BROMOCORAH

BROMOCORAH
Panggil saja, Umi...!


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


"Assalamu'alaikum..."


Sudah dua kali Ajimukti mengetuk pintu rumah yang disambanginya sepulang dari menjenguk Nugroho siang ini. Pintu rumah itu tertutup, mungkin pemiliknya sedang tidak ada di rumah, pikir Ajimukti saat itu.


Ajimukti pun mencoba sekali lagi. Dan ini yang terakhir kali. Tapi begitu memang tidak ada jawaban dari pemilik rumah ia pun segera beranjak dari rumah itu. Belum sempat ia masuk ke dalam mobilnya, suara berisik mesin motor vespa mendekat dan berhenti tak jauh darinya. Seseorang turun dari motor itu dan dengan tergopoh gopoh orang itu segera menemui Ajimukti.


"Assalamu'alaikum Gus Aufa..." Ucap pemuda dengan lengan tangan penuh tatto itu.


"Wa'alaikumsalam Kang Ari. Dari mana ini?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Dari nganter adik saya les privat, Gus. Njenengan sendiri apa dari rumah Pak Ustadz, Gus?" Tanya Ari Godril.


Ajimukti mengangguk. "Iya, Kang. Tapi sepertinya beliau sedang tidak di rumah."


"Iya, Gus. Sepertinya mereka ke pasar. Soalnya tadi saya melihat mereka di pasar." Sahut Ari Godril.


Ajimukti hanya mengangguk.


"Kalau begitu mari ke rumah dulu, Gus. Sambil menunggu Pak Ustadz nya, ngopi ngopi dulu." Ari Godril menawarkan.


"Terima kasih kalau begitu, Kang." Ajimukti pun segera ikut ke rumah Ari Godril.


"Bagaimana kabar sampeyan, Kang?" Tanya Ajimukti ketika mereka sudah duduk di ruang tamu rumah itu.


"Alhamdulillah, Gus. Terkadang saya malu dengan diri saya sendiri. Saya yang dulu berpikir dengan ego saya ternyata hanya sebuah kesalahan yang saya pelihara. Dan sekarang kebalikannya, saya justru betah tinggal disini." Sahut Ari Godril kemudian.


"Syukurlah kalau begitu, Kang. Saya turut senang untuk keputusan sampeyan ini." Balas Ajimukti.


"Ini semua berkat njenengan, Gus. Njenengan lah yang sudah membuka pikiran saya, menyadarkan saya. Tanpa wejangan njenengan, mungkin saat ini saya masih akan terus menyimpan kebencian itu." Timpal Ari Godril.


"Bukan, Kang. Bukan saya. Tapi sampeyan sendiri. Selebihnya itu, ya karena Allah itu Muqallibal qulub, Kang." Sahut Ajimukti.


"Al'amalu yaj'alush-sho'ba sahlan, Tindakan, membuat yang sulit menjadi mudah. Ketika sampeyan berani bertindak, memutuskan untuk kembali pulang. Sampeyan lihat sendiri dan merasakannya sendiri. Dimudahkan jelas oleh Allah kan?." Imbuhnya lagi.


Ari Godril mengangguk, "Iya, Gus. Tapi kadang penyesalan itu juga sering kali masih ada." Ucap Ari Godril lirih.


"Wajar, Kang. Tapi berusahalah mengikhlaskan yang sudah lalu. Kemarin adalah kenangan, hari inilah kenyataan, dan esok adalah masa depan. Menyesal boleh, tapi berusaha menjadi lebih baik untuk menebus segala penyesalan selagi ada kesempatan, itu jauh lebih baik. Awwalul-ghodzobi junuunun wa akhiruhu nadamun, Kang Godril. Awal kemarahan adalah kegilaan, dan akhirnya adalah penyesalan. Dan, alhasuudu laa yasuudu, pendengki tak akan bahagia. Buang kemarahan sampeyan agar tidak ada akhir bernama penyesalan lagi. Jadilah umat yang berbahagia karena tidak adanya rasa dengki." Pesan Ajimukti kemudian.


"Iya, Gus. Kemarahan itu mungkin sudah sepenuhnya hilang. Saya hanya menyesal setelah tahu kebenarannya. Betapa bodohnya saya dulu." Ucap Ari Godril lirih.


Ajimukti tersenyum, "Lupakan itu dan bangkit untuk hari ini dan esok. Percuma menyesali itu, Kang. Sebab, Lan tarji'al-ayyamul-tii madzod. Tidak akan kembali hari hari lalu.


Ari Godril mengangguk ringan, seolah ia paham apa maksud ucapan Ajimukti itu.


"Oh iya, Gus. Sekalian mumpung njenengan disini. Insya Allah Kamis depan, Emak sama bapak mau selamatan. Kalau njenengan dan teman teman lodang tidak ada kegiatan, saya mengharap sekali kehadiran njenengan, Gus." Ucap Ari Godril beralih topik.


"Insya Allah, Kang. Nanti saya sampaikan sama yang lain. Dan Insya Allah juga nanti kami usahakan untuk datang." Sahut Ajimukti.


"Rencananya acara nya apa, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian.

__ADS_1


Ari Godril menggaruk garuk belakang kepalanya sembari meringis. "Saya tidak tahu, Gus. Itu bapak yang punya hajat. Saya mengiyakannya saja."


"Memangnya selamatan itu biasanya bagaimana, Gus? Saya sering dengar sewaktu di Jogja, tapi tidak tahu apa itu." Lanjut Ari Godril setelahnya.


"Kalau itu tergantung niat Shohibul hajat, Kang. Bisa pembacaan tahlil, atau yang biasa disebut tahlilan. Bisa juga pembacaan maulid, Kendurinan, atau sekedar bagi bagi makanan. Yang pasti, itu baik, Kang. Itu sedekah, dan itu sangat dianjurkan dalam Islam. Dalam hadits pun dikatakan, Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api." Jelas Ajimukti.


"Tapi bukankah sebagian masyarakat modern, menganggap itu bid'ah dan notabene menjurus ke kemusyrikan, Gus?" Tanya Ari Godril kemudian.


"Memang, Kang. Itulah kenapa pentingnya kita harus tahu bahwa Islam itu Rahmatan Lil 'alamin. Wani ngoncek'i. Karena jika semua dimakan mentah mentah, alhasil malah salah kaprah. Islam itu ramah, bukan marah marah, yang sitik sitik bid'ah, sitik sitik kafir. Seperti selamatan, Kang. Selamatan itu berasal dari bahasa Arab, salaamatan fi ad-diin. Dari kata-kata ini orang kemudian menyebut acara itu dengan istilah salamatan yang kemudian berubah menjadi selamatan. Di Jawa rata rata kegiatan tertentu diakhiri dengan 'an', Kang. Seperti tahlilan, itu orang orang yang membaca kalimat tahlil, dzikiran itu orang yang sedang berdzikir, maulidan itu sedang membaca maulid, sholawatan itu yang sedang melantunkan sholawat, seperti saat main bola, dijawa disebut bal balan. Apa itu buruk? Tentu tidak, Kang. Dalam kitab Subulus Salam pasal empat dijelaskan, tentang sabda Rasulullah, Seutama utama dzikir ialah kalimat tahlil, la ilaha ilLallah. Dan seutama utama dzikir yang aku dan juga para Nabi sebelumku mengucapkannya la illaha illallah. Ia adalah kalimat tauhid dan kalimat kemurnian dan keesaan Allah. Ia juga asma Allah yang teragung." Jelas Ajimukti.


"Pernah juga dengar istilah kenduri kan, Kang? Acara tahlilan dibeberapa daerah sering disebut dengan itu, kenduri. Istilah ini berasal dari kalimat yang diucapkan oleh imam tahlil, yang mana sebelum memulai membaca Alfatihah biasanya si imam akan terlebih dulu bertawasul dengan membaca lafadz ila hadhrati, yang artinya,pahala bacaan ini diperuntukan kepada si fulan. Nah, lafadz bacaan tersebut juga dinamakan meng-hadhorohi. Karena orang dahulu masih sulit mengucapkan dengan fasih, maka dibaca kandorohi, karena lagi lagi lidah Jawa ya, Kang. Ucapan tersebut pun berubah lagi menjadi Kenduri. Sama seperti Sekaten yang awal mulanya dari bahasa Syahadatain. Lagi lagi ilat Jowo, kang." Lanjut Ajimukti lagi.


Ari Godril sedikit tertawa di akhir ucapan Ajimukti itu.


"Tapi monggo tho, Gus. Kalian disambi kopinya." Ucap Ari Godril kemudian.


Ajimukti sedikit tertawa, lalu meraih gelas kopi di hadapannya, aroma kopi segera menyeruak menusuk hidungnya ketika bibir gelas mulai dekat indera penciumannya. Setelah menyesap satu tegukan, ia pun segera meletakkan gelas itu kembali ke meja.


"Ngomong ngomong, Gus. Rencana pembangunan asrama putri sudah sampai mana?" Tanya Ari Godril kemudian.


"Alhamdulillah, Kang. Mungkin kurang dari tiga bulan sudah bisa beroperasi. KebZetulan ini juga sudah ada beberapa Wali santri yang punya anak perempuan ingin memondokkan anak mereka." Sahut Ajimukti.


"Alhamdulillah, Gus. Nanti kalau butuh apa apa Njenengan jangan sungkan matur saya, Gus. Pokoknya saya insya Allah siap." Imbuh Ari Godril setelah itu.


Tak lama sebuah angkutan desa nampak berhenti di tepian jalan tak jauh dari mobil Ajimukti yang terparkir disana. Ari Godril menyempatkan melihat keluar.


"Itu sepertinya Pak Ustadz sudah pulang, Gus. Sama anak istrinya beliau juga." Ucap Ari Godril kemudian.


"Baik, Kang. Mungkin saya akan kesana dulu. Kalau ada waktu sampeyan main main ke pesantren." Sahut Ajimukti juga.


Ajimukti berdiri dari duduknya, begitu melangkah ke arah pintu. Ia memang melihat Kyai Aminudin juga Nyai Sarah yang baru akan masuk ke rumah, Habiba juga.


Ajimukti segera menuju ke rumah Kyai Aminudin lewat samping rumah Ari Godril.


"Assalamu'alaikum..." Ajimukti segera mengucap salam. Nyai Sarah yang masih berada di ruang tamu itu segera menoleh dan menjawab salam Ajimukti.


"Wa'alaikumsalam.... Oh, Nak Aji. Mari masuk." Ucap Nyai Sarah ramah.


"Iya, Nyai. Pak Kyai ada?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Ada. Ini tadi habis dari pasar, Nak. Habiba juga ada." Sahut Nyai Sarah sedikit mengguratkan senyum.


Ajimukti hanya tersenyum, kemudian masuk dan duduk di kursi yang pernah ia duduki setiap kali datang ke rumah itu.


"Siapa, Mi?" Seru Kyai Aminudin dari arah dalam.


"Ini, Bah. Nak Aji kesini." Sahut Nyai Sarah sedikit mengeraskan volume suaranya.


Mendengar Ajimukti disana. Habiba yang berada di kamar dan baru saja melepas jilbabnya, segera kembali mengenakan jilbabnya dan bergegas keluar dari kamarnya.


"Kamu?" Tanya Kyai Aminudin begitu keluar dari balik tirai. Begitu suaminya sudah keluar, Nyai Sarah pun segera masuk ke dalam.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Kyai." Sapa Ajimukti seraya berdiri dan menyambut tangan Kyai Aminudin.


"Wa'alaikumsalam... Ada apa tumben kesini?" Tanya Kyai Aminudin seraya duduk di kursinya.


"Tidak ada perlu, Kyai. Hanya berkunjung saja." Sahut Ajimukti.


Tak lama setelah itu, Habiba pun nampak keluar dari balik tirai dan segera menyapa Ajimukti.


"Apa kabar, Ning?" Tanya Ajimukti begitu Habiba ikut duduk di kursi ruang tamu itu.


"Alhamdulillah, Gus. Sewangsulipun?" Tanya Habiba kemudian sembari menyembunyikan senyumnya.


"Alhamdulillah." Sahut Ajimukti.


"Kalian mengobrol saja dulu kalau begitu. Abah mau ke dalam saja." Ucap Kyai Aminudin sembari berdiri.


"Loh, Kyai disini saja." Sahut Ajimukti.


"Iya, Bah. Kenapa Abah tidak disini saja." Imbuh Habiba.


Kyai Aminudin kemudian hanya menyunggingkan senyum.


"Abah ki yo nate enom. Ra ilok pengen ngerti urusane wong enom." Sahut Kyai Aminudin setelahnya.


Ajimukti hanya kemudian menahan senyumnya. Habiba tersipu malu sendiri mendengar ucapan Abahnya itu.


Kyai Aminudin segera masuk ke dalam, hampir diwaktu bersamaan Nyai Sarah keluar membawa kopi untuk Ajimukti.


"Loh, Nduk. Abahmu masuk?" Tanya Nyai Sarah pada Habiba.


"Iya, Mi." Sahut Habiba datar.


Nyai Sarah hanya geleng geleng kepala ringan.


"Ini, Nak Aji. Maaf tadi masak air dulu." Ucap Nyai Sarah kali ini tertuju pada Ajimukti.


"Kenapa harus repot repot, Nyai. Saya tadi kebetulan baru saja ngopi di rumah Bu Gitun sama Kang Ari disebelah." Sahut Ajimukti.


"Tidak apa apa, Nak. Wong ya hanya kopi. Nggak bikin kenyang, nggak bikin klempoken." Timpal Nyai Sarah sembari terkekeh.


"Oh, iya, Nak Aji. Mbok ya manggilnya jangan Nyai. Saya merasa tidak enak dipanggil seperti itu." Ucap Nyai Sarah kemudian.


Ajimukti sedikit mengerutkan kening. "Kenapa memangnya, Nyai? Apa ada yang salah dengan panggilan itu?" Tanyanya kemudian.


"Tidak ada yang salah hanya saya nepakne saja, Nak." Sahut Nyai Sarah.


"Lalu saya harus panggil njenengan apa, Nyai. Bagi saya njenengan itu ya Bu Nyai saya." Sahut Ajimukti juga.


"Panggil saja Umi. Sama seperti Habiba. Jadi lebih terkesan akrab." Sahut Nyai Sarah kemudian.


Ajimukti sedikit kikuk, Habiba pun hanya bisa menelan ludah dan sedikit terlihat ekspresi salah tingkah.

__ADS_1


"Umi, nggeh?" Ajimukti melebarkan senyumnya, lalu menggaruk keningnya sendiri.


Bersambung...


__ADS_2