
Pagi ini di Pondok Hidayah.
"Bagaimana, Mas. Apa hari ini kita jadi mendatangi alamat Bulek sampeyan itu?" Tanya Dullah pada Ajimukti yang sedang menikmati suasana pagi di halaman pesantren.
"Jadi, Lek. Tapi kemungkinan agak siang. Karena nanti saya harus menggantikan Gus Faruq dulu." Sahut Ajimukti kemudian.
"Hmmm, baiklah kalau begitu, Mas." Jawab Dullah setelahnya.
Tepat disaat itu Ajimukti melihat Khalil, Imam juga Manan sedang berjalan hendak keluar pesantren.
"Kalian mau kemana?" Tanya Ajimukti yang membuat ketiga santri itu menghentikan langkahnya.
"Oh, ini, Jik. Mau cari sarapan di pasar. Apa kamu mau ikut sekalian?" Manan yang menjawab seruan Ajimukti itu segera menawarkan ajakannya pada Ajimukti.
"Ah, kebetulan kalau begitu. Baiklah saya ikut." Sahut Ajimukti.
"Lek Dul ikut sekalian tidak?" Tanya Ajimukti pada Dullah yang sedang bersamanya.
"Tidak, Mas. Terima kasih. Selagi masih ada waktu sebelum kita berangkat mendatangi alamat Mbak Yu Mulatsih, saya ingin ke rumah Prastowo dulu. Ada hal yang ingin saya rundingan dengannya." Sahut Dullah.
"Hmmm, baiklah kalau begitu, Lek. Saya tinggal dulu." Ucap Ajimukti kemudian bergabung bersama Khalil, Imam juga Manan.
Dullah hanya kemudian mengangguk dan selepas Ajimukti berlalu, ia pun segera berlalu meninggalkan halaman pesantren itu.
Setibanya di pasar Ajimukti samar samar melihat kelebat Samuel. Ia pun segera menghampirinya.
"Kang Samuel." Seru Ajimukti kemudian.
"Oh, sampeyan, Kang Aji. Mau kemana atau dari mana?" Sahut Samuel ramah.
"Ini mau cari sarapan, Kang. Apa libur warungnya?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Iya ini, Kang. Kebetulan libur karena saya sama Johanes mau menyiapkan untuk acara natal lusa." Sahut Samuel kemudian.
__ADS_1
"Oh, iya iya iya. Sebentar lagi natal ya. Hmmm, baiklah, saya ucapkan selamat natal ya, Kang." Ucap Ajimukti kemudian.
"Ah, iya, Kang. Terima kasih. Sangat jarang saya mendapat ucapan begini dari saudara muslim. Sampeyan mungkin orang pertama yang mengucapkan ini pada saya. Sekali lagi terima kasih, Kang." Sahut Samuel kemudian.
Mendengar Ajimukti mengucapkan itu, Khalil, Imam dan Manan hanya bisa saling pandang juga menaikkan bahu mereka.
Tak lama, Samuel pun kembali berlalu untuk melanjutkan kegiatannya, pun dengan Ajimukti dan teman temannya, mereka pun segera mencari warung untuk sarapan mereka pagi ini.
"Jik, apa tidak apa apa kita sebagai umat muslim mengucapkan Natal? Emmm, yang saya tahu bukankah itu dilarang ya?" Tanya Manan ketika mereka sudah berada di warung makan.
Mendapati pertanyaaan Manan itu, Ajimukti sedikit tersenyum, lalu menyalakan rokoknya sembari menunggu pesanan mereka diantar, "Memang, Nan. Menjelang perayaan Natal seperti ini, biasanya muncul perdebatan di tengah masyarakat tentang hukum seorang Muslim mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani atau siapa saja yang memperingatinya. Tidak jarang, perdebatan itu menimbulkan percekcokan, bahkan vonis kafir atau takfiir." Sahutnya kemudian.
"Lalu menurut kamu sendiri bagaimana, Jik?" Tanya Manan kemudian.
"Ya, Untuk menjawabnya. Pertama, tidak ada ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang secara jelas dan tegas menerangkan keharaman atau kebolehan mengucapkan selamat Natal. Padahal, kondisi sosial saat nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam hidup mengharuskannya mengeluarkan fatwa tentang hukum ucapan tersebut, mengingat Nabi dan para Sahabat hidup berdampingan dengan orang Yahudi dan Nasrani atau Kristiani. Kedua, Nan. Karena tidak ada ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang secara jelas dan tegas menerangkan hukumnya, maka masalah ini masuk dalam kategori permasalahan ijtihadi yang berlaku kaidah. Laa yunkarul-mukhtalafu fiih, wa Innamaa yunkarul-mujma'u 'alayh. Permasalahan yang masih diperdebatkan tidak boleh diingkari atau ditolak, sedangkan permasalahan yang sudah disepakati boleh diingkari. Dengan demikian, Nan. Baik ulama yang mengharamkannya maupun membolehkannya, sama sama hanya berpegangan pada generalitas atau keumuman ayat atau hadits yang mereka sinyalir terkait dengan hukum permasalahan ini. Karenanya, mereka berbeda pendapat." Ucap Ajimukti kemudian.
"Jadi memang ada yang membolehkannya, Jik?" Tanya Manan lagi, sementara Khalil dan Imam hanya lebih memilih diam menyimak.
"Mengenai itu begini, Nan. Sebagian ulama, meliputi Syekh Bin Baz, Syekh Ibnu Utsaimin, Syekh Ibrahim bin Ja’far, Syekh Ja’far At-Thalhawi dan sebagainya, mengharamkan seorang Muslim mengucapkan selamat Natal kepada orang yang memperingatinya. Mereka berpedoman pada beberapa dalil, yang di antaranya Firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al-Furqan ayat 72. Disana dikatakan, Wal-ladziina laa yasyhaduunar-ruura wa Idza marruu bil-laghwi maruu kiraama. Dan orang orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan orang orang yang mengerjakan perbuatan perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui saja dengan menjaga kehormatan dirinya. Pada ayat tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan ciri orang yang akan mendapat martabat yang tinggi di surga, yaitu orang yang tidak memberikan kesaksian palsu. Sedangkan, seorang Muslim yang mengucapkan selamat Natal berarti dia telah memberikan kesaksian palsu dan membenarkan keyakinan umat Kristiani tentang hari Natal. Akibatnya, dia tidak akan mendapat martabat yang tinggi di surga. Dengan demikian, mengucapkan selamat Natal hukumnya haram." Ucap Ajimukti.
"Jika memang begitu, Jik. Lalu kenapa kamu mengucapkannya tadi?" Tanya Manan lagi.
"Itu bukan tanpa alasan, Nan. Karena ada sebagian ulama, seperti Syekh Yusuf Qaradhawi, Syekh Ali Jum’ah, Syekh Musthafa Zarqa, Syekh Nasr Farid Washil, Syekh Abdullah bin Bayyah, Syekh Ishom Talimah, Majelis Fatwa Eropa, Majelis Fatwa Mesir, dan sebagainya, membolehkan ucapan selamat Natal kepada orang yang memperingatinya. Mereka pun membolehkan juga tidak asal dan tanpa dasar. Hukum mereka berlandaskan pada firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Surat Al-Mumtahanah ayat 8, Laa yanhaa kumullaahu 'anil-ladziina lam yuqaatiluukum fiid-diini wa lam yukhrijuukum min diyaarikum an tabarruuhum wa tuqsithuu ilayhim. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Nah, pada ayat itu, Allah subhanahu wa ta’ala tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik kepada siapa saja yang tidak memeranginya dan tidak mengusirnya dari negerinya. Sedangkan, mengucapkan selamat Natal merupakan salah satu bentuk berbuat baik kepada orang non Muslim yang tidak memerangi dan mengusir, sehingga diperbolehkan." Terang Ajimukti kemudian.
Manan dan yang lain hanya kemudian mengangguk paham.
"Selain itu, mereka para ulama yang membolehkan itu, juga berpegangan kepada hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam yang di riwayatkan sahabat Anas bin Malik, Nan. Dahulu ada seorang anak Yahudi yang senantiasa melayani atau membantu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian ia sakit. Maka, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendatanginya untuk menjenguknya, lalu beliau duduk di dekat kepalanya, kemudian berkata, Masuk Islam-lah! Maka anak Yahudi itu melihat ke arah ayahnya yang ada di dekatnya, maka ayahnya pun berkata, Taatilah Abul Qasim yaitu Baginda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Maka anak itu pun masuk Islam. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar seraya bersabda, Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka. Nah, Nan. Menanggapi hadits tersebut, ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari juga menegaskan, Hadits ini menjelaskan bolehnya menjadikan non-Muslim sebagai pembantu, dan menjenguknya jikalau ia sakit." Sambung Ajimukti lagi melanjutkan penjelasannya.
"Emmm, jadi memang ada ulama yang melarang juga ada yang membolehkan ya, Jik?" Sahut Manan.
"Betul, Nan. Pada hadits itu sangat jelas bagaimana Nabi mencontohkan kepada umatnya untuk berbuat baik kepada non-Muslim yang tidak menyakiti beliau. Mengucapkan selamat Natal merupakan salah satu bentuk berbuat baik kepada mereka, sehingga diperbolehkan. Umat Islam diberi keleluasaan untuk memilih pendapat yang benar menurut keyakinannya. Maka, perbedaan semacam ini tidak boleh menjadi konflik dan menimbulkan perpecahan, Nan. Seharusnya." Sahut Ajimukti lagi.
"Benar, Jik. Hanya kadang karena mereka hanya berpegang pada satu pendapat lalu mengesampingkan pendapat lain." Ucap Manan.
__ADS_1
"Ya, begitulah, Nan. Makanya sebagai orang yang diberi bekal akal, kita tidak boleh serta merta memvonis tindakan seseorang, Nan. Karena bisa jadi, mereka menggunakan pendapat yang memang bersebelahan dengan pendapat kita." Imbuh Ajimukti lagi setelahnya.
"Iya, Jik. Kamu benar."
"Dan lagi Sayyidina Ali bin Abi Tholib pernah berkata, Jika kita tidak bisa bersaudara dalam keimanan, ya minimal kita bersaudara saja atas nama kemanusiaan, Nan. Kan enak itu." Lanjut Ajimukti.
Manan hanya mengangguk membenarkan ucapan Ajimukti itu.
"Anggap saja, Nan. Ucapan Natal sebagai bagian dari kesadaran bermuamalah, sekadar hormat kepada kawan atau berempati kepada sesama warga bangsa, itu dimensinya ukhuwah wathaniyah. Kalau dalam dimensi itu, menyampaikan ucapan Natal saya kira tidak akan mengganggu akidah kita kok, Nan. Toleransi sesungguhnya juga bagian inheren dari ajaran agama di Indonesia. Islam sendiri mengenal konsep tasamuh yang juga sering diterjemahkan sebagai sikap toleransi. Jadi, kalau masih mikir ini bertolak belakang dengan ajaran, lalu bagaimana ilmu tasamuhnya?" Ucap Ajimukti lagi menegaskan.
"Ya, Jik. Benar sekali. Lalu bagaimana dengan sahabat sahabat yang ikut andil dalam perayaan, misalnya yang sering kita lihat itu dalam hal keamanan?" Tanya Manan kemudian.
"Mengenai itu begini, Nan. Jika mengucapkan selamat Natal diperbolehkan, maka menjaga keberlangsungan hari raya Natal, sebagaimana sering dilakukan Banser misalnya, itu juga diperbolehkan." Sahut Ajimukti.
"Apa ada keterangan mengenai itu, Jik?" Masih tanya Manan.
"Jika ditanya dalilnya, Nan. Dalilnya ada pada kitab Tarikh At-Thabary. Jadi, Nan. Dulu sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu anhu menjamin keberlangsungan ibadah dan perayaan kaum Nasrani Iliya’ atau Quds. Beliau memberikan jaminan keamanan kepada mereka atas jiwa, harta, gereja, salib, dan juga agama agama lain di sana. Gereja mereka tidak boleh diduduki dan tidak boleh dihancurkan." Terang Ajimukti kemudian.
Mendengar penjelasan Ajimukti itu Manan dan yang lainnya hanya kemudian mengangguk paham.
"Tapi ada hal lain lagi yang sekarang sedang trend, Gus." Khalil yang sejak tadi diam menyimak kini mulai ikut andil dalam obrolan itu.
"Apa itu, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Sebagian rekan muslim yang menolak mengucapkan selamat natal itu beranggapan itu sama ketika seorang Nasrani yang harus mengucapkan kalimat syahadat. Jadi mereka menolak sama seperti Nasrani yang menolak jika harus mengucapkan kalimat syahadat, Gus." Ucap Khalil kemudian.
Mendengar itu Ajimukti tertawa, "Nah, itulah, Kang. Bodhone wong Saiki. Mereka menyamakan ucapan natal dengan kalimat syahadat. Mereka menganggap kalimat syahadat hanya sebatas kata kata. Padahal, kalimat syahadat itu sebuah rukun dan meski hanya kata kata, tapi untuk mengucapkannya harus dengan hati. Yang mikir begitu, Kang. Berarti ketika dia dulu mengucap syahadat hanya mengucap kata katanya saja, hatinya belum syahadat itu." Sahut Ajimukti kemudian.
Mendapati tanggapan Ajimukti yang seperti itu Khalil pun kini ikut tertawa namun paham maksud dari ucapan Ajimukti itu.
Tak lama, menu sarapan yang mereka pesan pun datang dan menghentikan obrolan mereka.
"Sebaiknya kita sarapan dulu, Kang. Setelah ini saya harus menggantikan Gus Faruq dan setelah itu mau ada perlu sama Lek Dul." Ucap Ajimukti ketika makanan pesanannya sudah datang.
__ADS_1
"Baik, Gus." Sahut mereka bersamaan.
Bersambung...