Bu. Seperti dulu bisa, Bu?" Tanya Nafisa kemudian.
"Iya, Mbak. Bisa. Tapi ini Wawan sedang mengantar sayuran. Biar nanti langsung diantar ke pesantren saja seperti dulu, Mbak." Ucap Si ibu itu lagi.
"Baik kalau begitu, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu, Bu." Ucap Nafisa kemudian.
"Iya, Mbak. Saya nitip salam untuk Mas Kyai, Mbak." Ucap Si ibu itu setelahnya.
"Baik, Bu. Nanti saya sampaikan." Setelah itu Nafisa berlalu dari kios ibu itu.
Hexa masih mengikuti Nafisa, ia kini nampak canggung. Rasa malu dan salah tingkah begitu jelas terlihat. Nafisa menyadari itu, namun ia tidak ingin menegurnya.
"Kenapa sampeyan tidak bilang kalau pernah disini, Ning?" Hexa menggerutu.
Nafisa tersenyum, "Sampeyan tidak tanya kan, Kang?"
"Karena saya tidak mungkin kesasar. Sebaiknya sampeyan kembali dulu, Kang. Atau kalau masih ada yang ingin sampeyan beli, sampeyan beli saja dulu." Ucap Nafisa kemudian.
"Oh, tidak, Ning. Sebagai laki laki saya tidak akan membiarkan keluarga pesantren di pasar sendirian. Saya harus memastikan keamanan sampeyan. Tidak baik wanita secantik sampeyan di pasar sendirian. Banyak lelaki jahil, Ning." Ucap Hexa kemudian.
Nafisa tak menyahut, ia hanya kemudian tersenyum dan melanjutkan jalannya keluar dari pasar.
"Sudah, Ning? Tidak ada yang ingin dibeli lagi?" Tanya Hexa kemudian.
"Tidak ada, Kang. Sampeyan saja kalau masih ada yang ingin dibeli monggo dibeli dulu." Sahut Nafisa.
"Tidak ada, Ning." Sahut Hexa juga setelahnya.
"Emmm, ini mau langsung pulang kah atau?"
"Pulang, Kang." Sahut Nafisa cepat.
"Emmm, begitu ya." Sahut Hexa lirih setelahnya.
"Ini tidak apa apa kan saya temani pulang?" Tanya Hexa kemudian.
Nafisa tak menyahut, ia hanya tersenyum pias dan tetap melanjutkan jalannya.
Diam diam kejadian itu diperhatikan oleh dua orang pemuda dari dalam sebuah warung tak jauh dari tempat Hexa sempat terhenti. Mereka adalah Budi dan Arya yang memang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Hexa.
"Siapa gadis yang bersama Hexa itu, Bang?" Tanya Budi pada Arya setelah pandangan Hexa tak lagi terlihat oleh mereka.
"Entahlah, Bud. Saya juga baru pertama kali ini melihatnya." Sahut Arya.
"Itu bukan Armel seperti yang sering kalian bicarakan itu?" Tanya Budi lagi.
"Bukan. Saya juga tidak tahu kenal dari mana anak itu dengan gadis itu. Bisa saja itu teman sekolahnya." Sahut Arya kemudian.
"Jika dilihat lihat, itu seperti santriwati. Apa mungkin?" Budi menghentikan ucapannya.
"Emmm, saya tahu pikiran kamu, Bud. Saya juga sepemikiran dengan kamu. Bisa saja itu santri sana." Sahut Arya lagi setelahnya.
"Tapi seingat saya asrama putri belum siap beroperasi, Bang. Kemungkinan setelah..." Lagi lagi Budi menghentikan ucapannya. Arya tersenyum ketika itu.
"Setelah anak itu menikahi gadis pujaan kamu kan?" Arya menebak kali ini.
"Sudahlah, Bang. Jangan menggoda saya dengan itu lagi." Sahut Budi.
"Maaf maaf, Bud. Hmmm, tapi gadis itu cantik juga." Puji Arya pada Nafisa.
"Iya, Bang. Pintar juga si Hexa mendekati gadis." Imbuh Budi.
"Ya, semoga saja kali ini tidak kembali terulang. Seperti saat dia mengejar Armel." Ucap Arya kemudian.
Budi hanya mengangguk mengiyakan ucapan Arya kali ini.
Sementara itu, ditempat Ajimukti berada saat ini, ketika ia sedang duduk bersantai dengan Sobri di teras ndalem, sebuah pesan masuk di ponselnya. Begitu ada notifikasi dari ponselnya, ia segera meraih ponsel itu dan membukanya.
"Ada pesan dari Kang Godril, Kang." Ucap Ajimukti pada Sobri saat melihat layar di ponselnya.
"Apa, Gus?" Tanya Sobri penasaran.
"Kang Godril sepertinya mengirim foto." Ajimukti segera membuka foto itu.
__ADS_1
Sesaat ia nampak terkejut. Sobri mengerutkan keningnya melihat ekspresi Ajimukti yang demikian itu.
"Ada apa, Gus?" Tanyanya kemudian.
Ajimukti tidak segera menyahut, ia hanya kemudian menunjukkan foto itu pada Sobri. Melihat foto itu, Sobri pun tak kalah terkejutnya.
"Ini kan?" Bisiknya lirih.
"Bagaimana bisa ini, Gus?" Tanya Sobri kemudian.
Ajimukti menaikkan bahunya, "Entahlah, Kang. Saya juga tidak paham."
"Lalu bagaimana, Gus? Apa kita perlu tanyakan ini." Tanya Sobri kemudian.
"Sebaiknya jangan dulu, Kang. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya. Takutnya pertanyaan kita tidak tepat." Sahut Ajimukti kemudian.
Sobri hanya kemudian mengangguk.
Tak lama setelah itu, Nyai Kartika nampak keluar dari ndalem. Melihat ekspresi tegang di wajah Ajimukti juga Sobri membuat Nyai Kartika pun sedikit keheranan.
"Ada apa, Le?" Tanya Nyai Kartika sembari duduk di sebelah Ajimukti.
"Tidak ada apa apa, Bu." Sahut Ajimukti, sementara Sobri hanya tertunduk menyembunyikan wajahnya.
Nyai Kartika tidak melanjutkan pertanyaannya. Ia hanya kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Adikmu belum kembali, Le?" Tanyanya kemudian.
"Sepertinya belum, Bu. Sejak tadi belum terlihat." Sahut Ajimukti.
"Hmmm, apa jangan jangan mampir dulu ke rumah Pak Lek mu Prastowo ya, Le?" Tanya Nyai Kartika kemudian.
"Entahlah, Bu." Sahut Ajimukti.
"Apa perlu saya tanyakan sama Dik Ajeng, Bu Nyai." Usul Sobri kemudian.
"Tidak usah, Le. Kalau kesana yowis biarkan saja. Wong ya kalau sama Ajeng anaknya Kang Pras itu sudah kayak dulur wedok kok." Ucap Nyai Kartika kemudian.
"Iya, Bu. Memang sejak disini, Nafisa dan Ajeng sangat dekat." Imbuh Ajimukti kemudian.
"Oh, iya, Le. Ngomong ngomong ada yang ingin Sibu ceritakan sama kamu." Ucap Nyai Kartika kemudian.
"Soal apa itu, Bu?" Tanya Ajimukti sedikit keheranan.
"Soal adimu, Nafisa, Le. Sejak dari berangkat Sibu melihat dia agak sedikit aneh. Entah kenapa Sibu juga tidak tahu. Sibu tanya dia tidak mau jujur. Sibu jadi bingung juga penasaran." Ucap Nyai Kartika kemudian.
Ajimukti sedikit menghela nafasnya, "Sebenarnya memang ada hal yang Sibu mungkin tidak tahu soal Nafisa, Bu." Ucap Ajimukti kemudian.
Nyai Kartika menoleh kearah Ajimukti, dahinya mengerut ketika itu, "Apa itu, Le? Apa ada yang adimu iku delikno dari Sibu?" Tanyanya kemudian.
"Bukan, Bu. Ini mengenai kedekatannya dengan Manan, Bu. Sibu pasti belum tahu itu?" Ucap Ajimukti kemudian.
"Manan? Manan anaknya Pak Lek mu Anggoro, Le?" Tanya Nyai Kartika memastikan.
"Iya, Bu. Siapa lagi memangnya. Di pesantren ini, yang namanya Manan cuma dia seorang." Sahut Ajimukti sembari terkekeh.
"Weeee... Sejak kapan itu, Le. Sibu malah baru tahu ini lho." Sahut Nyai Kartika nampak sumringah mendengar itu.
"Sebenarnya kedekatan mereka sudah lama, Bu. Sudah sejak Nafisa disini nyantri sama bapak dulu." Jelas Ajimukti.
"Ealah, jebule ngono tho? Pantas saja. Wah, Le. Pak Lek mu Sarjito pasti senang ini kalau tahu Nafisa dekat dengan anaknya Pak Lek mu Anggoro. Soalnya, Le. Pak Lek mu Sarjito tahu betul bagaimana sepak terjang Pak Lek mu Anggoro mendampingi bapakmu babat alas di pesantren ini dulu." Ucap Nyai Kartika kemudian.
"Emmm, tapi sebaiknya hal ini jangan dulu sampai ke Lek Sarjito, Bu." Sahut Ajimukti.
"Loh lha memangnya kenapa, Le? Ini kan kabar baik." Sahut Nyai Kartika juga setelahnya.
"Untuk menghargai Manan, Bu. Bagaimana pun kita tidak tahu pasti kedekatan mereka seperti apa saat saat ini. Saya takutnya justru nglangkahi dia." Ucap Ajimukti kemudian.
Nyai Kartika mengangguk paham, "Kamu benar, Le. Ya Sibu hanya berharap jika memang itu benar dan semoga memang benar, Sibu berharap semua di mudahkan sama Allah, Le." Sahut Nyai Kartika kemudian.
Ajimukti mengangguk mengaminkan, begitu pun Sobri yang mendengar percakapan itu.
Bersambung...
__ADS_1