
Pagi ini udara cukup terasa dingin di sekitar Pondok Hidayah. Itu karena sejak subuh tadi gerimis sudah mengguyur hampir sebagian kota ini. Beberapa rumput juga dedaunan dihalaman pesantren pun terlihat masih basah, bau anyir tanah yang juga basah juga menyeruak terbawa hembusan angin.
Ajimukti baru saja menutup kitab Jauharul-Maknun karya Syekh Abdurrahman al-Akhdhari. Kitab ini adalah salah satu kitab yang membahas ilmu tata bahasa Arab. Di dalamnya terdapat sejumlah nazam yang berkaitan dengan tata bahasa dan sastra Arab (Balaghah).
Sejenak Ajimukti terdiam, pandangannya terlihat kosong. Beberapa kali juga ia nampak menarik nafas dalam dalam. Sobri, diam diam mengamati setiap gerak gerik Ajimukti itu. Ia merasa ada sesuatu yang sedang di pikirkan Ajimukti saat ini. Ia berpikir apa mungkin ini masih ada kaitannya dengan pencarian Kyai Aminudin.
"Ada apa, Gus. Saya amati dari tadi njenengan sepertinya sedang memikirkan sesuatu?" Tegur Sobri yang tak beranjak dari tempatnya.
Sekilas Ajimukti melempar senyumnya ke arah Sobri. "Tidak ada, Kang."
Sobri tidak puas dengan jawaban Ajimukti kali ini. Sobri melihat betul perubahan ekspresi Ajimukti akhir akhir ini.
"Apa ini masih soal pencarian Kyai Aminudin, Gus?" Tanya Sobri berterus terang.
Lagi lagi Ajimukti hanya tersenyum, lalu berdiri dan mengembalikan kitabnya pada rak yang tak jauh dari tempatnya duduk, lalu kembali duduk. Kali ini Ajimukti duduk lebih dekat dengan Sobri.
"Sejujurnya iya, Kang. Tapi ada hal lain di balik semua itu." Ucap Ajimukti kemudian.
Sobri sedikit mengerutkan keningnya, ia cukup penasaran dengan maksud ucapan Ajimukti kali ini.
"Hal lain, Gus? Hal lain apa itu?" Tanya Sobri sedikit menyelidik.
Ajimukti tersenyum. Kali ini Sobri menangkap sebuah perubahan ekspresi Ajimukti yang lain.
"Ning Biba, Kang." Ucap Ajimukti lirih bebarengan dengan tarikan nafasnya.
Sobri semakin tidak paham, "Ning Habiba? Maksudnya? Apa dari pesantrennya belum juga memberi kabar, Gus?" Tanya Sobri ingin menuntaskan rasa penasarannya.
"Sudah, Kang. Ning Biba sudah tiba disana tak lama beberapa jam setelah saya keluar dari kantor ruang informasi itu. Begitu kata Kang nya yang kemarin saya tinggali nomor saya bilang." Ucap Ajimukti kemudian.
"Berarti, tak lama setelah kita kembali ke sini, Ning Habiba tiba, Gus?" Tanya Sobri memastikan.
Ajimukti mengangguk, "Kemungkinan, Kang."
Sobri kini juga terlihat mengangguk. Ia berpikir mungkin Ajimukti kecewa karena tidak bisa bertemu Habiba dan menanyakan tempat tinggalnya sekarang padahal hanya berselang tidak lama.
"Kalau memang harus kesana lagi, saya antar, Gus. Mungkin njenengan kecewa karena ternyata tidak berselang lama mereka pun tiba disana." Ucap Sobri kemudian.
Ajimukti kini menggelengkan kepalanya ringan, "Bukan soal itu, Kang." Ucap Ajimukti dengan suara berat seperti tertahan.
Kini Sobri benar benar dibuat bingung.
"Lalu kenapa, Gus?" Tanya Sobri semakin dipenuhi rasa penasaran.
Ajimukti menghela nafas, "Ah, sudahlah, Kang. Lain waktu saja saya jelaskan. Saya mau ke warung dulu nyari rokok." Ucap Ajimukti kemudian, seraya berdiri dari duduknya.
Sobri benar benar dibuat bingung kali ini. Ia justru dibuat penuh penasaran dengan sikap Gus nya ini. Tapi dirinya pun tidak bisa memaksa Ajimukti untuk bicara jika bukan karena keinginan Ajimukti sendiri.
"Apa saya belikan saja, Gus?" Sobri mencoba menawarkan diri.
"Tidak usah, Kang. Lagian saya juga sekalian mau nyari udara segar." Sahut Ajimukti seraya melambaikan tangannya.
__ADS_1
Sobri hanya mengangguk saja. Tak lama pun Ajimukti melangkah keluar dari tempat mengajinya meninggalkan Sobri sendiri yang masih diselimuti rasa penasaran yang belum ia tahu apa itu.
Sobri menghela nafasnya, juga sedikit menggelengkan kepalanya, lalu ia pun beranjak juga dari tempat itu tak lama setelah Ajimukti benar benar sudah keluar dari ndalem nya.
Ajimukti berjalan sendiri dengan langkah santai menuju warung yang tak jauh dari pesantrennya. Jalanan depan pesantren cukup ramai meski pagi ini sempat diguyur hujan sesaat. Ajimukti beberapa kali mengusap usap telapak tangannya untuk menghangatkan diri. Udara pagi terasa begitu dingin ditambah ketika ada angin yang menerpanya terbawa kendaraan yang melintas disampingnya.
Beberapa orang yang ditemuinya pun menyapanya dengan ramah pagi ini. Setidaknya Ajimukti sudah cukup dikenal sebagai penerus pengasuh Pondok Hidayah juga putra dari Kyai Salim yang juga orang orang itu sangat segani.
Tak jauh dari warung itu sebuah mobil Grand Max berwarna hitam terparkir di pinggiran jalan menghadap ke arah warung. Ada empat orang dalam mobil itu, dan semuanya mengarahkan pandangan mereka ke arah Ajimukti. Tak sekalipun mereka mengalihkan pandangan mereka itu.
Tak lama Ajimukti nampak keluar dari dalam warung dan kembali berjalan santai menuju pesantren. Mobil bercat hitam yang sedari tadi terparkir pun terdengar mulai menyalakan mesinnya dan kemudian terlihat berjalan searah dengan Ajimukti.
Tepat berada di pinggiran sawah yang agak berjarak dari rumah warga, mobil itu mempercepat lajunya dan berhenti tepat di depan Ajimukti yang membuat Ajimukti menghentikan langkahnya. Ajimukti sedikit penasaran dengan mobil yang tiba tiba berhenti di depannya, dan jelas itu bukan sebuah ketidaksengajaan, karena sesaat setelah itu empat orang lelaki dengan postur tubuh tinggi besar dan juga dandanan yang terlihat sedikit awut awutan keluar dari dalam mobil itu dan segera berjalan ke arah Ajimukti.
"Jadi ini bocah yang dimaksud si Bos." Ucap salah seorang lelaki itu mengejek.
"Ternyata hanya bocah ingusan." Imbuh lelaki lainnya.
Ajimukti tidak mengerti apa yang lelaki lelaki di depannya itu ucapkan, untuk sejenak ia hanya bisa mengerutkan kening.
"Ada apa ya bapak bapak ini?" Tanyanya menyelidik.
Ke empat lelaki itu seolah tidak menggubris pertanyaan Ajimukti. Mereka justru sibuk mengamati selembar foto yang ada ditangan mereka.
"Betul, memang dia orangnya." Ucap lelaki dengan kumis tebal dan berbadan cukup kekar itu.
"Apa kau yang bernama Ajimukti?" Tanya lelaki berjaket Levis dengan tatapan sinisnya.
"Heh, bocah! Jangan banyak tanya! Jawab saja. Iya atau bukan?" Bentak lelaki lainnya dengan suara meninggi.
"Benar bocah! Kamu tidak perlu banyak omong, tidak usah banyak tanya. Kamu jangan mempersulit pekerjaan kami." Imbuh lelaki lainnya dengan mengarahkan telunjuknya ke arah Ajimukti.
Ajimukti tersenyum, "Pekerjaan? Apa maksudnya? Ada perlu apa bapak bapak ini?" Ajimukti masih tetap bersikap tenang, tapi perasaannya mengatakan ada rencana terselubung dari ke empat laki laki di depannya ini.
"Heh, Bocah! Kamu tidak dengar ya apa yang tadi kami bilang. Kamu jangan banyak tanya!" Lelaki yang berkumis tebal kembali membentak dan sedikit menekan kata katanya.
"Sudahlah! Kita segera bereskan saja anak ini dari pada banyak omong. Saya sendiri saja sepertinya sudah cukup." Ucap lelaki yang lain dengan jumawa nya.
Ajimukti mengerutkan keningnya, sepertinya semua memang seperti apa yang dipikirkannya, ada maksud tidak baik dari ke empat orang di depannya ini. Ajimukti belum beranjak, ia hanya bersiap jika sewaktu waktu dirinya mendapat serangan.
"Tenang dulu kalian ini. Kita sepertinya perlu bermain main sebentar dengan anak ini dulu." Ucap lelaki berjaket Levis menyeringai.
"Maaf, bapak bapak sekalian. Sepertinya kita tidak ada urusan sebelumnya. Jadi saya pikir saya tidak ingin berlama lama disini." Ucap Ajimukti kemudian.
"Lancang kamu bocah!" Lelaki berkumis tebal kembali membentak, tatapannya tajam tertuju ke arah Ajimukti. Gigi gerahamnya terdengar bertaut mempertegas bentuk rahangnya.
"Kamu tidak ada urusan dengan kami. Tapi kami ada urusan dengan kamu. Dan kamu tidak perlu banyak tanya." Lelaki berjaket Levis juga membentak dan mengarahkan telunjuknya ke arah Ajimukti.
"Ah, sudahlah, Wo. Kita segera bereskan anak ini." Sahut lelaki yang sejak tadi memasang wajah geramnya.
"Iya, Wo. Tangan saya sudah gatal ingin meremas mulut anak yang banyak tanya ini." Timpal lelaki lainnya lagi.
__ADS_1
Lelaki berjaket Levis memberi aba aba. Segera dua orang lelaki itu terlihat maju dan langsung meraih kerah Ajimukti. Ajimukti pun segera menepis tangan lelaki yang berusaha meraih kerah bajunya.
"Berani kamu bocah?" Lelaki yang ditepis tangannya oleh Ajimukti meradang. Segera ia mengayunkan tinjunya tepat ke arah Ajimukti.
Ajimukti tidak bergeming, berpindah tempat pun tidak. Ia hanya mengerakkan setengah badannya untuk menghindari pukulan lelaki itu, dan pukulan itu pun meleset dari sasarannya.
"Boleh juga kamu, bocah! Bisa juga kamu menghindari pukulan ku." Lelaki yang berusaha melayangkan tinju ke arah Ajimukti itu tersenyum menyeringai.
"Maaf, bapak bapak. Ada apa ini sebenarnya? Kenapa kalian menyerang saya?" Ajimukti masih meminta penjelasan.
"Banyak bicara kamu bocah!" Sekali lagi lelaki itu melancarkan tinjuan nya ke arah Ajimukti, dan sekali lagi juga pukulan itu meleset tidak mengenai sasarannya membuat lelaki itu semakin geram.
"Apakah tidak bisa kita ngobrol saja, agar saya pun tahu ada apa sebenarnya?" Ajimukti masih mencoba bersikap tenang dan tidak terpengaruh dengan amarah para lelaki itu.
"Banyak omong!" Untuk kesekian kalinya lelaki itu bergerak menyerang Ajimukti. Kali ini pun Ajimukti tidak mencoba membalas atau menangkis serangan itu. Ia hanya terus saja menghindar.
"Hah!!!" lelaki lain nampak ikut geram dan ikut menyerang Ajimukti, Ajimukti kini sedikit memundurkan badannya. Dan serangan itu pun hanya melesat di depannya.
"Bisa juga kamu menghindari pukulan ku." Lelaki itu memuji Ajimukti.
"Sudah cepat bereskan. Jangan membuang waktu." Seru lelaki berjaket Levis dengan berkacak pinggang dan terdengar jumawa itu.
Lelaki yang sejak awal terus berusaha menyerang Ajimukti kini kembali melancarkan pukulannya. Ajimukti merasa memang orang orang yang bisa di ajak bicara. Segera Ajimukti memasang kuda kudanya. Begitu lelaki itu menyerangnya kembali secepat kilat Ajimukti menangkis serangan itu kedalam dan kemudian menyikut lelaki itu tepat mengenai pelipisnya. Lelaki itu mengerang.
"Sialan!!!" Umpatnya.
Lelaki lain nampak ikut geram. Ia pun segera menyusul serangan lain ke arah Ajimukti. Ajimukti kembali menerima serangan itu kemudian menghindarinya dengan menyerongkan tubuhnya ke samping lalu mematahkan serangan lelaki itu dengan pukulan yang tepat mengenai lengan atas lelaki itu.
Lelaki itu pun mengumpat. Tatapan matanya semakin nanar dipenuhi kemarahan. Tangannya mengepal kuat memperlihatkan otot otot kencang di lengan tangannya. Rahangnya pun terlihat mengeras mempertegas bentuk wajahnya.
"Sebagai makhluk yang diberi akal pikiran. Manusia pasti akan menyelesaikan sesuatu dengan bahasa manusia. Tapi jika mereka tidak mau lagi diajak bicara dengan bahasa manusia, mungkin memang perlu menggunakan bahasa binatang, untuk berbicara dengan kalian." Ajimukti sedikit mulai angkat bicara kali ini.
"Sialan kamu bocah! Kamu berani bilang kami binatang?" Ucap seorang lelaki mulai tersulut emosi mendengar ucapan Ajimukti itu.
"Cari mati kau rupanya!" Seru lelaki lain yang juga nampak tak bisa lagi menahan amarahnya.
Ajimukti tersenyum sinis. "Bagaimana tidak. Al-insaanu hayawaanun naathiq, manusia adalah binatang yang berakal, jika mereka sudah kehilangan akalnya, berarti hanya tinggal binatangnya saja bukan?" Ucapnya kemudian.
"B*j*Ng*n tengik!!! Hentikan ocehanmu. Kalau mau ceramah di masjid sana!" Lelaki yang sempat menerima pukulan di pelipisnya itu kini kembali menyerang.
"Mati kau bocah!!!" Teriaknya sembari berlari dan melompat mengarahkan tinjunya di udara.
Ajimukti tak bergeming sedikit pun, ia hanya melempar senyum kemudian kembali memasang kuda kudanya menyongsong serangan lelaki itu.
Ajimukti berhasil menahan pukulan lelaki itu dengan mencengkeram tinjunya. Secepat kilat Ajimukti menarik tangan lelaki itu, memutar badannya dan kembali menyikut lelaki itu tepat di ulu hatinya. Lelaki itu membungkuk, dengan posisi Ajimukti membelakanginya. Ajimukti kini mengayunkan sebelah kakinya ke belakang dan dengan sigap memutar kembali badannya. Kini ia mengarahkan lututnya ke arah lelaki itu dan dengan keras menghantam perut lelaki itu dan membuatnya terpelanting cukup jauh dan tersungkur di tanah.
Lelaki lain nampak melotot melihat apa yang terjadi dengan temannya. Ia pun segera melancarkan serangannya ke arah Ajimukti. Ajimukti memundurkan sedikit badannya. Begitu pukulan lelaki itu akan mendarat di wajahnya, Ajimukti secepat kilat melompat dan melipat kakinya lalu mengayunkannya tepat di rahang samping lelaki itu. Lelaki itu terlempar ke samping cukup keras. Darah segar terlihat keluar dari mulutnya yang sedikit robek. Lelaki itu mengerang dan semakin memancarkan aura membunuhnya.
"Maafkan saya, bapak bapak. Saya tidak bermaksud berbuat Dzolim pada kalian, tapi melindungi diri juga diharuskan bukan?" Ucap Ajimukti masih dengan posisi memasang kuda kudanya.
Wajahnya terlihat tenang, dengan sedikit senyum tersungging setiap kali ia berbicara pada para lelaki yang menyerangnya itu. Tangan kirinya terbuka dan terjulur ke depan sejajar pundaknya dengan lengan sedikit ditekuk. Sementara tangan kanannya mengepal dan berada sejajar dengan pinggangnya. Nafasnya tetap teratur meski sempat melakukan beberapa gerakan perlawanan.
__ADS_1
Bersambung...