BROMOCORAH

BROMOCORAH
Wali Jami'


__ADS_3

Langit mengabu sejak subuh tadi. Tak ada sorot fajar menyingsing dari langit timur. Langit seolah memilih menggelar kelabunya pagi ini.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah delapan, tapi hawa dingin masih saja terasa begitu menusuk. Di sudut sudut tempat yang biasanya terkena paparan sinar matahari akan selalu ada orang berjemur, tapi pagi ini, orang orang sepertinya lebih memilih di dalam rumah sembari menikmati teh panas atau juga kopi untuk menghangatkan tubuh mereka.


Ajimukti duduk di teras ndalem sembari menikmati kopi juga rokoknya. Tak jauh dari tempatnya duduk, Dullah nampak masih mengenakan sweater tebal juga masih enggan melepas silangan tangannya di dada.


"Dingin sekali ya, Mas." Keluh Dullah setengah menggigil.


Ajimukti hanya tersenyum, "Dinginnya bakal terus terasa kalau dirasakan, Lek. Coba dilawan. Nanti juga tidak akan begitu terasa."


"Gimana mau tidak dirasakan, Mas. Wong ya nyatanya beneran dingin kok." Sahut Dullah kemudian.


"Ngomong ngomong ini anak anak pada kemana, Mas. Kok sepi?" Tanya Dullah setelahnya.


"Emmm, Kang Sobri mengantar Sibu sama Afis ke rumah Pak Lek Prastowo, Lek. Kalau Kang Khalil sama Kang Imam, tadi saya suruh untuk ke pasar." Sahut Ajimukti kemudian.


"Kepasar? Untuk apa, Mas?" Tanya Dullah lagi. Kali ini ekspresinya nampak sedikit keheranan.


Ajimukti sedikit tertawa, "Ya untuk belanja tho, Lek. Piye tho Lek Dul ini."


Dullah hanya kemudian menyahut dengan sedikit terkekeh.


"Mereka Alhamdulillah sudah banyak berubah nggeh, Gus." Ucapnya beberapa saat kemudian.


Ajimukti sejenak menoleh ke arah Dullah sembari menghisap sisa rokoknya, "Itulah sebabnya kenapa saya sering sekali mewanti wanti untuk tidak membenci atau menilai seseorang berlebihan, Lek. Karena wolak walik'e ati menungso, tidak ada yang tahu. Bisa jadi sekarang gali, e sopo ngerti liyo dino dadi wali. Sekarang ini nyantri, tidak ada yang menjamin kelak menjadi Kyai, bisa saja malah jadi gali. Na'udzubillah. Yang terpenting selalu tanamkan pemikiran baik saja, Lek. Khusnudzon." Sahut Ajimukti kemudian.


"Benar, Mas. Yang terpenting adalah pada akhirnya seperti apa, bukan bagaimana awal mulanya." Imbuh Dullah.


"Nah, tepat, Lek. Setuju saya." Sahut Ajimukti.


"Berhenti ngejudge bahwa diri kita ini sok suci dan alim, sementara yang terlihat melenceng adalah yang sesat bagi kita. Belajarlah guyub rukun apapun itu, siapa pun itu, dan bagaimana pun itu. Kadang kalau sudah kumpulannya orang baik, mereka akan nyingkrihi yang masih tersesat. Bukan begitu seharusnya. Seharusnya yang tersesat arahkan agar tidak makin tersesat. Kan gitu, Lek." Imbuh Ajimukti lagi.


"Benar, Mas. Sudah bukan rahasia lagi kalau soal itu." Sahut Dullah.


"Manusia lebih senang dengan apikku, apikku dewe, elekmu elekmu dewe. Mereka lupa bahwa mereka itu butuh orang lain tidak pandang itu orang baik atau orang blangsak sekalipun." Lanjut Ajimukti setelahnya.


"Opo nek ndelalahe kenek alangan, terus inginnya di tolong sama orang baik? Opo ndadak tanya, kamu orang baik atau tidak? Kan tidak gitu tho? Nek ndelalah sing nulung orang blangsak, apa iya tidak mau? Keburu matek gimana coba?" Lanjutnya lagi menambahi.


Dullah tertawa mendengar itu, "Benar, Mas. Banyak orang menggolongkan si baik dan si buruk akhir akhir ini." Sahut Dullah.


"Itulah, Lek." Ajimukti meraih kopinya yang masih sedikit terasa hangat lalu menyesapnya sekali.


"Kalau dipikir pikir, Lek. Untuk sedekah saja kita butuh orang lain. Tidak ada sedekah sendiri. Kita tetap butuh orang lain. Orang lain untuk memberi yang akan kita sedekahkan, juga orang lain yang akan menerima sedekah kita." Ucap Ajimukti kemudian.


"Benar, Mas. Saya sependapat soal itu."

__ADS_1


"Nek ada yang bilang, ini sedekah uang uang saya, dari hasil pekerjaan saya. Halah, ngawur itu orang, Lek. Kecuali kalau orang itu nyetak uang sendiri." Ucap Ajimukti lagi sembari tertawa. Dullah pun ikut tertawa.


"Benar mereka kerja, uang dari hasil kerja. Tapi mereka dapat itu juga dari atasan, atasan itu orang lain. Misal pun pedagang, dari mana uang itu, ya pasti dari pembeli. Orang lain lagi. Begitu kok nek pegang uang sedikit saja merasa sombong, duit duitku dewe, koyo koyoku dewe." Sambung Ajimukti setelahnya.


Dullah lagi lagi tertawa mendengar itu.


"Makanya kalau berdoa wali jami'il muslimina wal muslimat wal mu'minina wal mu'minat. Ben sosiale oleh. Mendoakan orang lain, yang ngunduh juga kita nantinya. Kan gitu ya, Lek?" Sambung Ajimukti lagi.


"Benar sekali, Mas. Jadi tidak egois doa untuk dirinya sendiri. Sekarang itu nek Dudu golongane tidak mau mendoakan. Golongan A doa untuk golongannya saja. Golongan B untuk B saja. Hadegh." Sahut Dullah sembari menggelengkan kepalanya.


Ajimukti terkekeh mendengar penuturan Dullah itu.


"Mungkin doanya sudah diganti, jadi wali kelompok kulo thok, Lek." Sahut Ajimukti masih sembari terkekeh.


Dullah pun tak kalah, ia pun ikut tertawa mendengar itu.


"Kalau doanya masih wali jami'. Harusnya kelakuan juga wali jami' ya, Lek. Yah, tapi bedo sirah bedo rah itu lho Lek masalahnya." Sambung Ajimukti lagi.


"Benar, Mas. Makanya kita harus sering sering berdoa, Allahummarham umatan Muhammad." Sahut Dullah lagi.


"Tepat sekali, Lek. Duh Pengeran rahmati umat Njeng Muhammad. Jadi kalau sudah begitu, semua bakal kecipratan doa kita. Yang ngunduh doa itu, ya kita." Sahut Ajimukti juga setelahnya.


"Anggap semua orang itu penting. Pejabat penting, tetangga penting, orang yang tongkrongan di jalan jalan penting, bahkan gentho wae anggepen penting. Kan tidak selalu orang kecelakaan di jalan yang menolong orang yang ikhtikaf di masjid? Bisa saja, mereka yang lagi tongkrongan. Karena Allah itu kalau membuat tim SAR itu di ambil dari mana saja dan siapa saja." Lanjut Ajimukti lagi.


Dullah lagi lagi tertawa kali ini.


"Bahkan tim SAR Nasional pilihan Allah itu ya mereka yang nganggur nganggur di jalan itu lho, Lek. Paling cepat bergerak. Jadi kita tidak bisa menganggap mereka itu beginilah begitulah. Iya tidak, Lek?" Lanjut Ajimukti kemudian.


"Benar, Mas. Kadang kita hanya ngaji yang ada di kitab, ngaji uripe di lalekno. Padahal ilmu nyata itu ya yang ada di sekitar kita." Sahut Dullah.


"Nah, itu dia, Lek. Tapi ya mau bagaimana lagi, Lek. Setiap orang memiliki perannya masing masing. Sing apik, kapik'en, nganti wegah nyerak wong elek. Sing elek rumongso elek, arep nyedak wong apik rikuh pekewuh, rumongso ora pantes. Tapi juga tidak jarang, sing apik malah nyerak sing elek, sing elek gelem nyerak wong apik." Sambung Ajimukti kemudian.


"Benar, Mas. Itu seperti Kang Salim. Kalau sudah begitu saya jadi ingat beliau, Mas." Ucap Dullah kemudian.


Ajimukti sedikit mendongak, pandangannya menerawang.


"Benar, Lek. Satu hal yang paling saya pelajari dari bapak adalah ngrangkulnya bapak sama wong wong kabangan, Lek. Itu bukan sebab bapak dulunya seperti itu." Sahut Ajimukti setelahnya.


"Benar, Mas. Kang Salim adalah contoh bahwa, ndalanke wong sasar tidak harus kasar. Dengan kelemah lembutan, dengan ngrogoh atine pun bisa." Imbuh Dullah.


"Kang Salim kalau sama yang Kyai, Gus atau Ustadz beliau akan biasa saja. Bertemu ya bertemu, menghormati sewajarnya. Tapi kalau sama wong wong kabangan beliau bisa sangat segan sekali, Mas. Itu luar biasanya beliau." Lanjut Dullah lagi.


Ajimukti tersenyum, "Ya, begitulah bapak, Lek. Bagi bapak, kalau sama Kyai, Gus dan ulama, seperti nguyahi segoro. Justru sama para para Bromocorah beliau segan karena orang orang itulah yang butuh pencerahan. Kalau apa yang di sampaikan beliau bisa kena manah, bisa jadi hidayah, bila pun tidak, setidaknya ganjaran dari yang beliau sampaikan juga menguntungkan bapak."


"Suatu hari njenengan pasti juga bisa seperti beliau, Mas. Saya yakin itu." Ucap Dullah kemudian.

__ADS_1


Ajimukti hanya tersenyum, "Doanya saja, Lek. Tapi saya pun ingat, ada salah satu teman saya yang sama persis seperti bapak. Dia lebih senang bergaul dengan orang orang di jalan ketimbang para santri. Justru dengan santri dia acuh."


Dullah mengerutkan keningnya, "Kenapa begitu, Mas?"


"Menurut dia, santri itu sudah gayemannya kalau soal agama. Sementara orang orang dijalan tidak setiap hari ngrembug bab agama. Selain itu, di jalan ia bisa mendapat pelajaran yang di pesantren tidak ada, yaitu ngaji Urip itu, Lek." Terang Ajimukti.


Dullah mengangguk anggukan kepalanya.


"Saya jadi penasaran sama teman sampeyan itu, Mas."


"Saya sedang mencari tahu keberadaannya, Lek. Dia itu seperti welut, angel cekelane."


"Apa dia juga putra Kyai, Mas?" Tanya Dullah kemudian.


Ajimukti menggeleng, "Saya juga tidak tahu silsilah keluarganya, Lek. Teman di pesantren pun tidak ada yang tahu. Hanya saja, dari beberapa pengurus sempat saya dengar bahwa dia itu cucu Kyai sepuh yang mumpuni, tapi saya juga tidak tahu Kyai sepuh itu siapa, Lek."


Dullah mengangguk paham.


Tak lama setelah itu, Imam nampak datang ke teras.


"Loh, Kang. Kok sendiri saja. Kang Khalil dimana?" Sapa Ajimukti kemudian.


"Anu, Gus. Khalil tadi melihat Hexa di pasar. Dia mengikuti Hexa. Saya cari tidak ketemu, saya pikir sudah kembali ke pesantren." Sahut Imam kemudian.


"Hexa di pasar?" Ajimukti nampak heran, keningnya seketika mengerut.


"Iya, Gus." Sahut Imam.


"Hexa itu santri baru anak dari temannya bapaknya Budi, Mas?" Tanya Dullah menyela.


"Benar, Lek. Saya menangkap sesuatu yang tersembunyi dari anak itu." Sahut Ajimukti.


"Oh, iya Kang Imam. Nanti kalau Kang Khalil sudah kembali. Bilang sama Kang Khalil saya ingin bertemu." Ucap Ajimukti beralih pada Imam.


"Baik, Gus. Nanti saya sampaikan sama Khalil. Kalau begitu saya permisi dulu, Gus." Imam pun undur diri dari teras itu dan segera membawa barang belanjaan ke pawon ndalem.


"Kalau di lihat lihat, Imam memang sangat berbeda ya, Mas." Ucap Dullah sembari meraih gelas kopinya.


Ajimukti tersenyum, "Sangat berbeda, Lek. Alhamdulillah, sekarang baik Kang Imam atau pun Kang Khalil sudah lebih bijaksana."


"Semoga mereka Istiqomah seperti itu ya, Mas. Setidaknya baik saya atau pun Mbak Yu, akan tenang dengan sampeyan yang di kelilingi orang orang baik seperti saat ini." Ucap Dullah kemudian.


Ajimukti kemudian hanya tersenyum.


Angin sesekali masih berkesiur menerbangkan hawa dinginnya pagi ini. Bau anyir tanah basah yang ikut terbawa tiupan angin masih tercium aromanya hingga ke teras ndalem. Ajimukti kembali meraih gelas kopinya yang sudah tidak lagi panas itu, setelahnya, ia kembali meraih bungkus rokok kretek di depannya dan menyulutnya sebatang. Asap dari rokok itu segera mengepul memenuhi teras ndalem itu pagi ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2