
Sore menjelang senja. Di teras ndalem Kyai Aminudin.
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusan itu?" Kyai Aminudin menatap tajam pada lawan bicaranya. -Faruq.
"Pakdhe tenang saja. Saya sangat yakin dengan keputusan itu." Sahut Faruq dengan mimik datar.
Kyai Aminudin hanya mengangguk lalu terdengar menghela nafas berat.
"Tapi, Faruq. Dia itu masih santri diniyah. Kenapa kamu begitu yakin sekali?" Kyai Aminudin sedikit memajukan posisi duduknya.
"Tapi saya yakin, Pakdhe. Dia itu bukan santri yang baru sehari dua hari mondok. Dari pembawaannya, cara bicaranya, juga tatapan matanya, saya sangat yakin dia sebenarnya memiliki kemampuan di atas santri Pondok Hidayah ini." Terang Faruq.
Sekali lagi Kyai Aminudin hanya mengangguk.
"Sepertinya anak itu menyembunyikan potensinya. Tapi ada alasan apa saya tidak tahu. Dan mungkin pengakuannya yang bilang belum bisa apa apa sejak awal, hanya untuk menutupi potensinya itu. Tapi saya yakin, dia punya alasan dibalik semua itu." Lanjut Faruq kemudian.
"Saya pun sejak awal merasa begitu. Ada yang sedikit berbeda dari anak itu." Timpal Kyai Aminudin.
Diam diam tanpa mereka sadari, dari balik pintu, Habiba sedikit menguping pembicaraan mereka.
"Lagi ngobrolin apa sih, Mas. Serius sekali?" Tanya Habiba pada Faruq kemudian bersandar di samping sofa yang diduduki Kyai Aminudin.
"Tidak, Ba. Hanya sedikit membahas soal kompetisi yang sebentar lagi akan dilaksanakan." Sahut Faruq.
"Terus perwakilan pesantren kita siapa, Bah?" Tanya Habiba mengalihkan pandangannya kearah Kyai Aminudin.
"Tanya masmu. Abah mau sarapan dulu." Sahut Kyai Aminudin seraya berdiri dari duduknya.
Habiba hanya sedikit menaikkan pundaknya.
"Siapa, Mas?" Habiba mengulang pertanyaannya, kini ia tujukan pada Faruq.
"Namanya, -Ajimukti." Sahut Faruq datar.
Habiba sesaat mengerutkan keningnya. "Ajimukti?" Gumamnya.
"Bukankah dia santri baru disini ya, Mas. Dan belum ada satu bulan kan nyantri disini?" Tanya Habiba sedikit penasaran.
Faruq melirik kearah Habiba, "Kamu sudah tahu anak itu?" Tanyanya kemudian.
Habiba mengangguk, "Saya sempat berkenalan dengan dia, Mas. Pas dia sama abah di halaman masjid. Abah yang ngenalin."
Faruq hanya mengangguk.
"Tapi kok bisa dia, Mas?" Tanya Habiba kemudian, "Kan dia masih diniyah, dan yang saya dengar di kompetisi tahun ini yang dilombakan pidato bahasa arab. Emang dia bisa, Mas?" Lanjut Habiba.
Faruq menghela nafas lalu beranjak dari duduknya, "Kita lihat saja nanti, Ba. Saya mau kembali kekamar sebentar lagi semakan santri alfiyah." Ucap Faruq kemudian seraya berlalu dari teras ndalem Kyai Aminudin.
Habiba tak menyahut. Dari ekspresi wajahnya ia sepertinya masih keheranan dan penuh rasa penasaran dengan diputuskannya Ajimukti sebagai wakil Pondok Hidayah di kompetisi antar pesantren tahun ini. Habiba sejenak menaikkan bahunya, lalu berjalan keluar dari teras ndalem.
Tak jauh dari ndalem Kyai Aminudin. Trio senior sedang terlihat memperbincangkan sesuatu perihal. Dari ekspresi wajah Budi yang nampak sedikit menegang. Jelas mereka sedang membicarakan hal yang serius, -bagi mereka.
"Sepertinya usaha kita berhasil, Bud." Ucap Khalil dengan begitu bersemangat.
__ADS_1
Budi hanya mengangguk, "Saya sejak awal sudah yakin ini akan berhasil."
"Benar, Bud. Akhir akhir ini saya lihat Gus Faruq sering terlihat mengobrol dengan anak itu." Imbuh Imam.
"Sesuai rencana." Budi tersenyum bangga.
"Setelah itu kita tinggal lihat anak itu keluar dari pesantren ini." Khalil masih terlihat begitu bersemangat.
"Rasanya saya sudah tidak sabar saja." Timpal Imam.
"Oh iya, Bud. Soal Manan bagaimana?" Tanya Khalil tiba tiba.
Budi sedikit menoleh ke arah Khalil.
"Saya masih berfikir bagaimana caranya mengusir anak itu dari sini." Keluh Budi sedikit menghela nafas. "Bagaimana pun juga, sulit untuk membuat anak itu keluar dari sini karena Kyai Aminudin begitu segan dengan bapaknya santri songong itu." Lanjutnya dengan ekspresi kesal.
"Kamu benar, Bud. Tidak mudah memang mengusir Manan dari sini. Bapaknya adalah sahabat karib Kyai pendiri pesantren ini, tentu saja Kyai Aminudin akan sangat segan dengan bapaknya anak itu." Imbuh Imam.
Budi sejenak terdiam dengan raut wajah penuh emosi. Tangannya mengepal disandarkannya pada tiang tempatnya berdiri.
Tak lama kemudian.
"Bud. Bud. Lihat disana!" Seru Khalil sambil menunjuk kesalah satu arah.
"Habiba?" Ucap Budi lirih. Sembari merapikan sarungnya berjalan kearah Habiba meninggalkan tempat Khalil dan Imam.
Khalil dan Imam hanya saling pandang tanpa berpindah dari tempat itu.
"Assalamu'alaikum, Ning Biba. Mau kemana sore sore begini?" Ucap Budi dari arah depan Habiba membuat Habiba menghentikan langkahnya.
"Kebetulan sekali, Ning. Memang cocok sore sore begini jalan jalan menikmati sejuknya angin sore." Ucap Budi dengan gerakan tangannya seolah meyakinkan, "Kebetulan lagi tidak ada jadwal mengaji. Emmm, bagaimana kalau Kang Budi temenin Ning Biba jalan jalan menikmati sore ini?" Pinta Budi kemudian.
Habiba hanya tersenyum. Budi seperti mendapat angin segar.
"Tidak usah, Kang Budi. Terima kasih." Ucap Habiba kemudian.
Sesaat ekspresi Budi berubah.
"Loh kenapa, Ning?"
"Tenang saja Mas Budi sedang tidak sibuk kok. Ya meski sibuk pun demi Ning Biba, Mas Budi siap menemani."
"Bagaimana Ning Biba?" Ucap Budi panjang lebar meyakinkan Habiba.
"Tidak usah, Kang Budi. Sekali lagi terima kasih tawarannya." Ucap Habiba dibarengi dengan senyumnya, "Saya permisi dulu ya, Kang Budi." Lanjut Habiba kemudian, setelahnya Habiba berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban Budi.
Budi hanya berdiri mematung. Tangannya sedikit mengepal. Dari raut wajahnya terlihat jelas kekecewaan atas penolakan Habiba itu.
Budi memutar badannya, memandang Habiba yang semakin jauh meninggalkan tempatnya berdiri saat ini. Budi berharap Habiba menoleh kebelakang. Ke arahnya. Tapi nyatanya tidak. Habiba berlalu begitu saja hingga sebuah tembok menutupi bayang bayang Habiba.
Budi dengan kesal berjalan kembali kepada dua rekannya. Tak ada sepatah kata pun. Tangannya masih mengepal lalu tanpa terduga meninju tembok, membuat Khalil dan Imam terlonjak kaget, namun hanya bisa menelan ludah melihat Budi yang dipenuhi emosi.
"Sial! Sial! Sial!" Pekik Budi membuat Khalil dan Imam hanya saling pandang tanpa berani menegur.
__ADS_1
"Saya harus segera menghubungi bapak. Ya, sesegera mungkin." Gumamnya kemudian dan lagi lagi meninju tembok di depannya.
Sekali lagi, Khalil dan Imam hanya saling pandang dan sama sama menelan ludah.
Sejak tadi Ajimukti dan Dullah diam diam mengamati gerak gerik mereka bertiga, bahkan ketika Budi menghampiri Habiba pun tak luput dari sorotan mereka berdua.
"Sepertinya si Budi lagi emosi itu, Mas?" Gumam Dullah mengamati Budi yang berkali kali terlihat meninju tembok.
Ajimukti hanya tersenyum, "Ya begitulah, Lek. Begitu itu kalau seseorang tidak bisa menahan amarahnya." Ucapnya kemudian.
"Sayang sekali ya, Mas. Padahal dia tergolong santri yang berprestasi. Tapi kelakuannya..." Dullah geleng geleng kepala.
"Padahal jelas, Lek. Dalam hadits riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah, Man Kadhoma ghoydhow-wahuwa qoodirun 'ala ay-yunfidzahu da'aahullaahu 'azza wajalla 'ala ru-uusil-kholaiqi yaumal-qiyaamati hatta yukhoyyirahullaahu minal huuril-'iini maa syaa-a, Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai."
Dullah hanya mengangguk paham.
"Itulah kenapa, Lek. Pentingnya kita menahan amarah. Karena amarah itu sebagian dari ***** dalam diri kita. Dan ***** itu seperti bayi. Selama bayi itu belum disapih, dia akan terus menyusu." Lanjut Ajimukti kemudian.
Sekali lagi Dullah mengangguk paham.
"Tapi ngomong ngomong ya, Mas. Itu Budi sampai seemosi itu kenapa ya, Mas?"
Ajimukti hanya mengangkat bahunya lalu meraih sebatang rokok dan menyalakannya.
"Apa karna Ning Biba tadi ya, Mas?" Dullah masih juga penasaran.
"Mungkin." Sahut Ajimukti datar.
"Galau berarti ceritanya." Dullah kini tiba tiba tertawa.
Ajimukti yang melihatnya hanya tersenyum.
"Terus, Mas. Itu..."
Belum selesai Dullah melanjutkan ucapannya. Ajimukti berdiri dari duduknya.
"Loh, Mas. Mau kemana?" Dullah mengganti ucapannya.
"Masuk, Lek. Disini malah sampeyan ajak ghibah mulu." Sahut Ajimukti yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Dullah melongo, "Astaghfitullahal-'adzim..." Bisiknya lirih sambil menampar nampar sendiri mulutnya dan bergegas menyusul Ajimukti yang sudah semakin jauh di depan.
"Tunggulah, Mas." Seru Dullah sedikit berlari sambil mencincing sarungnya.
"Assalamu'alaikum, Kang." Kemudian.
"Wa...wa'alikumsalam warahmatullahi wabarakatuh..." Suara Ajimukti semakin lirih.
Brukk!!!
Dullah begitu saja menabrak Ajimukti yang berhenti tiba tiba. Dan...
Glekkk!!!
__ADS_1
Bersambung...